
Pembicaraan dimulai dari kejujuran semua pihak. Saat pihak ini menjelaskan, pihak yang lain benar-benar mendengarkan dengan seksama. Seperti sebelumnya, Gilang jujur dengan perilakunya, dan ia menceritakan itu tanpa rasa sesal sedikitpun. Sedangkan alasannya menyembunyikan kebenaran itu tidak ada, sebenarnya ia memang tidak menyembunyikannya, orang-orang saja yang lambat mengetahuinya padahal Gilang sangat terang-terangan berjumpa dengan selingkuhannya di ruang publik. Sebenarnya gerak-gerik Gilang juga sudah menjadi pertimbangan kecurigaan akan perselingkuhan, karena Riska yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya saja jadinya hal itu sama sekali tidak Riska perhatikan sebelum Kila memperingatkan langsung.
Selanjutnya, tentu saja Riska dan Kila tidak senang dengan pernyataan itu. Namun, karena peraturannya adalah membiarkan semua pihak bicara dulu tanpa di tanggapi, mereka harus menahan diri sampai semua pihak bicara.
Nabila dan Mamanya bertolak belakang. Nabila menyatakan bahwa dirinya sangat menyesal karena tak mampu mencegah perbuatan mamanya. Sedangkan mamanya, ia dengan bangga menjelaskan alasan kenapa Gilang lebih memilih dirinya daripada Riska, ia tidak ada rasa menyesal sedikitpun.
Karena pernyataan dari mamanya Nabila, Irsyad mulai ikut bicara. Ia mengatakan apa yang ia tahu dari Nabila, tentang hubungan antara Gilang, Papa serta Mamanya Nabila. Bagian terpenting itu tidak dijelaskan oleh Nabila saat gilirannya bicara tiba, makanya itu dijelaskan detil oleh Irsyad. Akar permasalahan perselingkuhan akhirnya diketahui oleh semua pihak.
Semua pihak telah bicara. Riska dan Kila menjelaskan semua yang ia lihat dan pikirkan. Termasuk mengenai solusi yang tepat selain perceraian atau poligami. Mendengar kata poligami, sang selingkuhan menyunggingkan senyum. Jika poligami itu jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah, status nya akan meningkat, meskipun hanya jadi istri kedua.
Selanjutnya, pihak lain berhak menanggapi pernyataan dari pihak yang lainnya. Kila yang mulai lebih dulu, karena telah mengangkat tangannya. Di sini yang menjadi mediatornya adalah Irsyad.
"Pa, Kila tahu Papa seorang laki-laki. Ingin sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Selain ingin harta yang banyak, tahta yang tinggi, Papa juga menginginkan wanita yang lebih dari istri sendiri. Niat baik Papa untuk menanggung hidup mereka itu awalnya baik, tapi kenapa Papa jadi terjebak dengan masa lalu dan malah melakukan hal yang nggak baik. Papa dengan bangga pula menjelaskan perilaku Papa tanpa rasa sesal. Katakan, apa masih ada rasa cinta di hati Papa untuk Mama? Katakan, Pa!" ujar Kila mencari kebenaran. Nadanya terdengar goyah saat bicara.
"Tentu masih!" jawab Gilang tegas.
"Ya kalau gitu, kenapa harus ada orang ketiga? Apa satu wanita aja nggak cukup?" sanggah Kila. Matanya mulai memerah, percampuran marah dan ingin mengeluarkan air mata.
Riska terlihat mengangkat tangannya untuk ikut menimpali. Irsyad mempersilahkan.
"Benar kata Kila. Tapi, setelah saya pikir, saya tidak ingin di madu. Rasa cinta saya kepada Anda masih ada sebelumnya, meskipun saya tahu Anda telah berselingkuh. Namun, setelah mendengar pernyataan tanpa sesal yang keluar dari mulut Anda, rasa cinta itu berubah menjadi rasa benci. Bahkan, saya enggan dan jijik melihat Anda yang dengan bangga memamerkan aib sendiri. Mungkin solusi terbaiknya adalah perceraian," ujar Riska lancar dan tenang. Keputusannya untuk cerai terlihat mantap sekali.
Lanjut terlihat Nabila mengangkat tangannya ragu-ragu.
"Sebaiknya, pikirkan baik-baik tentang perceraian. Apa itu solusi terbaik? Bagaimanapun juga, Anda berdua sudah menikah sejak lama, banyak yang telah dibangun bersama. Pikirkan tentang semuanya yang akan berakhir dengan berakhirnya hubungan Anda berdua. Sama seperti yang terjadi pada keluarga saya, saat keadaan ekonomi tidak tercukupi dengan baik, hidup kelimpungan itu sangat tak mengenakkan. Apalagi, hal itu dapat memicu permasalahan baru, membuat orang tua saya menjadi memanfaatkan kebaikan orang lain demi memikul ekonomi keluarga. Selanjutnya, ia bahkan memanfaatkan sepenuhnya orang itu dan tanpa bersalah hidup nyaman menjadi selingkuhan orang yang sudah punya anak dan istri. Pikirkan lagi, rantai ini akan terjadi lagi seperti lingkaran setan yang tidak ada putus-putusnya kalau perceraian adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan ini."
Selesai Nabila bicara, sang mama menyanggah, "Kamu ada di pihak mana Nabila?"
"Ma..., Aku cuma pengen Mama buka mata. Kita udah berkecukupan dengan uang yang aku hasilin. Kalaupun kurang, aku akan terus bekerja keras lagi sampai Mama ngerasa cukup. Jadi, stop bangga sebagai selingkuhan orang!" ucap Nabila memberi pengertian. Nadanya meminta sang mama untuk mengerti.
"Ma, apa istikharah Mama mengatakan kalau pilihan ini yang terbaik?" tanya Kila berbisik pada Riska. Riska mengangguk membenarkan.
Kila menarik nafas dalam untuk bersuara lagi. Kali ini ia meminta Allah untuk memudahkan lisannya bicara. Ia tidak ingin ucapannya menyakiti pihak manapun. Ia juga tidak ingin bicara sebagai anak yang durhaka.
"Kalau gitu, setuju. Menurut Kila, lebih baik ini semua diakhiri jika tidak ada lagi kebahagiaan yang tercipta. Karena kebanyakan pernikahan itu terjadi untuk menciptakan kebahagiaan, kan? Kalau yang bahagia hanya satu pihak aja, tidak ada gunanya lagi ikatan pernikahan. Lagian, memang lebih baik diakhiri, udah nggak ada lagi yang bisa dipertahankan. Jual aja semua yang kalian bangun bersama, sisanya bagi dua. Kalau Papa ngerasa ada usaha yang benar-benar murni dibangun sendiri, ya udah, pertahankan usaha itu. Toh, nggak ada sangkut paut harta orang lain di situ. Kila percaya, setelah perceraian pasti semuanya akan terlihat lebih sehat. Mama nggak perlu lagi memikirkan untuk mempertahankan pernikahan setelah tahu si suami malah ingin membubarkan pernikahan dengan selingkuh," ucap Kila memulai. Awalnya nadanya tegar, namun setengah jalan nadanya goyah. Teringat meskipun ia tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari kedua orangtuanya, ia masih merasa bahagia setiap saat orangtuanya mengunjunginya di rumah nenek.
"Lalu Papa bisa bersikap bebas, tidak perlu ada rasa khawatir tentang orang yang tak senang dengan perilaku Papa. Tapi, meskipun cerai dari Mama, tidak ada mantan Papa, meskipun ada mantan suami. Papa tetaplah Papanya Kila. Kila juga nggak bisa lahir tanpa Papa. Kila nggak menyesali sedikitpun kalau yang menjadi ayah Kila adalah Papa. Kila bersyukur jadi anak Papa dan juga Mama," imbuh Kila dengan air mata yang telah lolos di bagian akhir ucapannya. Selanjutnya, ia malah mengingat masa-masa bersama dengan orangtuanya. Mengingat saat keduanya mengecup pipinya saat pertama sekali berangkat SMA, rela mengantarkannya meskipun mereka begitu sibuk, kemudian mengecupnya lagi saat di depan nenek, meskipun kikuk untuk berbuat manis seperti itu lagi. Itu membuatnya tidak rela harus mengetahui kedua orang tuanya harus berpikir sekarang, air matanya kian deras mengalir, hingga ia sesenggukan.
Irsyad di sana menenangkan Kila. Mengingatkan Kila untuk beristighfar, dan sesekali menarik nafas panjang agar tangisannya berhenti. Cukup lama Kila bisa berhenti menangis, sekitar setengah jam. Selama itu pula udara di ruang tamu terasa kering. Untuk menelan saliva saja terasa berat.
"Kalau gitu, semua pihak bisa kembali ke kesibukannya masing-masing. Kila rasa, pembicaraan sudah selesai. Masalah sudah terselesaikan. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk hadir bermusyawarah. Meskipun, hasilnya tidak sesuai harapan," ujar Kila setelah cukup tenang meskipun air mata masih bercucuran.
"Mama balik ke rumah Kila yang di sana, ya? Kila mau sendiri dulu, jadi belum bisa nyusulin Mama," lanjut Kila seraya mengusap tangan sang mama sekilas.
Semua orang berdiri untuk meninggalkan rumah Irsyad. Namun, sebelum benar-benar pergi, Gilang melontarkan ucapan terakhirnya. "Masalah perceraian, biar saya yang urus berkasnya. Riska, kamu tinggal menunggu surat itu datang sama kamu dan menandatanganinya," ucapnya.
Mendengar itu, sungguh membuat Riska naik pitam. "Setelah membuat Kila menangis hebat seperti ini, Anda bahkan sama sekali tidak memikirkan perasaan anak Anda sendiri? Padahal Kila sudah mengungkapkan kebanggaannya memiliki ayah seperti kamu. Memang keputusan yang baik adalah benar-benar bercerai. Kamu lelaki, bisa kamu melontarkan ucapan dan hubungan ini langsung berakhir, kenapa menunggu harus resmi?"
Gilang malas menanggapinya dengan malas. Ia menuruti permintaan Riska untuk yang terakhir kalinya sebagai istri agar masalah ini terselesaikan.
"Riska, Billahi dengan ini saya talak kamu sebagai istri saya! Kita bercerai!" ucapnya tanpa intervensi amarah sedikitpun.
"Masalah selesai~," ucap si wanita perebut suami orang itu senang. Ia sengaja mengucapkannya seperti mengejek. Dan ia tersenyum bahagia seperti ini adalah kemenangan untuknya.
Semua orang benar-benar pergi setelahnya. Irsyad sibuk menenangkan Kila sehingga tidak mengawasi mereka keluar, dengan ekspresi apa mereka keluar.
...****************...