
Kila melihat kedatangan Irsyad. Ia agak terkejut karena merasa kali ini Irsyad agak lebih cepat membuka pintu kamar dan menutupnya kembali dari biasanya. Tapi itu tak akan mengurungkan niat awalnya. Sudah saatnya ia memperlihatkan sesuatu yang sudah lama ditutupnya oleh hijab. Ia sudah lulus dan wisuda, masalah apapun yang sedang menimpanya, tidak akan membuat Kila lupa untuk melepaskan Irsyad atas janjinya untuk tidak menyentuh Kila. Meski ia memulainya dari rambut terlebih dahulu.
Kila tahu ini bukan saat yang tepat, tapi sejak ia sudah bertekad untuk lulus lebih cepat, tujuannya adalah untuk melepaskan ikatan janji yang selama ini membelenggu Irsyad. Wajar jika ia melihat Irsyad membalikkan badannya saat melihat Kila menunjukkan rambutnya. Lalu langsung berbaring di ranjang saat melihat Kila menyisir rambutnya di meja rias. Dan tidur dengan posisi membelakangi Kila serta selimut menutupi area wajah Irsyad. Itu bukan masalah, jika Irsyad menunjukkan reaksi yang seperti itu, maka esok hari Kila akan memakai hijabnya kembali meski masih di dalam rumah. Ia akan melepaskan hijabnya saat ingin tidur saja.
Kila ikut berbaring di samping Irsyad. Membuat posisi yang juga membelakangi Irsyad. Tampak jelas jika ada sesuatu yang terjadi dengan rumah tangga mereka saat melihat cara mereka saling membelakangi meski di saat tidur sekalipun.
"Kila, kamu belum tidur?" Irsyad tidak bisa tidur dengan keadaan seperti ini. Sikap Kila membuat Irsyad kepikiran. Jika terus-terusan memikirkannya, maka Irsyad tidak akan tidur dan akan melewatkan kesempatan tahajud. Jadi, ia memilih untuk menyelesaikannya Lebih dulu agar tidak menggangu pikirannya.
"Saya yakin kamu belum tidur. Tapi tidak masalah buat saya kalau kamu tidak ingin menjawab."
"Rambut indah itu, kamu menunjukkannya pada saya. Itu memang sengaja kamu lakukan atau saya yang telah seenaknya melihat?"
"Kila sengaja, kok."
"Lalu, kenapa kamu memperlihatkannya kepada saya?"
"Memangnya perlu alasan untuk menunjukkannya pada suami sendiri? Lagian, harusnya udah dari dulu Kila tunjukkan." Kila menjawab dengan datar.
"Kenapa tiba-tiba? Harusnya kamu sedang marah dengan saya, kan?"
Kila tak menjawab.
"Kila, saya tahu kamu belum tidur."
"Lebih baik kita tidur, Kak. Sangat disayangkan kalau kita membahas ini dan melewatkan waktu tahajud nanti."
"Justru saya harus mendapatkan jawaban agar bisa tidur dengan tenang dan terbangun saat waktu tahajud tiba." Irsyad bersikeras, lalu Kila mengalah.
"Oke, Kila jawab. Hari ini udah nggak ada status guru dan murid atau dosen dan mahasiswi di antara kita. Kak Irsyad jangan terbelenggu lagi dengan janji yang pernah Kakak sampaikan kepada orang tua Kila, pada saat akan menikahi Kila waktu itu."
"Meski kamu sebenarnya sedang marah dengan saya...?" tanya Irsyad menggantung.
Tidak ada obrolan sejenak, karena Irsyad memikirkan ingin memulai dari mana untuk menjelaskan semuanya.
Irsyad kemudian bicara, "Dia hanya pekerja paruh waktu. Saat itu, saya melihat dia sedang berusaha untuk mencari seseorang yang bisa menghutanginya. Lalu, saat dia juga melihat saya, dia memberanikan diri untuk mencoba menanyakannya juga ke saya. Saya langsung tahu, kalau dia adalah mahasiswa kampus, saya juga sudah pernah melihatnya waktu itu bersama dengan Farhan."
"Karena tidak bisa serta-merta memberikan pinjaman, saya memberikannya pekerjaan. Jujur..., selama ada masalah di toko, saya sangat terbantu karena sudah mempekerjakannya. Kami juga sering bertemu membahas laporan harian. Saat kita pisah ranjang waktu itu, tepat sekali saya harus mengurus masalah toko yang menyita waktu dan pikiran. Saya ditipu oleh teman lama saya yang menjadi manajer. Uang hasil penjualan di bawa kabur oleh teman sendiri. Lalu, akhir-akhir ini kami sangat sering bertemu bahkan hampir setiap hari. Salah satu cabang kebakaran, ada karyawan yang bahkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit."
"Tanpa saya sadari, sepertinya saya tidak mengembalikan suasana hangat rumah seutuhnya. Masalah yang menimpa usaha yang saya jalankan datang silih berganti. Sampai saya harus bekerja ekstra di ruangan kerja. Sampai harus berhenti menjadi imam shalat witir kamu."
"Lalu, sempat saya frustasi memikirkan banyak masalah ini. Sampai janji saya untuk ikut berkontribusi terhadap target lulus lebih cepat kamu sebagai dosen pribadi terlupakan. Tertimpa dengan kesibukan yang tak ada habisnya."
"Orang seperti saya pun masih bingung mengatur waktu, padahal sudah tahu apa yang harus diprioritaskan. Bahkan kamu sempat ragu tentang saya yang tidak memprioritaskan kamu. Benar-benar payah, kan?"
Irsyad sudah membalikkan badannya untuk menghadap Kila, meski Kila masih membelakanginya.
"Masalah hari ini, saya benar-benar minta maaf tentang urusan yang saya sebutkan. Karena toko baru saja memasuki masa transisi dari masa sulit, saya terlalu sibuk memperhatikan agar masalah yang sama tidak datang dua kali. Berkat dia yang jujur, saya sangat terbantu. Sempat ada berkas di flashdisk yang saya butuhkan serta ada data yang harus dia kerjakan. Kami bertukaran flashdisk, lalu sekalian saja saya memberikannya hadiah wisuda dan ucapan selamat. Memang hanya untuk sekedar ucapan terimakasih saja karena telah membantu memulihkan usaha saya, tapi kalau dipikir-pikir rasanya berlebihan sekali, ya, sampai memberikan hadiah wisuda. Lebih tidak disangka lagi dia meminta foto bersama, setelahnya dia malah mengajak kamu juga."
Kila mulai mengerti semuanya, lagi-lagi ia salah paham. Untungnya kali ini ia tidak gegabah dan masih bersikap seolah tak ada masalah. Menunjukkan sikap seolah masih percaya terhadap Irsyad. Tidak sampai pergi ke pantai tiba-tiba lagi seperti waktu itu. Ia bingung menebus kesalahannya dengan apa. Kila begitu mudah terpengaruh dengan ucapan seseorang dan terus memikirkannya. Itulah kelemahannya yang sekali lagi membuatnya salah paham tentang sikap Irsyad.
Kila memberanikan diri menghadap ke Irsyad. Mencoba mendekat dan berakhir menyembunyikan wajahnya di dada bidang Irsyad. Mencoba melakukan itu agar setidaknya kesalahannya bisa ditebus. Cara menebus kesalahannya sangat aneh.
Karena Kila tiba-tiba mendatangi dada bidang Irsyad, tentu saja membuat Irsyad terkejut. Ia melihat dengan jelas sekarang bagaimana kecantikan Kila terpancar dengan rambut panjang yang tergerai itu, meski tepat setelahnya Kila malah menyembunyikan wajahnya menggunakan dada bidang Irsyad. Irsyad lalu mengusap lembut rambut itu, tak disangka rambut wanita bisa selembut dan seharum ini, pikir Irsyad. Ini kali pertama Irsyad membelai rambut seorang wanita, bahkan dengan Citra ia tidak pernah memegang rambut bundanya.
"Maafkan saya, ya. Saya kurang pandai mengungkapkan perasaan. Saya kurang pandai mengatur emosi. Saya kurang pandai berbicara dengan detil tentang apa yang terjadi. Waktu itu saja, saya tidak bisa memberitahukan kamu detil tentang apa yang saya lakukan, sampai ruang kerja itu menjadi rumah kedua saya karena begitu seringnya saya berada di sana."
Irsyad mengakhiri pembicaraan dengan mengecup rambut Kila lembut. Lalu, membiarkan Kila tidur di dada bidang miliknya sebagai bantalan, meskipun posisi tidurnya Kila menyamping dan hanya menempelkan bagian kening wajahnya saja ke dada itu.
Setelah obrolan sebelum tidur ini, keduanya berharap kehangatan rumah yang sebenarnya akan benar-benar kembali.
...****************...