Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Akrab dengan "Keluarga Irsyad"



Nabila benar-benar menghubungi Kila setelah pertemuannya di depan rumah Citra semalam. Lalu mengajak Kila bertemu untuk mengobrolkan banyak hal.


"Kak, Kila nanti minta antar ke restoran Jepang ini, ya." Kila menunjukkan sebuah lokasi dari ponselnya.


"Boleh. Kamu mau ketemuan sama Ira dan Risa, ya?" respons Irsyad. Mereka sedang sarapan. Meja makan jadi tempat mereka berdua mengakrabkan diri.


"Bukan, Kak. Ketemu sama teman baru," jawab Kila. Irsyad tidak ingin menanyakan teman yang akan ditemui Kila itu perempuan atau laki-laki. Sebab, Irsyad tahu betul bahwa Kila perempuan baik-baik, tidak akan bertemu laki-laki dibelakang dengan diam-diam tanpa ditemani orang ketiga.


"Ooh, begitu. Perlu di jemput juga?"


"Nggak usah, deh. Soalnya pulangnya berbarengan sama jam Kakak ngajar. Kila bisa naik taksi online, kok. Kila nggak mau ngerepotin."


"Kamu bisa nunggu saya kalau mau. Memangnya jam berapa, sih? Hanya menjemput, pasti tidak akan memakan waktu lama."


"Tidak usah, deh, Kak. Soalnya, Kila juga nggak tahu kapan selesainya, hehe. Kalau ngehubungin Kakak, takut ganggu lagi."


"Ya udah, mana baiknya untuk kamu, itu yang saya ikuti."


"Makasih ya, Kak."


Setelah selesai sarapan, Kila pun ikut dengan Irsyad ke mobil. Menuju tempat pertemuannya dengan Nabila dulu, lalu Irsyad menuju ke kampus untuk mengajar.


...****************...


Kila tiba di tempat lebih dulu. Sifat Kila memang tidak ingin ditunggu, lebih baik ia yang menunggu. Lagian, ditempat ini ia bisa tetap produktif sembari menunggu Nabila. Apalagi, suasana restoran yang menambah mood untuk makin produktif.


Setengah jam kemudian Nabila menyusul. Ia tampak ngos-ngosan, dan Kila langsung menyuguhkan air mineral miliknya untuk Nabila minum. Keduanya kemudian memesan makanan dan mengobrolkan banyak hal. Dimulai dari perjumpaan mereka semalam yang sungguh mengejutkan keduanya.


"Oiya, keluarga kamu gimana, Kila?" Nabila menanyakan topik tentang keluarga. Sebab, sebelumnya mereka sudah sampai di pembicaraan yang mengarah kalau Kila adalah keluarganya Irsyad. Nabila ingin lebih tahu dan lebih dekat dengan Kila dengan menanyakan topik keluarga.


Kila diam. Ia bingung menjawab seperti apa. Lalu, Nabila peka dengan diamnya Kila itu.


"Salah dong. Harusnya aku dulu yang ngasih tahu tentang diriku dan keluargaku, ya? Hahahaha," tawa Nabila.


"Kamu pasti nggak percaya alasan aku suka sama Pak Irsyad," mulai Nabila.


"Emang alasannya apa, Mbak?" tanya Kila penasaran.


"Nah, ini ada kaitannya tentang aku dan keluargaku."


"Dulu, kita pernah ketemu kan? Itu pertama kalinya kita ketemu. Di situ ada kamu dan Pak Irsyad. Waktu itu, aku masih nebeng sama Farhan karena nggak punya motor. Saat di parkiran, kita berpapasan, di situlah aku udah terpesona sama Pak Irsyad."


"Aku nggak begitu ngerti kenapa Pak Irsyad berbohong kalau dia udah menikah waktu itu. Sampai menunjukkan cincin segala ke aku. Farhan juga bilang kalau aku udah nggak punya tempat lagi karena Pak Irsyad udah menikah. Aku nggak percaya, dong, lagian wajah Pak Irsyad masih kelihatan muda waktu itu. Terus, aku mengira kamu yang menjadi istri Pak Irsyad, tapi aku pikir itu lebih tidak mungkin lagi. Karena wajah kamu jauh lebih muda."


"Sekarang aku mengerti dari kejadian itu. Pak Irsyad hanya menjauhi gadis yang menyukainya dengan memakai cincin itu waktu itu. Berusaha membuat aku berpikir kalau kamu yang waktu itu juga ada di situ adalah istrinya. Farhan juga sampai mendukung dengan membantu menguatkan kebohongan kalau Pak Irsyad udah nikah. Ikatan keluarga kalian benar-benar kuat banget, ya, Kila. Kamu, Farhan dan Pak Irsyad sama-sama peka terhadap lingkungan sekitar untuk menjauhi aku yang udah menunjukkan tanda-tanda terpesona di awal ke Pak Irsyad."


"Setelah berkali-kali ketemu sama Pak Irsyad, aku nggak lihat ada cincin di jari Pak Irsyad seperti waktu itu. Berarti, apa yang dikatakan Farhan waktu itu salah."


Kila menelan salivanya berkali-kali saat Nabila bercerita. Ia sudah tidak tahu lagi sebaik apa Nabila ini. Bisa-bisanya Nabila menyangka demikian?


"Oiya, kamu sama Farhan dekat banget ya. Benar nggak sih kalau aku menebak Farhan itu keluarga kalian juga?"


"Ooh, gitu."


"Mbak, lanjutkan cerita tadi. Saya ingin lebih tahu tentang Mbak Nabila," ujar Kila antusias. Nabila kemudian melemparkan senyum, ia mengira bahwa dirinya dan Kila kini sudah cukup dekat. Dari cara Kila berbicara, Nabila mengira kalau dirinya sudah lebih dekat dengan anggota keluarga Irsyad yang lain.


"Jujur aku salut banget sama keluarga kalian, Kila. Keluarga yang benar-benar baik. Bu Citra sempat antar aku ke rumah sakit dan bayar biaya pengobatanku. Terus, nggak lama aku diharuskan operasi. Pak Irsyad mau menghutangi aku, dan baiknya lagi mau memberikan pekerjaan meskipun sebagai jaminan dari uang pinjaman yang tidak sedikit aku pinjam. Tapi tetap aja, keluarga kalian benar-benar baik banget sama orang asing seperti aku."


"Kalau saya boleh tahu, kenapa Mbak sampai harus mencari orang untuk berhutang?" tanya Kila penasaran. Irsyad memang pernah mengatakan demikian, tapi ia tidak diberitahu alasan kenapa Nabila mau berhutang.


"Keluargaku punya usaha, tapi semenjak Papa meninggal, usaha itu bangkrut. Aku harus melanjutkannya kuliah, sementara Mama harus pulang pergi ke luar kota untuk memulihkan keadaan ekonomi kami," jelas Nabila.


Tiba-tiba Kila merasa iba. Ia merasakan betul sulitnya mencari uang. Apalagi ditinggal dengan orang yang dicintai yang biasanya menafkahi, kita dipaksa untuk hidup lebih mandiri.


"Aku juga baru-baru aja ngekos di tempat Bu Citra, karena murah dan fasilitasnya lengkap. Sekitar enam bulanan gitu. Aku ngerasa dunia sempit banget karena ketemu sama Pak Irsyad sekilas di rumah Bu Citra. Ternyata, kos yang aku tinggali itu milik keluarga Pak Irsyad," imbuh Nabila.


"Pak Irsyad itu anaknya Bu Citra lho, Mbak," ucap Kila menyela.


"Iya, aku tahu. Awalnya juga ngiranya cuma saudara biasa karena nggak tinggal di rumahnya Bu Citra. Terus, aku tanya sekilas gitu sama Bu Citra dan ternyata Pak Irsyad tinggal di rumahnya sendiri," respons Nabila di selingi tawa di akhir.


"Mbak sempat ngobrol sama Pak Irsyad pas lagi di rumah Bu Citra?"


"Boro-boro ngobrol. Jumpa juga jarang. Soalnya aku sering nggak ada di kosan pas hari libur, sedangkan Pak Irsyad katanya Bu Citra cuma tiap hari libur berkunjungnya."


"Kalau kamu, di waktu kapan aja kamu berkunjung ke tempat Bu Citra, Kila?" Nabila bertanya. Pertanyaan yang membuat Kila bingung harus menjawabnya bagaimana. Karena gugup, Kila mengunyah makanan yang sudah dipesan tadi sekaligus berpikir. Membuat Nabila harus menunggu Kila mengunyah untuk mendengar jawaban Kila.


"Um..., kebanyakan di hari libur, sih. Pernah juga pas weekday, sering sih, soalnya rumahnya dekat sama rumah saya. Saya sering ke rumah Bu Citra juga, soalnya keluarga saya di sini cuma keluarganya Bu Citra," jawab Kila. Ada unsur kebohongan di situ, meski hanya sedikit. Kila beristighfar dalam hati karena masih saja menyembunyikan kebenaran. Padahal, Nabila orang baik, ia mau menceritakan kondisinya dengan jujur. Namun, Kila belum siap untuk berkata sejujurnya. Kapan Kila siap, hanya waktu yang bisa menjawab.


"Anak perantauan berarti ya, Kila? Sama dong kita."


"Hehe, sebut aja begitu, Mbak."


Keduanya kini fokus pada makanan yang sudah dipesan. Sesekali bercerita tentang makanan yang mereka pesan itu yang kebanyakan menceritakan kelezatannya.


Tak lama, keduanya merasa harus pulang. Nabila bercerita ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dari Irsyad, dan Kila juga harus melihat toko onlinenya.


"Hari ini menyenangkan, Kila. Terimakasih banyak ya udah mau datang."


"Iya, Mbak."


"Aku harus kerja lagi, nih."


"Semangat kerjanya, Mbak. Hati-hati di jalan."


Nabila pulang duluan, sedangkan Kila harus menunggu taksi onlinenya sampai lebih dulu.


Berbicara dengan Nabila hari ini membuat Kila merasa bersalah. Kila jadi membayangkan bagaimana jadinya jika Kila menceritakan kebenaran tentang yang Kila sembunyikan. Sudah pasti Nabila akan benar-benar membenci Kila.


...****************...