
"Saya akan datang menyusul. Mungkin akan didahului oleh orang tua saya dan orang tua kamu. Kamu bersama mereka dulu, ya, saat saya belum sampai." Irsyad bicara di ujung telepon. Ia sambil melakukan multitasking selain bicara dengan Kila. Agak kecewa mendapat telepon itu dari Irsyad, padahal hari ini adalah hari yang dinantikan. Hari ini juga, Irsyad akan terbebas janjinya untuk tidak terikat dengan janji tidak akan menyentuh Kila sebelum Kila lulus.
"Ada urusan penting ya, Kak?" tanya Kila sedih.
"Iya. Maaf, Kila, kamu pasti bosan mendengar alasan yang sama. Tapi itu benar adanya." Irsyad menjawab seadanya. Berharap Kila mengerti itu.
"Oke, Kila mengerti. Kakak jangan lupa nyusul aja deh, dengan kayak gitu Kila udah cukup bahagia, kok." Kila membangkitkan semangatnya lagi. Tidak ingin ia menghambat Irsyad, ia berusaha menahan diri untuk tidak egois. Berpikiran terbuka untuk menerima kedatangan Irsyad meskipun terlambat.
"Baik, Kila. Saya pasti akan menyusul. Tunggu saya, ya," ujar Irsyad. Kila harap, Irsyad datang sesuai janji yang diucapkannya.
Sambungan telepon dimatikan oleh Irsyad. Sedang Kila, ia menuju ke kampus sendirian, dengan taksi online. Karena Kila tak pandai berias diri, ia melakukannya di sebuah salon. Irsyad hanya mengantar ke salon, sementara itu Kila melarang Irsyad untuk mengantarnya ke kampus. Ia berniat untuk mengejutkan Irsyad dengan penampilan tak biasanya ini kepada Irsyad. Menunjukkan wajah yang biasanya polos itu dengan tampilan baru, berbalut make up.
...****************...
Berseteru dengan Yuli rupanya membuat Risa merasa terganggu. Sudah satu bulan sejak berhadapan dengan Yuli, kini Risa menginvestigasi Irsyad diam-diam. Di kafe dekat kampus yang dikatakan Yuli bahwa di tempat ini Irsyad dan Nabila bertemu diam-diam di belakang Kila. Ternyata investigasinya tak sia-sia. Dalam satu bulan ini, selalu ada Irsyad dan Nabila di kafe itu. Hanya hari Minggu dan beberapa hari kerja saja mereka tidak melakukan pertemuan. Jam pertemuan, serta lama waktu pertemuannya juga konstan ada di waktu yang sama.
Selama mengamati diam-diam, Risa menahan amarahnya. Tidak terima bahwa sahabat baiknya diperlakukan seperti ini. Tidak menyangka, guru baiknya salah jalan seperti ini. Namun, ia tidak ingin ikut campur lebih dalam urusan rumah tangga Kila. Ia hanya ingin Kila tidak terluka. Ia ingin mencegah Kila melihat pertemuan suaminya dengan wanita lain, bagaimanapun caranya. Apalagi, di hari wisuda, hari yang sangat dinantikan sahabatnya itu harus menjadi hari yang bahagia. Tidak boleh ada air mata.
"Ra, kamu tahu yang namanya Nabila, nggak?" Risa berucap. Kali ini ia tidak mampu bertindak sendirian. Ia berpikir untuk melibatkan Ira agar membantunya.
"Nabila mana nih? Nama nabila ada banyak," jawab Ira.
"Dia mau wisuda juga hari ini. Katanya aktif di organisasi. Seangkatan sama ketos kita dulu. Mana tahu kamu ada kenal Nabila yang sama dengan ciri yang aku sebutin, entah ketemu waktu organisasi bareng atau apa, gitu? Ada nggak?" Risa mendeskripsikan. Raut wajah Ira bingung, ia seperti kenal dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Risa.
"Ooh, iya-iya. Ada Ris. Dia cukup aktif juga di organisasi. Denger-denger memang mau wisuda hari ini juga," balas Ira.
"Nah, kalau kamu lihat dia, kabarin aku, ya. Jangan sampai Kila melihat dia sedang bersama Pak Irsyad. Hari ini juga hari bahagia Kila, jangan sampai Kila sedih karena melihat yang nggak dia ingin lihat." Risa membalas cepat.
"Emangnya kenapa si Nabila itu? Terus, mau apa dia ketemuan sama Pak Irsyad?" Ira bingung, kenapa Risa tiba-tiba membahas orang asing dan kebahagiaan Kila.
Risa yang paham dengan kebingungan Ira itu menjelaskan semuanya secara rinci. Mulai dari pertemuannya dengan Yuli serta mengawasi gerak-gerik Irsyad diam-diam.
Ira cukup dibuat terkejut dari penjelasan Risa. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Risa, ingin melindungi Kila dan mencegah hari bahagia Kila ini berantakan. Dilihat dari intensnya pertemuan Irsyad dengan Nabila, sudah pasti Irsyad juga akan menghampiri Nabila di hari wisudanya meskipun berbarengan dengan wisuda Kila.
...****************...
"Guys, kalian di mana? Nggak ada yang mau ucapin selamat ke aku?" Kila yang telah selesai dengan berfoto bersama keluarga, merasa bosan. Habisnya, begitu banyak orang yang berdatangan meminta foto bersama Kila. Ia menelepon Ira untuk menghilangkan kebiasaannya. Risa juga sudah pasti ada di situ, karena sebelumnya sudah mengabari akan ikut menebeng Ira.
"Duh, sabar Bu Sarjana. Nikmati aja dulu waktu sama keluarga, family time. Entar kita nyusul pas udah agak senggang aja, ya. Lagi ada yang mau diurusin, nih," respons Ira.
"Iih.., apa sih yang diurusin?" Kila mulai jengkel, terlihat dari nada bicaranya.
"Nggak ada, urusan biasa kok. Sebentar lagi juga selesai," jawab Risa menimpali.
"Oooh, ya udah. Jangan lama-lama, ya. Ntar kalau keluargaku udah mau pulang, terus Kak Irsyad belum datang juga, aku jadi sendirian nggak ada teman."
"Siapa yang sendirian? Masih banyak tuh yang ngantri mau foto sama kamu. Ngantri mau foto sama mahasiswa berprestasi yang sanggup lulus lebih cepat. Madona kampus kayak kamu mana ada waktu sendirian waktu wisuda gini," celetuk Ira.
"Tapi tetap aja, kalau nggak sama orang terdekat, tetap merasa sendirian, kesepian," jawab Kila ngeyel.
"Nggak usah lebay deh, Kil. Udah, kamu tunggu aja, sabar menunggu, ok?" Risa mengakhiri, dan sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Risa. Kila kesal karena teleponnya dimatikan begitu saja.
Beberapa saat setelah sambungan telepon dimatikan.
"Gila sih, Pak Irsyad beneran menghampiri perempuan itu dulu daripada Kila. Mana akrab banget lagi sama mamanya Nabila," Ira berkomentar. Sejak tadi mereka memang membuntuti Nabila. Tak disangka, Irsyad tiba-tiba datang. Dari yang Kila katakan, nampak jelas kalau Irsyad belum menghampiri Kila dan malah menghampiri Kila lebih dulu.
Tanpa di sadari, ponsel Ira bergetar. Ia ingin melihat siapa yang menelepon, tapi tersentak oleh ucapan Risa. "Lihat itu! Bisa-bisanya deket banget sampai ngajakin foto kayak keluarga gitu," ujar Risa mengejutkan. Ira tidak sadar dengan ponselnya yang sudah sempat ia angkat, meski belum ia lihat siapa penelepon itu. Karena menurutnya mengamati Irsyad lebih penting, Ira mengabaikan ponselnya.
Kila yang menelepon Ira. Karena tidak terdengar suara dari sang sahabat, akhirnya Kila menyusul mencari ke tempat yang kemungkinan besar ada sang sahabat di sana. Kila masih meletakkan ponsel di telinga, menguping untuk mencari petunjuk di mana kedua sahabatnya itu berada. Sempat samar nada jutek Risa terdengar mengomentari seseorang. Kini ia tahu bahwa sahabatnya pasti ada di dekat auditorium kampus.
"Fix sih ini, Pak Irsyad yang kita kenal dulu udah berubah. Bisa banget dia ngeduluin cewek lain ketimbang istrinya sendiri." Ira lagi-lagi mengeluarkan komentar. Kali ini terdengar jelas seseorang yang dibahas oleh kedua sahabatnya dibalik telepon. Mereka membahas Irsyad.
"Cewek lain?" batin Kila tak karuan sekarang. Ia segera berlari menuju ke sisi lain ruangan auditorium.
Bukan menemukan dua sahabatnya, Kila malah bertemu langsung dengan seseorang yang dibahas oleh dua sahabatnya, ia bertemu dan menyaksikan langsung apa yang tengah dilakukan Irsyad. Irsyad tampak begitu akrab dengan orang lain yang selama ini Kila khawatirkan kedekatannya dengan Irsyad. Berfoto layaknya keluarga, mendahulukan kepentingan wanita itu ketimbang dirinya yang berstatus sebagai istri sah Irsyad.
"Apa-apaan ini, Kak Irsyad?" batin Kila memekik.
...****************...