Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Tak Seperti Biasanya



"Kak, ayo kita pulang!" ucap Kila. Mereka sudah satu minggu berada di rumahnya, tapi tidak ada tanda-tanda Riska atau Gilang keluar dari kamar untuk bicara setelah selesai maghrib. Padahal, saat mereka pertama kali tiba, Riska berjanji akan meluangkan waktunya untuk bicara setelah urusan pekerjaan selesai yaitu setelah selesai maghrib. Yang ujungnya, Kila hanya menghabiskan waktu bersama Irsyad saja. Padahal, tujuan mereka ke sini untuk bersilaturahim dengan orangtuanya. Apa mau di kata, kesibukan masing-masing menjadi double karena baru kembali bekerja setelah libur akhir tahun.


"Sekarang?" tanya Irsyad bingung. Sebab, Kila berbicara begitu pada saat malam hari selesai Irsyad pulang dari masjid. Dari nada bicara Kila, Irsyad menyimpulkan kalau Kila ingin pulang saat ini juga.


"Besok aja, deh," jawab Kila plin-plan.


"Kila..., kita harus izin terlebih dahulu ke mama dan papa kalau ingin pulang besok. Dan lebih baik, hal yang ingin kita bicarakan, kita tuntaskan dulu sebelum pulang," ucap Irsyad menghampiri Kila yang duduk di atas ranjang.


"Kalau nunggu gitu, Kila takutnya mereka nggak akan sempat meluangkan waktu, Kak. Apalagi, Kila udah harus masuk kuliah lagi nanti," balas Kila ragu dengan saran yang diucapkan oleh Irsyad.


"Di hubungi dulu lewat pesan chat, Kila. Zaman sekarang semua serba dipermudah, lho. Ayo, kamu hubungi dulu," sambut Irsyad lebih tegas namun lembut, untuk memberikan pengertian kepada Kila.


"Iya, Kak. Makasih ya udah ingetin Kila. Kebiasaan Kila kalau udah menyangkut mama dan papa, Kila lupa kalau zaman sekarang udah bisa komunikasi lewat chat," respons Kila setelah berpikir sejenak. Irsyad melempar senyum menanggapi. Kemudian, Kila langsung mengerjakan yang Irsyad katakan.


"Bagiamana, sudah kamu kirim?" tanya Irsyad setelah melihat Kila selesai menghubungi Riska melalui pesan chat.


"Udah, sih, Kak. Tapi belum di balas, Kak. Mungkin besok, kita tunggu aja nanti," jawab Kila seraya menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan sederet pesan centang dua berwarna abu-abu.


"Ya sudah, sekarang kita istirahat saja dulu. Atau, kalau kamu mau, kita kemas saja sekarang barang-barang kita agar nanti tidak terlalu repot," saran Irsyad membuat ketenangan.


"Iya, gitu aja deh, Kak," jawab Kila setuju sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka memilih untuk mengemasi barang-barang mereka terlebih dahulu. Jika masih ada waktu, Kila berniat untuk membelikan beberapa oleh-oleh untuk orang rumah dan sahabatnya.


...****************...


Keesokan harinya tiba, Kila sudah selesai membeli beberapa oleh-oleh yang tadinya ditemani oleh Irsyad. Sedangkan tentang pesan chat itu, orangtuanya Kila baru bisa menyisihkan waktu setelah isi pesan Kila itu menyebutkan kalau Kila dan Irsyad akan segera pulang. Apalagi, mereka tidak ingin anaknya bolos kuliah hanya karena ingin bicara meskipun hanya satu hari, makanya mereka rela menyisihkan sedikit waktunya. Seperti yang diminta oleh Kila diawal, ba'da maghrib. Tapi, karena Kila dan Irsyad masih sibuk dengan ibadahnya disaat yang disebutkan, mereka akhirnya menunda sampai Irsyad pulang dari masjid dan Kila selesai menunaikan ibadah shalat--ba'da Isya.


"Mama harap, Irsyad masih akan terus menjaga janjinya sampai Kila lulus nanti baru sepakat untuk memiliki anak," ucap Riska saat tak terasa sudah banyak hal di bahas oleh mereka berempat. Tentang Irsyad yang sudah lulus dengan waktu kurang dari lima tahun, tentang Irsyad yang akan mengajar kembali di sebuah sekolah dan menjadi dosen di sebuah kampus yang diperkirakan adalah kampus Kila. Tentang permintaan maaf Irsyad karena sudah melanggar beberapa perkataanya waktu itu tentang akan menjaga komunikasi, atau tentang membiarkan Kila berkunjung ke Turki untuk melihat keadaan Irsyad. Untungnya, setelah bicara baik-baik mereka berdua mengerti itu semua.


"Tentu saja, Ma. Tapi, jika diizinkan, bolehkah saya meminta agar Kila dan saya tinggal di satu atap saja? Hal itu akan mempermudah saya dan juga Kila. Kami juga belum kenal lebih dekat karena hubungan jarak jauh yang kami jalani selama ini," jawab Irsyad dengan mantap menyerukan topik baru pula.


"Bebas saja, karena saya sudah memegang janji kamu yang akan menunda untuk punya anak sampai Kila lulus," giliran Gilang yang dengan santai namun lugas menanggapi ucapan Irsyad.


"Hah? Jadi, papa bolehin? Kila nggak salah dengar, kan?" tanya Kila terkejut dengan mengernyitkan dahinya karena bingung.


"Kila..., papa kamu nggak salah ngomong, dan kamu juga nggak salah dengar. Kami sepakat membiarkan kalian untuk tinggal di satu rumah. Lagian, kamu sudah dewasa, Kila," sambung Riska. Kila dan Irsyad refleks memandang satu sama lain karena melihat dan mendengar hal tak biasa dari orangtuanya Kila. Terlebih Irsyad, yang selalu menstigma kalau orangtuanya Kila tidak akan pernah mengizinkan apapun yang dipinta Kila jika sudah ada hal yang ditetapkan orangtuanya sebelumnya. Hal itu terpikir oleh Irsyad karena Kila sering menceritakan tentang keluarganya saat mereka sering bertelepon waktu itu.


Pernyataan yang agak mengejutkan untuk Kila dengar. Tapi, memang sudah seharusnya semua orang tua mengerti tentang keadaan rumah tangga anaknya. Jika sudah menikah, sudah tidak ada lagi urusan orang tuanya mencampuri. Apalagi, apabila anaknya adalah seorang perempuan, setelah menikah ia harus mengikuti apapun perintah suaminya selama tidak menentang aturan Allah. Berbeda dengan seorang anak lelaki yang meskipun sudah menikah, ia harus tetap mendengarkan perintah ibunya dulu di atas permintaan istrinya.


Selesai dengan membahas perihal kelanjutan hubungan Kila dan Irsyad, akhirnya Kila memutuskan mengatakan topik baru yang saat itu ingin ia tanyakan ke Gilang.


"Oiya, Pa, waktu Kila dan Kak Irsyad baru sampai di sini, Kila ngeliat Papa dan seorang wanita di mall," ucap Kila memulai topik.


"Oiya? Siapa itu, Pa? Kapan, Kil?" tanya Riska menanggapi.


"Waktu itu, Ma. Dua hari saat Kila baru sampai di sini, Kila jalan-jalan ke mall bareng Kak Irsyad untuk mengisi kebosanan di rumah. Kalau kata Kak Irsyad, mungkin wanita itu kliennya papa. Emang cuman klien, kan, Pa?" tanya Kila melempar langsung ke Gilang.


"Ooh, yang waktu itu. Iya, itu cuma klien aja. Kamu kenapa nggak menegur papa kalau kita berada di tempat yang sama?" tanya Gilang balik menanggapi pertanyaan Kila.


"Kami memang berniat ingin menegur, Pa. Tapi, tidak jadi karena takut mengganggu jika memang itu adalah pertemuan penting papa dan sang klien," jawab Irsyad menimpali.


"Ooh, begitu. Sebenarnya tidak masalah kalau mau menegur. Obrolan kami juga tidak terlalu serius, kok," balas Gilang.


"Pa, bukannya waktu itu papa lagi satu kantor sama mama? Kapan memangnya papa menemui klien itu? Mama tahu, nggak?" tanya Kila mulai lebih lugas.


"Mama baru tahu setelah kamu bilang, sih. Wajarlah mama nggak tahu. Soalnya seharian ini mama sibuk terus, Kil. Lagian, papa nggak harus melulu izin ke mama kalau mau menemui klien, kan?" jawab Riska menanggapi dengan lancar. Kila hanya mengangguk paham dari tanggapan Riska.


"Oke, kalau begitu. Besok kalian akan berangkat untuk pulang, kan? Papa dan mama minta maaf karena tidak bisa mengantar kalian pulang. Tidak bisa melihat kalian berangkat juga karena urusan pekerjaan yang masih menumpuk," ucap Gilang menuju topik penutup. Memang hari sudah mulai malam, sudah waktunya mereka untuk kembali ke kamar masing-masing agar beristirahat.


"Iya, Pa. Tidak apa-apa. Tidak usah jika dikira memberatkan," jawab Irsyad. Kila juga ikut menanggapi topik penutup itu. Lalu, Kila dan Irsyad izin untuk ke kamar lebih dulu.


"Memang tidak ada yang aneh dari perilaku mama dan papa. Hanya saja, tak biasa," batin Kila saat ingin mengistirahatkan tubuhnya.


...****************...