Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kembali



Irsyad sudah menyelesaikan makannya dan akan segera kembali ke rumahnya. Setelah berpamitan, ia langsung melanjutkan perjalanannya. Perutnya


sudah sangat kenyang akibat nenek yang memaksa Irsyad untuk mencicipi semua


makanan yang sudah di hidangkan. Tapi itu tidak menghilangkan roti sobek diperut yang ia punya.


“Assalamu’alaykum, Irsyad Pulang. Bunda, ini belanjaan yang bunda suruh beli tadi.” Irsyad memasuki rumah yang sudah menampakkan Citra dan Erwin yang duduk di ruang keluarga.


“Wa’alaykumussalam,” jawab kedua orang tua Irsyad.


“Kamu belum makan, kan? Tadi ada bunda sisihkan makanan buat kamu, ada di lemari, ambil aja.” Citra menawarkan, seraya membawa belanjaan yang sudah di berikan Irsyad. Sebenarnya belanjaan itu adalah stok barang yang sudah habis untuk keperluan anak-anak yang menge-kos di kosan milik keluarga Irsyad itu.


Irsyad mengikuti Citra, keduanya memang ingin menuju dapur. Tapi Irsyad ke dapur bukan untuk makan, ia ingin membantu bundanya itu untuk menyusun belanjaan tadi.


“Udah, biar bunda aja. Kamu makan dulu, gih,” Citra menawarkan kembali.


“Irsyad sudah kenyang, Bun. Tadi sempat singgah di suatu tempat karena ditawarkan untuk ikut makan siang bersama mereka.” Irsyad menjelaskan seraya merapikan barang belanjaan didepannya.


“Mereka siapa maksud kamu?” tanya Citra menginterogasi.


“Bunda jangan terlalu serius, jangan kaget juga. Cuman wali murid bersama murid Irsyad, kok. Irsyad tadi kebetulan ketemu mereka, dan kebetulan arah jalan pulang Irsyad dan mereka sama jadi Irsyad menawarkan untuk sekaligus saja menebeng Irsyad. Eh, rupanya ditawarkan untuk ikut makan siang juga sama mereka. Katanya sebagai bentuk terimakasih mereka karena Irsyad sudah mau menawarkan tumpangan untuk mereka,” jelas Irsyad.


“Ooh, begitu. Tapi lucu sekali ya, bentuk terimakasih nya mesti yang berwujud gitu,” tanggapan Citra.


“Iya, mereka memang keluarganya unik, Bun.” Irsyad menanggapi dengan senyuman. Citra tidak melanjutkan membahas karena merasa tidak ada yang aneh dengan itu.


Irsyad yang telah selesai membantu bundanya langsung pamit untuk ke kamarnya. Ia merasa hari ini begitu melelahkan, namun juga menyenangkan. Ia membaringkan badannya, mencoba istirahat dengan tidur siang. Setidaknya dengan begitu dapat menghindarinya dari memikirkan gadis dan keluarga uniknya itu, Kila. Ia menyetel alarm tiga puluh menit sebelum waktu ashar tiba.


...****************...


Irsyad datang lebih cepat menuju sekolah hari ini. Pada hari biasapun, ia merupakan sosok guru yang paling cepat datang, sungguh guru yang teladan. Ia hanya ingin mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk di mejanya. Ia benar-benar teliti untuk memeriksa tugas muridnya, menilai dengan objektif dan tidak pilih kasih. Oleh sebab itu, banyak sisa buku yang belum selesai ia periksa dari berbagai kelas yang ia ajar. Dan sekarang ia berkutat dengan itu sembari menunggu menuju jam pelajaran dimulai.


Waktunya masuk ke kelas IPS 1. Kini Irsyad mengerti batasannya, namun ia tidak akan berlebihan menjauhi Kila seperti waktu itu. Ia berusaha kembali seperti semula, dan bersikap biasa saja.


Setelah mengucap salam, Irsyad melakukan tugasnya sebagai seorang guru-memberikan materi pelajaran tentunya. Kali ini ia tidak memberikan tugas apapun, padahal ia merupakan guru yang tak pernah lupa memberikan tugas setiap ia mengajar.


“Hari ini Bapak nggak mau ngasih tugas kayak biasanya?” tanya Risa.


Semua murid di kelaspun langsung gelagapan tak mengerti apa yang diucapkan Irsyad itu. Apalagi menyangkut sebuah tugas, katanya. Terlebih, mereka tahu kalau Irsyad ini bukan orang yang main-main mengenai tugas.


“Maksud Bapak apa, sih? Kayaknya, satu kelas nggak ada yang paham maksud bapak, deh.” Ira memberanikan diri untuk mengutarakan, mewakilkan semua orang yang ada dikelas.


“Kalau begitu, saya menugaskan kalian untuk mencari makna yang saya ucapkan tadi. Tidak memberikan tugas adalah sebuah tugas, tugas kalian ya, mencari tahunya. Saya tunggu sepuluh menit. Siapa yang dapat menjawab lebih dulu akan saya traktir makan, deh, biar kalian makin semangat cari tahunya.” Begitulah jawaban Irsyad yang mengakibatkan murid di kelas semakin panik.


Dilain sisi, Irsyad menutup bagian mulutnya dengan tangan, lalu berbalik mengarah ke papan tulis. Ia merasa puas dapat melihat seisi kelas yang ia masuki bisa sepanik ini. Ia tertawa dibalik tangan itu, sengaja menutupinya karena ia sedang dalam mode serius sekarang. Jadi, ia tidak ingin ada murid yang mengetahuinya. Sebenarnya Irsyad berniat sedikit jahil hari ini, dan tentang tidak memberikan tugas itu memang karena tugas yang ingin diberikan sudah dituntaskan di minggu lalu.


Kila berbeda, ia tidak sepanik semua temannya. Ya, sebelum Kila sadar bahwa Irsyad sedang berusaha jahil, sih. Kila ini murid yang pandai, meski ia pelupa. Namun, dengan sifat pelupanya itu, ia membuat jurnal tentang materi-materi di tiap pelajaran, termasuk pelajaran bahasa Indonesia ini. Jadi, ia segera tahu bahwa materi hari ini sudah diberikan tugasnya di minggu lalu. Ya, Kila memang sangat panik awalnya. Tapi raut wajah Irsyad yang berubah saat Risa dan Ira yang mulai  bertanya, sudah menandakan kejahilan Irsyad.


Kila memang awalnya panik karena kejahilan Irsyad, namun ia juga bahagia. Sepertinya beliaunya yang biasa itu sudah kembali. Kila selalu suka itu, terlebih saat Irsyad tertawa ceria. Pancaran kebahagiannya entah kenapa dapat menular ke Kila.


“Baiklah, sudah sepuluh menit. Waktu habis, silahkan kumpul tugas kalian,” ucap Irsyad berusaha menahan tawa.


“Maaf, Pak. Saya interupsi,” kini Kila bicara. Ia juga sedikit kasihan pada teman-temannya itu.


“Ya, silahkan, Kila,” jawab Irsyad.


“Sepertinya saya bisa menjawab, Pak. Namun, saya tidak menuliskannya. Jadi, saya tidak bisa mengumpulkan. Saya juga berpikir bahwa tugas seperti ini tidak harus dituliskan.” Kila mengutarakan dengan berdiri dan pandangan mengarah lantai. Bagaimanapun, ia mana berani menatap dua manik mata hazel itu. Bisa-bisa ia makin salah paham lagi dengan perasaannya.


Irsyad mengangguk dan memberikan perhatian penuh pada Kila. Itu menandakan bahwa Kila sudah dipersilahkan untuk menyebutkan jawabannya.


“Seperti yang bapak katakan, hari ini tidak ada tugas. Hal itu bapak lakukan karena bapak sudah memberikan tugas materi ini di minggu lalu. Lalu, bapak mengatakan lagi, tidak memberikan tugas adalah sebuah tugas, karena kami tidak mengerti maknanya kami ditugaskan untuk itu. Sepertinya ini adalah kejahilan Bapak semata dan Bapak berusaha memainkan kata-kata. Tapi, saya bisa menjawabnya. Tidak memberikan tugas adalah sebuah tugas, maksudnya bapak ingin menugaskan kami untuk mencari tahu kenapa bapak hari ini tidak memberikan tugas. Dan tugas untuk mengetahui makna dari tidak ada tugas tadi sudah tugas sudah terselesaikan, begitupun dengan tugas dari makna tersebut. Sekian, Pak.”


“Akil, kamu ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti sama sekali, malah makin pusing, tahu,” ucap Ira menanggapi dengan lantang. Gelak tawa Irsyad pecah. Ia tak menyangka hal ini bisa terjadi, ada-ada saja muridnya ini.


Para murid mayoritas mengerti apa yang Kila maksudkan, begitupun dengan Ira. Hanya saja Ira orangnya memang suka seperti itu.


“Baiklah saya puas tertawa, terimakasih, ya. Kalian benar-benar menghibur saya hari ini. Dan untuk kamu, Kila, saya puas dengan jawaban kamu. Sepertinya kamu juga memainkan kata untuk menjawab tadi, tidak ada bedanya dengan saya. Tapi tidak masalah. Kamu masih tetap menerima traktiran makan dari saya. Untuk lengkapnya, kamu temui saya sepulang sekolah di dekat musholla, ya. Kalau di ruangan saya tidak enak berduaan saja di ruangan tertutup seperti itu,” Irsyad memaparkan.


Tidak lama setelah itu, bel pun berbunyi tanda pergantian pelajaran. Dan jam pelajaran bahasa Indonesia yang di ampu oleh Irsyadpun


berakhir.


...****************...