Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Seperti Pengantin Baru



Malam-malam, tepatnya di sepertiga malam terakhir Irsyad membangunkan Kila. Ia sebenarnya tidak tega membangunkan Kila saat sedang lelahnya seperti itu sehabis beberes rumah. Tapi, mau bagaimana lagi? Mengimami Kila sudah menjadi hal yang Irsyad impikan. Mereka sudah tinggal bersama mulai hari ini, mulai hari ini pulalah Irsyad harus segera menjalankan tugasnya sebagai imam rumah tangga untuk menjadi imam sholat.


"Kila, ayo bangun. Kita shalat tahajud bareng," ucap Irsyad yang berusaha membangunkan Kila. Ucapan Irsyad sangat lembut untuk ukuran membangunkan orang dan tidak ada sentuhan apapun untuk membangunkan, hanya sebuah suara saja, tapi itu sudah cukup untuk membangunkan Kila. Karena sudah terbiasa bangun di jam yang sama untuk shalat tahajjud juga, Kila jadi makin mudah bangun.


"Iya, Kak. Makasih udah membangunkan Kila. Kakak duluan aja ambil wudhunya," ucap Kila dan langsung dilakukan Irsyad sesuai ucapan Kila. Kila masih menutupi wajahnya dengan selimut, karena wajah bangun tidurnya akan terlihat oleh Irsyad. Ia juga masih mengenakan hijabnya saat tidur karena belum siap menunjukan rambutan pada Irsyad, entah sampai kapan ia akan seperti itu terus, padahal mereka sudah tinggal bersama. Namun, hal itu tidak pernah Irsyad permasalahkan karena dari awal Irsyad memang tidak ingin memaksa.


Setelah Irsyad beranjak untuk mengambil wudhu, disitulah kesempatan Kila untuk membenarkan wajahnya. Juga jilbabnya yang anak rambutnya berkeluaran itu ia rapikan.


"Saya sudah ambil wudhu. Sekarang giliran kamu," ucap Irsyad. Kila langsung mengambil wudhu setelah ucapan itu. Ia tidak ingin memandang Irsyad lama-lama dalam keadaan rambut basah akibat air wudhu. Saat melihat rupa Irsyad yang sudah mengambil wudhu, ketampanan Irsyad bertambah dan Kila makin berdebar saat melihatnya.


"Ma syaa Allah, punya suami kok ganteng banget, sih?" ucap Kila dalam hati saat beranjak dari kamar. Ia bisa gila dengan ketampanan Irsyad yang akan ditunjukkan selanjutnya. Yaitu saat Irsyad memakai setelan sholat yang lengkap, sarung bersama baju kokonya dan juga kopiah. Merasa akan diimami oleh imam tampan itu membuat pikiran Kila tidak tenang, begitupun dengan hatinya.


"Huh..., akhirnya aku akan diimami secara resmi oleh Kak Irsyad kali ini. Bismillah," ucap Kila beranjak kembali setelah mengambil wudhu. Hatinya semakin berbunga-bunga saat melihat sosok suami yang sudah siap berdiri di atas sajadah dengan setelan lengkap itu. Melihatnya lebih dekat seperti ini membuat sensasi yang lebih besar dibandingkan saat Kila melihat hal yang serupa sebelumnya. Lagi, Kila memandang kagum dan terpesona dengan rupa Irsyad saat ini.


"Sudah selesai, Kila?" tanya Irsyad memastikan. Kila langsung mengenakan mukenanya sesaat setelah pertanyaan Irsyad.


"Udah, Kak. Bisa dimulai. Kila siap kok jadi makmum," jawab Kila setelah selesai setelan sholatnya ia kenakan.


"Dan saya sudah lama siap jadi imam. Apalagi untuk mengimami kamu. Hahaha," ucap Irsyad membalas dengan candaan. Mendengar itu, Kila jadi tersipu malu. Untuk menutupi itu, Kila menutup wajahnya dengan kain mukenanya. Membuat mukena yang sudah terpakai rapi menjadi sedikit miring. Untung saat itu Irsyad sudah menghadap depan untuk segera memulai sholat, jadi Kila merasa aman karena wajah merahnya tidak terlihat oleh Irsyad.


"Ya Rabbi, hari ini akhirnya datang. Akhirnya, bisa diimami oleh sang imam. Terimakasih ya Rabbi," ucap Kila dalam batinnya. Tak dapat dipungkiri, menjadi makmum yang diimami oleh Irsyad adalah impian terbesar Kila. Ia sudah sangat mengharapkannya saat kata "Sah" sudah terdengar untuk mereka. Berbagai macam alasan yang menghalangi seperti datang bulan atau LDR kini sudah terhapus. Rasanya, Kila ingin menangis saat itu juga saking terharunya.


"Baiklah, akan saya mulai, ya?" ucap Irsyad saat menoleh kembali ke belakang dan melihat Kila sudah selesai membenarkan mukena yang Kila pakai. Dan Kila mengangguk sebagai jawaban, membuat Irsyad kembali menghadapkan kepalanya ke depan untuk memulai sholat.


Bacaan ta'awudz dan basmallah mengawali. Lalu, Irsyad melakukan tugasnya sebagai imam, dan Kila sebagai makmum. Mendengar suara lantunan keras khas seorang imam, membuat hati Kila bergetar. Bacaan Al-fatihah menggema di ruangan dan mendengung di telinga Kila. Cara Irsyad melantunkan ayatullah masih tetap sama, dan Kila lagi-lagi terpesona dengan keindahan lantunan itu. Sama seperti saat pertama kali mendengar lantunan adzan nahawand yang sendu dan Kila langsung jatuh cinta pada suara itu tanpa tahu siapa yang mengumandangkannya. Kali ini, Irsyad melantunkan ayatullah dengan irama jiharka yang khas dengan iramanya yang membuat orang senang seperti saat mendengar kabar gembira. Irama yang khas dengan keceriaan di dalamnya.


Rangkaian rukun sholat telah selesai begitupun dengan doa-doa yang keduanya langitkan. Irsyad menghadapkan badannya ke belakang untuk menatap Kila. Dan Kila mengerti itu, iapun mendekat dan mengambil tangan Irsyad untuk dicium. Lalu, Irsyad juga mendaratkan kecupan lembut yang cukup lama di kening Kila. Rasanya kepuasan Irsyad terbayarkan hari ini. Menjadi imam sholat untuk sang istri adalah hal yang paling ingin Irsyad wujudkan. Mengingat kembali perjuangan kisah cinta mereka membuat Irsyad terharu. Ia benar-benar sudah menjadi imam seutuhnya dengan mengimami shalat, dan Irsyad begitu bersyukur atas itu. Saat pikiran harunya tak terbendung lagi, Irsyad beralih mendekap tubuh Kila erat. Ia ingin menyalurkan suasana hati yang saat ini ia rasakan. Benar saja, setelah mendekap Kila, Irsyad merasa lebih baik. Kilapun tanpa lama membalas dekapan Irsyad. Keadaan hening beberapa saat untuk menikmati dekapan hangat itu.


"Kila..., terimakasih banyak karena sudah mengizinkan saya menjadi imam kamu," ucap Irsyad dalam dekapan.


"Iya, Kak. Sama-sama. Maaf membuat Kak Irsyad menunggu lama," balas Kila lembut.


"Aaa, Kak Irsyad, Kila minta maaf, ya. Tapi Kila juga udah lama pengen jadi makmum sholatnya Kak Irsyad. Dan hari ini rasanya lega banget impian itu terwujud," balas Kila. Dan Irsyad menerima alasan itu. Mereka berdua berdiri seraya melipat sajadah.


"Kila, kita seperti pengantin baru, ya?" ucap Irsyad saat lipatan sajadahnya hampir selesai ia lipat.


"Hmm? Kenapa gitu, Kak?" tanya Kila heran. Mengibaratkan seperti pengantin baru itu begitu berlebih, apalagi mereka sudah lama menikah.


"Iya, soalnya yang begini ini harusnya dilakukan oleh pasangan suami istri yang baru saja menikah," jawab Irsyad dan meletakkan sajadah ke meja tempatnya berada.


"Ya udah, anggap aja gitu. Kita juga baru tinggal bersama, seperti pengantin baru juga, kan?" balas Kila dan menyusul meletakkan sajadah di tempatnya.


"Hahaha, kamu benar."


"Kila.., boleh saya katakan sesuatu?" tanya Irsyad. Ia belum menyelesaikan kegiatannya melipat sarung dan mengganti bajunya. Ia memilih untuk mengatakan pernyataannya terlebih dahulu. Dan Kila tidak jadi melepas rok mukenanya karena ingin fokus mendengarkan apa yang ingin Irsyad katakan. Selain itu, wajah serius Irsyad juga memicu Kila untuk ikut serius mendengarkan.


"Saat kamu mengenakan mukena putih ini, saya melihatnya kamu saat kita akad waktu itu. Kamu mengenakan pakaian putih khas pengantin. Benar-benar sangat cantik, dan saya bersyukur telah memillih untuk melaksanakan wasiat nenek. Saya bersyukur kamu saat itu karena kamu adalah gadis terbaik yang Allah pilihkan untuk saya," ujar Irsyad seraya menatap Kila dengan tatapan kejujuran.


"Saat melihat kamu, waktu itu saya tidak sabar ingin segera meluluskan diri dari pendidikan dan segera ingin tinggal bersama kamu. Untuk segera menjadi imam dan mengimami kamu sebagai makmum. Kila, kamu sangat cantik. Mengenakan mukena putih ini membuat kamu semakin cantik. Saya mengatakan secara jujur dari lubuk hati," lanjut Irsyad. Kila yang tadinya membalas tatapan mata Irsyad kini tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar perkataan penuh kejujuran yang diungkapkan Irsyad. Melihat Kila yang tertunduk, Irsyad mengakhiri perkataannya dengan kecupan di kepala yang masih berbalut mukena. Lalu melanjutkan kegiatannya melipat sarung dan mengganti bajunya, meninggalkan Kila yang masih di tempat.


"Kak Irsyad juga sangat tampan mengenakan setelan sholat itu," batin Kila. Seharusnya ia mengungkapkan langsung, tapi matanya yang berkaca-kaca pasti akan beralih menjadi tangisan air mata.


"Ayo tidur kembali. Masih banyak waktu sebelum subuh tiba," ujar Irsyad setelah selesai berganti baju.


Sholat tahajjud memang dilakukan setelah bangun dari tidur. Dan disunnahkan untuk kembali tidur setelah mengerjakannya. Irsyad tahu betul sunnah itu. Kadang, saat begitu kepepet dengan subuh barulah Irsyad tidak kembali tidur. Dan mengisi jarak waktu itu dengan tilawah. Surah Al-Waqi'ah adalah surah yang biasa ia lantunkan ketika benar-benar mepet dengan subuh. Ukuran mepet bagi Irsyad adalah saat murottal subuh sudah berbunyi. Karena, pada saat itu ia sudah harus ada di masjid untuk menunaikan shalat secara berjamaah. Ia selalu mengutamakan shalat wajib berjamaah di masjid. Jika shalat-shalat sunnah lainnya, barulah Irsyad kerjakan tanpa berjamaah.


Kila yang sudah merapikan mukenanya ikut menyusul Irsyad yang sudah duluan membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang. Sepertinya, tidur Kila kali ini akan dihiasi dengan mimpi-mimpi yang indah setelah kejadian manis barusan terjadi.


...****************...