Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kembali ke Kamar



Hari yang melelahkan, baik bagi Kila maupun Irsyad. Setelah selesai dengan urusan masing-masing, mereka kembali ke rumah dengan keadaan lesu dan lusuh. Kila sampai di rumah setelah Isya karena beberapa kali terjebak macet dan terkena waktu shalat yang mengharuskannya menepi untuk melaksanakan shalat. Sementara itu, Irsyad sampai cukup malam seperti yang ia katakan, dan masih menyibukkan diri di ruang kerjanya meski sudah sampai di rumah.


Karena tamu bulanan Kila sudah pergi semalam, kini ia dapat melakukan rutinitas sebelum tidurnya kembali yaitu melaksanakan shalat witir dan membaca surah Al-Mulk. Sebenarnya, dulu Kila jarang melaksanakan shalat witir saat sebelum tidur. Ia hanya membaca surah Al-Mulk saja. Namun, semenjak menikah dengan Irsyad, pria itu mencontohkan ketekunannya melakukan shalat witir, membuat Kila tidak ingin kalah untuk mengimbangi suaminya yang lebih ekstra dalam ibadah. Selain itu, Irsyad juga beberapa kali mengingatkan Kila untuk tidak lupa melaksanakan ritual malam saat masih di Turki, membuat Kila tidak bisa melewatkan shalat witir yang dilakukan sebelum tidur sebelum menutup hari. Kila berusaha mengimbangi ketaatan ibadah Irsyad dengan melakukan hal-hal yang biasa Irsyad lakukan. Namun, kali ini ia harus melaksanakan shalat witir sendiri, padahal sang imam ada di rumah.


Selesai dengan ritual malamnya, Kila membaringkan tubuhnya untuk tidur. Hijab yang ia kenakan dilepaskan dan ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Sudah beberapa hari Irsyad tidak tidur bersama Kila, hari ini pun Kila berpikir bahwa Irsyad tidak akan tidur bersamanya. Jadi, tidak ada salahnya melepas hijab untuk membuat tidurnya lebih nyaman.


Saat ingin memejamkan matanya, terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Kila buru-buru mengambil kembali hijab yang ia letakkan di atas nakas dan dengan cepat mengenakannya. Lalu, posisi badannya menyamping membelakangi sisi tempat tidur yang satunya dan pura-pura tidur dengan menutup matanya.


Kila sudah dapat menebak bahwa yang membuka pintu kamar itu adalah Irsyad. Kila bertanya-tanya alasan kedatangan Irsyad kembali ke kamar. Apa ada sesuatu yang harus ia ambil untuk pekerjaannya? Lalu, kenapa malam-malam begini masih bekerja padahal Irsyad baru saja pulang dari urusan dadakan yang ia katakan.


Tebakan Kila salah. Irsyad datang bukan untuk mengambil sesuatu apapun. Irsyad kembali ke kamar untuk beristirahat di ranjang yang sama dengan Kila, tidur di samping Kila. Saat Kila menyadari Irsyad yang mulai menaiki ranjang, ia begitu terkejut dengan sikap Irsyad. Ada apa tiba-tiba kembali ke kamar dan tidur di ranjang yang sama dengan Kila? Kila berusaha berpikir positif tentang alasan dari sikap Irsyad. Namun, yang mendominasi di pikiran Kila hanyalah perasaan sakit hati yang disebabkan oleh perilaku Irsyad akhir-akhir ini.


"Setelah semua yang terjadi, tiba-tiba kembali ke kamar ini untuk tidur bersamaku. Apa hatiku sangat membuatmu ketagihan untuk dipermainkan?" ujar Kila dalam hati.


Sebisa mungkin Kila berusaha untuk tidur agar ia berhenti memikirkan hal buruk tentang Irsyad. Namun, sulit sekali mengontrol air matanya yang kian tumpah sedari Irsyad membaringkan tubuh di samping Kila. Beberapa air mata yang keluar tanpa suara tadi akhirnya dapat ia kendalikan setelah berulang kali mengucap istighfar di dalam hati. Karena lelah fisik dan hati, akhirnya Kila dapat memasuki alam mimpi setelah satu jam pipi itu dibasahi air matanya. Kini ia dapat terlelap dengan tenang.


...****************...


Waktu biasanya Irsyad melakukan shalat tahajud telah tiba. Badannya terbangun sendiri tanpa alarm karena sudah terbiasa bangun di jam yang sama. Ia mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum membangunkan Kila.


"Ada bekas air mata di wajah Kila? Matanya juga terlihat sembab. Kila habis menangis? Kenapa Kila menangis?" tanya Irsyad dalam hati. Saat ingin membangunkan Kila, kenapa ia harus melihat pemandangan yang membuatnya ikut sedih seperti ini? Andai ia tahu bahwa ia adalah orang yang membuat Kila menangis dan harus tidur dengan keadaan mata yang sembab seperti itu.


"Kila..., bangun! Ayo ambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajjud bersama!" Irsyad membangunkan Kila. Kila langsung terbangun hanya dengan kalimat pelan yang Irsyad ucapkan. Tanpa sadar ia merasa hatinya terluka dan seketika air matanya menetes. Kenapa Kila begitu cengeng saat berhadapan dengan Irsyad?


"Kenapa lagi ini? Apa Kila mengalami mimpi buruk?" tanya Irsyad saat melihat air mata Kila yang tumpah.


Kila yang menyadari air matanya tumpah itu segera menghapus air matanya. Ia menenangkan dirinya dengan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Namun, Kila gemas ingin menanyakan banyak hal tentang yang terjadi di sini.


"Saya mendengarkan lantunan surah Al-Mulk yang kamu baca. Itu artinya, periode kamu sudah selesai," jawab Irsyad singkat. Sebenarnya Irsyad juga ingin menjelaskan secara rinci bagaimana kronologinya ia bisa mendengar lantunan surah Al-Mulk Kila. Saat ingin mengembalikan gelas kopinya ke dapur, Irsyad mendengar suara samar-samar orang mengaji. Saat mendekati kamar, ia tahu bahwa Kila lah orang yang membuat suara itu. Hanya ingin menjelaskan itu saja, lidah Irsyad kelu.


"Terus, Kak Irsyad tidur di sini karena....?" tanya Kila menggantung.


"Iya, benar. Saya tidur di sini agar lebih efisien untuk membangunkan kamu dan melaksanakan shalat tahajud bersama," jawab Irsyad yang merasa sudah tahu lanjutan ucapan Kila.


"Ooh..., begitu alasannya?" batin Kila agak kecewa. Kila segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Melanjutkan percakapan dengan Irsyad bisa membuatnya semakin tidak tenang.


Rasanya seperti sudah lama sekali ia tidak kembali ke kamar, ia sampai lupa dimana sarung shalatnya diletakkan. Menunggu Kila untuk mengambilkannya, Irsyad segan untuk mengatakannya karena sudah melihat air mata Kila yang tumpah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menuju ke ruang kerjanya mengambil alat shalatnya untuk dibawa ke kamar.


Kila selesai mengambil wudhu. Lalu, Kila memakai mukena yang baru di lemarinya sebelum ke tempat ia dan Irsyad shalat biasanya. Saat selesai mengenakan mukena, Kila mencari Irsyad di sisi sebelah kanan ranjang tempat biasanya mereka melaksanakan shalat. Irsyad tidak ada di tempat. Lagi-lagi, Kila yang sudah tenang dibuat kacau oleh Irsyad.


"Apa ini? Apanya yang katanya shalat tahajud bersama? Apa maksudnya cuma di waktu yang sama? Aku kira, maksudnya adalah berjamaah. Naif sekali aku. Beliau kembali ke ruang kerjanya untuk melaksanakan shalat tahajud di sana." batin Kila berprasangka buruk serta air matanya mengalir memikirkan itu.


Kila sudah membentangkan sajadah miliknya dan bersiap melakukan shalat tahajud meski air matanya masih mengalir, dan pikirannya masih didominasi dengan sikap Irsyad. Saat ia ingin khusyuk memulai shalatnya, Irsyad kembali.


"Maaf, Kila. Tadi saya mengambil alat shalat dulu di ruang kerja."


Air mata Kila yang sempat ia kendalikan mengalir lagi. "Kalau tidak ketemu alat shalatnya, kenapa tidak mau bertanya padaku? Kenapa pergi begitu saja tanpa pamit dan membuatku berprasangka buruk padamu?" batin Kila.


"Kila? Kamu menangis lagi? Teringat lagi dengan mimpi buruk yang kamu mimpikan tadi?" tanya Irsyad yang bingung saat melihat wajah Kila. Rasanya geram sekali untuk menyingkirkan air mata Kila dari wajahnya yang sendu itu. Ia urungkan karena memiliki wudhu dan harus melaksanakan shalat tahajud saat ini.


"Haha, iya, Kak. Cengeng banget Kila, ya? Udah ah, ayo dimulai shalatnya, Kak," dusta Kila. Ia menyingkirkan air matanya dan sudah siap diposisi makmum.


...****************...