Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bertemu Tanpa Sengaja



Kila dan nenek sudah selesai dengan toko buku. Kila hari ini bernasib baik karena daftar buku yang ingin ia baca hari ini mampu ia beli semua berkat neneknya yang menambahi kekurangan budget Kila hari ini. Sebenarnya Kila tidak ingin benar-benar membeli semua buku wishlist-nya, tapi nenek berulang kali untuk menawarkan Kila agar membeli semuanya.


Akhirnya, dengan berat hati hari ini Kila banyak sekali memboroskan uang sang nenek demi dirinya. Nenek juga bilang kalau yang nenek lakukan ini juga untuk memperbaiki mood Kila, tapi ini sudah berlebihan. Kila berencana untuk membalas kebaikan nenek hari ini.


“Nek, kita makan dulu, yuk. Kita kan lumayan lama tadi di toko bukunya sampai lupa makan siang. Untuk makan siang ini Kila deh yang bayar, soalnya, kan, nenek udah banyak bayarin buku wishlist Kila.” Kila menawarkan dengan senyum tulus.


“Ya udah, yuk. Yang paling murah aja, biar budget kamu nggak abis,” jawab nenek sedikit mengejek. Ia mengakhiri dengan sedikit terkekeh di belakang.


“Ih, nenek, dikira orang Kila ini cucu pelit nanti, lho. Nggak papa kalau mau yang nggak murah, tapi jangan pilih tempat yang terlalu mahal juga ya, Nek. Kila serahin ke nenek, deh, silahkan nenek pilih dimana tempat yang nenek suka untuk makan siang kita,” Kila menanggapi. Wajah cemberut sempat Kila perlihatkan.


“Bener ini, ya, nenek yang nentuin?” tanya nenek memastikan.


“Iya, bener. Nenek mau makan siang di mana?” ucap Kila memberi kepastian.


“Hmm, kalau gitu ...,” ucap nenek menggantung.


“Di mana, Nek? Bebas, deh,” Kila menanggapi.


“Hmm kayaknya kita makan siang di rumah aja, deh, Kil.” Nenek memberikan putusan akhirnya. Kila yang menunggu jawaban nenek sempat kecewa karena ternyata nenek mengeluarkan jawaban seperti itu. Padahal, Kila pikir neneknya sedang memikirkan salah satu restoran yang ada di mall ini.


“Yah, Nek, kok di rumah, sih? Padahal Kila udah serius, lho, tadi nungguin jawaban nenek,” ucap Kila dengan nada ngambeknya.


“Jangan ngambek gitu, dong, Kil. Nanti cantiknya hilang, tahu,” ucap nenek berusaha menghibur.


“Ih, apaan, sih? Nenek jangan bercanda, nggak lucu juga,” jawab Kila agak ketus namun manja.


“Kila, nenek maunya makan siang di rumah saja, ya, kitanya? Soalnya nenek baru ingat kalau nenek tadi udah masak. Mubazir nanti kalau nggak di makan.” Nenek kini bicara lebih serius.


“Ya udah, Kila ngikut aja maunya nenek. Berarti kita pulang sekarang, nih, kan?”


“Iya, ya udah, yuk.”


Mereka menuju lantai dasar mall dan keluar. Sepertinya kali ini mereka akan naik angkot menuruti keinginan Kila di awal ingin berangkat tadi. Jadi, mereka akan keluar dari area mall menuju halte terdekat dari mall.


...****************...


Mereka kini sudah sampai di pintu parkiran. Namun, Kila melihat neneknya berhenti tertinggal beberapa langkah dari dirinya. Kila yang menyadari itupun langsung menyusul nenek ke belakang. Nenek terlihat seperti melihat ke arah lain dan tak menghiraukan Kila.


“Nek, kenapa berhenti? Ayo, dikit lagi nyampe ke haltenya,” ucap Kila seraya menyentuh lengan neneknya untuk menyadarinya.


“Itu kayaknya Nak Irsyad, deh.”


“Hah? Maksud nenek gimana?”


“Iya, bener itu Nak Irsyad. Nak Irsyad. Hey, Nak Irsyad,” nenek berteriak sambil melambaikan tangan. Ia melambaikan tangannya ke mobil yang ia lihat telah dimasuki oleh Irsyad.


Kila tidak tahu apapun tentang ini, sebab ia fokus untuk menuju ke halte secepatnya. Situasi berubah dengan cepat seketika. Mobil yang diduga nenek milik Irsyad itu, mendekat ke arah mereka dan berhenti seraya menurunkan kaca mobilnya. Benar dugaan nenek, orang yang ia duga Irsyad memang benar dialah orangnya.


Kila berusaha menundukkan pandangannya untuk tidak membuat kontak mata dengan Irsyad. Mengingat akhir-akhir ini dijauhi oleh Irsyad membuatnya tak nyaman dengan situasi ini.


Setelah mengucap salam dan di jawab oleh nenek dan Kila, Irsyad turun dari mobilnya.


“Nak Irsyad habis dari mall ini juga? Wah, kebetulan sekali kita dapat bertemu di sini,” ucap nenek memulai obrolan.


“Iya, Ibu. Saya memang kebetulan sedang dekat dengan mall ini, tadi. Terus dapat kabar dari bunda saya, ia ingin dibelikan beberapa barang dengan menitipkan ke saya. Jadi, saya singgah ke sini mall yang paling dekat. Ibu dan Kila berdua bagaimana?” Irsyad menanggapi dengan sopan.


“Oh, ini, kami baru selesai belanja buku yang mau dibeli Kila. Dan sekarang kami mau pulang untuk makan siang. Kilanya bandel, dia bilang mau naik angkot aja biar seru katanya. Padahal tadi waktu mau kesininya naik taksi online. Jadi, kami berdua mau ke halte sekarang.” Nenek menjawab dengan apa adanya.


“Kalau begitu, bareng saya saja. Kebetulan sekali, untuk ke rumah saya akan melewati rumah Kila, jadi bisa sekalian. Silahkan Ibu dan Kila masuk,” tawar Irsyad tulus.


“Ma syaa Allah, sungguh beruntung bisa bertemu Nak Irsyad di sini. Terimakasih banyak, Nak Irsyad.” Nenek mengucapkan terimakasihnya sebelum masuk ke mobil Irsyad.


Kila bingung ingin masuk ke mobil Irsyad, padahal ia sudah dua kali menaiki mobil itu. Tapi karena situasinya berbeda sekarang, ia ragu masuk ke mobil Irsyad mengikuti nenek.


“Kamu nggak masuk, Kila?” Irsyad bertanya dan membuyarkan lamunan Kila atas kejadian Irsyad akhir-akhir ini.


“Ayo masuk, jadi kita dapat langsung berangkat. Jadi, kamu dan nenek kamu tidak terlambat untuk makan siang,” lanjut Irsyad.


Kila memberanikan diri setelah Irsyad menawarkan kepada dirinya secara langsung seperti tadi. Ia memposisikan duduk dengan kepala menghadap jendela. Sedangkan nenek, ia memang duduk di samping Kila namun dengan pandangan lurus ke depan. Pasti ada semacam obrolan yang ingin dilontarkannya ke Irsyad.


“Nak Irsyad, sudah makan siang belum?” Pertanyaan pertama sudah dilontarkan nenek.


“Belum, Bu. Setelah sampai rumah mungkin saya akan makan siang,” jawab Irsyad.


“Kalau begitu, kamu mampir ke rumah saja. Makan siang di rumah. Terhitung sebagai balasan karena kamu sudah mau mengantarkan kami ke rumah. Terimakasih saja tidak cukup, jadi saya harap kamu bisa ikut mampir, ya,” tawar nenek.


“Terimakasih, Bu. Tidak usah repot-repot. Saya senang membantu, lagian jalan pulang menuju rumah saya dan rumah Ibu berdua satu arah. Jadi tidak masalah, terimakasih saja sudah cukup,” jawab Irsyad penuh kesopanan.


“Ya Allah, nggak bisa begitu, dong. Jarak ke rumah kamu juga cukup jauh, kalau nanti ada apa-apa karena kamu belum makan bagaimana? Jangan tolak, ya, jadi kami bisa tenang karena kamu sudah berbuat baik sudah mengantarkan kami pulang,” ujar nenek agak memaksa.


Irsyad memikirkan sikap nenek ini, mirip seseorang. Ternyata cucu dan neneknya sama-sama ingin membalas kebaikan bukan hanya dengan mengucapkan terimakasih, tapi juga dengan cara yang unik seperti ini. Irsyad menunjukkan senyum mengingat bagaimana Kila bersikeras untuk berterimakasih padanya.


“Baiklah kalau begitu, terimakasih, Bu. Saya akan mampir untuk makan siang. Maaf kalau saya merepotkan nantinya,” jawab Irsyad dengan senyum sisa tadi.


“Wah, alhamdulillah. Nggak papa ngerepotin, namanaya juga tamu, iya, kan, Kila?” Nenek dengan santainya mengajak Kila ikut dalam obrolan Kila.


Kila yang sedari tadi melamun dan melihat ke arah jendela, tersentak karena namanaya disebut nenek. Namun ia tidak sepenuhnya melamun, ia masih bisa mendengar apa yang nenek dan Irsyad obrolkan. Ia hanya tidak ingin terlibat dalam obrolan dengan Irsyad, itu hanya membuat goresan di hati yang mulai tertutup akan terbuka lagi.


“Kil, iya, kan?” tanya nenek lagi.


“Um, Iya, Nek,” jawab Kila asal. Ia sempat mengarahkan kepalanya sebentar menatap ke depan. Namun, setelah menjawab ia langsung memalingkan wajahnya kembali menatap ke arah jendela.


“Kenapa menjawabnya aja terasa sesak?” batin Kila.


Kila sendiri tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Semua yang berkaitan dengan Irsyad menyentuh hatinya. Jika yang lalu ia merasa debaran di dada saat dekat dengan Irsyad, kini ia merasa ada sesuatu yang menusuk di dada saat dekat dengan Irsyad.


...****************...