Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bertatap Kembali



Di saat kelas sibuk dengan sosok Irsyad, Kila masih dengan lamunannya, berinteraksi dengan dirinya yang satunya di dalam pikirannya sendiri. Kila sampai pada kesimpulan, isi hati Kila ingin berdamai dengan mama dan papanya. Namun, Kila pasti tidak diberi kesempatan untuk bicara dan didengar mereka. Kila tidak mengerti, apakah orang tuanya itu memikirkan perasaan anaknya?


"Saya ingin kita berta'aruf." Sebuah kalimat pendek itu sukses membuat Kila bebas dari lamunannya. Ada sebuah kata yang asing dan Kila senang mendengarnya.


Bagaimana bisa, Kila berpikir tentang ta'aruf? Apa karena mamanya yang semalam membahas tentang pacaran? Argh, pikiran anehnya makin menjadi. Kila sontak mencari sosok yang mengucapkan sepenggal kalimat itu. Tatapannya langsung bertemu dengan si pengucap. Bagaimana bisa ini terjadi? Apa pria itu berbicara langsung pada Kila? Dan pria itu sudah menatap Kila duluan tanpa Kila sadari.


Seperti ada magnet, sepasang retina hazel pekat milik si pria menarik Kila untuk menatapnya. Sepertinya ia mengenali sepasang retina itu karena ia pernah menatapnya sebelumnya. Benar-benar mata yang indah.


"Aaa... Buat apa aku memikirkan masalah yang terjadi di rumah. Ada orang-orang yang membuatku bahagia disini. Ada dua sahabat ku yang selalu ada buatku, dan ada juga pria ini yang membuatku selalu memikirkannya. Ta'aruf, kenapa tidak kupikirkan untuk segera menikah muda saja dan meninggalkan mama dan papa?" batin Kila berucap. Sepenggal kalimat yang tak utuh yang Kila dengar dari si pengucap membuat Kila berpikir untuk bebas dari mama dan papanya. Jika si pengucap itu yang mengajukan untuk berta'aruf duluan, sudah pasti Kila menerimanya. Dengan detik itu juga, Kila jadi sadar bahwa dirinya sudah menaruh hati pada si pengucap, Irsyad.


"Saya ingin kita berta'aruf." Sepenggal kalimat itu kembali terngiang di kepala Kila. Tak tersadar olehnya, ia sampai mengukir senyum di bibir. Tak bisa dipungkiri, respons Kila itu adalah refleks yang sangat jujur akan perasaannya yang sebenarnya. Kemudian dengan sigap Kila menundukkan kepalanya agar senyum yang baru saja ia sadari itu tak terlihat oleh sang guru.


"Saya harap, kalian mengerti dan segera kerjakan." Lanjutan kalimat dari Irsyad dilontarkannya dari perkataannya yang belum rampung sebelumnya.


"Baik, Pak," jawab seluruh kelas.


Irsyad yang tadinya menaruh pandangan pada Kila kini mengganti pandangannya dengan menatap seluruh siswa. Lalu duduk ke kursi guru yang terletak didepan meja Kila. Senyum Kila memudar seketika saat semua orang di kelas menyahuti Irsyad. Sahutan seluruh kelas itu menandakan bahwa Kila sudah salah paham dengan apa yang didengarnya. Kila pun langsung membenamkan wajahnya di atas meja, merasa malu karena sudah salah mengartikan sebuah kalimat yang tak utuh yang baru saja ia dengar. Sesaat kemudian kepala Kila menghadap ke kanan menatap ke arah meja Ira dan Risa. Terlihat dua orang itu sedikit tertawa tapi langsung disudahi saat mereka sadar sedang diperhatikan oleh Kila.


"Ira, Risa, awas kalian, ya. Dan ini, kenapa ada Pak Irsyad disini?" batin Kila. Posisi duduk Kila kini berubah menjadi duduk tegak dengan kepala menunduk menatap ke mejanya dengan bertopang dagu.


"Kamu, namanya siapa?" ucap Irsyad.


"Kamu, yang duduk sendiri tanpa teman semeja di depan saya. Saya berbicara pada kamu." ucap Irsyad lagi lebih tegas.


"Maksud bapak, saya, Pak?" tanya Kila kebingungan. Kila sedikit mengerutkan dahinya dan berpikir, apa Kila tidak salah dengar lagi dengan ucapan Irsyad ini? Lalu, kenapa Kila diajak bicara oleh Irsyad?


"Iya, kamu."


"Saya lihat kamu tidak memperhatikan penjelasan dari saya, benar begitu?"


"Umm, maaf, Pak. Bapak benar. Saya janji tidak akan mengulangi lagi, Pak."


"Oke kalau begitu. Saya bicara pada kamu karena pasti kamu tidak tahu ada tugas yang harus dikerjakan. Saya hanya ingin kamu tahu, saya wali kelas pengganti yang mengampu kelas ini. Mata pelajaran yang saya ajarkan adalah bahasa Indonesia. Untuk biodata lengkap saya, sudah saya paparkan di papan tulis, silahkan kamu baca. Dan, karena kamu sudah kenal saya, ada tugas yang saya berikan ke seluruh murid termasuk kamu, untuk membuat biodata pribadi di selembar kertas untuk saya mengenal murid saya di kelas ini. Ada tambahan tugasnya, diakhir biodata itu saya minta kamu tulis dalam bentuk deskripsi tentang orang yang berharga buat kamu. Tidak boleh bertanya tugas tambahannya ini untuk apa. Tulis saja, ini berkaitan juga dengan pelajaran saya."


Suasana antara Kila dan Irsyad menjadi serius seketika. Kila tidak tahu harus merespon seperti apa atas penjelasan Irsyad tadi. Tapi penjelasan itu sudah cukup jelas untuk seukuran Kila yang cepat menangkap penjelasan semua guru, jadi Kila tidak ingin menanyakan tentang tugas yang diberikan oleh Irsyad. Namun, Kila juga harus memasang wajah tanpa ekspresi untuk menyamarkan berbagai ekspresi yang bergejolak dibatinnya karena berbicara berdua seperti ini dengan Irsyad. Mengingat, posisi wajah Irsyad sedikit dimajukan condong menuju meja Kila agar percakapan mereka tak terdengar oleh murid lain yang sudah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Irsyad.


Tidak ada yang bicara lagi, kemudian menciptakan keheningan. Suasana menjadi canggung. Seharusnya Kila menanggapi perkataan Irsyad, tapi ia memilih diam tak berkutat sedikitpun. Suasana menjadi sangat serius sekarang.


Terlihatnya raut wajah Kila penuh ketegangan, Irsyad kemudian tertawa kecil dengan sangat pelan namun masih dapat terdengar oleh Kila. Kila tidak berani menatap lagi, ia juga tidak merasa sedang ditertawakan oleh Irsyad.


"Santai, santai. Jangan terlalu serius.saya cuma mau mengerjai kamu saja. Soalnya kamu terlihat sangat mendalami saat melamun. Kenapa? Putus cinta, ya?" ujar Irsyad memecah keheningan.


"Enggak kok." Kila sedikit menekankan jawabannya. Ia paling tidak suka sesuatu tentang percintaan yang menyangkut dirinya dibawa-bawa. Meskipun itu hanya candaan.


"Ya sudah, kamu kerjakan yang saya jelaskan barusan," kata Irsyad mengakhiri percakapan. Kemudian hanya dibalas oleh tindakan oleh Kila dengan mengoyak tengah bukunya dan mulai menggoreskan pena diatasnya.


"Deskripsi tentang seseorang yang berharga buatku, ya? Udah pastilah nenek. Aku tulis mulai darimana, ya? Jangan sampai bawa-bawa mama papa, deh. Tentang nenek aja sepenuhnya." Batin Kila menimbang dan berpikir darimana akan ia tulis duluan deskripsi tentang neneknya itu.


Di seberang, Irsyad tampak sedikit mengintip apa yang ditulis Kila. Bukan mengintip, tapi Kila memberi celah untuk siapapun yang ingin melihat yang ia tulis bisa terlihat apa yang ditulisnya, jadi lebih tepatnya melihat dengan izin tidak langsung. Irsyad sedikit heran dengan apa yang ditulis oleh Kila. Pasalnya, pada bagian deskripsi orang yang berharga bagi hidupnya ia tidak menuliskan tentang orangtuanya seperti kebanyakan murid melainkan menuliskan tentang neneknya. Irsyad kemudian menyadari keunikan Kila dalam mengembangkan kata-kata dalam deskripsi yang dibuatnya.


"Humm, gadis yang unik," batin Irsyad.


...****************...