Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Berjuang untuk Kemenangan yang Sudah Pasti Tidak dapat Diraih.



Farhan sangat senang hari ini. Ia mewakili kampusnya dan mewakili sebagai alumni sekolahnya untuk mempromosikan kampusnya di SMAnya. Jika ada waktu luang, ia ingin bicara dengan Kila. Mungkin akan sulit untuk masuk kelas Kila mempromosikannya, karena mereka berbeda jurusan, Farhan IPA dan Kila IPS. Jadi, ia memanfaatkan waktu saat jam shalat nanti untuk bicara dengan Kila.


Karena jurusan yang diambil oleh Farhan adalah jurusan SAINTEK (Sains dan Teknologi) maka ia hanya berkeliling di kelas IPA saja. Selesai ia berkeliling bertepatan dengan waktu Dzuhur. Karena sudah hampir dua tahun ia tidak ke sekolahnya, ia ingin mengumandangkan adzan di musholla. Ia sedang bahagia sekarang, ia memilih adzan dengan irama jiharka.


"Eh, udah adzan tuh guys. Sana ke musholla. Yang adzan siapa, ya? Beda gitu suaranya, kayak ada nada bahagianya. Merdu lagi, nggak mungkin Pak Irsyad, soalnya orangnya lagi nggak di sini," celetuk Ira. Mereka masih nongkrong di kantin karena sekarang masih jam istirahat.


"Eh, iya, Ra. Nggak terasa juga, ya. Kil, ayo ke musholla. Udah adzan tuh," ajak Risa ke Kila.


"Ra, itu adzan dengan irama jiharka. Biasanya memang di irama itu punya karakteristik yang memancarkan aura bahagia. Mungkin orangnya dalam suasana hati yang bahagia, makanya memilih irama itu," ujar Kila memberi penjelasan. Ira langsung manggut-manggut setelah diberikan penjelasan. Lalu, Kila dan Risa bergegas menuju musholla meninggalkan Ira.


Semua orang sudah selesai melakukan shalatnya. Risa pamit duluan ke Kila, karena sudah berjanji untuk langsung ke tempat Ira setelah selesai shalat. Kila mengiyakan dan melanjutkan kekhusyukan-nya memuji Allah dan bershalawat kepada nabi Muhammad Saw. Kemudian ia menutup dengan doa. Dzuhur Kila hari ini lebih cepat ia selesai, itu karena waktu Dzuhur yang semakin lama kian cepat datangnya. Ia segera mengembalikan mukenah dan menyusul dua sahabatnya.


Sungguh mengejutkan, Farhan sudah menunggu di lorong dekat musholla supaya dapat berbicara dengan Kila.


"Kila, saya ingin berbicara sebentar," seru Farhan cepat saat Kila sadar akan kehadiran Farhan dan ingin menghindar. Kila diam tidak menjawab. Farhan memutar otak agar Kila bicara.


"Assalamu'alaykum, Kila," ucap Farhan. Benar saja, Kilapun langsung menjawab salam itu.


"Kamu masuk di kampus saya, ya. Jurusan soshum di sana sudah terakreditasi A semua. Kalau kamu memilihnya sebagai pilihan jalur undangan, saya yakin kamu akan dengan mudah masuk dengan nilai yang kamu punya itu. Saya ingin satu kampus dengan kamu, menggantikan Kak Irsyad saat Kak Irsyad ada di Turki. Saya ingin menjaga kamu juga karena selama saya lengah, kamu sudah menaruh hati seutuhnya kepada Kak Irsyad. Mungkin kamu tidak akan suka berlama-lama bicara dengan saya. Saya rasa itu saja yang ingin saya katakan. Saya senang bisa mengatakannya. Kamu sudah bisa kembali ke kelas kamu. Terimakasih sudah mendengarkan saya." Farhan menyampaikan semua yang ingin disampaikan kepada Kila.


Kila langsung pergi setelah Farhan selesai bicara. Kila semakin tidak mengerti maksud Farhan. Setelah seenaknya membuat keraguan di hati Kila waktu itu, kini Farhan berulah membuat Kila tidak ingin satu kampus dengan Farhan setelah Farhan mengungkapkan itu. Ia sudah tahu kalau Irsyadlah yang sudah pasti akan menang, tapi Farhan masih tetap berjuang meski terlambat dan berharap ada keajaiban untuk menyentuh hati Kila dengan perjuangannya itu. Mungkin itulah definisi berjuang untuk kemenangan yang sudah pasti tidak dapat diraih, parahnya kemenangan itu sudah pasti diraih oleh orang lain dan kamu sudah tahu siapa pemenangnya.


"Aargh, Kak Farhan kenapa harus berkata seperti itu? Pokoknya aku tidak mau satu kampus dengan Kak Farhan," batin Kila.


...****************...


Farhan mengunjungi rumah Citra hari ini. Ia mendapat kabar bahwa Irsyad akan kembali dari Turki karena sedang liburan musim panas. Farhan diundang langsung oleh Irsyad, ia juga datang bersama Yuli untuk memenuhi undangan itu. Yuli sangat excited karena sudah tidak bertemu Irsyad selama dua tahun.


"Gimana di Turki, kak?" tanya Yuli memulai pembicaraan.


"Baik. Semuanya bagus," jawab Irsyad.


"Yuli juga mau nih coba beasiswa itu. Jurusan kuliah yang Yuli ambil nggak cocok, kayaknya Yuli salah jurusan, deh," ujar Yuli asal.


"Ha? Ada-ada aja kamu, Yul. Udah mau semester lima kita, lho. Sayang banget kalau nggak diterusin," balas Farhan menanggapi.


"Justru karena masih semester lima, Han. Lagian aku nggak mau belajar sesuatu yang aku nggak suka. Waktu itu aku cuma asal milih aja biar keterima di jalur undangan. Sekarang aku udah tahu dimana aku sukanya. Dan kayaknya, aku mau lintas jurusan ke soshum. Soalnya, mata kuliahnya nggak sesusah saintek," jawab Yuli.


"Iya deh, iya," balas Yuli malas.


"Oiya, Kak. Kakak ke sini sampai berapa hari? Ada urusan kah disini?" tanya Yuli mengganti topik pembicaraan.


"Iya, ada sesuatu yang harus dilakukan. Sampai libur musim panas selesai, mungkin saya akan terus di sini. Tapi tidak tahu, lihat keputusannya nanti."


"Ada urusan berarti ya, Kak? Urusan apa?"


"Rahasia. Nanti kakak beritahu saat tiba waktunya."


"Apaan sih, Kak. Main rahasia-rahasiaan segala. Ya udah deh, nunggu kakak kasih tahu aja."


Farhan mengerti urusan apa yang akan dilakukan Irsyad. Kila sudah lulus sekolah, sudah menerima ijazah pula. Sudah pasti mereka akan melangsungkan pernikahan. Farhan tidak suka dengan mimik wajah senang Irsyad saat bicara tentang urusan itu.


...****************...


Irsyad tahu di tiap Hari Minggu Kila akan datang ke rumah. Benar saja, gadis itu sudah ada di dapur bersama bundanya. Ia ingin menghampiri Kila, tapi ia tidak ingin bundanya menggoda. Jadi, ia menunggu waktu saat bundanya tidak ada di dapur baru menghampiri Kila.


"Kila, kita kehabisan baking powder kayaknya. Bunda ke toserba dulu, ya." Tepat sekali, momen yang ditunggu Irsyad datang.


"Iya, Bun."


Citra sudah tidak ada di dapur, dan ini kesempatan Irsyad untuk menghampiri Kila. Ia melihat punggung kaku dari Kila, ada aura kesedihan yang terpancar. Dilihatnya, Kila langsung melamun setelah ditinggal Citra pergi ke toserba.


"Apa yang dilamunkan gadis itu?" pikir Irsyad.


Irsyad mendekat dengan perlahan. Saat sudah dirasa cukup dekat, Irsyad mengungkapkan topik yang berputar di kepalanya.


"Kila, mulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus, kan? Kapan kita akan melangsungkan pernikahannya? Saya mumpung masih di sini karena liburan musim panas." Seperti biasa, tanpa basa-basi. Irsyad melihat reaksi agak terkejut dari Kila. Lalu dilihatnya Kila diam cukup lama. "Apa aku terlalu blak-blakan, ya?" tanya Irsyad dalam hati.


"Pak Irsyad? Sejak kapan pulang dari Turki? Saya tidak tahu kalau ternyata ada Pak Irsyad di rumah Bunda Citra," balas Kila setelah diam cukup lama. Irsyad paham, Kila masih mencerna perkataannya. Biarlah Kila mengalihkan topik pembicaraan, nanti juga akan dibahas lagi.


"Saya sudah lima hari di sini. Aa, soalnya yang saya bilang tadi sepertinya lebih baik kita bicara bersama ayah dan bunda. Ya sudah, kamu lanjutkan saja memasaknya. Maaf mengganggu." Irsyad jadi tidak enak dan mengurungkan niatnya untuk membahas hal penting itu sekarang. Kalau dipikir-pikir lagi, membahasnya saat sedang berdua seperti ini juga tidak baik juga. Mungkin Irsyad akan membahasnya saat selesai ashar nanti.


...****************...