
Belum setengah jam, Riska sudah di depan pintu rumah Kila. Dapat ditebak bahwa Riska sudah berada di kota ini lebih dulu. Kila masih belum tahu alasannya mengapa Riska ada di kota ini, untuk dinas atau keperluan lainnya. Kila hanya membiarkan sang mama minum dulu setelah lelah memeluk Kila sambil terisak di depan pintu rumah tadi. Beberapa camilan juga yang sempat ia beli disuguhkan untuk menenangkan Riska.
Kila sengaja tidak bertanya apa yang terjadi. Membiarkan Riska puas menangis dan memeluknya dulu, sehingga akan memudahkan Riska untuk bercerita. Menangis bukanlah tanda lemah, menurut Kila menangis juga salah satu sarana untuk menumpahkan keresahan. Itu lebih baik, daripada menumpahkannya dengan amarah. Terbukti saat selesai menangis, seseorang akan merasa lebih lega.
"Mama udah lihat perilaku Papa kamu, Kil," ungkap Riska setelah puas menangis.
Di saat seperti ini, harusnya Kila memeluk lagi sang mama, tapi ia hanya mengusap punggungnya saja. Kila tidak sedekat itu dengan Riska, apalagi mengingat tamparan keras itu. Kila cukup kesal karena Riska mencarinya hanya untuk mengadu kelakuan ayahnya, padahal sebelumnya sudah diperingatkan.
"Ma, jangan ceritain kronologinya. Kila nggak mau buat Mama ingat tentang apa yang Mama lihat," cegah Kila saat dilihatnya Riska ingin membuka mulut untuk bercerita.
Kila memang cukup peka, itu hasil dari didikan sang nenek. Biar hatinya terluka, ia tetap masih menjadi pendengar yang baik. Ia menerima Riska yang sedang sakit hati itu, memberikan pelukan untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Riska. Karena Kila telah tahu kelakuan ayahnya yang dilihat juga oleh Riska, lebih baik hal itu tidak usah dijelaskan lagi jika akan membuka luka yang hendak kering.
"Sepertinya perceraian adalah jalan yang terbaik, Kil. Mama nggak bisa berkomunikasi dengan baik sama Papa kamu," ucap Riska dengan pandangan melamun.
"Ma, Kila minta maaf. Harusnya Kila nggak omongin soal perceraian," balas Kila murung. Ia merasa bersalah telah datang ke rumah orangtuanya waktu itu, apalagi perihal perceraian adalah usulan Kila.
"Bukan, Kila. Kamu nggak salah, kok. Sebenarnya, udah sejak lama Mama dan Papa nggak harmonis. Bahkan, sejak nenek minta dipindahkan ke sini. Penyebab utamanya, karena Mama dan Papa memang gila kerja. Harusnya, perkataan kamu waktu itu bisa jadi pengingat untuk Mama, tapi malah Mama anggap itu sebagai sikap kamu yang membangkang. Ternyata, sekarang hal itu terjadi. Papa kamu—."
"Stt... udah, Ma. Lebih baik kita nggak bahas itu lagi. Sekarang, Mama curhat ke Allah. Shalat istikharah juga, minta petunjuk tentang masalah ini. Setelah Mama lega, barulah ambil keputusan. Saat beragam emosi melanda seperti ini, kita sering buru-buru mengambil keputusan. Dan pada akhirnya, kita menyesal mengambil keputusan itu."
Riska segera melaksanakan shalat, mengadukan nasibnya kepada Sang Khalik, seperti yang diucapkan oleh Kila. Biarpun Riska terlihat kurang peduli dengan Kila, atau terlihat seperti bukan orang tua yang baik, Riska adalah pribadi yang taat ibadah, apalagi shalat wajibnya. Ajaran nenek membuat Riska tidak pernah meninggalkan shalat wajibnya, meski sesibuk apapun ia dengan pekerjaannya. Namun, kali ini ia perlu diingatkan oleh Kila, karena belum melaksanakan shalat dzuhur.
"Mama mau menginap di sini dulu. Boleh, ya?" ujar Riska seraya duduk di sofa. Setelah shalat, entah kenapa ia ingin sekali menenangkan diri di rumah Kila itu.
"Ma, Mama nggak melarikan diri dari masalah, kan? Kalau memang itu alasannya, lebih baik Mama kembali. Tapi kalau Mama memang cuma perlu menenangkan diri doang, Kila bisa aja terima alasan itu," balas Kila.
"Dua alasan itu, Kil. Lagian, kalau Mama pulang, pasti semuanya bakal lebih berantakan lagi. Lebih baik didinginkan di sini dulu."
"Sendiri di sini?"
"Temenin Mama, dong, Kil."
"Pekerjaan Mama gimana? Kila juga bakal suka pergi, soalnya Kila sekarang udah jadi asisten dosen, kalau Mama lupa."
"Kita nginap di rumah kamu yang satunya. Mama bisa kerja dari rumah, kok."
Kila tak sadar dengan kejujurannya barusan. Itu keluar tanpa aba-aba. Kila langsung meminta maaf kepada Riska. Karena omongan Kila memang benar, Riska memilih untuk sendirian di rumahnya Kila. Lalu, sesekali saat selesai dengan aktivitas akademiknya, ia ingin Kila mengunjunginya agar tidak terlalu kesepian.
...****************...
Irsyad berlari kencang saat mendengar sang istri mengucap salam dari luar. Melihatnya dalam keadaan yang sehat, membuat Irsyad begitu lega.
"Maaf pulang telat, Kak," sapa Kila saat keberadaan Irsyad dilihatnya.
Sebenarnya Kila ingin sekali meminta maaf juga tentang kejadian sebelumnya, tapi lidahnya tertahan.
Irsyad mendekat ke Kila. Membuat Kila mundur pula perlahan. Meski ia sudah siap mendapat tamparan lagi, refleks karena takut itu tak terelakkan. Saat Irsyad sudah tepat di depannya, ia tidak mau mundur lagi karena telah siap. Namun, ia tetap takut. Ia menutup matanya paksa dan menunduk.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Kila."
"Hah? Apa ini? Bukan dapat tamparan, malah dapat pelukan dari Kak Irsyad?"
Ketakutan Kila kini menjadi keheranan. Tujuan Irsyad berlari lalu mendekat ke Kila ternyata untuk memeluk Kila se-erat ini. Tampak Irsyad begitu rindu dengan Kila.
"Soal tadi, Maaf, Kak. Kila—."
"Sudah, jangan di bahas. Saya juga ada sesuatu yang ingin dibahas. Tapi kita bahas nanti saja, ya. Kita makan malam dulu. Saya sudah memasak."
Kila mengangguk dalam pelukan itu. Tak lama kemudian, Irsyad melepas pelukannya. Ingin rasanya mencium kening sang istri, tapi ia takut Kila menghindar karena merasa Kila pasti akan ingat tentang sikap Irsyad yang tidak memprioritaskan Kila tadi.
Di meja makan, mereka tetap mengikuti kebiasaan keluarga Irsyad, yaitu mengobrol saat makan. Selain karena sunnah serta mempererat hubungan mereka, itu dilakukan mereka untuk menghilangkan kecanggungan. Meskipun saat bicara ini mereka tidak se-akrab seperti biasanya.
Topik tentang pertemuan dengan Nabila atau Kila yang yang pulang telat itu tampak dihindari oleh Irsyad. Terlihat tiap kali Kila ingin membahas perihal itu, Irsyad selalu mengalihkan topiknya. Kebanyakan topik yang mereka obrolkan adalah tentang perkuliahan dan profesi mereka. Topik formal ini terulang lagi setelah lama di lakukan pada saat Irsyad mendatangi rumah Kila untuk kunjungan wali kelas. Untung di sana masih ada nenek yang membuat suasana tidak terlalu formal meskipun itu memang pertemuan formal. Lalu, saat makan bersama untuk pertama kalinya pun, Irsyad juga berbicara cukup formal meskipun ada diselingi keramah-tamahan karena berkunjung bukan untuk pertemuan formal dengan nenek sebagai wali muridnya Kila.
Makan bersama mereka yang pertama kali waktu itu suasananya mirip sekali seperti saat ini. Kila harap, ini bukan tanda mereka akan makan bersama untuk yang terakhir kalinya.
...****************...