
Akhirnya hari-hari sibuk Kila berakhir. Ujian Akhir Semester lima sudah ia jalani. Waktu libur kini datang. Karena sangat luang, Kila mengunjungi rumah Citra pagi-pagi untuk bersilaturahim. Sudah lama ia tidak mengunjungi mertuanya itu.
Kila berencana untuk menghubungi Irsyad duluan hari ini, meski bukan Hari Minggu ia ingin melakukan video call jika Irsyad tidak sibuk. Melakukan video call di rumah Citra mungkin akan mengurangi grogi saat Kila kembali bertatap setelah sudah lama tidak bertatap. Bundanya itu pasti akan ikut menemani Kila melakukan video call, jadi Kila dapat lebih leluasa bicara jika tidak sedang berdua saja.
Sampai di rumah Citra, mereka merencanakan untuk membuat makanan yang banyak. Saat ditanya Kila kenapa membuat kue sangat banyak hari ini? Citra hanya menjawab kalau ia sudah merindukan saat-saat membuat kue bersama dengan Kila. Untuk merayakan datangnya Kila hari ini, ia ingin membuat banyak kue. Padahal ini bukan Hari Minggu yang biasanya hanya di hari itu Citra membuat kue atau camilan. Sedikit aneh Citra ini, mirip seperti anaknya Irsyad yang kadang perilakunya sulit ditebak.
"Bunda..., Farhan numpang makan, dong. Soalnya orang rumah pada nggak ada di rumah, jadinya nggak masak hari ini. Mau makan mie instan juga malas masaknya. Boleh, kan?" Farhan datang sesaat setelah Citra dan Kila selesai menunaikan ibadah shalat dzuhur. Mereka juga sudah selesai membuat kue yang tadi. Dan sudah ada di ruang keluarga untuk menikmatinya bersama.
"Kamu ini, Han. Kalau masuk itu ucap salam dulu."
"Hehehe, maaf, Bun. Eh, ada Kila juga rupanya. Assalamu'alaykum bunda dan Kila."
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Kila dan Citra bersamaan.
"Baru buat kue, ya?" tanya Farhan. Melihat Kila dan Citra sedang menikmati kue membuatnya penasaran.
"Cuma buat bolu sih, Kak. Udah selesai, nih. Kak Farhan kalau mau minta sama bunda aja."
"Bun, Farhan juga mau, dong," pinta Farhan setelah mendengar saran Kila.
"Kamu jadinya mau makan nasi atau kue, nih? Kalau dua-duanya, makan nasi dulu. Kalau udah keenakan makan kue bunda, nanti kamu lupa makan nasi. Terus kue bunda cepat habisnya nanti."
"Bunda kok pelit, sih, soal kue ini. Biasanya juga kalau habis bunda nggak mempermasalahkannya."
"Kuenya bahan-bahannya mahal, Han. Bunda mau agak ngirit bulan ini. Jadi, kuenya mau bunda buat stok."
"Kayak bukan bunda aja makanan di stok-stok gitu. Ngirit itu bukan sifat bunda deh, kayaknya. Wong sama anak kos nya aja royal sampai difasilitasi lengkap kayak gitu. Iya, nggak, Kil?"
"Hahaha, iya Kak. Duh, Kak Farhan mau nyinggung Kila juga, kah?"
"Eh..., nggak gitu. Cuma, bunda nggak kayak biasanya aja. Udah ah, mau makan dulu. Makasih banyak ya bun, selalu jadi restoran gratisnya Farhan kalau saat-saat ini muncul."
"Iya, Han. Kamu kayak nggak biasa aja sampai bilang makasih segala," balas Citra membalikkan perkataan Farhan.
Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Minus Erwin, ia sedang tidak di rumah jam siang begini.
"Terimakasih sudah belajar keras dan bekerja keras di UAS ini, Kila. Mungkin, semester depan kamu akan lulus. Kalah dengan saya yang harus mendapatkan gelar sarjana dalam tiga tahun tiga belas bulan," ujar Farhan yang menciptakan topik baru dari percakapan mereka barusan.
"Kalau semester depan Kila lulus, berarti sama dong dengan kamu, Han. Sama-sama tiga tahun. Apanya yang kalah?"
"Wah, bunda kejebak, nih. Tiga tahunnya sih benar. Tapi tiga belas bulan itu, kan, sudah lebih dari satu tahun, Bun. Jadi, ya, kalah dengan Kila."
"Ooh, iya juga ya. Eh, maksud kamu apa menjebak bunda kayak gitu?"
"Siapa yang menjebak, sih, Bun? Orang bundanya yang kejebak sendiri, kok."
"Ih, Kila. Kamu kok nggak belain bunda, sih?"
"Hahahaha," gelak tawa Farhan dan Kila mendominasi. Dengan itu, Citra jadi jengkel dan memilih diam.
"Makasih, Kak, atas ucapannya. Kakak juga baru wisuda, kan, ya? Selamat, ya, Kak, udah lulus. Maaf banget, Kila nggak bisa hadir sangking banyaknya tugas," ujar Kila setelah berhenti dengan tawanya.
"Iya, nggak masalah, Kil. Makasih udah ucapin selamat atas wisuda saya."
"Iya, sama-sama, Kak."
"Tapi itu kamu udah termasuk lulus cepat, kan, Han? Dalam tiga setengah tahun udah lulus. Waktu wisuda kamu aja yang kelamaan."
"Hehe, iya Bun. Memang targetnya pengen cepat lulus, sih. Soalnya mau lanjut s2 langsung."
"Wah, mau lanjut s2 langsung, ya? Mau di Indonesia atau di luar negeri, Han?"
"Di Indonesia aja, deh, Bun. Di kampus yang sama juga, sih, rencananya. Tapi cuma bisa ngerencanain, yang nentuin nanti, kan, Allah."
"Wah, tapi hebat banget kakak udah langsung memikirkan untuk lanjut s2."
"Hebat, ya? Kalau begitu makasih sekali lagi, Kil, Hehehe. Mau ikut jejak Kak Irsyad juga soalnya."
"Mau ngikut jejak Irsyad kamu, Han? Bagus tuh, kamu bisa mencontoh hal yang baik dari Irsyad. Bunda jadi bangga sama Irsyad bisa menginspirasi kamu, Han."
"Iya, ini mungkin bagian dari takdir Allah, Bun. Kalau Farhan nggak dekat sama Kak Irsyad, mana mungkin Farhan terinspirasi." Sebenarnya Farhan juga ingin menyaingi Irsyad untuk merebut Kila. Secara, Irsyad hanya di jurusan bahasa yang kesulitannya tidak terlalu tinggi dibandingkan jurusan teknik yang di ambil Farhan. Dengan melanjutkan pendidikan di bidang yang lebih sulit dari Irsyad, Farhan berharap ada celah untuk mengalahkan Irsyad.
"Kila mau nanggapin juga, Kak Farhan. Menurut Kila, Kak Farhan nggak harus mengikuti jejaknya Kak Irsyad. Mungkin bisa lebih baik dari Kak Irsyad? Ya... maksud Kila jangan berusaha menjadi Kak Irsyad. Kak Farhan adalah Kak Farhan, jadilah diri sendiri bukan orang lain," ucap menanggapi dengan hati-hati.
"Ucapan Kila tadi seperti menggurui, ya? Maaf, ya, Kak Farhan. Kayaknya, Kila berlebihan, deh," lanjut Kila tidak enakan. Pasalnya, setelah Kila memberikan tanggapan, tampak lamunan diperlihatkannya Farhan sejenak.
"Nggak, kok, nggak berlebihan. Makasih banyak udah menanggapi. Mungkin ucapan kamu bisa jadi pertimbangan lagi buat saya untuk meluruskan niat saya melanjutkan pendidikan s2."
"Kak Farhan nggak tersinggung, kan?"
"Nggak, dong. Siapa juga yang tersinggung? Justru ucapan kamu membuat saya sadar, Kila. Sekali lagi makasih, ya."
"Ooh, oke kalau gitu, Kak."
Sebenarnya ucapan Kila itu nyelekit. Tapi Farhan berusaha biasa saja menanggapinya. Membalas perkataan Kila barusan dengan nada tegar itupun sebenarnya usaha Farhan untuk menutupi fakta bahwa dirinya merasa tergores hatinya.
Jadilah diri sendiri, sedangkan Farhan hanya menjalani hidup untuk menjadi Irsyad. Selama ia mengenal Irsyad, ia mulai kagum dan ingin menjadi sosok seperti Irsyad. Kedekatannya dengan Irsyad bersama Yuli membuat sosok Irsyad sebagai panutannya menjalani hidup. Ia tidak pernah berpikir untuk menjadi individu baru sebagai dirinya sendiri. Seluruh hidupnya mengacu pada Irsyad, ingin lebih dari Irsyad juga baru-baru ini ia pikirkan karena meniatkan untuk unggul dari Irsyad karena wanita--Kila.
...****************...