
Kejadian kecelakaan itu memang sangat memukul Kila, bahkan hingga sekarang. Ditambah, Kila juga tidak merasa Mama dan Papanya berduka atas kecelakaan sang nenek, sebab mereka masih memprioritaskan pekerjaan masing-masing.
Kila sangat rutin datang ke rumah sakit. Beruntung, nenek masih dapat diselamatkan dari kecelakaan itu meski sekarang belum ada kabar tentang kesembuhannya. Bahkan, ia juga tak kunjung siuman sejak hari itu, sudah terhitung seminggu.
Rumah sakit tempat nenek dirawat tidak terlalu jauh dari sekolah dan rumahnya. Letaknya berada di tengahnya, jadi Kila bisa bergegas menuju ke rumah sakit dari sekolah ataupun dari rumahnya. Begitupun hari ini, Jum'at yang biasanya Kila biasakan untuk berlama di musholla sekolah, kali ini ia langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat sang nenek. Berharap ada sebuah keajaiban untuk membuat neneknya bangun dari tidurnya itu.
"Nek, bangun, dong, Nek. Kila nggak tahan hidup tanpa ada nenek. Nggak ada siapapun selain nenek. Kila sendirian tahu, sekarang. Mama sama Papa juga sekarang semakin sibuk. Yang biasa nemenin Kila, kan, juga nenek. Nenek jangan lama-lama tidurnya, Kila nggak mau sendirian." Percakapan satu arah Kila lontarkan seraya mengusap lembut tangan nenek yang pucat itu. Melihat dan menelusuri tiap sudut tubuh sang nenek membuat Kila menitikkan air mata. Kilas balik waktu itu memenuhi otaknya. Ia juga tidak dapat membendung air matanya yang semakin lama semakin deras.
Dalam menghadapi cobaan kadang kita lupa mengucap syukur. Kita terlalu berlarut dalam cobaan itu. Yang pertama kali kita ucapkan pasti innalillah, kalimat pengikutnya mungkin sebuah istighfar. Tapi kita lupa mengucapkan hamdallah, padahal kita mesti bersyukur di berbagai kesempatan meski dalam menghadapi cobaan sekalipun. Bersyukurlah karena masih diberikan kesempatan untuk menjalankan cobaan yang mungkin adalah ujian dari Allah untuk menaikkan derajatnya.
Allah tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuan hambanya. Maka dengan menghadapi cobaan dan ujian ini, bersyukur dan yakinlah. Kita bisa melewatinya, karena kita mampu.
...****************...
Senin pagi, Kila memulai harinya tanpa semangat. Ia juga tidak sarapan karena biasanya sarapan dibuat oleh neneknya. Begitu pula dengan makan siang dan makan malam. Kalau Ira dan Risa tak mengingatkan Kila untuk makan, mungkin ia takkan makan. Meskipun ia selalu beli saat ia ingin makan.
"Nih, Kil. Dimakan dulu rotinya. Kamu belum sarapan, kan?" Risa menghampiri meja Kila dan melihat pemiliknya itu sedang asyik melamun.
"Ini juga, minumnya. Kamu jaga kesehatan, Akil. Jangan lupa makan dan minum air putih yang cukup," Ira menyusul.
"Kalian baik banget. Makasih, ya. Tapi kalian nggak usah repot-repot tiap hari beliin aku makanan sama minum. Nanti kantong kalian tipis tahu. Aku ganti uang, kalian nolak, sih," ucap Kila memaksa tersenyum. Ia berusaha bersikap seperti biasanya, meski ia sedang menahan kesedihan di hatinya.
"Kil, kamu nggak usah senyum senyum gitu, deh. Aku tahu, kamu terpaksa, kan? Kalau mau sedih ya sedih aja, kalau mau nangis ya nangis aja. Jangan dipaksa gitu, kamu pura-pura namanya." Risa berucap ketus ke Kila. Selama neneknya berada di rumah sakit, Kila selalu bersikap seperti ini. Hal ini membuat Risa selalu menahan diri untuk melakukan ini ke Kila, namun hari ini Risa sudah tak tahan lagi dengan sikap sahabatnya yang satu ini. Ia juga merasa prihatin ke Kila karena berpura-pura tidak terjadi apa-apa untuk membuat orang-orang disekitarnya tidak mengkhawatirkannya. Memang terlewat peka dan perasa gadis satu ini.
"Hus, Ris, kamu ketus banget ke Akil. Kasian Akil, tahu. Ya udah, kamu enjoy aja, Akil. Makanannya dihabiskan, ya. Biar bertenaga waktu ngikutin pelajaran Pak Irsyad nanti, hehe." Ira menetralkan suasana dengan lawakan yang renyah.
Ira menarik tangan Risa untuk kembali ke meja mereka untuk membiarkan Kila menikmati kesendiriannya.
...****************...
Irsyad sudah memberikan semua materi yang harus diberinya hari ini. Ada kejanggalan yang mengganggunya sejak tadi. Kila belakang ini di tiap pelajaran Bahasa Indonesia sering sekali melamun. Kali ini ia tidak ingin menegur Kila dengan menegurnya di hadapan semua orang di kelas. Ia memutuskan untuk menyuruh Fadli sang ketua kelas saja untuk menemuinya di ruangannya saat jam istirahat nanti. Ia juga penasaran dengan apa yang muridnya alami sampai sebegitu seringnya melamun akhir-akhir ini. Ia ingin menjadi wali kelas yang baik untuk melakukan sebisanya membantu seluruh muridnya termasuk Kila.
Sikap aneh Kila ini sungguh menarik perhatian Irsyad. Bagaimana tidak? Gadis itu ada tepat di depannya, pasti ia akan sangat jelas melihat apa yang sedang gadis itu lakukan. Begitupula dengan sekarang.
"Kil, tadi Pak Irsyad bilang ke aku untuk manggil kamu ke ruangannya di jam istirahat. Udah aku sampaikan, ya, amanahnya. Kamu jangan lupa ke sana. Mungkin ada sesuatu yang penting," ujar Fadli. Ia langsung menuju ke Kila setelah jam pelajaran saat itu selesai dan baru tiba jam istirahat pertama.
"Ooh, makasih ya, Fadli. Ya udah, ini aku mau langsung ke sana," jawab Kila.
Kila tidak lagi bertanya-tanya kenapa dirinya dipanggil. Karena pikirannya dipenuhi oleh sang nenek sekarang ini.
"Assalamu'alaykum, Pak. Kata Fadli, Bapak memanggil saya, ada apa, ya, Pak?" tanya Kila saat sesampainya di ruangan Irsyad.
"Benar, saya memanggil kamu. Kamu tidak memperhatikan penjelasan saya akhir-akhir ini. Bahkan kamu dengan terang-terangan melamun, meski kamu tahu saya tepat berada di depan kamu. Bisa kamu jelaskan?" Ucap Irsyad berusaha mengungkapkan dengan nada sedatar mungkin.
"Ooh, itu. Maaf, Pak. Lagi-lagi saya melamun. Bukan maksud saya tidak menghargai Bapak, tapi saya juga punya masalah sendiri. Dan pikiran saya dipenuhi oleh itu," jawab Kila. Ia menunduk dan menunjukkan tatapan yang sendu.
Irsyad merasa iba saat itu juga. Hatinya tersentuh dan dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Kila. Ia juga melihat sikap Kila yang menunjukkan betapa sedih Kila sekarang.
"Bagaimana kabar nenek kamu?" Ucap Irsyad mengalihkan perhatian. Sayangnya ia menginjak ranjau. Kata-kata Irsyad itu membuat Kila langsung menitikkan air matanya.
Irsyad kikuk saat melihat Kila menangis, apalagi ruangan guru sangat ramai saat jam istirahat. Untungnya Kila menangis tidak mengeluarkan suara. Ia berusaha berpikir apa yang salah dengan ucapannya tadi.
"Jadi, penyebab kamu begini karena nenek kamu?" Irsyad berusaha menyimpulkan. Dan Kila mengangguk sebagai respon.
"Nenek sekarang di rumah sakit, Pak. Nenek udah lebih dari seminggu belum sadar juga. Kecelakaan waktu itu, saya penyebabnya," ujar Kila. Air mata yang sudah lama ia tahan tumpah tanpa aba-aba menjadi deraian air mata.
Irsyad begitu terkejut dengan pengakuan Kila. Namun ia mencoba membaca suasana. Ia tidak ingin menanyakan maksud dari Kila karena emosinya belum stabil. Ia tidak ingin orang yang sedang menangis bercerita, biarkanlah Kila meluapkan kesedihannya terlebih dahulu sampai ia merasa tenang.
Setelah cukup lama ruangan itu diisi dengan suara isakan Kila, kini tangisan sudah mulai mereda. Irsyad menyodorkan sebuah sapu tangan miliknya pada Kila untuk menyeka sisa air matanya itu.
"Boleh saya minta sesuatu?" tanya Irsyad. Kila mengangguk sembari mengusap air matanya dengan sapu tangan pemberian Irsyad itu.
"Izinkan saya melihat nenek kamu. Saya juga ingin menemani kamu untuk berkunjung ke rumah sakit seterusnya. Mulai nanti, setelah pulang sekolah. Kamu berbarengan dengan saya ke rumah sakit dengan mobil saya, ya. Saya tahu kamu sendirian sekarang, orang tua kamu juga jarang ada. Jadi, saya ingin menolong kamu sebagai seorang wali kelas yang baik. Saya tidak menerima penolakan, ya, Kila," ungkap Irsyad. Kila hanya bisa mengangguk menyetujui.
...****************...