Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Hujan Turun



Suasana yang bahagia sudah didapatkan oleh Kila semalam. Sayangnya, alam tidak ingin mendukung kebahagiaan yang Kila rasakan. Cuaca pagi ini terus-menerus hujan sejak dini hari tadi. Hujan tidak begitu lebat, tapi sukses membuat orang merasakan kedinginan.


Kila si wanita mandiri, tak ingin merepotkan orang lain. Nenek meminta Riska untuk mengantar Kila ke sekolah, tapi langsung ditolak oleh Kila. Ia takut gara-gara mengantar dirinya, mama dan papanya terlambat ke kantor masing-masing. Jadi, mereka meminta izin pamit pada nenek dan Kila untuk berangkat lebih dulu. Diwaktu sepagi inipun, akan terlalu cepat dari jam dimulainya pelajaran ditambah sekolahnya itu memberikan toleransi tiga puluh menit jika di pagi hari hujan seperti ini.


"Jadi, kamu nggak mau berangkat sekolah? Nggak mau bertemu sama beliau mu itu?" tanya nenek.


"Kalau berangkat sekarang terlalu cepat, Nek. Kalau hujan juga nggak ada angkot. Kayaknya sebentar lagi hujannya reda. Kila mau nunggu sebentar lagi," jawab Kila santai.


"Kalau terus hujan gimana?" tanya nenek lagi.


"Ya liat nanti, deh. Kalau hujan di jam biasa Kila berangkat, Kila naik taksi online aja."


"Kalau hujannya udah berhenti?


"Ya Kila pergi di jam biasanya Kila berangkat, Nek."


"Naik apa? Angkot? Kalau hujan gini pasti angkot banyak yang penuh, terus jarang ada yang lewat. Kamu tetap pakai taksi online. Nenek yang bayar."


"Nek, nggak usah, ngerepotin nenek. Nenek nggak usah bayarin apa-apa. Nanti Kila pakai uang dana darurat aja buat bayar taksi online-nya. Kila nggak naik angkot, kok, Nek. Tenang aja."


"Ya udah kalau nggak mau di terima. Kamu pesan sekarang, mana tahu datangnya lama karena hujan, kan?"


"Iya, Nek. Segera laksanakan."


"Darimana coba dana darurat itu kamu kumpulkan?"


"Selalu Kila sisihkan sepuluh persen dari uang bulanan yang dikasih mama ke Kila, Nek. Alhamdulillah dengan keadaan darurat ini udah ada dipersiapkan uangnya. Jadi keuangan utama Kila udah aman."


"Benar, nih?"


"Iya, Nek."


"Kamu udah cocok tuh jadi istri idaman. Udah pandai atur keuangan. Beruntung pasti laki-laki yang dapetin kamu."


"Ih apaan, sih, Nek? Malah bahas itu, males ah."


"Ya udah, nggak usah dibahas lagi."


Kelakuan nenek dan cucu satu ini memang ada ada saja.


Dapat diambil hikmahnya, di usia Kila yang baru enam belas tahun ini ia mampu mengatur keuangan dengan baik. Padahal itu tidak pernah diajarkan disekolah. Literasi keuangannya sangat tinggi dan ia sangat tahu pentingnya mengatur keuangan sejak dini.


Kila memang terbilang cukup tua di usianya untuk ukuran siswi kelas satu SMA. Bahkan ia akan berulang tahun di bulan November, ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Itu memang sengaja dilakukan mamanya. Bukan karena Kila terlambat sekolah atau pernah tinggal kelas, tetapi memang Riska memasukkan Kila sekolah dasar di usia tujuh tahun. Alasannya, Riska memang sudah mengatur seluruh pendidikan Kila. Ia mengikuti cara orang luar negeri mendidik anaknya, yang mulai menyekolahkan anaknya di usia paling siap si anak untuk menerima pendidikan formal yaitu tujuh tahun. Bakan Riska sudah mengatur kapan dan berapa lama Kila akan menempuh pendidikan s1, s2, dan s3 Kila. Mengatur kapan Kila boleh menikah dan memiliki anak juga sudah ia rencanakan, dan untuk yang satu ini Riska belum mengungkapkannya ke Kila. Ia sempat menginginkan Kila untuk mengambil kelas IPA, namun Kila menolak dengan memilih kelas IPS. Meski di awal murka, kedua orang tua ini akhirnya mengizinkan karena Kila dibantu oleh neneknya untuk membujuk mereka.


"Nek, supir Taksi online-nya udah dapat. Udah sampai komplek juga. Kila berangkat dulu ya, Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam."


Kila berpamitan dengan mencium tangan nenek dan mengecup pipinya. Kemudian pergi meninggalkan nenek yang duduk di ruang keluarga itu.


...****************...


"Cuacanya dingin sekali. Bawaannya mau tidur terus. Mana ngantuk lagi," ucap Ira memulai percakapan. Ia kemudian menguap lebar-lebar.


"Ira, kalau nguap itu ditutup. Nanti setannya masuk," tegur Risa. Ia juga ikutan menguap karena melihat Ira menguap. Kemudian segera ia tutup mulutnya.


Kila juga ikutan menguap melihat Ira dan Risa menguap. Ia pun juga menutup mulutnya. Benar kata orang, menguap itu menular.


"Oiya, ya? tutup gimana?" jawab Ira.


"Kalau kamu menguap ditutup pakai tangan, ditahan gitu," Kila yang menjawab.


"Ooh, yaudah kalau aku nguap lagi nanti ku tahan pakai tangan biar ketutup dan setan nggak masuk," Ira menuruti.


"Pak Irsyad masuk nggak, ya, hari ini?" tanya Risa random.


"Ya masuk, lah. Rumahnya kan, dekat sekali dari sekolah. Nggak mungkin nggak masuk," Ira menjawab dengan sok tahu.


"Eh, jangan salah. Orang yang dekat dari sekolah biasanya suka mengulur waktu buat berangkat. Ujung-ujungnya pasti terlambat. Beda sama kita yang agak jauh, walaupun nggak sejauh rumah Kila. Kita tahu diri, karena jauh dari sekolah makanya berangkat lebih awal dari yang lain. Apalagi hujan kayak gini. Mungkin aja Pak Irsyad nggak masuk." Risa memberikan opini.


"Iya juga, sih, masuk akal juga apa yang kamu bilang, Ris. Menurut kamu gimana, Akil?" Ujar Ira melemparkan ke Kila.


"Dari sifat Pak Irsyad sih, aku yakin beliau nggak akan terlambat. Nggak mungkin juga beliau bisa menunda datang ke sekolah, kan beliau juga biasanya datangnya cepat seperti kita. Lagian beliau juga seorang wali kelas, dan hari ini beliau juga mengajar kelas kita. Beliau orangnya sangat menjunjung profesionalisme, jadi nggak mungkin karena hujan beliau menelantarkan kewajibannya. Kecuali beliau memang sedang sakit atau ada urusan yang membuat beliau benar-benar nggak bisa datang ke sekolah," ujar Kila mengutarakan pendapat.


Risa dan Ira sudah tahu, pasti Kila akan membela Irsyad. Secara, Kila sudah menaruh hatinya pada Irsyad. Mereka terus tersenyum saat Kila mengutarakan pendapat. Tapi Kila terlalu fokus pada kalimat yang ia lontarkan, jadinya ia tidak menyadari senyum licik dua sahabatnya itu.


"Iya, benar. Saya tidak mungkin terlambat hanya karena hujan seperti ini. Lagian, hujannya hanya tinggal gerimis. Tidak mungkin saya menelantarkan kewajiban saya sebagai seorang guru hanya karena hujan seperti ini." Orang yang dibicarakan tiba-tiba muncul. Rupanya pria itu sudah berada di dekat mereka sejak Ira yang mulai membahas tentang Irsyad.


"Eh, ada bapak. Cepat sekali bapak jam segini udah ada di sekolah." Ira yang bicara. Ia berusaha menetralkan suasana gosip yang ia ciptakan tadi dengan basa-basi terlebih dahulu.


"Biasanya saya juga sudah hadir di jam segini, kan? Benar begitu Kila?" Jawab Irsyad. Kila yang merasa disebutkan menoleh ke Irsyad.


"I-iya, Pak," jawab Kila sigap. Kemudian menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin terjebak dalam tatapan indah milik pria itu.


"Kamu tahu sekali biasanya saya datang di jam segini," ujar Irsyad menanggapi.


"Oh, iya. Tujuan saya ke sini ingin mencari kamu, Risa. Saya pikir kamu sudah datang, ternyata benar. Saya ingin beritahu kalau Pak Khudri tidak bisa hadir. Jalan dekat rumahnya banjir, jadi beliau tidak datang. Tadi beliau mengabari saya, untuk menggantikan pelajaran beliau. Beliau masuk dua les, kan?" ujar Irsyad.


"Emangnya bapak bisa mengajari matematika?" tanya Risa sedikit meremehkan.


"Lho, kamu jangan salah. Saya dulu tamatan SMA nya dari kelas IPA. Untuk matematika IPS masih terbilang mudah. Toh kalian juga masih dasar pelajarannya karena masih kelas satu." Irsyad sedikit menyombongkan diri dari ucapannya. Mereka bertiga tertawa karena tingkah gurunya satu ini.


"Ya udah, saya tinggal dulu, ya. Ada tugas kakak kelas kalian yang belum selesai saya periksa. Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam," ucap Kila dan Risa.


Hujan hari ini membawa keberuntungan bagi Kila. Ia yang awalnya menganggap hujan tak menyertai dirinya yang sedang bahagia, ternyata membawa Irsyad menghabiskan waktu lebih lama dengan kelas Kila. Hari ini Irsyad masuk di jam awal dan jam akhir. Ditambah, setiap Istirahat kadang Irsyad juga singgah ke kelas. Hari ini Kila akan lebih sering bertemu Irsyad, itu berkat hujan yang turun hari ini. Entah kenapa Kila selalu terlihat bersemangat saat bertemu Irsyad.


"Ya Allah, terimakasih Engkau sudah menurunkan hujan hari ini." batin Kila mengucap syukur.


...****************...