Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Ketetapan Hati



Ujian sudah satu pekan berlalu. Pekan selanjutnya, ujian berhenti di hari Jum'at. Sejak kejadian muntah nenek waktu itu, Irsyad selalu memberikan perhatian berlebih. Terutama soal sudah atau belumnya nenek memasukkan makanan ke dalam perutnya. Syukur Alhamdulillah, setelah kejadian itu, nenek jadi lahap makan karena Irsyad juga selalu membawa makanan.


Malam ini, Kila mungkin dapat merasakannya. Malam yang biasanya di lakukan teman-temannya dengan pasangannya untuk bertemu atau memperlihatkan status mereka di Sabtu malam. Kila beruntung, kali ini Irsyad dapat bersamanya hingga sabtu malam seperti yang orang-orang lakukan. Meski bukan dalam status yang biasa orang-orang jalani.


Biasanya, mereka melakukan temu di Sabtu malam karena memanfaatkan waktu libur akhir pekan. Melepaskan penat dari sibuknya hari dengan menemui orang yang disayangi sebagai penyemangat.


"Mama sama papa belum ada kabar juga, apa mereka nggak mau jenguk nenek, ya? Seberapa sibuk, sih sebenarnya mereka?" Kila bersuara, hanya dirinya yang bisa mendengar. Rasanya ia kurang fokus belajar karena memikirkan berbagai hal.


"Assalamu'alaykum," Irsyad kali ini datang lebih cepat dari biasanya. Ia sengaja melaksanakan sholat Isya didekat rumah sakit agar segera sampai di rumah sakit.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak." Kila menjawab lengkap karena terkejut mendapati bahwa Irsyad datang lebih awal malam ini.


"Eh, Nak Irsyad udah datang. Senang deh, saya. Kila, kamu pergi sholat isya dulu sana, baru lanjut lagi belajarnya," ucap nenek. Kila merasa seperti terusir, tapi ia tetap menuruti karena memang dirinya berencana akan sholat juga sebelum nenek menyuruhnya.


"Apa kabar, Bu?" tanya Irsyad.


"Kabar saya baik, seperti yang kamu lihat. Kalau Nak Irsyad sepertinya kabarnya baik juga," balas nenek.


"Seperti yang terlihat, Bu," jawab Irsyad. Mereka tertawa kecil membahas topik kabar ini.


"Nak Irsyad sudah tidak perlu lagi datang kemari. Nanti merepotkan, terus orang-orang akan salah paham dengan kedatangan kamu yang sering kemari. Apalagi ini malam Minggu. Nanti kalau ada yang mengira kalau kamu pacar Kila bagaimana? Nanti nama kamu juga yang jelek, Nak. Pekan depan juga, Kila tidak ada ujian yang memberatkan jadi intensitas belajar nya bisa berkurang dan bisa menemani saya. Jadi, saya tidak punya alasan lagi menahan kamu di sini." Nenek mulai bicara serius.


Irsyad menelaah perkataan serius nenek. Ia juga merasa seperti mengunjungi seorang pacar di malam Minggu, hari ini. Ia bahkan tidak sadar itu sampai nenek yang menyampaikannya.


"Oiya, saya juga mau bilang, Nak Irsyad. Orangtua Kila sangat keras perihal laki-laki yang berhubungan dengan Kila, meskipun ia adalah seorang guru. Untuk saat ini, mereka belum ada kabar untuk mengunjungi saya, tapi jika tiba-tiba mereka datang karena urusan bisnisnya sudah selesai akan gawat untuk Kila," sambung nenek.


"Baiklah, jika itu yang terbaik. Tapi jika Ibu merasa butuh sesuatu, silahkan hubungi saya kapanpun," jawab Irsyad. Ia menanggapi seperlunya saja.


"Terimakasih banyak atas bantuan kamu selama ini, Nak Irsyad. Jazakallahu khair. Jangan merasa kapok, ya," kata nenek lagi.


"Iya, Bu, sama-sama. Saya senang dapat membantu," jawab Irsyad dengan senyum datar.


"Orangtuanya Kila memang keras terhadap laki-laki yang dekat dengan Kila. Bahkan Kila tidak diizinkan dekat dengan laki-laki manapun. Ia juga tidak dibolehkan pacaran, memang bagus sih, saya juga tidak membolehkannya pacaran. Tapi, mereka bahkan melarang Kila menikah sebelum Kila mendapatkan gelar sarjananya. Itu sih, berlebihan. Mana kita tahu sebelum Kila kuliah sudah bertemu jodoh." Nenek membeberkan tentang orangtua Kila.


"Nak Irsyad, boleh saya mengamanahkan sesuatu kalau terjadi apa-apa dengan saya?" ucap nenek menjadi sendu. Irsyad menjadi lebih serius mendengarkan baik-baik apa yang ingin diucapkan oleh nenek.


"Kalau saya sudah dipanggil oleh Allah, kamu bisa, kan, jagain Kila? Kamu laki-laki baik, guru terbaik juga. Tapi saya tidak bisa memaksa kamu untuk selalu menjaga Kila, ya? Huuh, andai saja saya bisa menetapkan seseorang untuk menitipkan Kila saat saya memenuhi panggilan Allah, pasti saya akan lebih tenang. Sayangnya, orang itu adalah kamu, Nak Irsyad. Sejujurnya, saya sangat menginginkan kamu sebagai orang yang akan selalu ada di sisi Kila menggantikan saya. Saya ingin Kila mendapatkan seorang imam seperti kamu, malah saya ingin kamu yang menjadi imam itu. Nak Irsyad, tolong awasi Kila, ya. Perhatian sikap kecilnya, kamu pasti bisa mencari sesuatu yang spesial dari Kila dan dari situ kami tidak bisa terlepas dari Kila dan selalu ingin menjaganya. Saat sudah tahu itu, kamu akan seperti saya, selalu ingin berada di sisi Kila melihatnya, menjaganya, menjadi teman mengobrolnya, tempatnya mencurahkan isi hatinya. Ini hanya pesan yang ingin saya sampaikan supaya saya lega dan bisa tenang meninggalkan Kila sendirian. Kamu juga memiliki hak untuk tidak memenuhi pesan ini." Nenek mengucapkan panjang lebar. Sementara Irsyad gemetar mendengar pesan itu. Apa ini sebuah wasiat terakhir sang nenek?


Kila mendengar bagian terakhir tentang pesan. Ia juga peka kalau neneknya mengungkapkan itu karena merasa tidak ada harapan kesembuhan.


"Nenek ngomong apa, sih? Nenek pasti sembuh, kok. Buktinya sekarang nenek udah bisa bangun, nggak kayak waktu itu. Nenek harus positif thinking kalau nenek bakalan sembuh dan pulang ke rumah," ucap Kila gusar. Ia baru saja menenangkan diri setelah sholat, dibuat khawatir lagi dengan ucapan nenek yang mengisyaratkan pernyataan selamat tinggal.


Kila mendekati sang nenek lalu mengelus lembut tangannya. "Nenek sayang, kan, sama Kila? Jadi, nenek harus yakin kalau nenek akan segera sembuh. Terus, Kila bisa curhat-curhatan lagi sama nenek. Jangan bahas pesan-pesan terakhir kayak gitu lagi, ya, Nek. Kalau nenek sayang sama Kila, nenek nggak akan ninggalin Kila." Kila beralih memeluk neneknya. Ia menitikkan air mata karena membayangkan ucapan neneknya itu akan terjadi, ia akan kehilangan nenek selamanya.


Irsyad, ia duduk melihat nenek dan cucu itu. Hatinya begitu tersentuh melihat mereka. Ada rasa ingin mewujudkan pesan sang nenek secepatnya, tapi ia tahu posisinya sekarang tidak tepat melakukan itu. Ia bisa menunggu, dan ia harus bicara dengan orangtuanya Kila jika nenek benar-benar dipanggil untuk pergi selamanya.


...****************...