
Cuaca tampak cerah untuk melakukan pertemuan dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Harusnya seperti itu. Kila terlihat melamun menunggu temannya. Di pikirannya sedang merancang hal apa yang ingin ia bicarakan dengan temannya itu.
"Tumben banget kamu duluan yang ngajak ketemuan, ya, Kila. Jadi seneng, deh, aku." Sang teman datang dengan sumringah.
Teman yang ditunggu Kila akhirnya datang. Karena Kila datang lebih dulu, makanan sudah datang di meja, siap untuk di santap untuk menemani obrolan dua orang itu. Jadi, mereka tinggal duduk saja dan menikmati waktu untuk mengobrol.
"Hehe, iya, Mbak. Kita udah lama nggak ketemu, kan? Saya juga punya sesuatu yang harus dibicarakan dengan Mbak Nabila." Kila pun menyambut dengan senyum yang tak kalah manis, meskipun nyatanya senyum itu palsu.
"Wah..., jadi berasa orang penting, deh, aku," respons sang teman bahagia.
"Sejak kapan Kila akrab dengan Nabila? Dari pembicaraan mereka, sepertinya Kila sudah pernah bertemu beberapa kali dengan Nabila."
Irsyad membuat wajah kebingungan dengan keakraban mereka. Ia juga tidak mengerti apa maksud Kila menawarkan Irsyad untuk ikut di pertemuan antarteman ini.
Keberadaan Irsyad tidak diketahui oleh Nabila karena yang duluan sampai di tempat adalah Irsyad dan Kila. Kila mengatur posisi meja mereka sedemikian rupa, sehingga Irsyad dapat mendengar pembicaraan Kila dan Nabila, sedangkan Irsyad tidak takut keberadaannya diketahui oleh Nabila.
"Saya nggak mau basa-basi, Mbak. Kita langsung bicara aja, ya," ujar Kila. Sebelumnya, ia membiarkan Nabila menyesap minumannya lebih dulu.
"Boleh. Apa tuh?" tanya Nabila. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, berlagak seperti anak SD yang disiplin dan baik. Suasana ceria di hati Nabila belum luntur. Sebab merasa bahagia karena secara tidak langsung Nabila sudah sangat akrab dengan Kila hingga membuat Kila menghubunginya untuk ketemuan lebih dulu.
Melihat tatapan dan suasana ceria dari Nabila membuat keraguan di hati Kila. Ia diam cukup lama untuk mengumpulkan keberaniannya mengungkapkan sesuatu yang selama ini selalu tertahan.
"Mbak sepertinya nggak boleh lagi suka sama Pak Irsyad. Soalnya, beliau udah beristri," ungkap Kila pelan, tapi cukup terdengar oleh Nabila, dan Irsyad juga yang duduk tak jauh dari mereka.
Baik Nabila maupun Irsyad yang mendengarnya dibuat kaget oleh pengungkapan Kila.
Fakta itu baru Irsyad tahu saat mendengar pembicaraan mereka. "Apa? Nabila suka sama saya? Terlebih lagi, Kila tahu soal itu." Irsyad mulai berpikiran alasan dibalik marahnya Kila saat Irsyad mendahulukan Nabila waktu itu. Betapa banyak luka yang Irsyad buat untuk Kila setiap kali Irsyad lebih mendahului Nabila. Karena memang sebenarnya Kila sudah tahu bahwa perempuan yang ingin ditemui sang suami itu malah mencintai suaminya. Wanita manapun tidak akan rela, meski si suami sudah menjaga pandangan sekalipun. Irsyad merasa benar-benar marah pada dirinya sendiri. Kini ia mulai mengerti alasan Kila menawarkan Irsyad untuk ikut menemani Kila bertemu sang "teman" ini.
Mendengar ungkapan to the point dari Kila, Nabila tampak kecewa. Sangking kecewanya, ia jadi gila. Wajahnya yang semula sedih kini berubah menjadi orang yang bahagia. Entah ekspresi apa itu, tidak ada yang dapat mendeskripsikannya.
Lalu Nabila tersenyum masam sambil meratapi meja dan berkata dalam hati, "Pantas saja cincin itu dipakai terus oleh Pak Irsyad. Sekarang aku sama saja seperti Mama."
Kila melihat Nabila yang masih menatapi meja. Ia memang menyusun pertemuan untuk mengungkapkan semua hal. Ia tidak ingin ada yang disembunyikan lagi, lelah menyembunyikan kebenaran lebih tepatnya. Toh, cepat atau lambat akan terbongkar juga.
"Mbak..., Mbak Nabila, nggak papa? Maaf, saya bicara tentang ini tiba-tiba. Tapi saya tidak tahan ingin mengungkapkannya. Saya juga tidak berniat menyakiti hati Mbak Nabila," ucap Kila penuh rasa sesal. Tidak ia sangka, mengungkapkan kebenaran ini akan berpengaruh sekali terhadap emosi Nabila.
"Kalau boleh tahu, apa kamu menutupi ini? Sejak kapan Pak Irsyad menikah? Apa sudah sejak kita berkenalan?" Nabila menunjukkan tatapan kecewa pada Kila. Kila tidak bisa menyangkal ucapan Nabila, ia hanya bisa diam yang merupakan sikap mengiyakan ucapan Nabila.
"Mbak tahu siapa istrinya Pak Irsyad?"
"Lah, kok tanya ke aku, sih? Mana tahu, emang aku selingkuhannya?" respons Nabila kian sinis.
"Berarti memang Mbak nggak tahu. Maaf lagi-lagi menyembunyikan hal ini. Saya bukan cuma sekedar keluarga biasa Pak Irsyad. Saya sering ke rumah Bu Citra setiap akhir pekan, bersama Pak Irsyad. Saya juga sering ke mall bersama Pak Irsyad."
Nabila belum tahu arah bicara Kila. Ia terlihat mengernyitkan dahi kebingungan. Sampai Kila menunjukkan tangannya yang sudah bertengger sebuah cincin di sana, cincin yang sama dengan yang Irsyad pakai. Seketika Nabila paham maksud pembicaraan ini. Saking terkejutnya, ia berdiri karena masih tak percaya.
"Saya juga sudah menikah. Dan Pak Irsyad adalah suami saya. Keluarga yang Mbak maksud, saya tidak berniat menyembunyikannya. Toh, istri juga sama dengan sebutan keluarga, kan?" Nada bicara Kila juga ikut meninggi akibat aliran energi negatif dari Nabila yang menyambar.
PLAK
Satu lagi tamparan mendarat di pipi yang sama. Nabila menduplikasi rasa sakit yang sebelumnya telah dibuat oleh Riska. Kenapa orang-orang sering sekali menampar saat sedang kesal? Ia yang menampar, ia pula yang menangis.
Mendengar suara tamparan itu, Irsyad dengan cepat menyusul ke meja mereka untuk melerai. Terlihat Nabila yang sudah bercucuran air mata. Lalu melihat Irsyad ada di sana, Nabila seperti di permainkan oleh takdir. Ia menatap jijik ke arah Irsyad dan Kila.
"Kalian, sudah puas mempermainkan saya? Membuat saya malu, sudah puas?" Nabila terlihat sangat marah, ia menunjuk-nunjuk Kila dan Irsyad dengan jarinya.
"Terimakasih ya Kila karena udah mau bilang setelat ini. Makasih banyak. Dan Pak Irsyad, kenapa Anda terlalu baik ke saya? Padahal Anda sudah punya istri. Kebaikan Anda sampai membuat saya tidak bisa berpaling dari Anda, tidak bisa kagum ke Anda. Kenapa Anda tidak jujur saja tentang status pernikahan Anda?" Nabila seperti berubah menjadi orang lain. Sifatnya yang seperti ini tidak pernah Irsyad lihat sebelumnya. Apalagi, ia menunjukkan senyum yang sinis dan nada bicara yang sarkas. Irsyad tak suka dengan itu.
"Saya tidak pernah ditanya soal itu oleh kamu!" balas Irsyad cepat dan tegas.
"Hah? Apa, sih? Cukup dengerin aja bisa nggak, sih, Pak? Kenapa harus menyela segala? Setelah semua rasa sakit atas kebenaran ini yang udah kalian buat ke saya. Kalian jahat banget sampai egois menyangkal ucapan dari orang yang tersakiti seperti saya?" ucap Nabila dengan nada bak orang yang tersiksa.
"Dasar, suami istri orang jahat. Keluarga kalian jahat! Penghianat!" umpat Nabila. Ia kesal dan berlari meninggalkan Kila dan Irsyad.
Irsyad refleks mengejar Nabila. Ia tidak ingat bahwa Kila sudah ditampar oleh Nabila, harusnya ia mendahului Kila dulu.
"Kejarlah, sekarang aku tahu Kak Irsyad lebih memprioritaskan siapa. Aku tidaklah lebih penting dari dia." Kila meraung dalam hati.
Kila memegang pipinya yang menerima tamparan. Rasanya begitu perih, bahkan lebih perih dari tamparan Riska. Entahlah, apa tamparannya yang perih atau peristiwa yang dilewati tentang bagaimana tamparan itu bisa mendarat yang membuat tamparan ini lebih perih.
Kila segera membayar makanan yang tak sempat ia makan itu. Hendak di makan pun, selera makannya telah hilang. Padahal, ia sengaja untuk tidak sarapan hari ini. Ia hanya ingin sendiri saat ini. Benar-benar sendirian di rumahnya. Suatu tempat yang benar-benar "rumah".
...****************...