Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Tidak Restu?



Pertemuan wali murid dan wali kelas sudah selesai. Irsyad sangat perfeksionis dengan membuat pertemuan itu sama dengan yang dilakukannya pada wali murid yang lain, padahal keadaannya berbeda bahkan tempatnya juga bukan di ruang kelas. Nenek tampak cukup puas dengan nilai Kila. Seperti yang Irsyad bilang, Kila menjadi peringkat satu di kelasnya.


Kila merasa kurang puas dengan nilai yang ia dapatkan. Jika ditunjukkan kepada mama dan papanya, mereka pasti akan kecewa karena Kila tidak mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran. Di rapornya, ia hanya mendapatkan nilai sempurna di pelajaran ekonomi, geografi, agama dan bahasa Indonesia. Sisanya memang tidak menyentuh nilai sempurna, tetapi terbilang cukup tinggi karena di atas 90-an.


Sekarang sudah terlalu malam, dan Irsyad harus pulang. Mungkin ini pertemuan terakhir, karena mereka tidak akan bertemu hingga akhir libur sekolah.


"Kalau begitu, saya pamit pulang, dulu," ucap Irsyad.


"Pak, terimakasih sudah mau repot-repot mengantarkan langsung rapor saya." Kila menahan Irsyad untuk pamit. Ia sengaja melakukannya untuk mengulur waktu agar Irsyad bisa bersamanya lebih lama.


"Iya, Kila. Bu, Anda beruntung memiliki cucu seperti Kila. Dia gadis yang baik, pengertian, sungkan merepotkan orang lain. Dia pandai, bahkan dia gadis yang sering sekali meminta maaf kepada saya. Saya anggap itu sebuah keberuntungan bagi Anda. Tapi, mengenal Kila lebih dekat seperti ini juga sebuah keberuntungan bagi saya. Sejak saya mengenal Kila dan lebih kenal lagi saat bertemu dengan Anda, berakhir seperti sekarang. Saya melihat sifat Kila yang tidak ditunjukkannya pada siapapun kecuali Anda. Saya senang bisa mengenal Kila lebih dekat dari kunjungan saya ke sini selama ini." Irsyad berbalik dan mengajak ngobrol nenek sebentar.


"Kamu sudah sangat bekerja keras, Kila. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya. Kamu juga jangan merasa hal ini merepotkan saya, sudah jadi bagian tanggung jawab saya sebagai wali kelas untuk menolong muridnya." Irsyad kini beralih berbicara dengan Kila.


Kila menunduk malu, karena Irsyad sedang menuju posisi Kila berdiri. Setelah itu, Irsyad mengeluarkan tangan kanannya mengarahkan tangan itu menuju pucuk kepala Kila. Lalu, Irsyad mengusap lembut pucuk kepala itu beberapa kali. Irsyad mundur beberapa langkah, karena ia merasakan hal yang berbeda. Padahal, ia sering kali mengusap kepala muridnya sebagai sebuah ungkapan apresiasinya. Hal itu jugalah yang ingin dilakukan Irsyad pada Kila. Namun, setelah ia selesai melakukan itu, ia merasakan suatu gejolak aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya seperti saat memberikan perlakuan itu pada muridnya yang lain.


Kila sangat terkejut dan merasa senang atas perlakuan Irsyad kali ini. Debaran hebat ia rasakan di jantungnya saat tangan Irsyad mengusap lembut kepalanya. Ia berusaha menahan kesenangan itu dengan membuat wajah tanpa ekspresi dan menunduk. Ia juga mengaitkan hal ini adalah hal lumrah yang akan dilakukan Irsyad untuk mengapresiasi muridnya. Jadi, ia tidak akan salah paham dan mengira bahwa Irsyad memiliki perasaan yang sama dengannya.


Irsyad mengutarakan pamitnya sekali lagi, tak lain dan tak bukan untuk menghindar jika sampai apa yang dirasakan Irsyad kentara dari ekspresi wajahnya. Irsyad bahkan tak sadar ia telah melewati seorang wanita yang sudah menginjakkan kakinya di ruangan nenek.


"Ehm," deheman seorang wanita. Ia adalah wanita yang sudah menginjakkan kakinya di ruangan nenek, tepat saat Kila menerima usapan lembut di kepala dari pria itu--Irsyad. Siapapun yang melihatnya sekilas akan curiga kalau mereka memiliki hubungan yang khusus, termasuk wanita itu.


"Mama? Mama sejak kapan kembali?" Kila menghampiri mamanya, kemudian mencium tangan kanan mamanya sebagai bentuk berbakti nya.


"Iya, sudah sejak tadi. Tapi ke rumah dulu baru ke rumah sakit," jawab Riska.


"Kamu kenapa nggak ngasih kabar?" Giliran nenek yang bicara. Riska mendekat ke nenek dan duduk di kursi samping nenek.


"Seperti yang terlihat," jawab nenek.


"Syukurlah," balas Riska. Ia mengganti pandangannya ke arah Kila.


"Kila, siapa tadi laki-laki itu? Apa-apaan sikap itu tadi? Sampai mengusap kepala kamu. Mama udah bilang, kan, kamu nggak boleh pacaran?" Riska berucap tegas kepada Kila.


"Bukan, itu bukan pacar Kila. Kila nggak pacaran, kok, Ma. Beliau seorang guru wali kelas Kila yang datang untuk memberikan rapor Kila karena nggak ada wali ataupun orang tua yang bisa ambil rapor di pagi tadi," jawab Kila dengan tegas pula.


"Wah, spesial sekali kamu, sampai diantar langsung rapor nya. Karena itu juga, kamu nggak ngabari mama untuk ambil rapor kamu, supaya kamu bisa dapat perlakuan spesial tadi, kan?" Riska bertanya sarkas.


"Mama apaan, sih? Baru datang udah main ambil kesimpulan sepihak aja. Lagian kalau Kila minta ke mama untuk ambil rapor Kila, apa mama bisa datang langsung ke sekolah? Mama juga sibuk akhir-akhir ini, mana bisa mama ninggalin pekerjaan cuma buat ambil rapor anaknya yang nilainya tak seberapa ini," balas Kila ketus.


"He... berarti nilai kamu nggak bagus, dong? Mana, sini mama lihat!" jawab Riska tak peka dengan perkataan Kila.


"Nih, baca sepuas mama. Mama silahkan kecewa dengan nilai yang Kila dapatkan nggak sesuai harapan mama." Kila memberikan rapornya. Ia sangat kesal dengan sikap Riska yang tidak mengerti maksud dari Kila. Riska malah menantang dengan menciptakan konflik baru. Ia ingin pergi dari ruangan itu, karena tak ingin membuat perdebatan.


"Kila, tunggu. Pria itu adalah seorang guru, kamu jangan terlalu dekat dengan dia. Pria itu, orang yang sama dengan yang waktu itu kamu ceritakan, kan? Kamu tidak menuruti apa kata mama, ya? Tidak pantas seorang guru dekat dengan muridnya, apalagi kamu sudah suka dengan dia, kan? Jauhi dia Kila, mama mengizinkan kamu dekat dengan siapapun asal tidak dengan seorang guru. Masyarakat akan menganggap hubungan itu tabu, dan hanya memuaskan satu pihak yaitu kamu sebagai orang yang memanfaatkan kedekatan dengan guru. Hal itu dipandang salah di masyarakat, karena kedekatan itu pasti tujuannya supaya dipermudah nilai atau apapun di sekolah. Kamu jangan mengotori nama keluarga kita." Riska berucap tegas dan sarkas. Setelah mendengar pernyataan itu, Kila pergi dengan berlari meninggalkan ruangan panas itu.


"Kamu tidak boleh seperti itu, Riska. Nak Irsyad itu orang yang sangat baik. Dia nggak akan terjebak dalam hubungan khusus antara murid dan guru seperti yang kamu duga. Dia sangat perfeksionis dalam pekerjaannya," tegur nenek pada Riska.


"Bu, udah, istirahat aja. Ibu nggak perlu pikirkan apa yang aku lakukan. Apa yang aku katakan ke Kila tadi adalah cara aku untuk mendidik anak. Sekarang ibu bisa serahkan urusan Kila ke aku sebagai mamanya, dan ibu fokus istirahat untuk mempercepat kesembuhan ibu." Riska membalas teguran nenek dengan mantap. Hal itu membuat nenek tidak ingin ikut campur dalam urusan anak dan cucunya itu, karena yang menjadi mamanya Kila bukan lah dirinya, melainkan Riska.


Kila tak tahu pergi kemana, tapi Riska membiarkan saja kepergian anak itu. Yang ia lakukan malah memeriksa dengan teliti untuk mencari kekurangan dari rapor Kila.


...****************...