
Jam pulang sekolah telah tiba. Risa meminta Kila untuk menunggunya agar bersama-sama ke Musholla untuk menunaikan shalat Zuhur. Karena hari ini hari Sabtu, sekolah mereka lebih cepat pulang namun tidak secepat di Hari Jum'at.
Risa meminta Kila agar ikut menemani dirinya dan Ira menuju ke ruangan Irsyad. Meski yang dipanggil cukup banyak, Risa dan Ira sudah menyelesaikan duluan hukuman mereka. Mereka orang pertama yang selesai dan langsung menuju ke ruang Irsyad untuk menyerahkannya.
Irsyad sudah berada di tempatnya. Terlihat rambutnya basah, yang kemungkinan ia baru selesai menunaikan sholat zuhur berjamaah di musholla. Kila juga menandai, Irsyad yang tadi mengumandangkan adzan untuk zuhur. Dirinya dan Risa tidak bisa ke musholla saat itu juga dikarenakan masih jam pelajaran yang sebentar lagi akan berakhir. Mereka menghormati guru non-muslim yang mengajar saat itu untuk tidak izin ke musholla disaat jamnya sebentar lagi akan berakhir.
Untuk orang yang sedang menuntut ilmu, sholat diawal waktu itu bukan termasuk keutamaan. Sholat awal waktu adalah hal yang utama, namun jika dibandingkan dengan saat menuntut ilmu bersamaan datangnya waktu sholat diperbolehkan untuk menunda sholat tersebut. Asal tidak ketinggalan waktu sholat yang dimaksudkan. Ditambah, kelas Kila tadi sebentar lagi saja akan berakhir. Lebih baik dituntaskan dulu baru melaksanakan sholat. Karena orang yang menuntut ilmu juga termasuk jihad di jalan Allah SWT.
"Permisi, Pak. Maaf mengganggu waktu bapak. Saya dan Risa ingin mengantarkan tugas yang bapak berikan sebagai hukuman tadi, Pak." Ira memulai pembicaraan.
"Kamu letakkan di atas meja saya yang di sana. Akan saya periksa di rumah, nanti," ucap Irsyad menanggapi.
"Baik, Pak," balas Ira.
"Sudah saya letakkan, Pak," ucap Ira menghadap.
"Baiklah. Hanya kalian berdua saja yang mengumpulkan, kan? Kenapa Afifah Syakila ikut juga?" tanya Irsyad. Kila sebenarnya juga tidak ingin ikut, perasaannya pada Irsyad sedang kacau. Namun Risa memaksa. Sebagai sahabat sampai jannah, Kila mau tak mau harus menunggu Risa dan ikut saja untuk masuk ke ruangan Irsyad.
"Maaf, Pak. Saya dan Risa belum sholat zuhur. Jadi saya sekaligus menemani. Maaf jika keberadaan saya di sini mengganggu bapak," ucap Kila menanggapi singkat.
"Ooh, bukan maksud saya menyinggung. Tapi saya murni bertanya. Kamu tidak perlu seserius itu," kata Irsyad. Kila bergeming tidak senang dengan tanggapan Irsyad. Ia seperti dipermainkan. Setelah menjadi buah perhatian kelas karena Irsyad menegurnya, kini ia merasa tidak pernah melakukan apapun ke Kila. Kejadian tadi seperti tidak terjadi, semua kembali seperti biasa begitu saja. Dan Kila tidak senang akan hal itu.
"Ira dan Risa, cepat sekali kalian mengerjakan tugas hukuman yang saya berikan?" Irsyad beralih dari Kila.
"Alhamdulillah, Pak. Saya dan Ira sadar betul letak kesalahan kami ada di mana. Karena itu, kami cepat menyelesaikannya karena kami sudah paham akar kesalahan kami, Pak," jawab Risa.
"Iya, Pak. Kurang lebih begitu," Ira menimpali. Irsyad mengangguk paham dengan jawaban mereka.
"Jika diperbolehkan, saya ingin meminta pendapat kalian bertiga," ujar Irsyad mengganti topik pembicaraan.
"Emangnya, mau minta pendapat tentang apa, Pak?" Ira menjawab.
"Bagaimana menurut kalian tentang sikap saya di kelas, tadi? Apakah menurut kalian saya berlebihan?" ucap Irsyad menceritakan maksudnya.
"Kalau menurut saya, jujur agak terkejut, Pak. Bapak dengan gaya mengajar yang santai tiba-tiba berubah menjadi tegas seperti tadi. Apalagi, bapak datang dengan raut wajah marah. Kami udah takut duluan, Pak. Iya, kan, Ris, Akil?" tanggapan Ira.
"Menurut saya, bapak sedikit berlebihan. Harusnya bapak menjelaskan alasan bapak setelah bapak menegasi kami. Bukan hanya sekedar pernyataan seperti tadi. Kalau boleh tahu, kenapa bapak datang ke kelas? Bukannya waktu itu mapelnya PKN, ya, Pak? Bapak tidak ada menjelaskan itu," giliran Risa menanggapi.
"Benar, harusnya saya menjelaskan kenapa saya tiba-tiba tegas seperti tadi. Tapi sepertinya itu tidak terlalu penting didengar oleh kalian. Guru pengampu pelajaran PKN tadi sedang keluar karena masalah pribadi. Dan bukan saya guru piket untuk menggantikan beliau. Tapi karena saya dipanggil langsung oleh kepala sekolah yang melihat langsung murid kelas IPS 1 ada yang keluar dari kawasan sekolah, saya langsung mengajukan diri untuk menjadi guru penggantinya. Kebetulan tidak ada kelas yang saya ajar. Ya sudah, karena itu tanpa sadar saya sudah memasang wajah gusar. Tidak terlalu penting juga untuk dijelaskan di dalam kelas," ujar Irsyad memberikan penjelasan.
"Bagaimana bisa bapak menganggap hal sepenting itu tidak penting? Segala hal itu harus dikomunikasikan, Pak. Jika bapak tidak memberitahu, bagaimana bisa kami mengerti? Bapak berusaha profesional, tapi bapak lupa kalau bapak ingin kita sebagai murid dan wali kelas harus saling mengenal begitupun saling mengerti," ungkap Kila berusaha setenang mungkin dan merendahkan suaranya.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya diriku tersulut api dengan ikut melibatkan kesalahan kecil yang kebetulan tepat berada di depanku," batin Irsyad menyadari kesalahannya.
"Benar apa yang kamu katakan, Kila. Saya harus mengatakan ini, saya minta maaf kepada kamu atas perlakuan saya tadi di kelas. Maaf karena saya baru menyadari setelah kamu memberikan tanda." Irsyad mengungkapkan permintaan maafnya.
Kila kelabakan membuat ekspresi seperti apa. Ia sebenarnya tidak bermaksud menyinggung Irsyad. Ia memilih untuk tidak menanggapi, dilihatnya Irsyad ingin menyambung perkataannya.
"Tugas guru adalah membuat murid dari fase yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak baik menjadi baik, dari tidak paham menjadi paham. Saya selalu berpegang teguh akan hal itu. Tapi kali ini saya melupakannya karena tersulut emosi. Saya harap kamu berkenan memaafkan saya," lanjut Irsyad.
"Saya juga minta maaf, Pak. Saya juga berlebihan bicaranya. Dan saya bukan bermaksud menyinggung bapak, saya hanya memberikan pendapat saya saja. Sikap bapak tadi hanya mengingatkan saya pada seseorang. Saya membayangkan bahwa orang itu juga bersikap sama seperti bapak, saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bapak bukan orang yang seperti itu ternyata," Kila menanggapi.
"Kil, emangnya kamu diapakan Pak Irsyad tadi?" tanya Risa. Ira juga ikutan kepo. Mendengar yang mereka bicarakan, Irsyad mengklarifikasi menjelaskan.
"Saat kalian sedang keluar kelas mencari separuh penghuni kelas, saya melihat Kila bermain ponsel didepan saya. Padahal ia sudah tahu kalau saya sudah masuk. Tapi ia tidak tahu kalau saya memperhatikannya tanda tidak ingin ia memainkan ponselnya. Akhirnya karena laporan kepala sekolah langsung ke saya, saya meluapkan emosi saya ke Kila. Tidak benar-benar marah, hanya ketegasan saja. Tapi tetap saja itu sudah berlebihan. Tapi, saya lega sudah menyadarinya dan meminta maaf pada Kila. Terimakasih banyak Kila," ungkap Irsyad.
"Iya, Pak. Sama-sama," jawab Kila.
"Oiya, saya akan mengunjungi rumah kamu besok. Orang tua kamu ada di rumah, kan? Saya akan sampai pada pukul sembilan pagi. Jamu saya dengan teh pahit, ya," ucap Irsyad mengembalikan suasana santai diantara mereka.
"Baik, Pak," jawab Kila.
"Yasudah, kalau kalian ingin pergi dipersilahkan," jawab Irsyad mengakhiri.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak, Pak," dijawab oleh ketiganya.
...****************...
Kila dan Risa menuju ke musholla. Sementara Ira sudah bergabung dengan teman ekskulnya. Selesai menunaikan sholat zuhur, Kila sendiri yang akan pulang dikarenakan Risa mengikuti ekskul juga--PMR. Tapi sebelum itu, mereka bertemu di tengah.
"Akil, kunjungan Pak Irsyad udah kayak mau ngelamar aja, pakai izin ke kamu," goda Ira.
"Itulah, namanya juga sebagai wali kelas. Nanti giliran kalian juga pasti dikasih tahu juga kayak aku," respon Kila.
"Kayaknya sih nggak seprivat ke kamu. Pasti Pak Irsyad bakal kasih tahu di hari Senin untuk kedepannya. Kayak jadwalnya, juga. Kebetulan juga kamu dapat di Hari Minggu. Udah kayak nge-date gitu nggak sih?" ucap Risa ikut-ikutan menggoda Kila.
"Udah, jangan mikir yang aneh aneh. Sana kalian masuk ke ekskul masing-masing. Udah mau mulai tuh ekskulnya. Aku mau pulang, dah...," ucap Kila menyudahi. Kila pergi begitu saja meninggalkan kekesalan di wajah sahabat-sahabatnya itu.
"Bilang apa, ya, ke nenek? Bilang kayak biasa aja, deh. Ntar juga nenek paham. Cuman sekedar kunjungan wali kelas, kok, nggak lebih." batin Kila.
...****************...