
Pagi ini Kila ingin bangun untuk shalat tahajud, namun sebelum alarmnya berbunyi dering ponselnya yang berbunyi duluan menandakan ada yang meneleponnya. Kila bangun pelan-pelan, lalu mengontrol suaranya agar tidak terdengar suara baru bangun tidurnya. Ia malu suara bangun tidurnya diketahui.
"Halo, Assalamu'alaykum Kila. Sudah bangun?" Suami yang pengertian, yang menelpon Kila adalah Irsyad. Perbedaan waktu antara di Turki dan Indonesia tidak menjadi halangan untuk memberi perhatian.
"I-iya, Kak. Kila baru aja mau bangun. Kirain tadi bunyi alarm, ternyata bunyi dering karena Kak Irsyad menelpon."
"Mulai sekarang, saya siap menjadi alarm kamu. Mungkin kamu tidak perlu alarm lagi kedepannya," ujar Irsyad. Sejak kapan ia bisa melontarkan kalimat seperti gombalan itu?
"Nggak usah dipaksain, Kak. Kila tahu, kakak pasti sangat sibuk mempersiapkan penelitian. Kila nggak masalah, kok, kalau disaat kakak sibuk dan tidak dapat menyempatkan berkomunikasi dengan Kila," balas Kila.
"Ya, kamu benar. Tapi saya juga sudah berjanji untuk menjaga komunikasi dengan kamu. Kita menjalankan hubungan jarak jauh, saya ingin semuanya berjalan lancar. Saya usahakan yang terbaik, ya." Irsyad berucap, dan itu membuat Kila bahagia karena Irsyad ternyata benar-benar memikirkan hubungan mereka.
"Ya sudah, kamu lanjutkan untuk shalat. Saya tutup, ya. Assalamu'alaykum," tutup Irsyad.
"Wa'alaykumussalam, Kak," jawab Kila. Ia melanjutkan kegiatannya untuk melakukan shalat tahajud. Mulai sekarang, ia menyelipkan doa-doa terbaik untuk hubungannya dan Irsyad. Belum dapat diimami shalat bukan masalah bagi Kila, karena Irsyad memanglah imam yang baik bagi Kila. Nenek sangat pandai memilih imam untuk Kila.
...****************...
Kila baru saja ingin jalan setelah memanaskan mesin motornya, tapi tak di sangka Irsyad menelpon lagi. Padahal saat tahajud tadi ia sudah menelepon Kila.
"Halo, Kila. Assalamu'alaykum. Hati-hati bawa motornya, ya. Oiya, semangat untuk belajarnya. Sudah dulu, ya, Assalamu'alaykum," ujar Irsyad singkat kemudian sambungan itu diputuskan sepihak oleh Irsyad. Padahal Kila belum bicara sedikitpun bahkan menjawab salam Irsyad saja belum. Mungkin Irsyad yang sibuk, atau Irsyad yang tidak ingin mengganggu Kila karena terlalu sering menelepon.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kila meski sambungan telponnya sudah tertutup.
"Kak Irsyad aneh. Bukannya di sana harusnya sudah masuk jam tidur, ya? Kenapa sangat berjuang untuk melakukan komunikasi? Sangat tiba-tiba, mana bisa aku mengontrol rasa senangku karena perhatian kecilnya itu," batin Kila berucap bahagia.
"Kila, selamat pagi. Itu tadi yang nelpon Kak Irsyad, ya?" sapa orang yang menyusul dari belakang dengan sebuah motor, Farhan.
"E.. Kak Farhan. I-iya, tadi itu Ka-Pak Irsyad," ujar Kila terbata-bata. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan Farhan, kenapa ia dipertemukan dengan Farhan hari ini?
"Kalau gitu, Kila duluan, ya, Kak. Assalamu'alaykum," ucap Kila mengakhiri percakapan. Ia ingin melajukan motornya, tapi terhenti karena Farhan menahan pegangan belakang motor Kila.
"Tunggu, Kila," tahan Farhan.
"Ada apa lagi, Kak? Saya mau ke kampus sesegera mungkin, soalnya ada kelas pagi. Bukannya Kak Farhan juga ada kelas pagi? Kalau ingin membahas suatu hal jangan sekarang, ya, Kak. Waktunya sangat tidak tepat," ucap Kila tegas.
"Benarkah Kak Farhan? Lalu, Kak Irsyad, apa dia tahu kalau aku memang sedang menghindar dari Kak Farhan makanya beliau meminta langsung ke Kak Farhan untuk menjagaku. Kak Irsyad, sekarang Kila sangat bingung. Apa maksud kakak sebenarnya? Kak Irsyad pasti hanya berniat mendamaikan kami tapi beliau sebenarnya tidak tahu perasaan Kak Farhan kepadaku. Aku tidak begitu yakin dengan ucapan Kak Farhan, biarlah kami berdamai. Aku juga tahu batasan, tidak akan kubiarkan Kak Farhan masih menyimpan perasaan kepadaku. Kalau memang Kak Farhan sudah menyerah, tak akan kubiarkan dia terpacu untuk kembali berjuang lagi," pikir Kila dalam hati.
...****************...
Hari ini sangat melelahkan. Setelah menunaikan ibadah shalat isya, Kila yang baru menyelesaikan kebiasaannya melihat perkembangan toko onlinenya itu kemudian menghubungi admin yang bekerja dengannya. Setelah berbincang agak lama tentang bonus yang akan di berikan Kila, ia melihat jam. "Pasti di sana sudah saatnya jam makan siang," pikir Kila. Ia ingin menelpon Irsyad duluan, tapi saat itu pula malah Irsyad yang menelpon lebih dulu. Kila dengan cepat menjawab telpon itu.
"Halo, Kak Irsyad, Assalamu'alaykum. Kakak gimana kabarnya sekarang? Udah makan malam?" sapa Kila cepat.
"Hahaha, Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kabar saya Alhamdulillah baik. Dan seharusnya kamu menanyakan makan siang, bukan makan malam. Saya yang harusnya menanyakan kamu sudah makan malam atau belum," jawab Irsyad.
"Ya Rabbii... padahal tadi Kila udah kepikiran untuk menanyakan makan siang, bukan makan malam. Jadi, Kak Irsyad udah makan siang atau belum?" tanya Kila.
"Alhamdulilah, sudah. Kalau kamu?"
"Alhamdulilah, Kila juga udah makan malam."
"Kamu jangan terlalu banyak memikirkan kampus. Mahasiswa baru biasanya selalu overthinking saat mengikuti mata kuliah dan takut mengulang. Jangan karena itu, kamu jadi tidak perhatian dengan diri sendiri. Tetap jaga pola makan kamu, ya."
"Iya, Kak. Dan itu juga berlaku untuk kakak."
"Saya kalau soal makan tidak pernah lupa, Kila. Kamu bahkan bisa tenang karena tidak harus selalu menanyakan tentang saya yang sudah makan atau belum, hahaha. Kila, kamu harus janji tetap jaga pola makan kamu. Saya tidak ingin kamu sakit, apalagi saat saya tidak bisa menemani kamu. Jaga diri kamu baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bercerita dengan saya, kamu tidak lupa tentang pesan nenek itu kan?"
"Iya, Kak."
"Ya sudah, saya tutup ya. Saya tidak bisa menelpon lama-lama kali ini. Saya juga tidak ingin mengganggu waktu istirahat kamu. Selamat istirahat, Kila. Jangan lupa Al-mulk nya. Assalamu'alaykum."
"Iya, Kak. Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Kila tidak tahu darimana Irsyad bisa tahu tentang Kila yang kurang menjaga pola makan akhir-akhir ini. Siapapun pasti berpikir kalau orang yang hobi makan tidak akan pernah mengacaukan pola makannya, tapi tidak dengan Irsyad. Irsyad tahu, Kila memang suka makan. Tapi, soal menjaga pola makan, Irsyad sangat paham betul jika ada masalah yang membuat Kila kepikiran, pasti Kila tidak nafsu makan atau mungkin malas makan. Irsyad sudah memperhatikan itu saat Kila tidak ingin makan karena kepikiran terus tentang kondisi nenek. Irsyad bisa begitu perhatian terhadap Kila karena logikanya, tapi cenderung tidak peka jika berkaitan dengan perasaan.
...****************...