
Pemilihan ketua OSIS untuk periode yang baru telah dimulai hari ini setelah upacara bendera. Urusan berterimakasih kepada Farhan, sepertinya harus Kila lupakan. Sudah satu bulan berlalu sejak Farhan mengantar Kila, dan Kila tidak juga melihat Farhan lagi. Pasti Farhan sangat sibuk mempersiapkan segala hal untuk pemilihan hari ini, sebagai ketua OSIS yang lama. Sepertinya, tugas menjadi ketua OSIS itu sangat berat. Apalagi, Farhan sudah kelas 12, ia pasti sangat sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas.
"Milih kandidat satu atau dua, Ris?" Kila bertanya setelah kelas mereka selesai mendapatkan giliran memilih.
"Rahasia dong," jawab Risa.
"Kalau aku pilih kandidat nomor satu, kampanye mantap. Program kerjanya juga bagus," ujar Ira. Kila sedikit bersemangat karena pilihan Ira sama dengan dirinya.
"Wah, sama dong kalau gitu, Ra. Aku juga pilih kandidat nomor satu," ucap Kila antusias.
"Wih, beneran? High five dulu, Akil," balas Ira. Mereka tos bersama, membuat kecemburuan pada Risa.
"Aku juga milih kandidat nomor satu, tahu," ujar Risa sedikit kesal.
"Lha, bukannya kamu tadi nggak mau kasih tahu, ya, Ris?" Kila malah makin membuat kesal Risa.
"I-iya, sih. Tapi udah aku kasih tau juga jadinya. Yuk, high five lagi," pinta Risa dengan nada memaksa. Ira dan Risa langsung menuruti, tapi tidak dengan semangat, loyo.
"Yuk, habis ini mau kemana? Kita pulang cepat hari ini, kan?" tanya Risa, ia sangat bersemangat membahas pulang cepat.
"Ke kosan Akil aja, yuk. Kita belum pernah ke sana, kayaknya. Gimana, Akil keberatan, nggak?" Ira juga ikutan bersemangat, lagian ia tidak ada kesibukan apa-apa di ekskulnya karena hari ini ada pemilihan ketos. Ira mana bisa tidak aktif sekali saja, ia harus menyibukkan diri dengan sesuatu untuk mengganti keaktifannya di ekskul yang tidak dilakukan hari ini. Mendengar ucapan Risa, bukan ide yang buruk.
"Naik apa, nih? Kan Risa biasanya diantar jemput. Yang bawa motor, kan, cuma Ira," ujar Kila.
"Ngapain repot. Ya tinggal naik bareng aja, bertiga. Lagian cuman lima menit naik motor." Lalu, muncullah ide gila dari sang pemilik motor. Risa dan Kila mempertimbangkan usulan Ira. Tidak buruk, sih, meskipun agak alay.
"Ya udah, yuk, siap-siap. Kayaknya satu jam lagi udah boleh pulang, nih. Kalo kelamaan, ntar banyak yang liatin kita pas baik motor bertiga, kan, malu." Risa mengakhiri. Kemudian mereka segera melakukan yang Risa ucapkan.
...****************...
"Wih, mantep banget ya, Kil. Fasilitas komplit, makanan pokok juga disediakan. Beruntung banget bisa dapat kosan yang begini, murah lagi." Kila membuka pintu kamar, yang memasukinya harus melewati berbagai fasilitas ini dulu yang membuat dua orang ini kagum.
"Iya, kamu dapat dari mana info kosan komplit kayak gini, Akil?" Ira bertanya setelah duduk dengan posisi ternyamannya.
"Allah maha baik. Aku liat-liat aja di daerah kompleks sini. Kata orang sini ada kosan juga. Alhamdulilah, masih sisa satu kamar yang kosong, ya udah buru-buru aku ambil," jawab Kila mengingat peristiwa waktu itu.
"Ooh, gitu, ya. Murni keberuntungan itu, mah," Risa menanggapi.
"Iya, keberuntungan juga. Silahkan nih, diminum. Ini juga dimakan, camilannya," balas Kila.
"Ee, nggak cuma hobi makan, ternyata kamu jago juga bikin kue, ya, Kil. Kelihatannya enak," Risa menilai.
"Iya, dong. Tapi baru-baru aja, sih, bisanya. Soalnya sering diajarin sama ibu kos di rumahnya. Setiap akhir pekan, Bu Citra selalu buat camilan untuk keluarganya. Awalnya aku diajak buat bantuin, lama-lama aku yang ngajuin diri untuk bantuin, biar bisa buat sendiri juga. Ini sisa camilan semalam, aku sengaja nyisain buat dimakan nanti lagi. Tapi karena kalian datang, sekalian aja kita makan bareng-bareng, lebih nikmat," ujar Kila dengan kebanggaan.
"Oiya, waktu aku persami waktu itu, Akil pulang naik apa?" ucap Ira sambil mengunyah makanannya.
"Nebeng sama ketos, Kak Farhan. Katanya rumahnya di deket kosan aku juga, dia tahu karena sering lihat kita di jalan," jawab Kila. Risa dan Ira heran kenapa bisa tiba-tiba ketos terlibat?
"Eh, iya? Kok aku nggak tahu, ya? Kalau dia sering lihat kita di jalan, harusnya kita bisa lihat dia juga, dong, kan?" Ira menanggapi, ia tidak terlalu memusingkan darimana Kila bisa dekat dengan Farhan.
"Iya, tuh, bener. Terus, kenapa dia mau antar kamu, Kil?" tanya Risa, ia malah ingin lebih tahu bagaimana kronologi kejadian. Dan, kenapa Kila bisa sebegitu dekat dengan Farhan sampai diantar pulang segala.
"Iya, dia kayaknya kasihan sama aku, soalnya kayak nunggu sendirian gitu dari tadi. Dan kalau nggak dia bilang, pasti aku akan terus nunggu juga. Karena udah mau adzan, dan pasti jalanan macet dan angkot juga jarang lewat, jadi aku mau aja nebeng sama dia. Kalau macet gitu, waktu yang biasanya cuma lima menit sampai kosan, bisa sampai 15 menitan dan aku juga takut ketinggalan waktu maghrib," ucap Kila mengalir begitu saja.
"Oiya, omong-omong, ternyata aku tetangga sama dia," lanjut Kila.
"Ee, kok bisa?" tanya Ira dan Risa bersamaan dengan nada terkejut.
"Iya, bisa aja, kan? Cuma beda sepuluh nomor dari nomor rumah kos ini," jawab Kila santai.
"Kila, kamu nggak beralih hati, kan?" Risa malah mengkhawatirkan soal perasaan Kila.
"Iya, Akil, Pak Irsyad mau dikemanakan?" Ira ikut menanggapi. Ia mengerti maksud Risa, dan Ira langsung saja mengutarakan tentang Irsyad. Kila sontak terkejut perihal ucapan Ira ini. Kila sendiri juga jarang berinteraksi lebih dengan Irsyad akhir-akhir ini.
"Ih, ada-ada aja, deh, kalian ini. Udah lupain tuh, lanjut lah dimakan kuenya," jawab Kila mengalihkan topik.
Ira dan Risa saling memberi kode, kemudian keduanya tersenyum. Mereka sangat senang dapat menjahili Kila seperti ini. Kalau diingat-ingat, sudah lama mereka tidak menjahili Kila dengan topik ini setelah kepergian nenek Kila.
Setelah melanjutkan memakan camilan, mereka membahas hal-hal lain tentang sekolah. Sampai waktu Dzuhur tiba, Kila dan Risa meninggalkan Ira untuk sholat terlebih dahulu. Ira dimintai tolong untuk membelikan makan siang, karena waktu jam makan siang sudah tiba.
"Wah, perutku kenyang banget," ucap Risa. Mereka sudah menyantap makan siangnya.
"Iya, aku juga. Nah, si Akil masih asik aja santai makan camilannya," ucap Ira menyusul. Kila hanya diam tak menanggapi. Ia fokus makan, dan kebiasaan keluarganya dulu kalau sedang makan tidak bicara.
tok tok tok
"Eh, ada yang ketuk pintu kamu tuh, Kil. Buka, gih," ujar Risa. Waktunya bertepatan dengan selesainya Kila dengan makanannya itu. Lalu ia bergegas menuju pintu karena tidak ingin orangnya menunggu.
"Mama?"
Kila tak menyangka orang yang datang malah orang yang tidak ingin Kila temui lagi. Terakhir kali Kila berkomunikasi dengan orang itu, ditelepon berbicara tentang Irsyad yang akan datang ke rumah waktu itu, dan mereka melewati perdebatan yang sengit. Terakhir mereka bertemu adalah dengan gejolak kemarahan dan berakhir dengan pindahnya Kila ke kos ini. Untuk apa orang itu datang kemari?
...****************...