
Satu bulan lebih sudah berlalu sejak Irsyad menjadi wali kelas pengampu kelas IPS 1. Tanpa Kila sadari, harinya semakin berwarna. Cintanya pada Irsyadpun kian tumbuh seiring bertambahnya temu antarmereka.
Hari jum’at merupakan hari kesukaan tiap siswa di sekolah. Karena di hari itu para siswa dipulangkan lebih cepat dari jam biasanya, sebelum waktu zuhur masuk. Kebanyakan siswa dan guru laki-laki muslim memang tidak langsung pulang ke rumah, melainkan memutuskan untuk ke masjid samping sekolah dulu untuk menunaikan sholat jum’at.
Dilain sisi, siswi muslim dan siswa yang bukan beragama muslim sudah berkeliaran entah kemana. Ada yang ke mall, nongkrong, adapula yang masih disekolah kerajinan mengerjakan tugas yang baru saja diberikan guru di hari yang sama. Kila sendiri menepikan diri untuk ke mushola melaksanakan shalat zuhur dulu, kemudian menuntaskan surah al-kahfi, lalu pulang ke rumahnya. Sekedar bekal, jika ada apa-apa diperjalanan setidaknya ia sudah mengerjakan kewajibannya pada Tuhan.
...****************...
Kini Kila sudah sampai di rumahnya. Semua kewajiban sudah ia kerjakan, dan waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Hari ini neneknya tampak gelisah. Biasanya setelah makan malam nenek selalu menuju ke kamarnya untuk tidur atau sekedar berzikir sebelum tidur. Hari ini Kila malah melihat guratan kesedihan di raut wajah neneknya itu yang kini telah duduk di ruang keluarga.
“Nenek hari ini nggak seperti biasanya, ada apa nek?” seru Kila. Ia memposisikan duduk berhimpitan dengan sang nenek.
“Ada apa bagaimana maksud kamu?” respons nenek.
“Hari ini nenek berbeda. Biasanya kan, kalau sudah selesai makan langsung ke kamar. Kenapa hari ini malah ke ruang keluarga? Terus, Kila lihat wajah nenek sedih hari ini. Nah, biasanya, kan, Kila yang cerita, sekarang giliran nenek yang cerita. Ada apa, Nek?” Kila menyampaikan maksud.
“Lha, kamu mau ambil peran nenek?”
“Ih, nenek jangan sok mau ngelucu, deh, kalau lagi sedih begitu,” ucap Kila kesal kepada nenek.
Karena Kila sampai berkata seperti itu, nenek paham kalau Kila benar-benar serius. Nenekpun merasa tidak dapat menempatkan posisi bercanda dengan baik, kemudian ia terdiam beberapa saat. Lalu nenek menghembuskan nafas panjang kemudian menatap Kila dalam-dalam.
Sebenarnya hari ini adalah puncak emosi dimana nenek tidak dapat menutupinya lagi, atau berlakon seperti semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang disembunyikan.
Sejak pindah ke tempat lahirnya, nenek sering berjumpa dengan kawan lamanya. Memang menyenangkan di awal, tapi semakin hari kawan-kawannya malah menanyakan hal-hal mendetil tentang privasi hidupnya. Terutama di hari ini, ia baru saja kedatangan kawan lama. Ada perkataan kawannya itu yang menyita pikiran, itu pulalah yang membuat murung wajahnya.
“Nenek minta maaf, ya, Kil.” Nenek mengeluarkan kalimat pembukanya. Kila makin heran, “maaf atas apa, Nek?” balas Kila.
“Nenek minta maaf untuk segala kesalahan nenek. Untuk kamu yang nggak bisa terus ketemu sama orang tua kamu, itu buah kesalahan nenek.” Benar adanya, kawan lama nenek menanyakan tentang keberadaan anak dan menantunya yang tidak berada di rumah, mengapa mereka meninggalkan orangtuanya sendirian. Menanyakan tentang bagaimana cara nenek mendidik anaknya, bagaimana bisa nenek membiarkan putrinya menikah dengan orang yang ditentukan suaminya dulu hanya memandang latar belakang kekayaan belaka. Imbasnya kini putri dan menantunya itu sibuk mengurusi kekayaan mereka. Tentang bagaimana nenek tidak bisa mendidik putrinya dengan benar, berimbas pada putrinya tak mampu mendidik Kila sebagai orang tua. Pikirannya bercampur aduk, nenek lebih memilih untuk tidak mengungkapkannya ke Kila sementara ini.
“Apaan, sih, Nek. Nenek jangan mikir yang aneh-aneh, deh. Nenek sehat, kok, Allah pasti kasih nenek umur yang panjang,” tanggapan Kila. Kila kemudian memeluk nenek dalam posisi duduk menyampingi nenek dan menyandarkan kepalanya di bahu nenek. Nenek lebih memilih untuk tidak menanggapi pernyataan Kila, ia hanya mengusap lembut rambut Kila seraya memikirkan ucapan kawan lamanya itu.
...****************...
Hari sudah sangat larut sekarang, Kila masih belum tertidur karena memikirkan perkataan nenek tadi. Ia tak ingin kehilangan neneknya, kenapa nenek malah membahas kematiannya? Kila terus memaksakan diri untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia harus segera tidur agar setidaknya ia bisa bangun untuk menunaikan tahajud nanti.
Kila melamun membayangkan Irsyad. Tak lama orang yang dilamunkannya itu menghampirinya. Lalu ia bertanya, “siapa orang yang paling berharga bagimu?” katanya. Kila hanya menyodorkan secarik kertas yang pernah ia buat waktu itu di hari pertama Irsyad masuk ke kelasnya.
Irsyad membacanya kemudian bertanya, “apa yang membuat nenekmu lebih berharga dibandingkan orangtuamu?” katanya. Kila hanya terdiam dan membayangkan hari-harinya bersama sang nenek. Banyak tawa yang telah diciptakan nenek di sudut bibir Kila. Nenek selalu ada buatnya, di manapun dan kapanpun itu. Nenek selalu menunjukkan contoh yang baik pada Kila. Membimbing Kila menjadi sosok wanita sholeha calon penghuni surga.
“Saya tahu seberapa besar kamu menyayangi nenekmu. Saya bisa membaca pikiranmu,” kata Irsyad.
“Lalu, bagaimana saat Tuhanmu mencabut nyawanya sesegera mungkin?” lanjut Irsyad. Kila tak bergeming. Lalu ia berusaha untuk memikirkan hal positif tentang itu, tidak mungkin nenek akan meninggalkannya dalam waktu dekat ini. Nenek sehat, tidak mempunyai penyakit apapun, pasti Allah SWT akan memanjangkan umur neneknya. Selalu Kila memikirkan kemungkinan terbaik didalam kemungkinan buruk.
Ira datang dengan nafas tak teratur karena habis tergesa-gesa mencari Kila. Ira kemudian menetralkan nafasnya kemudian berkata, “Akil, nenek kamu meninggal. Ditabrak lari sama orang nggak bertanggung jawab.” Mendengar pernyataan itu, Kila langsung lemas dan terjatuh. Derai air mata tak dapat dibendungnya. Kemudian ia berlari ke tempat dimana neneknya berada dengan mata sembap yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
“Nenek, nek... Nenek, bangun. Nenek jangan pergi tinggalkan Kila, Nek.” Kila sampai, lalu menggetarkan bahu neneknya untuk membangunkannya. Kila masih tak percaya akan hal ini. Kemudian ia menangis memeluk neneknya yang dipenuhi oleh darah dengan berderai air mata.
Air mata itupun tidak dapat berhenti. Sampai Kila terbangun. Mimpi burukpun terjadi. Ia terbangun dengan air mata yang terus menerus mengalir yang sudah membasahi bantalnya. Sedangkan azan subuh sudah berkumandang, Kila terlewat sholat malamnya. Kila terus beristighfar menetralkan tangisnya. Sampai ia benar benar tenang saat iqamah masjid kompleks terdengar. Kemudian mengambil wudhu dan menunaikan sholat sunnah fajar dengan subuhnya.
Tak disangka Kila, mimpi buruk itu sampai menghantui Kila. Ia selalu tak tenang saat akan meninggalkan neneknya sendirian di rumah. Ia tak ingin membiarkan nenek keluar rumah untuk situasi apapun agar kecelakaan di mimpi buruknya ia tidak menjadi nyata. Ia selalu memutuskan untuk pulang ke rumah lebih cepat untuk menemani neneknya.
Benar-benar seperti nyata, padahal hanya mimpi. Padahal hanya bunga tidur, tapi Kila selalu berpikir bahwa hal itu akan dialami olehnya.
Kila merutuki dirinya sendiri karena sedang kasmarannya dengan Irsyad membuat perhatiannya pada sang nenek berkurang. Waktu Kila dan nenek sedang berduapun ia hanya menceritakan diri Irsyad seorang. Bahkan Kila yang biasanya menanyakan kabar nenek yang sendirian ditinggal di rumah kini jarang Kila sampaikan. Kila merasa ia harus berbenah diri.
...****************...