
Makan malam telah selesai. Memang Kila baru pulang setelah shalat isya di rumahnya sembari menemani sang mama. Meja makan telah dibereskan. Keduanya kini telah duduk di ruang keluarga.
Kila memulai pembicaraan, "Mama tadi datang tiba-tiba ke rumah. Kila harus temenin Mama. Maaf karena itu Kila jadi pulang telat, Kak."
"Tidak apa-apa. Saya hanya khawatir dengan keadaan kamu. Tidak ada pesan masuk, tidak ada telepon yang di angkat. Saya tahu kamu marah, kecewa juga, karena saya bukannya berada di sisi kamu saat itu dan malah mengejar Nabila. Saya minta maaf."
Irsyad tampak menyesal. Ucapan maafnya terlihat tulus. Kila menanggapi dengan menggapai tangan Irsyad, lalu ia genggam tangan itu. Irsyad merespons, menatap Kila yang dibalas senyum indah dari Kila.
"Terimakasih banyak udah mikirin Kila sebegitunya, Kak. Harusnya Kakak yang marah dengan sikap kekanak-kanakan Kila ini, tapi malah Kakak yang merasa nggak enakan karena mengejar Mbak Nabila. Kila minta maaf juga, ya, Kak. Kila kabur gitu aja, tanpa dengar penjelasan apapun. Sikap perasa Kila bilang kalau Kakak lebih prioritaskan dia daripada Kila, padahal nggak begitu. Mungkin karena ada berbagai macam pikiran negatif sebelumnya yang udah ada duluan, Kila jadi bertindak seenaknya tanpa pikir panjang dulu."
Irsyad melihat Kila pula dengan senyuman. Refleks ia menyambut ucapan Kila selanjutnya dengan mengusap lembut kepala Kila.
"Maaf, ya, Kak. Tujuan Kila pengen Kak Irsyad ikut juga karena mau bicara seadanya sama Mbak Nabila. Terus, biar Kak Irsyad tahu juga kalau Kila selama ini sering berhubungan sama Mbak Nabila, tapi Mbak Nabila nggak tahu hubungan sebenarnya antara Kila dan Kakak. Kila mau jujur di sana, ada rasa ingin mengungkapkan kebenaran itu karena ingin balas dendam juga. Itu, Kila udah menyesal, kok, sama niat awal yang buruk itu."
"Balas dendam, maksudnya?" Irsyad tampak bingung. Habisnya, tidak mungkin Kila yang dilihatnya selalu berperilaku baik memikirkan hal buruk seperti itu.
"Kila ngelihat Kakak bicara sama Mbak Nabila waktu kita ke mall waktu itu. Kila dengar pembicaraan tentang Papa, terus Kila ngerasa dikhianati sama kalian. Ditambah lagi, waktu Kila lihat betapa bejatnya Papa bermesraan dengan wanita lain di ruang publik seperti mall itu. Wanita yang pernah Kila lihat, yang ternyata adalah Mamanya Mbak Nabila. Kila pikir, Kakak merahasiakannya karena yang terlibat disitu juga adalah Mamanya Mbak Nabila. Saat foto bersama di wisuda waktu itu, harusnya Kakak udah sadar dengan wanita itu, atau bahkan bisa sadar dari sebelum itu. Harusnya Kakak cerita ke Kila, bukan malah menutupinya, itu yang Kila pikirkan. Terus, Kila benar-benar kecewa sama semuanya, hati Kila jadi dengki. Kila mau ngabarin Mama tentang kelakuan suaminya, tapi Kila malah dapat tamparan keras."
"Maaf atas tamparan itu, Kila. Kamu malah mendapatkannya dua kali," batin Irsyad iba.
"Kila nggak tahu kalau Mama bakal tampar Kila. Meskipun Kila tahu kalau Kila melakukan hal yang salah, tapi Kila benar-benar kecewa dengan respons Mama yang memilih untuk menampar Kila. Kila benar-benar kecewa, sama semua orang."
"Wajar kamu kecewa. Rasa sakit yang terus-menerus menyelimuti membuat kamu marah pada setiap orang. Wajar jika kamu merasa dengki dan kemudian ingin balas dendam," Irsyad menanggapi.
"Saya menyembunyikan fakta itu karena tidak ingin kamu terpuruk mendengar kebenarannya," ungkap Irsyad. Ingin melanjutkannya, tapi Kila menimpali dengan cepat.
"Udah, Kak, nggak usah dijelasin lagi. Setelah Kila berpikir jernih, Kila bisa terima kenapa Kak Irsyad diam-diam menyembunyikan kebenaran ini. Kak Irsyad begitu baik, ingin tidak ada orang yang tersakiti, juga tidak ingin membongkar aib orang lain. Kila paham, kok. Meskipun baru-baru ini aja pahamnya."
"Maafkan saya karena menyembunyikannya selama ini."
"Terimakasih banyak, Kila."
"Terus, kamu tadi bilang kalau Mama datang ke rumah kamu. Kenapa tiba-tiba?"
"Dan akhirnya melakukan Papa juga diketahui sama Mama. Kila nggak tahu Mama memergokinya di mana, Kila nggak mau kalau bahas itu malah membuka luka Mama. Yang jelas, Mama ke tempat Kila untuk bercerita dan butuh tempat untuk menenangkan diri."
"Akhirnya kamu dan Mama Riska juga tahu, ya? Cobaan yang berat sekali untuk kalian," ucap Irsyad prihatin.
"Kak, Kila harus gimana? Waktu Kila lihat kelakuan Papa waktu itu, Kila langsung ke tempat Mama dan mengadukannya. Tanpa Kila sadari, Kila mengusulkan perceraian kepada Mama, mungkin alasan itulah yang membuat Kila harus menerima tamparan. Itu secara nggak sadar Kila ucapin karena tidak menerima perbuatan selingkuh yang juga nggak bisa Kila maafkan. Nah, sekarang Mama malah kepikiran untuk melakukan perceraiannya beneran. Mungkin itu karena perkataan Kila waktu itu."
"Saya setuju sama kamu tentang perselingkuhan itu tidak dapat dimaafkan. Saya mengerti kamu mengucapkannya tanpa sadar, dan sekarang menyesal. Namun, yang menjalani rumah tangga adalah mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan, lalu kita hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mereka. Jangan khawatirkan itu, mereka bukan anak kecil yang akan sembarangan mengambil keputusan."
"Kak, Kila kepikiran untuk menyelesaikan masalah ini. Papa jelas belum tahu kalau Kila juga tahu kelakuan dia dibelakang. Jadi, Kila ingin jujur dengan bertemu langsung dan membicarakan semuanya. Terus, Kila mau semua orang ketemu di satu tempat untuk menyelesaikan masalah ini. Kila nggak akan kasih kesempatan kedua untuk Papa, tapi kalau Mama menginginkan itu, Kila harus terima. Lagian, siapapun bisa berubah. Gimana menurut Kakak?"
"Saya setuju saja dengan rencana itu. Mungkin, kita harus sebisanya untuk menuju penyelesaian masalah dengan cara perceraian. Kita juga harus bisa pertimbangkan perkataan semua orang yang terlibat, jangan sampai salah mengambil keputusan akhir nantinya."
"Iya, sih. Tapi, Kila nggak mau biarin Mama menderita karena keputusannya untuk mempertahankan pernikahan yang sebenarnya udah nggak bisa lagi dipertahankan. Kasihan Mama yang harus menahan rasa sakitnya. Pernikahan itu harusnya saling menjaga perasaan satu sama lain, bukan hanya satu pihak saja yang ingin di jaga perasaannya. Kalau udah nggak ada lagi kenyamanan di pernikahan itu, lebih baik di akhiri. Biar Mama merasakan sakit yang teramat dalam karena perceraian nantinya, toh rasa sakit itu nggak akan lama jika dibandingkan dengan sakit yang terus dirasa saat Mama harus terus memikirkan untuk mempertahankan pernikahan jika Papa nggak bisa berubah dan tetap main api di belakang. Meskipun Kila bilang kalau Kila takut Mama terpengaruh dengan omongan Kila tentang perceraian, dari lubuk hati yang paling dalam Kila menginginkan kebahagiaan Mama meskipun harus ditempuh dengan perceraian."
Setelah menjelaskan panjang lebar, Irsyad bingung harus menanggapi bagaimana. Ia tidak ingin membuat Kila sakit hati lagi karena ucapannya. Atau bisa jadi, sifat tempramen yang buruknya itu menguasainya.
"Kita bantu doa juga, ya. Secepatnya harus masalah ini diselesaikan. Kamu ingin bertemu beliau kapan?" respons Irsyad setelah menimbang bahwa itu tanggapan yang paling aman.
"Papa selalu beralasan sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, malam ini langsung Kila akan katakan langsung kalau Kila kau ketemu. Selanjutnya, dia pasti akan menyusun waktu yang pas untuk ketemuan."
Saat Irsyad melihat Kila yang menyebut ayahnya sendiri dengan sebutan "dia" menunjukkan bahwa betapa tidak sukanya ia dengan sikap sang ayah. Ia bisa mengerti itu, jadi ia abaikan untuk menasehati Kila atas sebutannya yang terbilang kurang sopan itu.
...****************...