
Sepulang dari bandara, Kila ikut menebeng mobil yang dikemudikan Erwin. Sampai di rumah Citra, Kila tidak lupa mengambil oleh-olehnya yang ketinggalan. Bisa gawat jika Kila kembali dengan tidak membawa oleh-oleh yang sudah di pinta oleh dua sahabatnya itu. Ia juga membawa camilan yang diberikan oleh Citra, pas sekali untuk teman mengobrol mereka saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan apa saja yang ingin dibeli. Kila tidak punya stok makanan karena meninggalkan kosan selama satu pekan. Untung Kila memiliki mertua yang pengertian.
"Huah... Ya Allah, capek banget ya hari ini," oceh Risa. Mereka sudah selesai membeli segala persiapan dan kembali ke kosan Kila.
"Iya, capek banget. Tapi, Alhamdulillah kita selesai sepenuhnya nyiapin yang dibutuhkan nanti. Jadi lebih tenang sedikit sambil menunggu waktu perkuliahan dimulai nanti," balas Ira.
"Gimana, Ris? Kita pulang aja, kah? Udah sore juga nih. Lebih baik istirahat dan tidur di rumah masing-masing aja," saran Ira.
"Oke kalau gitu, memang lebih baik istirahat di rumah, sih. Kita juga udah lama banget ada di kosannya Kila. Yuk, Ra, kita pulang aja kalau gitu. Makasih banyak ya oleh-olehnya, Kil," ujar Risa.
"Iya Akil, makasih ya oleh-olehnya. Kirim salam sama suamimu, hehe. Kalau gitu kami pamit, ya. Dah," jahil Ira.
"Assalamu'alaykum, Kil," pamit Risa seraya sedikit tersenyum. Reaksi Kila saat Ira menggodanya sungguh menggemaskan, itu yang membuat Kila tertawa.
"Wa'alaykumussalam. Hati-hati di jalan, fii amanillah," ujar Kila seraya mengantar sampai di depan pintu.
"Dasar Ira, sahabat tukang goda." batin Kila.
Peristiwa di bandara tadi tidak sempat Kila ceritakan. Karena mereka juga harus mengejar waktu mempersiapkan yang di awal mereka sudah susun. Jadi, Kila juga paham bukan saatnya bercerita tentang dirinya. Mungkin lain waktu Kila akan menceritakannya.
...****************...
Satu pekan sudah berlalu sejak Irsyad kembali ke Turki. Kila hari ini resmi menjadi seorang mahasiswi baru, meski harus mengikuti kegiatan pengenalan kampus terlebih dulu yang cenderung bersifat senioritas. Sama saja dengan waktu pertama ia masuk SMA waktu itu. Harusnya sistem ospek dihapus karena sudah tidak relevan lagi jika tujuannya untuk membentuk mental dan karakter mahasiswa. Lihat saja, Kila dan dua sahabatnya harus bekerjasama untuk mempersiapkan barang-barang ospek karena ribetnya hal-hal yang diperintahkan senior mereka.
Saat lelah dengan hari pertama kuliah setelah sangat lelah ospek terakhir di hari sebelumnya, Kila pulang dengan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia baru kembali ke kosan setelah menunaikan shalat ashar di masjid kampus, jadi ia tak perlu mengkhawatirkan kewajibannya.
"Subhanallah, capek banget hari ini. Tidur dulu, ah," ujar Kila lalu mulai mempejamkan matanya.
Kila sangat menikmati waktu tidurnya itu sampai tak sadar ponselnya berdering berkali-kali disampingnya. Sampai adzan Maghrib berkumandang, Kila baru terbangun. Benar-benar tidur yang sangat nyenyak, dan kelelahan Kila hilang seketika setelah tidur tadi.
Ia segera menunaikan kewajibannya, shalat Maghrib dan tadarusan sampai waktu Isya tiba. Kila tidak sempat melihat ponselnya saat bangun tadi, ia lebih mengutamakan shalatnya. Setelah selesai menunaikan shalat Isya, Kila memutuskan untuk mandi dulu karena ia belum sempat mandi tadi. Rambut yang baru saja ia keramas langsung ia keringkan dengan hair dryer.
Setelah dirasa cukup kering, Kila kemudian beranjak menuju komputernya untuk melihat usaha yang ia jalankan. Selama ia pindah kos dan sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk ujian di kelas sebelas, ia sudah memperkejakan seorang admin untuk menjalankan pesanan pelanggan. Ia tidak ingin terlalu fokus menjalankan usaha sampai harus mengorbankan waktu belajarnya. Lebih baik ia memperkejakan seseorang yang berkompeten dan sangat membutuhkan pekerjaan untuk menangani toko onlinenya itu. Dan kali ini, ia ingin melihat perkembangan toko online yang merupakan usaha sampingannya itu sebagai dropshipper. Dan ia sama sekali tidak melihat ponselnya yang masih tergeletak di ranjang. Padahal ponsel itu terus berdering, kenapa Kila tidak mendengarnya? Apa karena nada dering ponselnya terlalu kecil? Padahal seseorang yang menelponnya itu sudah berkali-kali menelpon sejak Kila tertidur hingga sekarang.
"Duh, Kak Irsyad nelpon?" ucap Kila saat melihat layar ponselnya. Niatnya untuk menghubungi adminnya ditundanya sebentar.
"Halo, Assalamu'alaykum, Kak?" ujar Kila saat menjawab telpon itu.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Akhirnya kamu angkat juga. Kila kamu marah sama saya karena baru menghubungi kamu hari ini?" balas Irsyad dengan nada penuh kekhawatiran.
"Nggak, kok, Kak," jawab Kila.
"Lalu, kenapa usaha saya menelpon kamu tidak ada kamu angkat? Saya chat juga belum kamu baca. Saya minta maaf karena baru bisa menghubungi kamu sekarang. Jangan marah karena hal itu, ya, saya khawatir tahu, sampai kamu tidak menjawab telpon dari saya, sebegitu marah kah kamu?" tanya Irsyad dengan nada khawatir yang belum juga luntur.
"Nggak, Kak. Kila nggak marah. Kila baru tahu Kak Irsyad menelpon ya sekarang ini," balas Kila dengan tegas agar kekhawatiran Irsyad hilang.
"Kila, kamu tidak tahu saya sudah menelepon kamu berapa kali? Bahkan saya sudah chat kamu sampai spam begitu, coba kamu lihat," jawab Irsyad, khawatirnya sudah agak mendingan.
"Ooh, maaf, Kak. Jadi, kakak khawatir karena Kila nggak baca chat dan nggak jawab telpon kakak, ya?" tanya Kila polos.
"Jelas saya khawatir, Kila," jawab Irsyad memberi pengertian.
"Kila kecapean tadi, jadi langsung tidur sampai maghrib. Kila nggak sadar kalau hp Kila bunyi dari tadi. Dan sekarang, Kila baru selesai check komputer untuk lihat perkembangan toko. Maaf ya, Kak," jelas Kila. Kekhawatiran Irsyad sepenuhnya hilang setelah mendengar alasan Kila itu.
"Alhamdulilah..., saya pikir kamu marah karena saya baru bisa menghubungi kamu sekarang. Makanya tidak ada satupun balasan dari chat dan juga telpon dari kamu. Saya minta maaf ya, penelitian saya sedang sibuk-sibuknya. Saya juga tidak bisa seenaknya menelpon atau menghubungi kamu di saat kamu tidur karena perbedaan jam. Saat kamu tidur di sana, di sini masih sangat terang. Tapi mulai besok saya akan terus menghubungi kamu karena untuk sekarang penelitian saya sudah lebih senggang. Kamu juga, jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi saya," tutur Irsyad.
"Ya Rabb, Kila juga lupa hubungi kakak. Kila juga sibuk banget untuk mempersiapkan perkuliahan. Maafin Kila juga ya, Kak," pinta Kila. Irsyad lega karena semuanya sudah lurus.
Percakapan terus berlanjut sampai Kila kembali tidur. Mereka membicarakan banyak hal bagaimana hari mereka berjalan. Irsyad juga bersedia bercerita sebagai peneman Kila untuk membuatnya mengantuk. Setelah sangat mengantuk dan memutuskan untuk tidur kembali, Kila meminta izin untuk memutus sambungan telepon. Mungkin Kila akan mimpi indah malam ini.
"Al-mulk nya jangan lupa," ujar Irsyad melalui pesan chat. Setelah memutuskan sambungan telepon, Irsyad memilih mengingatkan Kila melalui chat. Kila memang hampir saja melupakannya, mungkin sisa lelahnya tadi masih ada. Untung ada imam yang baik dan mengingatkan Kila untuk berbuat kebaikan.
Rutinitas membaca surah Al-mulk sebelum tidur memang selalu dilakukan Kila dan juga Irsyad. Bagaimana tidak, membacanya sebelum tidur sangatlah memberikan manfaat. Surah Al-Mulk dapat menjadi syafaat di hari kiamat, mencegah siksa kubur, dijauhkan dari api neraka dan mendapatkan pahala bagi pembaca dan penghapalnya. Karena sering membacanya, Kila juga sampai hafal surah penuh manfaat itu.
...****************...