Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bukti



Malam dengan sinar purnama yang benderang itu kini tiba. Karena Gilang dan Riska ke rumah Citra menggunakan taksi online sebelumnya, Irsyad menawarkan untuk keduanya ikut menebeng mobilnya agar di antarkan menuju hotel tempat mereka menginap. Hitung-hitung sebagai usaha untuk akrab dengan mertua.


Di dalam mobil, Riska memperhatikan Kila dan Irsyad yang duduk di depan. Kemudian mengalihkan perhatian terhadap cincin yang ada di jari manis Kila, memastikan pula bahwa Irsyad juga memakainya.


"Kayak pengantin baru aja masih pakai cincin nikah segala," goda Riska. Bukan sifat Riska, ini lebih ke sifat nenek. Riska juga memiliki darah nenek, pasti sifat nenek ada yang melekat pada Riska. Meskipun ia tidak pernah menunjukkan sifat itu pada Kila. Atau kita tidak tahu, godaan yang dilontarkan Riska hanya sekedar alibi belaka.


"Kita pengantin baru, Ma. Belum ada satu tahun tinggal bersama," balas Irsyad diselingi tawa. Sementara Kila, ia tidak berani membalas. Karena baru hari inilah cincin itu ia pakai. Kata "masih" dari ucapan Riska bermakna kalau Kila sudah memakai cincin itu sejak lama, nyatanya tidak.


"Mama sama Papa kalau lagi mau ke sini, lebih baik nginap di rumah kita aja. Ada kamar tamu dan meja kerjanya, kok. Jadi, walaupun sibuk dengan kerjaan, Mama dan Papa masih bisa kerjain," ujar Kila. Membahas hal lain untuk mengalihkan topik tentang cincin itu.


"Terimakasih, Kila. Mungkin di kunjungan lain waktu, ya. Ini benar-benar dadakan, tidak terpikir untuk menginap di rumah kamu dan terlanjur memesan hotel," jawab Gilang.


Mereka berempat tidak melanjutkan percakapan. Dari awal memang Kila tidak dekat dengan orangtuanya, maka akan sulit pula untuk Irsyad mengakrabkan diri dengan orang tua Kila. Tiadanya percakapan lagi jiga dipicu dengan kedua orang tua itu sibuk berkutat dengan ponselnya.


...****************...


Sementara itu, di lain sisi. Nabila ingin mengunjungi rumah Citra untuk meminta pembalut tambahan. Saat ingin berkunjung, ia melihat ada mobil yang terlihat akan dikemudikan Irsyad di dalam, bersiap keluar gerbang. Lalu, Nabila melihat orang yang dibawa Irsyad, tiga orang lainnya yang diantaranya tidak asing bagi Nabila.


"Wah..., abis ada pertemuan keluarga besar, nih kayaknya," tebak Nabila.


"Pria di belakang kayak nggak asing, deh," ingat Nabila sebelum melanjutkan langkah untuk masuk ke rumah Citra.


"Malam, Bu Citra. Maaf mengganggu jam istirahatnya," sapa Nabila di depan pintu rumah Citra.


Pintu terbuka, suara Nabila sudah pasti terdengar. Citra menghampiri Nabila dengan cepat. "Oooh, Nabila, toh. Ada apa?" sapa Citra


"Ini, Bu, stok pembalut," ujar Nabila singkat karena kikuk. Namun, Citra sudah tahu maksudnya hanya dengan kalimat singkat itu.


"Ooh, iya iya. Tunggu sebentar, ya. Kamu masuk aja dulu," ucap Citra menawarkan.


"Terimakasih, Bu. Tapi saya tunggu di sini aja nggak papa," tolak Nabila halus.


"Oke, sebentar, ya."


Citra kemudian bergegas mengambil sesuatu yang dibutuhkan Nabila. Lalu, memberikan langsung ke Nabila. Namun, Nabila tak langsung ingin kembali ke kamar kosnya. Ia ingin bicara dengan Citra tentang rasa penasarannya.


"Abis datang keluarga besar, ya, Bu?" basa-basi Nabila.


"Hehe, iya, nih. Keluarganya Kila. Mereka berkunjung di hari libur gini, jarang-jarang, sih. Nah, tadi anak saya nganterin mereka ke hotel tempat mereka menginap," jawab Citra seperlunya.


"Ooh, begitu, ya. Maaf ya, Bu karena menggangu di jam istirahatnya, apalagi abis kedatangan tamu pasti kelelahan," ucap Nabila tidak enakan.


"Iya, nggak masalah. Lagian, tadi juga ada Kila yang bantuin Ibu. Jadi, nggak terlalu capek." Citra membahas Kila, berarti Kila sudah cerita tentang dirinya ke Citra. Tampaknya sudahlah cukup basa-basi Nabila, sebab percakapan selanjutnya akan bersifat privasi.


"Kalau gitu saya pamit dulu, Bu. Terimakasih banyak, ya, Bu," pamit Nabila.


"Iya, sama-sama."


...****************...


Irsyad benar-benar hanya mengantar Gilang dan Riska sampai hotel saja. Tanpa turun dari mobil untuk mampir, Irsyad langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah.


Kila dan Irsyad tampak begitu kelelahan hari ini. Saat sampai rumah, keduanya bersiap untuk shalat witir dan langsung tidur setelah surah Al-Mulk dibaca.


"Iya, Kak. Makasih, ya," jawab Kila.


Ritual sebelum tidur telah selesai dilaksanakan. Kila yang kelelahan ingin segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, tangannya di cekal oleh Irsyad, sehingga ia masih dalam posisi berdiri.


"Kenapa tarik tangan Kila, Kak?" tanya Kila seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya yang sempat menutupi muka karena dicekal Irsyad.


"Kila, coba kamu tutup mata kamu," pinta Irsyad. Aneh, bukannya menjawab, ia malah menyuruh Kila menutup mata.


"Untuk apa?" tanya Kila heran.


"Jangan bertanya! Tutup saja!" titah Irsyad. Perlahan Kila menutup matanya.


Irsyad mendekat beserta sesuatu yang telah ia siapkan sebelumnya. Lalu memasangkannya ke Kila.


"Sekarang buka! Lihat leher kamu." ucap Irsyad. Perlahan Kila membuka matanya.


Kila merasa terharu karena dipasangkan kalung langsung oleh Irsyad. Namun, anehnya Irsyad begitu pandai memasang itu dengan menyembunyikan hawa keberadaannya,. meskipun ia hanya memasang tanpa membenarkan rambut Kila kembali. Kila tidak sadar kalau Irsyad tengah memasangkan kalung ke lehernya.


"Ma syaa Allah, kalung? Makasih banyak, Kak. Kak Irsyad pintar sekali mengejutkan Kila," ucap Kila bahagia seraya menarik rambutnya menutupi kalung yang tidak Irsyad lakukan saat memasangkannya.


"Gimana, kamu suka dengan kalungnya?" tanya Irsyad.


Kila melihat kalung yang sudah bertengger di lehernya. Memperhatikan desainnya yang bernilai estetika tinggi, simpel tapi elegan. Sebuah kalung dengan liontin berlian yang indah.


"Suka banget," jawab Kila antusias.


Kila begitu bahagia, sampai akhirnya ia ingin menyalurkan kebahagiannya juga dengan memeluk Irsyad. "Terimakasih banyak, ya, Kak. Kila suka banget sama kalungnya," ucap Irsyad dalam pelukan.


"Alhamdulillah. Kalau gitu, jangan dilepas, ya. Kalung ini akan terus menemani kamu. Mengingatkan kamu bahwa kalung ini milik kamu, dan kamu adalah milik pembelinya," ujar Irsyad seraya membalas pelukan Kila.


"Jika memakai cincin masih menjadi kebiasaan yang sulit untuk di jalani, kamu masih punya kalung ini untuk memberikan kepastian tentang status kita," lanjut Irsyad. Ia memberikan kelonggaran untuk Kila. Sebab, Kila belum terbiasa memakai cincin pernikahan mereka. Sebagai gantinya, Irsyad memberikan sebuah kalung yang memiliki fungsi yang sama seperti cincin pernikahan mereka, yaitu simbol kepastian status mereka.


"Kakak sejak kapan beli kalung ini?" tanya Kila.


"Sudah saya siapkan setelah kamu wisuda. Maaf baru memberikannya sekarang," jawab Irsyad. Kila terharu saat Irsyad benar-benar memperhatikan dirinya. Memberikan kalung itu dengan latar belakang yang pasti. Bahkan, Irsyad sudah lama memikirkan hubungan mereka, kenapa Kila ragu dengan menanyakan alasan Irsyad tidak memakai cincin pernikahan mereka?


"Sekarang saya bisa memberikan jawaban tentang alasan saya tidak memakai cincin pernikahan kita." Irsyad perlahan melepaskan pelukan. Ia memegang kedua pundak Kila seraya menatap Kila tepat ke manik matanya.


Kila melihat tatapan tulus di manik mata hazel milik Irsyad. Perlakuan manis ini sudah benar-benar menunjukkan jawaban, Kila tidak perlu tahu lagi alasan sebenarnya. Karena faktanya, Irsyad benar-benar memikirkan hubungan ini, itu saja sudah cukup. Hal yang barusan dilakukan Irsyad adalah bukti.


"Nggak perlu, Kak. Kila udah ngerti, kok. Membiarkan Kakak menjelaskannya langsung akan menyakiti hati Kakak," tolak Kila.


"Kamu benar-benar mengerti? Saya takut akan terjadi salah paham lagi jika tidak saya jelaskan dengan benar," balas Irsyad memastikan.


"Kila nggak perlu benar-benar tahu alasan Kakak. Semua yang Kakak lakuin ini udah lebih dari cukup untuk menebusnya," ucap Kila. Seketika Irsyad terenyuh mendengar ucapan Kila. Lalu dengan lembut mengakhirinya dengan mengecup lembut kening Kila.


Keduanya tidur dengan keadaan mendekap. Tidak ada jarak dari posisi tidur mereka. Mungkin keduanya akan mimpi indah kali ini karena keduanya tidur dengan senyuman di wajah mereka.


...****************...