
Kila sudah menunggu untuk makan malam bersama. Tapi, energinya hari ini sepertinya terkuras banyak dan harus segera diisi. Alhasil, Kila memutuskan untuk makan malam duluan untuk mengisi kembali tenaganya. Lagian, memang sudah jamnya makan malam tapi Irsyad belum pulang juga dari masjid.
Selesai Kila melahap bagian makanannya, ia segera membereskan meja makan agar terlihat rapi kembali. Ia mencuci piring makannya kemudian kembali ke kamar untuk mencicil kembali skripsinya. Perjuangannya untuk segera cepat lulus benar-benar serius ia lakukan agar tidak terlalu lama membelenggu Irsyad karena janjinya pada orang tua Kila itu.
"Kak, mau langsung kerja lagi? Kak Irsyad belum makan malam, kan? Jangan lupa makan, Kak." Kila menghentikan kegiatan menyicil skripsinya karena terdengar suara salam dari bawah, Irsyad yang baru saja pulang dari masjid. Ia ingin menyambut kedatangan Irsyad. Namun, Irsyad langsung menuju ke ruang kerjanya setelah kembali dari masjid. Ia hanya bisa melontarkan setitik perhatian melalui perkataan sebelum Irsyad benar-benar masuk ke ruang kerjanya kembali.
"Iya, terimakasih. Tapi saya sudah makan malam di rumah teman, kami menjadi teman karena sering bertemu saat shalat berjamaah di masjid," balas Irsyad. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan kerja dan meninggalkan Kila begitu saja.
"Ooh..., itu sebabnya Kak Irsyad lama pulang dari masjidnya. Lalu, masalah bekal tadi bagaimana? Apa Kak Irsyad tidak mau menjelaskan apapun tentang itu?" batin Kila menerka.
Karena penyambutan kali ini juga gagal, Kila semakin kesal. Kesal pada dua individu sekaligus, dirinya dan Irsyad. Hatinya tidak bisa menerima sikap Irsyad yang seperti itu, tapi juga tidak bisa menerima sikap yang ia tunjukkan untuk menyikapi sikap Irsyad. Kini ia merasa benar-benar marah pada dua individu itu. Namun, marah saja tiada guna. Kila mengalihkan kemarahannya dengan menyibukkan dirinya. Setelah selesai membereskan meja makan, ia kembali untuk menyicil skripsinya.
...****************...
Lagi, malam ini seperti kemarin. Irsyad harusnya sudah melakukan shalat witir di kamar. Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti semalam? Kila yang memikirkan hal itu sudah tidak tahan lagi dengan sikap Irsyad itu. Iapun mendatangi ruang kerja Irsyad. Lalu, membukanya agak sedikit kasar tanpa disengaja, itu disebabkan oleh emosinya yang meluap-luap sekarang. Rasanya, Kila bisa saja meledak saat itu juga.
Kila yang sudah memasuki ruang kerja Irsyad dibuat menangis. Kila sudah meledak saat itu juga dikarenakan melihat Irsyad sedang melakukan rutinitas malamnya membaca surah Al-Mulk sebelum tidur. Ya, Kila semakin kesal dengan individu satu ini. Bagaimana ia bisa marah dengan orang yang telah menghipnotisnya dengan lantunan suara merdu ayat suci itu? Kila menangis sejadi-jadinya menggantikan amarah yang tadinya siap meledak.
Irsyad telah selesai dengan rutinitas malamnya. Ia segera menuju ke sofa tanpa merapikan terlebih dahulu alat shalatnya. Ia tahu akan keberadaan Kila, tapi berusaha mengabaikannya.
"Malam ini Kak Irsyad akan tidur di sini lagi? Ada apa dengan Kakak?" ujar Kila yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Saya sangat kelelahan hari ini. Tidak ada tenaga untuk naik ke atas," balas Irsyad. Ia tak mempedulikan Kila dan kembali fokus untuk memasuki alam mimpi.
"Lelah Kakak bilang? Kila juga lelah, nggak cuma Kakak aja. Hati Kila juga lelah menghadapi ini. Kila harap Kakak mimpi indah, ya!" ucap Kila sarkas diakhir.
...****************...
Kila sudah tidak peduli lagi dengan sikap Irsyad. Ia juga tidak ingin bicara banyak dengan Irsyad kalau jawaban dari Irsyad hanya akan menyakiti hati Kila terus-terusan. Seperti sekarang, ia memang tetap menjalani kewajibannya sebagai istri untuk menyuguhi teh pahit dan juga menyiapkan sarapan dan bekal. Namun, ia tidak sarapan satu meja dengan Irsyad. Ia meninggalkan semacam memo di meja makan untuk Irsyad baca.
"Maaf, Kak. Sepertinya Kila nggak akan bisa menjadi istri yang baik untuk melayani suaminya. Untuk makan dan bekal akan selalu siapkan, tapi Kila nggak bisa menemani Kakak di satu meja yang sama. Kila mau fokus ngerjain skripsi supaya cepat selesai. Kak Irsyad juga sibuk banget akhir-akhir ini, kan? Kalau Kila muncul, Kila takut Kak Irsyad semakin lelah menghadapi Kila. Oiya, soal kelas ke kampus, Kila nggak ke kampus untuk pekan ini dan pekan depan. Kila bimbingan dengan dosen di luar kampus. Jadi, Kak Irsyad nggak perlu repot-repot terbelenggu dengan janji Kakak yang katanya akan selalu ada buat Kila sebagai pengganti nenek atau janji akan selalu antar jemput Kila. Kila harap, Kak Irsyad paham. Maaf karena cuma bisa bilang lewat kertas ini." Begitulah isi memo yang tertulis. Irsyad membacanya dan membawa memo itu bersamanya. Baiknya, Irsyad sudah selesai sarapan saat membaca memo itu. Jika tidak, ia sudah pasti tidak akan selera menyentuh sarapannya. Tidak dapat dipungkiri, isi memo itu dapat mengusik pikiran Irsyad.
Irsyad berangkat ke kampus, sedangkan Kila hanya melihat kepergian Irsyad dari jendela. Kila memang tidak bohong tentang skripsinya, ia benar-benar disibukkan oleh skripsi. Hal itu sebenarnya juga ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya. Ia tahu kalau sikapnya ini sudah termasuk durhaka kepada suami. Belum genap mereka tinggal bersama selama sebulan, sudah terjadi perang dingin diantara mereka.
"Bismillah..., Ya Rabbii, mudahkan hamba menyelesaikan skripsi ini. Aamiin," ujar Kila sebelum berkutat dengan skripsinya kembali.
"Semoga post it dibekal itu dibaca oleh Kak Irsyad," ucap Kila. Ia memang sudah menghabiskan waktu lama untuk duduk dan tak terasa sudah waktunya makan siang. Ia kemudikan turun untuk makan, mengisi energinya kembali karena sudah terlalu banyak berpikir. Baik tentang skripsinya ataupun tentang suaminya.
Sementara di kampus, Irsyad mulai membuka tas bekal yang sudah disiapkan Kila untuknya. Terlihat ada sebuah memo tertulis berupa post it di atas kotak bekal itu. Lalu, Irsyad mulai membacanya.
"Bekal kemarin sepertinya mubazir karena harus dibuang, Kak. Kila harap, hari ini nasi ini nggak kembali menangis karena dibuang seperti kemarin." Isi memo yang maknanya menyindir secara halus. Irsyad sedikit kesal dengan itu. Tapi ia teringat kembali, Kila tidak tahu alasan Irsyad melakukan hal itu. Biarlah Kila berbuat sesukanya, pikir Irsyad.
Melihat bekal itu, Irsyad tetap memakan meski makanan itu mengingatkannya pada Kila yang membuat kesal.
"Memo apa lagi yang akan ditulisnya untuk nanti malam?" kesal Irsyad dalam hati.
Ada apa dengan dua individu ini? Mereka bertengkar, namun tidak secara fisik. Mereka mulai tersinggung satu sama lain hanya karena sikap yang ditunjukkan masing-masing.
...****************...