
Kila membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka kalimat pendek pelan yang ia lontarkan dapat terdengar oleh neneknya dan Irsyad. Bahkan lebih parahnya lagi mereka meresponnya.
“Agenda ta’aruf?” tanya Kila. Ia memberanikan diri untuk menanyakan maksud respon dari neneknya dan Irsyad tadi.
Rupanya Irsyad merasa ada yang harus dijelaskan dengan respon yang refleks ia katakan tadi.
“Ah, iya, tentu saja ini agenda ta’aruf. Seperti yang saya lakukan saat saya masuk di hari pertama sebagai wali kelas pengganti. Saya ingin mengenal kamu bagaimana karakternya saat di rumah, saya dapat lebih mengenal dan kita semakin dekat. Sebaliknya juga berlaku, kamu beserta murid lainnya bisa saja menanyakan hal-hal apapun tentang saya. Agar kita saling mengenal. Itu arti ta’aruf sebenarnya, kan? Saling mengenal.” Irsyad menjelaskan serinci yang ia bisa.
Nenek menatap Kila, dan karena paham Kila menatap balik ke arah nenek. Mereka seperti melakukan komunikasi batin. Nenek berpikir bahwa maksud dari agenda ta’aruf itu adalah hal yang lumrah dilakukan oleh seseorang yang akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang serius. Sama-sama mereka menahan tawa karena sudah berbeda pikiran dengan Irsyad. Lagi-lagi Irsyad mengingatkan arti ta’aruf yang sebenarnya.
Sebenarnya Kila sudah tahu Irsyad akan menjawab dengan jawaban seperti itu. Tapi Kila tidak tahu kalau neneknya berpikiran tentang ta’aruf yang serius. Nenek sepertinya sangat senang dengan kesalahpahamannya tadi. Siapa yang tidak senang jika benar-benar mendapat calon menantu yang ideal seperti Irsyad, coba?
...****************...
Tak terasa, hari sudah semakin siang. Sholat zuhur sudah Kila tunaikan. Irsyad sudah beranjak dari rumah Kila sejak jam sepuluh tadi. Sedikit kelebihan dari satu jam yang dikatakan untuk pertemuan itu.
Nenek sudah selesai menyiapkan makan siang di atas meja. Kila tidak membantu apapun, karena nenek lebih senang urusan memasak dan menyajikannya ia lakukan sendiri. Kila pergi mengambil seperangkat alat makannya di dapur, kemudian mengambil makanan yang sudah disiapkan nenek untuknya.
“Kila, menurut kamu gimana?” tanya nenek. Kila tidak menjawab. Kila sangat peka maksud nenek menanyakan itu. Hal ini pasti membicarakan Irsyad yang sudah nenek keep sebagai “calon menantunya”. Nenek sudah sangat senang dengan beliaunya Kila itu.
“Eeeh, kenapa nggak di jawab?” ucap nenek seraya melirik Kila.
“Lagi makan, Nek. Nggak dianjurkan ngomong. Nanti keselak. Setelah makan aja, ya, Nek, bahasnya.” Kila jika sudah seperti itu pasti ingin mengelak dari topik.
“Oke, nanti nenek tanya lagi,” balas nenek.
...****************...
Kila tampaknya benar-benar menghindari topik pembicaraan tentang Irsyad. Ia buru-buru untuk selesaikan makanannya kemudian mencuci piring bekas makannya dan langsung masuk menuju kamar meninggalkan neneknya di meja makan. Nenek awalnya mengira setelah selesai mencuci piringnya Kila akan kembali ke meja makan, ternyata malah ke kamarnya.
“Kila, kamu kok masuk kamar? Hei, kita belum bicara, lho,” ujar nenek sedikit berteriak. Tampaknya usaha nenek sia-sia karena tidak ada balasan dari Kila yang sudah menutup kamarnya.
Nenek menyelesaikan makan siangnya, mencuci piring, kemudian menuju ke kamar Kila. Nenek masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, sudah biasanya ia begitu. Toh, Kila tidak keberatan dengan itu selama ini.
“Nek, Kila udah ngantuk. Tadi kebanyakan baca buku, mata Kila pegel. Nanti aja ya kalau mau bahas Pak Irsyad. Kasihan beliau kita bicarain diam-diam di belakangnya. Ghibah juga jatuhnya tahu, nenek tercintanya Kila...,” jawab Kila mengelak lagi.
“Emangnya kamu tahu darimana kalau nenek mau bahas tentang Nak Irsyad?” ujar nenek dengan pandangan menyindir.
“Hayo, nggak bisa jawab, ya? Cie...,” goda nenek.
“Udah ah, Kila nggak mau bahas,” kata Kila dibalik bekapan selimutnya.
Nenek mendekat dan sudah duduk di atas ranjang Kila. Ia berusaha melepas selimut yang membekap seluruh wajah cucunya itu. Selimut telah tersingkap dan menunjukkan wajah cantik Kila yang tampak kesal pada nenek.
“Nek, apaan, sih? Kila benar-benar mengantuk, nggak bohong. Memangnya perlu sekali Kila balas pertanyaan nenek?” ujar Kila. Nenek menganggukkan kepalanya dengan senyum sumringah.
“Oke, oke Kila jawab. Habis Kila jawab, Kila mau izin tidur siang, ya, Nek?” ucap Kila. Ia sudah memposisikan diri dengan duduk bersilah di sebelah nenek. Nenek yang bersiap mendengar jawaban cucunya itu sudah senyum-senyum menunggu tanggapan Kila tentang beliaunya itu.
“Jadi, nenek mau dengar tentang Pak Irsyad, kan?” tanya Kila memastikan. Nenek hanya tersenyum diam tanda mengiyakan ucapan Kila.
“Tuh, kan. Benar ternyata mau bahas Pak Irsyad. Nenek mau tanya apa? Apanya yang menurut Kila ‘gimana’ dari Pak Irsyad? Kila nggak paham, Nek.” Jawab Kila. Nenek menduga cucunya pasti berusaha mengelak lagi.
“Kamu ceritakan, dong! Menurut kamu Nak Irsyad itu orangnya bagaimana? Kamu diam-diam menaruh hati ke dia, iya, kan?” jawab nenek dengan nada menggoda.
“Nenek, ih, nyebelin. Nenek memangnya tahu darimana?” tanya Kila dengan nada sedikit meninggi. Kila seperti sudah terciduk oleh neneknya melakukan sesuatu yang mencurigakan.
“Nenek sudah mengenal kamu. Kalau kamu tertarik pada sesuatu pasti mata kamu berbinar jika berhadapan dengan sesuatu itu. Nenek perhatikan kamu seperti itu tadi saat berhadapan dengan Irsyad. Kadang, kamu meninggikan suara saat menjawab pertanyaan Irsyad. Itu karena kamu merasa detak jantung kamu berpacu lebih cepat, efeknya kamu akan meninggikan suara kamu dari yang biasanya normal saat bicara dengan orang selain Irsyad. Itu masih bukti kecil. Bukti lainnya--,” ungkap nenek terpotong.
Kila menginterupsi ucapan nenek.
“Cukup, cukup. Nenek apaan sih, itu nggak bener, tahu.” Kila merasakan hawa panas dipipinya. Ia kemudian kembali membekap wajahnya dengan selimut. Memilih untuk benar-benar tidur siang dan tak mengacuhkan neneknya.
“Cie-cie pipinya merah. Pakai ditutup-tutupi segala. Sudah terbukti, kan, kamu menaruh hati sama beliau.” Nenek berusaha menggoda lagi. Tapi tampaknya Kila benar-benar tak mengacuhkan neneknya itu.
“Kamu usaha dong di sepertiga malam. Nenek pasti senang kalau kamu dapat pasangan seperti Nak Irsyad. Nenek lebih senang lagi kalau kamu memutuskan untuk menikah muda, dan waktunya di saat nenek masih hidup. Jadi nenek tenang ada orang yang akan selalu ada bersama kamu untuk menggantikan nenek nantinya. Kemudian, menikmati pacaran setelah menikah. Mengenal satu sama lain setelah sah menjadi pasangan suami istri. Lalu, kamu lebih semangat menjalani sekolah dan masa kuliah karena ada orang yang mendukung kamu, orang yang terus ada di samping kamu, setiap aktivitas kehidupan jadi terasa lebih berarti.” Nenek kembali melihat ke arah cucunya itu. Kemudian nenek meninggalkan Kila karena benar-benar sudah tidak ada respon lagi dari balik selimut itu.
Kila sebenarnya tidak sepenuhnya mengabaikan nenek. Ia hanya tidak ingin percakapan berlanjut lebih jauh lagi kalau Kila menanggapi lagi. Kila benar-benar mendengar perkataan neneknya sampai nenek meninggalkan kamarnya. Saat mendengar ungkapan nenek tentang menikah, Kila sedikit terkejut bahwa neneknya ingin ia menikah muda.
“Ya Rabbii, hamba mengakui kalau hamba sudah menaruh hati pada salah seorang hamba-Mu. Jadikanlah cinta hamba pada-Mu lebih tinggi di atas cinta pada salah seorang hamba-Mu. Jika memungkinkan, mudahkanlah hamba untuk memenuhi keinginan nenek sebelum nenek benar-benar tiada,” batin Kila berdoa seraya meneteskan air matanya.
...****************...