Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Berpapasan



UAS sudah terlewati. Liburan panjang segera tiba. Mahasiswa merasa lega, tapi untuk seorang dosen, saat setelah UAS adalah hari-hari yang melelahkan sebab harus memeriksa dan memberikan nilai, tak lupa pula untuk memberikan indeks prestasi kepada mahasiswa yang diajarnya.


Pintu ruangan kerja sengaja Irsyad biarkan terbuka, terlihat Irsyad sangat sibuk di sana. Kila yang melihat itu berinisiatif untuk menyuguhkan teh pahit kepada Irsyad.


"Kak, Kila mau ke rumah mama untuk libur panjang," ujar Kila saat sudah melihat Irsyad menyesap teh buatannya.


"Ooh, ya sudah, ayo!" seru Irsyad.


Kila tampak berpikir. Setelah melihat kesibukan Irsyad, ia ragu menyetujui seruan Irsyad. "Kakak, kan, harus memeriksa UAS mahasiswa," ucap Kila.


"Iya, benar. Apa kamu tidak bisa menunggu lebih lama lagi? Kita bisa ke sana bersama. Saya tidak bisa membiarkan kamu ke sana sendirian," jelas Irsyad.


Bukannya menjawab, Kila duduk termangu di sofa ruangan itu. Irsyad juga ikut duduk untuk mengimbangi Kila. Kila yang sekilas terlihat melamun, dibiarkan saja oleh Irsyad.


"Nggak tahu kenapa, Kila pengen banget ketemu sama Mama. Rasanya, kalau ditunda terus kayak ada yang mengganjal," ujar Kila. Tatapan matanya kosong saat bicara.


Kila memang sedang merasakan sesuatu tentang Riska. Ada perasaan aneh yang Kila rasakan yang berkaitan dengan Riska. Sayangnya, Kila tak mengerti perasaan itu. Mungkin, dengan segera menemui sang mama akan membuatnya lega.


"Ada yang mau kamu bicarakan ke Mama, ya? Apa itu?" ucap Irsyad perhatian, seraya menarik kepala Kila bersandar di dada Irsyad. Rambut lembut Kila juga ia belai untuk membuat suasana menjadi lebih tenang, dan mungkin akan lebih mudah untuk mengungkapkan yang sulit terungkap.


"Kila juga nggak tahu, Kak. Tapi, kayak ada yang harus Kila sampaikan ke Mama. Tapi Kila nggak tahu apa itu," balas Kila lirih.


Irsyad terlihat menimbang keputusan. Tangannya yang sebelumnya membelai rambut Kila, terhenti sejenak.


"Hmm..., baiklah. Kalau begitu, kamu boleh ke sana lebih dulu. Saya pasti akan menyusul, kok," ucap final Irsyad setelah menimbang keputusan.


"Diizinin, Kak? Nggak papa kalau Kila pergi sendiri?" tanya Kila yang cukup terkejut dengan keputusan Irsyad.


"Iya, kamu boleh pergi sendirian. Hati-hati saat di jalan nanti, ya," jawab Irsyad seraya tersenyum.


Karena merasa lega, Kila memeluk Irsyad erat dan mengucapkan terima kasih. Seketika, Irsyad senang dapat membantu Kila mengembalikan suasana hati.


"Mau makan di luar? Saya akan sangat kesepian saat akan ditinggal oleh kamu. Jadi, sebaiknya kita menghabiskan waktu bersama sebelum kamu duluan berangkat ke tempat Mama," tawar Irsyad sedikit malu-malu.


"Boleh, tuh. Ayo, Kak. Sekarang aja, Kila jadi lapar, nih."


Irsyad tersenyum melihat tingkah Kila. Keduanya segera berangkat ke sebuah mall. Mereka memutuskan untuk makan dan jalan-jalan. Hari itu perjalanan mereka sempat di tunda ke mall ini, sekaranglah saatnya untuk kembali ke sini.


Padahal baru saja Kila sumringah. Namun, perasaannya malah teringat lagi dengan Riska. Sudah di dalam mall tidak membuat Kila santai atau menikmati waktunya dengan Irsyad. Pikirannya entah kemana meski raganya ada di mall bersama Irsyad.


Tak lama pula, Kila seperti melihat sosok yang ia kenal. "Kak, sebentar deh, Kila kayak ada


Irsyad terkejut bahwa Kila dapat melihatnya juga. Sekaligus gelisah sesuatu yang ditutupi akan terbongkar, lalu menyakiti hati Kila.


"Aaa..., kenapa bertemu lagi? Apa sudah saatnya mereka bertemu? Sudah saatnya kah untuk memberikan uang bulanan kepada keluarga Nabila? Dan lagi, kenapa bisa di mall ini lagi? Harusnya tidak usah kemari saja kalau tahu mereka juga akan ke sini juga," batin Irsyad menggerutu kesal.


"Ha? Dimana? Mungkin kamu salah lihat," respons Irsyad menghindari kebenaran.


"Iya, sih, tapi Kila mau mastiin dulu."


Melihat Kila bersikeras, Irsyad juga ikut bersikeras. "Lebih baik tidak usah, nanti kamu mengganggu kenyamanan orang tersebut," cegah Irsyad yang terlihat mencurigakan di mata Kila.


"Kenapa Kak Irsyad berusaha mencegah? Padahal, kan, tinggal samperin dan pastiin aja," batin Kila curiga. Namun, Kila tetap menurut, ia melanjutkan langkahnya untuk berjalan mengelilingi mall.


Mereka akhirnya duduk di restoran cepat saji yang ada di mall. Kurang sehat menurut Irsyad, tapi ia akan tetap makan karena Kila yang memilih tempatnya. Hal lainnya karena melihat Kila begitu lahap sehingga menggugah selera makannya.


Tak lama, akhirnya mereka selesai makan. Tetap berada di tempat dulu agar makanan dicerna dulu baru melanjutkan untuk jalan-jalan. Namun, tiba-tiba Kila merasa ingin buang air kecil karena terlalu banyak minum. "Kak, Kila mau ke toilet dulu," izin Kila cepat seraya berdiri.


"Biar saya temani," jawab Irsyad tak kalah cepat seraya berdiri pula.


"Ngapain, Kak? Kakak nggak bisa masuk toilet wanita lho," respons Kila.


"Maksud saya, biarkan saya antar sampai depan toilet," ralat Irsyad seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu Kila menyetujui dengan menganggukkan kepalanya.


Saat di toilet, Kila berpikir bahwa Irsyad agak aneh. "Kak Irsyad aneh, tidak seperti biasanya." pikir Kila.


Irsyad memang menyadari perubahan aneh sikapnya ini. Namun, ini ia lakukan agar mencegah Kila mengetahui kebenarannya sendiri. Irsyad tahu itu pasti akan sangat terpukul untuk Kila. Dengan adanya Irsyad, setidaknya Kila bisa mengetahui kebenarannya bersama Irsyad jika hal itu tidak dapat disembunyikan lagi. Setidaknya, Irsyad bisa menjadi sarana agar Kila tak sepenuhnya menyalahkan keadaan. Irsyad berpikir, mungkin tidak apa-apa jika disalah-salahkan oleh Kila akan membuat Kila tidak terlalu menderita. Irsyad sudah siap menerima amarah Kila yang menganggap Irsyad menyimpan rahasia dan melindungi perbuatan buruk Gilang.


Selama ini, Irsyad juga tidak tenang karena menyembunyikan sesuatu dari sang istri. Sebab, sebelumnya ia sudah berjanji untuk mengkomunikasikan segala hal kepada Kila. Ia memang akan menyembunyikan kebenaran itu lagi hari ini, tapi ia siap jika kebenaran ini akan diketahui oleh Kila. Ia siap dengan segala resiko yang harus diterimanya.


Irsyad juga tidak berniat untuk membongkar aib sang mertua, tapi jika Kila menanyakan kebenarannya, Irsyad siap menjawab sejujur-jujurnya. Setidaknya ia bertekad untuk itu. Tidka tahu apa yang akan terjadi kedepannya, bukan?


Selain membulatkan tekad, ia juga melakukan usaha lainnya. Segala hal yang terpikir untuk mengurangi kepedihan Kila ia lakukan. Seperti memanggil biang keroknya untuk diskusi. Saat Irsyad dan Kila makan tadi, Irsyad diam-diam mengirimkan pesan singkat kepada Nabila. Menyuruh Nabila menemui Irsyad jika ada kesempatan, untuk berdiskusi. Saat Kila ingin ke toilet, disitulah kesempatannya tiba. Irsyad mengabari ke Nabila agar menemuinya di dekat toilet. Agak jauh dari sana agar Kila tidak terlalu curiga.


Sebenarnya ia bisa saja berdiskusi dengan Nabila melalui pesan chat, tapi ia tidak enak dengan Kila. Di saat makan seperti itu, apabila ia terus-menerus memegang ponsel pasti akan mengingatkan Kila tentang bagaimana keluarga Kila makan. Padahal, saat makan adalah quality time keluarga. Apalagi, acara makan mereka ia lakukan untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Kila pergi lebih dulu ke rumah Riska. Irsyad hanya tidak ingin mengacaukannya.


"Aa, jumpa lagi sama Pak Irsyad."


"Saya juga tidak mau menemui kamu jika tidak sepenting ini, Nabila."


...****************...