
Hari menjadi lebih sejuk dari panasnya matahari, shalat ashar juga sudah datang waktunya. Kila memutuskan untuk menumpang shalat di rumah Citra dan baru selesai menunaikan shalat ashar. Sementara Irsyad baru pulang dari masjid bersama Erwin. Sebelumnya, Irsyad sudah berkata pada Erwin dan Citra untuk membahas tentang pelaksanaan pernikahan dengan Kila. Setelah selesai dengan shalat ashar, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membahasnya.
Kila sudah gugup duluan membahas topik ini. Ia memutuskan untuk terus tunduk saat pembicaraan berlangsung.
"Jadi bagaimana, Kila? Kapan kita akan melangsungkan pernikahan?" ucap Irsyad mengulang yang ia ucapkan di dapur tadi. Diulangpun tetap mengejutkan Kila. Kenapa pria ini ringan sekali membahas tentang pernikahan?
"Kamu ini, ya. Pakai basa-basi dulu, kek, jangan asal main to the point aja. Kasihan jantung Kila nanti," tegur Citra.
"Bunda tahu, Irsyad tidak seperti itu. Irsyad tidak akan cocok juga seperti itu," jawab Irsyad.
"Iya iya, terserah kamu, deh," ujar Citra menyerah.
"Ayah sudah menghubungi keluarga Kila untuk membahas persoalan ini. Minggu besok mereka akan datang. Tidak enak kalau Kila yang menjawabnya. Kamu juga harusnya mengerti. Jangan langsung bertanya pada calon pengantin wanitanya," tutur Erwin memberi masukan.
"Baik, Yah. Bahas kapannya, kita akan bicara lagi dengan orang tua Kila juga. Untuk persiapan bagaimana, Bun?" ucap Irsyad mengganti topik.
"Semuanya sudah siap, tinggal memilih hari aja," jawab Citra.
Baik, dirasa itu sudah cukup. Irsyad beralih kepada Kila. Kila ini adalah pelaku yang akan bersanding bersamanya nanti. Irsyad mantap ingin menanyakan perasaan Kila. Bagaimanapun juga, pernikahan ini tidak hanya didasarkan atas sebuah wasiat saja. Harus ada keikhlasan dan cinta saat benar-benar menjalaninya.
"Saya ingin memastikan sekali lagi. Kila, apakah kamu yakin ingin melakukan pernikahan ini? Apalagi kamu tidak mempunyai perasaan terhadap saya. Apa demi wasiat nenek kamu akan melakukannya?" tanya Irsyad.
Harusnya Kila yang bertanya seperti itu pada Irsyad. Kurangkah selama ini gerak-gerik Kila yang mencerminkan perasaan kagum dan suka kepada Irsyad? Bahkan Ira, Risa, Farhan dan Yuli sudah tahu kalau Kila menyimpan perasaan kepada Irsyad. Irsyadnya saja yang kurang peka.
"Tidak apa-apa. Nanti juga cinta akan tumbuh seribu waktu berjalan dan interaksi yang erat di antara kalian. Kamu tidak harus tahu tentang perasaan Kila. Jalankan saja, dan berharap ridha dari Allah," jawab Erwin menggantikan Kila. Erwin dan Irsyad ini memang ayah dan anak, mereka sama-sama kurang peka.
"Iya, Yah. Terimakasih nasehatnya."
...****************...
Hari Minggu berikutnya tiba. Riska dan Gilang tiba, meletakkan barang bawaannya di kosan Kila lalu langsung menuju rumah Citra. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Irsyad. Bahkan sudah disajikan camilan lebih dulu untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi mereka.
"Gimana Kila? Apa mau dilangsungkan segera? Mumpung kamu dan Irsyad sedang sama-sama libur." Riska melemparkan pertanyaan kepada Kila setelah ditanyai juga oleh Citra tentang kapan akan dilangsungkannya pernikahan.
"Yaudah, kalau gitu satu minggu lagi, ya," ujar Citra menyarankan.
"Apa nggak terlalu mendadak, Bun? Mama dan papa juga, biasanya sibuk terus," balas Kila.
"Mama sama papa akan luangkan waktu untuk kamu, Kila. Urusan pekerjaan, kami nggak sesibuk dulu. Ada manager sekarang, jadi tidak usah mengkhawatirkan kami," jawab Riska santai.
"Tuh, Kila udah dapat restu dari mama dan papa, kan? Lagian pernikahan itu tidak baik ditunda terus. Apalagi Irsyad dan Kila sebelumnya udah saling kenal sebagai guru dan murid walaupun status itu udah hilang. Kamu juga sangat sering kan, main ke sini. Ngekos di sebelah juga. Kalau ditunda terus, akan ada orang yang akan salah paham tentang kamu dan Irsyad yang akhirnya menimbulkan fitnah. Jadi lebih cepat lebih baik. Kita akan melangsungkan pernikahan satu minggu lagi," tutur Citra mendukung pernyataan Riska. Dua ibu itu sebelumnya memang sudah saling komunikasi melalui telepon tentang perencanaan dan tanggal. Pekan depan nanti merupakan pilihan mereka sejak awal.
Kila akhirnya menyetujui akan melangsungkan pernikahan di pekan depan. Urusan tamu yang diundang, orang tua mereka sudah sejak lama menentukan. Pernikahan juga akan dilaksanakan secara sederhana di sebuah gedung. Yang utama mereka lakukan adalah menyantuni anak yatim dan mengadakan pengajian. Masyarakat yang kurang mampu di dekat rumah juga diajak untuk ikut datang dalam walimah.
...****************...
Hari yang ditunggu tiba. Ruangan bergema dengan sorak-sorai setelah Irsyad mengucapkan ijab qobul.
Alhamdulilah, sah. Kila menghampiri Irsyad dengan gaun pengantinnya yang serba putih. Menambah kecantikan alami dari gadis itu. Ia tidak berani menatap manik mata hazel milik Irsyad meski kini Irsyad sudah sah menjadi suaminya. Diciumnya tangan Irsyad dengan terus menunduk. Dibalas Irsyad pula dengan kecupan lembut yang mendarat ke kening Kila. Hati Kila berdesir saat kecupan itu mendarat di keningnya. Segala macam luapan emosi dapat ia rasakan dari kecupan singkat itu. Aa, ia merasakan cinta dari kecupan itu.
Beragam doa kebaikan selanjutnya diucapkan Irsyad di atas kepala Kila, lalu Kila mengamininya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Irsyad. Kila langsung memerah ditanya seperti itu. Bisa-bisanya Irsyad membisikkan langsung ditelinga Kila sesudah ia mengucapkan doa-doa tadi. Kila tidak menjawab pertanyaan itu. Irsyad tersenyum karena tidak ada jawaban dari Kila. Ia senang dengan sikap malu-malu Kila itu.
Setelah acara akad, mereka melanjutkan untuk mengadakan walimah di gedung. Cukup banyak tamu yang diundang. Mereka meledek Kila yang berubah status dari murid menjadi istri dan Irsyad yang berubah status dari guru menjadi suami. Sebab, tamu undangan dari sekolah tempat Kila sekolah sekaligus tempat Irsyad pernah mengajar cukup mendominasi. Kila dan Irsyad sangat lelah menghadapi ledekan yang serupa itu.
Selesai walimah, Kila dan Irsyad kembali ke rumah keluarga Irsyad. Rasanya sangat lelah menghadapi tamu-tamu itu. Kila langsung membaringkan diri setelah mandi, ingin segera beristirahat.
"Alhamdulilah, pesan nenek itu sudah terpenuhi. Saya sudah sah menjadi suamimu, imammu. Sekarang saya bisa menjaga kamu menggantikan nenek. Meski kita berjauhan nanti, saya akan selalu menjaga kamu saya janji. Selalu menjadi tempatmu mencurahkan isi hati," ujar Irsyad. Kila hanya mengangguk menanggapi. Irsyad menghampiri Kila yang sudah berbaring di ranjang. Ia duduk memandangi Kila. Begitu terjaganya Kila dari lawan jenis, saat inipun ia masih menutup auratnya, kepalanya masih berbalut hijab.
"Ya sudah, selamat istirahat. Saya tahu kamu sangat lelah hari ini. Saya tidur di sofa, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan itu," ucap Irsyad lalu berjalan menuju sofa dekat ranjang.
Irsyad seperti tahu apa yang dirasakan oleh Kila. Kila masih belum berani menunjukkan auratnya, itu karena ia belum terbiasa dilihat auratnya oleh pria yang bukan mahram. Meski Irsyad sudah sah menjadi suaminya, masih saja belum dapat ia tunjukkan rambut indahnya itu. Ia juga sangat gugup berada di ruangan yang sama dengan Irsyad, memikirkan akan tidur seranjang saja sudah sangat membuatnya gugup dan tak nyaman. Kali ini ia ingin cepat beristirahat karena sangat lelah. Apalagi sikap hangat Irsyad barusan yang harus membuat jantungnya berolahraga membuatnya semakin lelah. Dengan tidur, akan membuatnya lebih rileks sehingga tidak terlalu memikirkan hal kecil yang diperbuat Irsyad.
...****************...