
Minggu pagi sekitar jam sembilan, Kila sudah bersiap-siap untuk memulai harinya dengan olahraga kecil di rumah. Nenek yang melihat cucunya yang malas olahraga itu mengherankan tingkah Kila yang tak biasa ini. Tampak ada yang tidak beres dengan cucu manjanya satu ini.
“Kil, kamu tumben olahraga. Berat badan kamu naik, ya?” tanya nenek yang sudah menghampiri Kila.
“Nggak, Nek. Kila lagi cari kesibukan saja. Kemaren nenek juga bilang, kan, kalau Kila terlalu stress? Nah, Kila ada baca artikel kalau olahraga dapat menghilangkan stress, Nek. Makanya Kila lakuin, ya, walaupun nggak seberapa niat olahraganya.” Kila menjelaskan seraya melakukan olahraga kecil tadi.
“He... begitu rupanya,” jawab nenek.
“Nenek mau ikutan juga? Ayo sini, biar rame, Nek,” Kila menawarkan.
“Nggak, deh, kamu aja. Badan nenek udah nggak kuat lagi kayaknya,” ucap nenek sedikit terkekeh.
“Ya udah nggak papa, nenek santai aja di ruang keluarga. Tadi udah Kila siapin juga teh pahitnya, Kila letakkan di atas meja tadi, Nek,” ucap Kila menanggapi.
Lama berada di tempat Kila, nenek memutuskan kembali ke ruang keluarga. Kila sebenarnya berolahraga di teras belakang, jadi nenek bisa sambil melihat Kila dari ruang keluarga ini.
Nenek terkekeh sendiri melihat cucunya itu. Benar, Kila memang tak terlalu niat olahraganya. Ia menggerakkan tubuhnya dengan malas dan lemas. Siapapun akan tertawa melihat bagaimana ia menggerakkan tubuhnya sekarang ini. Tapi setidaknya, anak itu mau berusaha untuk tetap menggerakkan tubuhnya. Jadi, mari kita hargai usahanya, walau kadang terselip menertawakannya.
Kila sampai pada bagian yang paling sulit untuk dilakukan. Bagian itu adalah gerakan mencium lutut. Ia berusaha sekeras mungkin kali ini. Tutorial yang ia sambil lihat ini memberitahu untuk sebisa mungkin membuat posisi kaki datar dan kedua tangan mencapai ujung kaki dengan badan yang dibungkukkan yang membuat wajah seperti mencium lutut. Jangankan sampai ke ujung kaki, tangan Kila bahkan tak sampai menyentuh daerah bagian mata kakinya.
Nenek melihat Kila yang kali ini berjuang lebih keras. Bahkan dengan membuat suara yang seolah tersiksa itu membuat nenek makin ingin tertawa. Tibalah saat dia mulai berhasil mencapai ujung kakinya. Namun, Kila mencapai ujung kakinya dengan tidak mendatarkan kedua kakinya. Ia tanpa sadar mengangkat kedua kakinya. Hal ini membuatnya makin mudah mencapai ujung kakinya. Dan, sampailah ia menyentuh kedua ujung kakinya dengan kedua ibu jarinya. Nenek tak bisa menahan kekehannya. Pasalnya, cara Kila melakukan bagian olahraga ini sangat lucu sekali.
Kila yang mendengar nenek menertawakannya memberhentikan olahraganya sejenak.
“Nek, kok diketawain, sih? Apa yang lucu? Kila jadi nggak konsen olahraganya tau. Padahal tadi dikit lagi udah bisa cium lututnya.” Kila berucap dengan nada yang agak kesal pada nenek.
“Kamu lucu sekali, Kila. Mana ada orang yang cium lutut kayak kamu. Mana udah bangga duluan karena udah hampir berhasil cium lututnya, padahal sama sekali nggak berhasil itu, Kil. Dimana-mana kalau cium lutut itu harusnya semuanya lurus, kaki kamu juga naik naik itu tadi. Harusnya datar, kan, ya. Makanya kamu tadi ngiranya sudah hampir berhasil, karena kaki kamu tadi nggak sadar kamu naikkan terus jadi gampang deh megang ujung kakinya kalau gitu.” Nenek menjelaskan alasana ia tertawa sambil terkekeh.
Kila yang mendengar penjelasan nenek jadi malu karena dipergoki salah dan ditertawai. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menetralisir rasa malunya itu. Namun, kini nenek tak kunjung berhenti tertawa juga. Kila jadi malas ingin melanjutkan olahraganya kalau ditertawai terus seperti ini. Ia beranjak dari teras belakang menuju ke kamarnya.
“Eh, kamu mau kemana?” Nenek yang baru sadar Kila sudah beranjak dan melewati dirinya bertanya.
“Mau masuk kamar, terus mandi, ganti baju yang cantik, terus pergi jalan-jalan ke mall mau beli buku. Kila nggak mau lanjutin olahraganya lagi, habisnya nenek ketawain Kila terus, sih. Kila, kan, jadi kesel sama nenek. Pokoknya nenek harus baikin mood Kila.” Kila mengutarakan kekesalanya dengan nada manja.
“Uh, cucu kesayangan nenek. Jangan kesel gitu, dong. Ya udah, nenek harus ngelakuin apa supaya mood kamu baikan lagi?” ucap nenek. Kila yang mendengar itu langsung membentangkan senyumnya lebar-lebar.
“Ok, nenek ikut temani Kila ke mall kalau gitu. Kila nggak mau sendirian kesana. Nenek juga kan belakangan ini jarang jalan-jalan. Jadi, kita jalan bareng. Ya, ya, mau ya? Sekalian ngilangin stress Kila juga. Nenek sendiri, kan, yang nyuruh Kila untuk jalan-jalan supaya menghilangkan stress?” ujar Kila dengan wajah yang exited. Melihat wajah cucunya yang tak ingin mendengar penolakan itu, membuat nenek mau tak mau harus menyetujuinya.
“Ya udah, deh, nenek ikut.”
“Yeay, Alhamdulillah. Makasih, Nek.”
“Tapi naik taksi online, kan?”
“Nggak, naik angkot, Nek. Biar serunya dapet.”
“Tapi budgetnya nanti nggak cukup, Nek.”
“Nggak mau tahu, ah.”
“Ih, nenek. Kenapa jadi Kila yang seperti baikin moodnya nenek. Seharusnya, kan, nenek, bukan Kila. Ya sudah, deh, kalau nenek maunya kita naik taksi online. Tapi, nenek yang bayarin.”
“Oke, gitu aja kalau begitu.”
“Oke, deal, ya. Nah, nenek juga siap siap, ya. Kila juga mau mandi dulu, bau asem abis olahraga tadi.”
“Ih, kamu, Kil. Kayak olahraganya berat aja. Padahal nggak ada berat-beratnya sama sekali.”
“Nenek.... Ih! Bad mood lagi Kila, nih, ya?”
“Nggak sayang, nenek bercanda. Ya sudah sana masuk kamar.”
Kila mengembangkan senyumnya sekali lagi. Ia mengecup pipi neneknya sebelum masuk ke kamarnya.
“Bauk asem, ih,” ucap nenek. Sedangkan Kila, ia tak mengacuhkannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
...****************...
Kila dan nenek sudah sampai di mushola mall. Benar, sampai di mall ternyata waktu dzuhur juga mengikuti. Jadi, mereka memutuskan untuk menunaikan dzuhur dulu baru kemudian melanjutkan tujuan utama mereka datang ke mall ini.
Selesai menunaikan dzuhur, ada kelegaan terasa di hati sebab kewajiban sudah diselesaikan. Mereka melanjutkan untuk mencari buku yang Kila inginkan di sebuah gerai buku ternama.
Nenek hanya mengikuti Kila dari belakang, sebab ia tak ingin membeli buku apapun terlebih saat ini penglihatannya tak sebagus Kila. Ia senang karena hanya dengan memandangi buku-buku yang dijual ini saja bisa membuat ekspresi bahagia Kila tak terbendung. Ia senang melihat cucunya itu bahagia dengan hal kecil seperti ini.
“Nenek nggak mau beli buku apapun?” tanya Kila. Ia rupanya sadar kalau neneknya hanya mengikutinya saja dibelakangnya tanpa memilih buku apapun.
“Nggak, nenek nggak kuat matanya kalau baca buku. Kamu tahu sendiri penglihatan nenek bagaimana,” jawab nenek.
“Ooh, ya udah kalau begitu,” Kila menanggapi.
“Kamu kalau mau beli buku yang kamu suka tapi nggak cukup budgetnya, ambil aja. Nanti kalau kurang nenek yang bayar.” tawar nenek.
“Wah, bener, nih, Nek?” tanya Kila memastikan.
“Iya, bener. Hari ini nenek kan udah janji untuk baikin mood kamu,” jawab nenelk memberi kepastian.
“Wah, kalau gitu makasih banyak, ya, Nek, jazakillahu khair,” ucap Kila bahagia. Ia mengakhiri dengan mendaratkan kecupan di pipi sang nenek.
...****************...