Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bersikap Seperti Biasa



Hari semakin gelap. Riska dan Gilang memutuskan untuk langsung pulang setelah datang ke wisudanya Kila. Dua orang itu enggan menginap di rumah Kila, pasti memikirkan untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang tertumpuk karena menghabiskan waktu mendatangi Kila. Tapi ada yang setidaknya di untungkan Kila karena Riska dan Gilang tidak menginap. Kila tidak harus berpura-pura bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi dengan dirinya.


"Kila, kita harus bicara. Kamu jangan seperti ini, dong!" Irsyad memelas. Pasalnya, sudah dari tadi Irsyad dan Kila sampai di rumah, tapi tidak ada sikap yang berbeda dari Kila. Itu yang membuat Irsyad tidak suka. Irsyad lebih sakit hati diperlakukan oleh Kila seperti ini, seperti biasanya seperti tidak terjadi apa-apa, karena sebenarnya Kila hanya melakukannya secara formal sebagai istri, tidak tulus seperti biasanya. Lagian, tidak mungkin Kila tulus melayani Irsyad sedangkan hatinya penuh luka, dan luka itu disebabkan oleh Irsyad pula.


"Udah Kila bilang dari tadi, nggak ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik kita menghindari perdebatan. Apalagi saat di depan makanan seperti ini." Kila menjawab santai. Tidak ada nada bicara yang meninggi. Berusaha menempatkan dirinya sebagai istri yang baik, tidak meninggikan suaranya kepada sang suami, meski seluka apapun kondisi hatinya.


Irsyad memang sudah mengucapkan maaf saat mereka foto bersama. Namun, karena setelahnya keluarga yang sudah menunggu itu menelepon Irsyad, tak lama mereka harus menyusul tanpa melanjutkan. Irsyad juga canggung meneruskan penjelasan karena saat menuju ke restoran, Kila memalingkan wajahnya untuk melihat jendela mobil di sampingnya, seolah berkata agar tidak seorangpun mengajaknya bicara dulu.


Mereka selesai makan malam. Saat Irsyad ingin membantu Kila untuk membereskan meja makan, Kila menjauh dan memilih mencuci piring saja. Lalu, saat Irsyad memberikan tambahan piring kotor, Kila tak membiarkan celah untuk Irsyad membantunya mencuci, ia dengan sengaja memperlebar jarak kakinya agar tidak menciptakan celah untuk Irsyad masuki.


"Saya ingin membantu," ujar Irsyad karena terhalang oleh Kila.


"Piringnya dikit, kok. Kila bisa selesaikan sendiri. Kak Irsyad lanjutin kerjaan Kakak aja, kembali ke ruang kerja. Kayaknya pekerjaan Kakak numpuk, deh, soalnya waktu produktifnya malah dihabiskan untuk ke kampus Kila karena wisuda," tolak Kila lembut. Di akhiri dengan senyuman, meski ragu ia tetap menunjukkan senyumnya itu kepada Irsyad.


"Kila, kamu kenapa, sih?"


"Apanya yang kenapa, sih, Kak? Kila nggak apa-apa, kok."


"Ada yang salah, ada tekanan juga, iya, kan?"


"Kak..., nggak ada yang salah, kok. Nggak ada tekanan juga."


"Kamu berusaha bersikap biasa saja, kamu pasti tertekan dengan itu. Kamu memikirkan kejadian tadi, kan? Jadi..., berikan saya menjelaskan semuanya, Kila."


"Tidak perlu ada penjelasan. Kila mengerti, kok. Kak Irsyad nggak usah khawatir sama sikap Kila, memang begini, dan akan begini terus sikap Kila terhadap Kak Irsyad. Kila nggak mempermasalahkan hal tadi, kok. Dan sikap ini, Kila berusaha menjadi istri yang baik, Kila harap Kak Irsyad mengerti itu juga."


"Kila..., sekali lagi saya tanya. Kamu kenapa, sih?" Irsyad bertanya lembut seraya menatap dalam-dalam manik mata Kila. Mencari kebenaran di sana.


"Baiklah, saya mengerti. Kamu mau menenangkan diri dulu, kan? Saya tidak akan ganggu. Tapi saya akan tetap tidur di kamar dan menjadi imam tahajud kamu. Kila..., kalau sudah merasa tenang, ceritakan kepada saya. Dan berikan saya kesempatan untuk menjelaskan peristiwa tadi," ucap Irsyad lirih. Ia masih melihat Kila dalam-dalam, meski Kila sudah memalingkan wajahnya.


"Sebelum saya masuk ke ruang kerja, saya ingin mengatakan sesuatu." Irsyad bicara sedikit lebih serius, sedangkan Kila masih enggan menatap Irsyad.


"Saya mengakui bahwa saya salah. Saya meminta maaf kepada kamu. Tapi itu ada alasannya. Dan soal kecurigaan kamu terhadap saya yang kemungkinan mendua di belakang kamu, itu tidak benar. Seperti yang saya jelaskan waktu itu, saya tidak ada hubungan apapun dengan dia. Dia hanya pekerja paruh waktu yang bekerja untuk saya," imbuh Irsyad. Ia hanya menjelaskan singkatnya saja, karena merasa kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan secara lengkap. Kila yang jadi korban, Irsyad sebagai pelaku harus bertanggungjawab untuk membiarkan Kila sendiri dulu menenangkan dirinya dari pikiran yang membebani.


...****************...


Kila begitu kelelahan hari ini, baik fisik maupun mentalnya. Setelah shalat witir, ia membaca beberapa lembar mushaf Al-Qur'an sebelum mengakhirinya dengan Al-Mulk. Itu hal tidak biasa yang Kila lakukan. Namun, dengan membaca beberapa lembar mushaf Al-Qur'an terlebih dahulu, luka di hatinya kian terobati dan merasa lebih tentram. Di dalam Al-Qur'an benar-benar memiliki sifat Asy-syifa untuk menyembuhkan, meski luka di hati sekalipun.


"Aku sudah lulus, aku sudah wisuda. Sekarang adalah saatnya." Batin Kila berucap seraya merapikan alat shalatnya.


"Kamu belum tidur?" Irsyad masuk ke kamar. Dilihatnya Kila sedang membuka mukenanya, menunjukkan rambut indah miliknya yang tak terbalut hijab. Pemandangan yang membuat Irsyad shock saat memasuki kamar.


"Ooh..., maaf, saya masuk tanpa ketuk pintu lebih dulu." Irsyad kikuk, ia langsung menghadap belakang. Ia memberikan waktu untuk Kila memakai kembali hijabnya.


Setelah di rasa waktu yang diberikannya cukup, Irsyad tidak menghadap belakang lagi. Pelan-pelan ia membalikkan langkah, sebab ia takut membuat kesalahan yang sama.


Meski Irsyad hanya melihat sekilas istrinya yang tak berbalut hijab, itu membuat dirinya tak berhenti memikirkannya. Memikirkan bagaimana pemandangan yang ditunjukkan karena sebuah ketidaksengajaan tadi agar berlangsung lebih lama, melihat kecantikan sang istri tanpa balutan hijab. Namun, mengingat kembali apa yang sudah dilakukan Irsyad kepada Kila hari ini, membuat Irsyad tersiksa dan merasa tidak pantas memandangi keindahan sang istri.


"Maaf, sepertinya kamu masih butuh waktu untuk mengurus rambut indah itu. Kalau begitu, saya tinggal tidur dulu." Irsyad yang sudah membalikkan badannya, dibuat makin kikuk. Pemandangan yang ia lihat sekarang malah membuatnya semakin tersiksa. Kila masih menyisir rambut indah itu di depan meja rias, tentu Irsyad melihatnya dengan jelas. Karena tidak mungkin menghadap ke belakang kembali, ia memutuskan untuk langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Lalu, bagian wajah dan matanya ia tutup dengan selimut untuk mencegah jika sekali-kali ia ingin mencuri pandang ke arah Kila lagi, yang melihat Kila tanpa berbalut hijab saja masih belum pantas bagi Irsyad.


"Ma syaa Allah..., saya baru saja melihat seorang bidadari," ucap Irsyad dalam hati di balik selimut yang menutupinya itu.


...****************...