
Kila berusaha menetralkan mimik wajahnya. Takut topik yang dibawa Ira mempermalukan dirinya lebih dalam lagi, Kila malah berusaha memotong pembicaraan dengan mengalihkan topik.
“Aduh, apaan, sih, Ra. Yuk pulang udah selesai juga pekerjaan kita. Udah mau masuk waktu ashar juga. Aku duluan ke mushollah, ya.” Kila kemudian mengambil tasnya untuk dibawa sekalian ke musholla.
“Tunggu sebentar, Kila. Biar saya jawab pertanyaan Ira agar tidak ada yang salah paham. Dan saya sudah lihat jam, waktu ashar masih ada sekitar satu jam lagi. Jadi masih ada waku.” Irsyad menjawab dan malah mengembalikan topik yang tadi. Kila menghentikan langkahnya yang tadinya ingin ia langkahkan menuju keluar kelas.
“Saya memperhatikan semua murid awalnya. Tapi tadi saya melihat Kila dalam keadaan tidak memperhatikan apa yang saya ucapkan. Dan disitu tadi tepat sekali kita sedang membahas tentang ta’aruf. Tapi, kan, sudah saya jelaskan tentang ta’aruf yang sebenarnya. Maksud ta’aruf yang saya jelaskan tadi itu perkenalan biasa. Saya tidak punya niat untuk mengajak Kila berta’aruf dalam artian yang kamu pikirkan, Ra. Kebetulan Kila yang melamun itu langsung tidak melamun lagi. Jadi saya memperhatikannya sebentar supaya dia tahu kalau ada yang berbicara di depannya. Setelah saya merasa bahwa Kila sudah cukup memperhatikan saya, lalu saya lanjutkan kembali arahan dari saya yang dibalas serentak oleh satu kelas.” Irsyad panjang lebar menjelaskan kejadian tadi.
Kila mengucapkan hamdallah dalam hati karena Irsyad tidak sempat melihat reaksi Kila selanjutnya. Kila lebih tenang karena dari yang Irsyad jelaskan, pasti semua orang di kelas hanya memperhatikan Irsyad. Tidak ada yang tahu reaksi Kila yang memalukan itu selain dua sahabat usilnya itu, karena itu juga Ira secara frontal menanyakan langsung ke Irsyad. Namun tampaknya Irsyad tidak peka maksud dari pertanyaan Ira.
“Ooh, begitu, ya, Pak,” ucap Ira menanggapi. Ira berusaha untuk tidak menyinggung topik itu lagi karena Kila sudah memberikannya kode dengan menginjak kakinya, jadi ia tidak berani dan setuju saja dengan jawaban Irsyad.
“Pak, bapak masih ingat saya, nggak?” Kini Kila memberanikan diri untuk mulai bicara.
“Iya, kamu yang waktu itu nyasar waktu mau ke aula itu, kan?” jawab Irsyad.
“Hehe, Iya, Pak. Bapak ingatnya bagian itu saja?”
“Iya,” jawab Irsyad singkat.
“Saya juga waktu itu bapak selamatkan dari kakak OSIS kejam waktu itu, Pak.”
“Ooh, iya iya, saya ingat.”
“Nah, sebenarnya saya ingin berterimakasih sama bapak karena sudah menyelamatkan saya waktu itu. Bapak sudah mengantarkan saya sampai ke aula, padahal saya lihat bapak juga sangat sibuk waktu itu.”
“Sama-sama, senang bisa membantu kamu,” Irsyad menanggapi.
“Saya juga ingin sedikit cerita ke bapak. Saya pikir bapak akan menjelaskan ke panitianya tentang alasan saya terlambat itu, nyatanya bapak hanya mengantarkan berkas aja, terus pergi. Waktu bapak pergi itu, saya disuruh ke depan dan dimintai keterangan ini itu, digalakin. Waktu saya digalakin sama kakak OSIS itu ...”
“Yuli namanya,” ucap Irsyad memotong.
“Nah, waktu digalakin sama kak Yuli, waktu itu saya udah pasrah aja. Saya nggak mau menanggapi dia, malas berdebat. Karena itu saya diam aja waktu itu. Tapi dalam hati, saya ingin bapak kembali dan bantu saya. Saya agak kecewa juga waktu bapak pergi begitu aja. Tapi, entah kenapa bapak datang dan membela saya. Saya sangat merasa beruntung, Pak. Bapak seperti penyelamat saya. Terimakasih banyak, Pak,” sambung Kila.
“Jangan berlebihan, saya hanya tidak ingin orang yang tak bersalah dizholimi di depan mata saya. Saya juga berusaha tidak ikut campur waktu itu, tapi entah kenapa Allah menggerakkan hati saya, dan saya memutuskan untuk buka suara. Berterimakasihlah kepada Allah, bukan kepada saya,” jawab Irsyad.
“Pastinya sudah saya lakukan, Pak. Tapi tetap aja yang menolong saya itu bapak, sebagai perantara yang dikirimkan Allah. Saya tidak tenang jika bapak merasa tidak menolong saya, terimakasih, Pak. Jazakallahu khair,” ujar Kila bersikeras.
“Ya sudah, pernyataan terimakasih dari kamu, saya terima. Wa iyya ki,” ucap Irsyad mengalah.
“Bapak makanan kesukaannya apa?”
“Buat apa kamu tanya begitu?”
“Sebagai ucapan terimakasih saya ke bapak. Saya nggak enak kalau Cuma bilang terimakasih saja, Pak. Saya harap bapak mau memberitahu ke saya.”
“Tidak perlu repot-repot. Terimakasih saja sudah cukup. Saya juga tidak terlalu mempermasalahkannya.”
“Tapi, Pak, nenek saya bilang kalau orang itu sudah berbuat baik ke kita harus kita balas kebaikannya. Selain terimakasih, beri sesuatu yang mungkin disukai, atau makanan favorit, atau hal lain sebagai bentuk balas budi atas kebaikan orang itu. Saya sudah diajari seperti itu dari dulu, Pak.”
“Jangan terlalu bersikeras. Tidak perlu balas budi, saya percaya kebaikan saya sudah terbalas dari Allah. Tidak usah dipikirkan.”
“Ehm, ehm,” Ira dan Risa berdehem.
“Ngobrol aja terus, kita nggak dianggap ada. Udah kayak debu aja kalau gini,” celetuk Ira.
“Lagian, ngalah aja, Kil. Pak Irsyad juga sudah dapat balasan pahala dari Allah pas nolong kamu waktu itu. Jadi nggak usah diambil pusing,” ujar Risa melanjutkan omongannya.
“Iya, benar. Saya sudah dapat balasan pahala dari Allah. Sudah jangan dipikirkan. Sekarang kita ke musholla karena waktu ashar sudah semakin dekat,” Irsyad menimpali.
Mereka segera membereskan semuanya dan keluar kelas menuju musholla. Sementara Ira, ia pergi ke tempat biasanya ia berkumpul untuk ekskul, harusnya seperti itu. Tapi karena sudah tidak ada lagi anggota ekskul yang kumpul, itu berarti mereka sudah pulang. Lagian biasanya kumpul diluar Hari Sabtu itu hanya satu jam, dan untuk hari ini satu jam itu sudah terlewati. Irapun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
...****************...
Risa sudah selesai menunaikan kegiatan sholatnya. Sementara tidak dengan Kila, ia masih sibuk berzikir. Sementara itu, Risa sudah menerima telpon dari bundanya menandakan kalau bundanya sudah di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya. Risa mengabari bundanya tadi ketika baru masuk mushola untuk menjemputnya.
“Kil, bunda aku sudah jemput, kamu mau bareng aku atau bagaimana?” ucap Risa sambil menepuk bahu Kila.
“Makasih, Ris. Kamu duluan saja. Belum selesai, ini,” balas Kila sambil meneruskan zikirnya.
“Nggak papa, kan? Ya sudah, aku duluan ya,” balas Risa. Hanya dibalas anggukan oleh Kila. Lalu Risa mengucap salam untuk mengakhiri perjumpaan mereka dan dijawab pelan oleh Kila.
Lalu Kila melanjutkan zikirnya sampai ke doa, lalu bershalawat seribu kali. Kila selalu bershalawat seribu kali untuk mengakhiri aktivitas sholat fardhunya. Ia percaya, saat kita bershalawat, urusan kita akan dipermudah oleh Allah. Lalu, setiap kita berhajat atau menginginkan sesuatu karena Allah, dengan bershalawat ia akan dipermudah mendapatkannya. Belakangan ini Kila meminta agar ia mendapatkan keutuhan keluarga, keluarga yang harmonis, damai dan tentram lalu meminta hal yang lainnya juga.
Sholat ashar telah ia tunaikan. Saatnya ia pulang ke rumah. Kila pulang ke rumah menaiki angkutan umum. Sayangnya, karena jam pulang kantor banyak angkot yang penuh. Kila tidak memilih menaiki ojek online karena ia sedang menabung untuk keperluan yang mendadak, ditambah mama dan papanya yang sering telat memberi saku bulanan ke Kila. Kila juga harus berantisipasi jikalau ada kerja kelompok yang mengharuskan membeli sesuatu, atau jikalau guru menyuruh membuat tugas yang harus di print. Semuanya butuh uang, oleh karena itu Kila bisa terbilang perempuan hemat dan pandai mengatur uang. Istri material, bukan?
Disela penantian Kila menunggu angkot, ada mobil yang mendekati Kila. Kilapun meminggir untuk memberi jalan mobil itu. Tak disangka pemiliknya keluar menghampiri Kila.
“Pak Irsyad?” ucap Kila dengan suara yang sedikit kaget.
“Kamu belum pulang? Belum dapat angkot, ya?” tanya Irsyad seraya menghampiri Kila.
“Iya, Pak. Angkotnya pada penuh, Pak,” jawab Kila.
“Kalau begitu, ikut saya saja. Kalau kamu menunggu terus, waktu maghrib kamu nanti akan terlewat,” ucap Irsyad menawarkan tumpangan.
“Tapi, Pak. Saya segan, mungkin sedikit lagi ada angkot yang nggak penuh.”
“Tidak ada yang tahu angkot yang tidak penuh itu kapan datangnya. Kamu rela mengorbankan waktu maghrib kamu?”
“Nggak, Pak.”
“Ya sudah. Ikut saya, tapi kamu duduk di belakang. Ini juga bentuk terimakasih kamu ke saya untuk menolong kamu lagi dan mendapat pahala lagi dari Allah. Jadi, kamu tidak perlu pikirkan balas budi lagi. Ayo naik.”
“Baik, Pak.”
Irsyad kemudian juga ikut masuk. Sebenarnya Irsyad tidak ingin membiarkan dirinya berdua saja dengan Kila di mobil dengan memberikan tumpangan padanya. Tapi mau bagaimana lagi, Kila belum mendapatkan angkot juga karena sudah membantu dirinya. Irsyad juga tidak ingin gara-gara hal ini, waktu sholat seorang hamba terlewat. Untuk itu, iapun menyetel murottal untuk mengusir setan-setan yang mungkin berusaha menggoda mereka.
“Rumah kamu di kompleks anggrek, kan? Saya tadi baca biodata kamu. Benar ternyata keputusan saya untuk mengantar kamu. Rumah kamu ternyata cukup jauh dari sekolah.”
Hanya percakapan satu arah, itupun hanya untuk memastikan bahwa Irsyad tidak akan salah alamat mengantarkan Kila. Selebihnya tidak ada percakapan antara mereka, sampai mereka tiba di tujuan.
“Terimakasih, Pak. Jazakallahu khair,” kalimat penutup Kila. Lalu kila turun dan segera masuk ke dalam rumah setelah sedikit berjalan karena Kila meminta untuk jangan diturunkan tepat di depan rumah, tapi di dekat rumah tetangga.
Sejak di dalam mobil, Kila seperti kehilangan oksigen. Kila juga merasakan debaran yang aneh. Hari pertama guru itu masuk, sudah sukses menyadarkan Kila bahwa Kila sudah menaruh hati pada pria itu.
...****************...