
Dua pekan sudah berlalu, dan Irsyad penasaran dengan keadaan nenek. Tapi ia tidak punya alasan kuat untuk ke sana. Sabtu malam itu adalah hari terakhir Irsyad mengunjungi rumah sakit.
Bertepatan dengan berlalunya dua pekan, hari penyerahan rapor tiba di hari Sabtu pula. Hari yang mendebarkan bagi tiap murid dan orangtua karena sangat bergantung pada nilai rapot itu. Padahal itu hanya sebuah nilai di atas kertas, tapi dijadikan rujukan utama untuk menentukan kemampuan seorang murid. Karena Irsyad merupakan wali kelas, maka ia bertugas untuk menemui orang tua muridnya untuk memberikan rapor. Ini sedikit berat untuk Irsyad, karena ada saja orangtua murid yang mencoba menggoda karena Irsyad masih sangat muda dan tampan pula.
"Wah, nggak nyangka wali kelas anak saya ternyata masih sangat muda. Ganteng, ramah lagi," ucap seorang Ibu yang merupakan orangtua Ira.
"Hus, Ma, apaan, sih? Pak Irsyad udah ada yang punya, tahu. Mama jangan goda-godain, lagian nggak mempan juga, sih." Ira berbisik pada mamanya.
"Ra, emang siapa yang punya?" balas mamanya berbisik pula. Kelakuan Ira rupanya cerminan sang mama.
"Kila, Ma," jawab Ira asal.
"He.., Kila ternyata. Cocok, sih, ya udah deh, mama dukung juga," balas mamanya percaya begitu saja.
"Ehmm." Irsyad berdehem karena dua orang di depannya ini mengabaikannya karena terlalu asik berbisik.
"Ira dan Ibu sudah selesai, ya. Terimakasih banyak Ibu sudah hadir dalam pengambilan rapor ini. Terimakasih juga sudah repot-repot membawakan buah tangan segala." Ucap Irsyad menuju akhir perbincangan.
"Iya, sama-sama. Saya juga berterimakasih kepada Bapak. Kalau gitu saya pamit dulu, ya, Pak. Selamat pagi," ucap mamanya Ira. Irsyad mengangguk ramah sambil menjawab selamat pagi juga. Mereka beranjak dari depan Irsyad karena sudah selesai giliran.
Risa sudah lebih dulu menerima rapor karena namanya berawalan huruf A, Arisa Putri. Harusnya Kila yang lebih dulu, dengan nama Afifah Syakila yang dimilikinya. Tapi, ia tidak membawa orang tua ataupun walinya. Sedangkan untuk mengambil rapor harus bersama salah satu dari orang tua atau wali. Meski begitu, Kila tetap datang di hari pengambilan rapor ini. Ia berharap dapat mengambil rapornya sendiri meski harus memenuhi syarat lain nantinya, itupun jika ia beruntung.
Ira, Kila dan Risa berkumpul di sebuah bangku dekat lapangan sekolah. Orangtua Ira dan Risa sudah duluan ke mobil mereka untuk menunggu anak-anaknya. Mereka orang tua yang pengertian karena memberi ruang untuk persahabatan mereka.
"Kil, aku sama Ira udah ambil rapor, nih. Kayaknya setelah ini kami mau rayain bareng keluarga masing-masing, sebagai perayaan karena nilai kami bagus smester satu ini. Kamu masih mau nunggu atau gimana?" Risa bertanya, ia juga mengusap lembut lengan Kila sebagai penenang Kila karena Risa tahu pertanyaan itu akan membuat Kila murung.
"Nggak masalah kok kalau kalian mau pergi duluan. Rayain momen penting ini sama keluarga. Aku mau di sini dulu, mana tahu ada keajaiban untuk bisa ambil rapor tanpa orangtua ataupun wali," jawab Kila dengan senyuman. Ia tidak ingin terlihat memusingkan hal ini, nanti dua sahabatnya itu akan khawatir padanya dan mereka mungkin lebih melewatkan momen bersama keluarga mereka untuk menemani Kila yang sendirian.
"Akil, kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk ngabarin kami, ya," ucap Ira. Kila mengangguk menanggapi.
...****************...
Usaha Kila belum membuahkan hasil. Ia sudah berbicara dengan kepala sekolah untuk mengambil rapor tanpa orangtua ataupun wali, namun beliau tidak memberikan izinnya. Kini Kila sudah kembali ke rumah sakit dengan pikiran mengganjal. Ia penasaran tentang bagaimana nilai di rapornya itu. Sedari sampai di rumah sakit Kila terus memasang wajah lesu.
"Kamu kenapa lesu begitu, Kil?" Nenek yang terus melihat wajah lesu Kila bicara. Kila sangat mudah di tebak dari bermacam ekspresi wajah yang dipasangnya, seperti sekarang contohnya.
"Nggak apa-apa, Nek. Oiya, mulai besok Kila udah libur sekolah sampai dua minggu, jadi Kila bisa terus ada di rumah sakit nemenin nenek," jawab Kila mengalihkan topik yang dibahas nenek.
"Oiya? Berarti kamu pembagian rapornya hari ini, dong?" Nenek mengekspresikan keterkejutannya. Sebab, Kila tidak memberitahu apapun selain jadwal ujian waktu itu.
"I-iya, Nek," jawab Kila. Ia bersiap untuk menerima ceramah dari sang nenek dengan menunduk, ia tak berani menatap nenek.
"Duh, Kila. Kamu juga nggak pernah minta tolong ke mama atau papa kamu, kan? Soalnya, dari TK rapor kamu selalu nenek yang ambil. Harusnya kamu ngabarin ke mama kamu, walaupun sibuk setidaknya dia bisa bicara ke wali kelas kamu lewat telepon. Jadi, kamu bisa ambil rapor kamu. Kamu masih jaga jarak sama mama kamu sendiri? Takut ganggu mereka?" ucap nenek tegas. Kila menunduk sambil menggeleng.
"Kalau udah kayak gini, kayaknya nenek harus minta Nak Irsyad ke sini untuk menyerahkan rapor kamu. Bagaimanapun juga, nenek wali kamu. Jadi, sudah memenuhi syarat untuk mengambil rapor kamu. Kamu penasaran, kan, dengan isi rapor nya?" ucap Nenek. Kali ini kila mengangguk.
"Ya udah, jangan halangi nenek untuk menghubungi Nak Irsyad," titah nenek.
"Nek, beliau pasti sangat lelah karena hari ini beliau banyak mengeluarkan energi untuk bertemu orangtua murid. Ini sudah sore juga, lebih baik kita jangan mengganggu waktu istirahat beliau," bantah Kila halus.
"Kila, sayang, Nak Irsyad nggak akan merasa terganggu dengan ini. Kamu tahu sendiri sifatnya bagaimana. Pasti dia akan langsung ke sini karena merupakan kewajibannya. Lagian nenek nggak nyuruh sekarang juga kok, kamu tenang aja. Nenek bilangnya waktu dia senggang aja ke sini," ucap nenek mengakhiri. Ia terlihat sedang memencet tombol keyboard ponselnya untuk mengirimkan pesan chat ke Irsyad. Kila tidak bisa membantah lebih jauh, karena dalam lubuk hatinya ia sangat penasaran dengan nilai rapornya.
"Kil, Nak Irsyad sudah balas. Katanya ba'da isya nanti dia bisa meluangkan waktunya ke sini," ujar nenek.
Kila tidak berekspektasi bahwa ia akan bertemu Irsyad lagi di sabtu malam. Ia juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria itu, padahal ia sudah bertemu di sekolah tadi saat ingin izin mengambil rapor tanpa orangtua ataupun wali. Irsyad menolaknya saat itu juga, meskipun Kila adalah murid spesial bagi Irsyad. Namun, Irsyad adalah orang yang profesional dan ia tetap melakukan prosedur yang berlaku dan menolak permintaan Kila. Kalau menyerahkan secara langsung ke wali murid, Irsyad merasa ia tidak melanggar prosedur apapun. Makanya setelah menerima pesan chat dari nenek, ia langsung menyetujuinya.
...****************...