Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Keanehan Kila



Dua hari setelah istirahat yang cukup, kondisi Kila terus membaik. Karenanya, Irsyad harus pulang sebagai alasan sembuhnya Kila. Tapi sebelum itu, Irsyad meminta untuk jalan berdua atau kencan dulu sebelum mereka berpisah lama lagi.


"Mau naik mobil atau motor?" ujar Irsyad seraya berjalan menuju luar rumah Citra.


"Motor aja deh, Kak. Kila belum pernah liat Kak Irsyad pakai motor soalnya. Dan Kila ingin ngerasain sensasi naik motor bareng pacar halal itu gimana."


"Memangnya kamu pernah naik motor sama laki-laki selain saya?"


Hening. Kila tidak ingin menjawab bohong, tapi ia takut jujur dan menyakiti hati Irsyad.


"Kamu selingkuh dari saya, ya?" curiga Irsyad.


"Em, bukan gitu, Kak."


Irsyad diam dan menatap manik mata Kila lekat. Kila tidak bisa membalas tatapan itu, iapun memalingkan wajahnya.


"Kenapa tidak mau menatap saya balik? Ada apa? Takut mengungkapkan kalau kamu selingkuh, kan?" ujar Irsyad dengan nada bercanda.


"Aa, Kak Irsyad jangan bercanda. Kila mana mungkin selingkuh. Lah sama Kak Irsyad aja masih gini-gini aja," ucap Kila spontan.


"Maksud kamu apa 'masih gini-gini aja'?"


"Kak Irsyad, jangan serakah. Mau bahas yang itu atau tentang selingkuh tadi, nih?"


"Ceritakan keduanya dengan kemauan kamu urutannya."


"Iya iya. Jadi, Kak Irsyad sekarang merupakan pacar halal Kila, kan? Ya udah nggak ada yang salah, toh? Kalau nebeng sama yang bukan pacar halal sih udah pasti pernah. Misalnya sama Kak Irsyad, kakak selalu memberi tumpangan dan saat itu kita belum seperti ini statusnya. Lalu, ada Papa Gilang dan Ayah Erwin, Kila juga pernah nebeng sama mereka. Dan satu lagi..." ujar Kila terputus. Ia menatap Irsyad sejenak.


"Satu lagi?"


"Kak Irsyad janji jangan marah dulu, ya."


"Iya, Saya janji."


"Kak Farhan. Dan dia satu-satunya laki-laki yang pernah satu motor dengan Kila. Beberapa kali Kak Farhan Kila tebengi, begitu juga sebaliknya. Tapi Kila masih jaga jarak, kok, Kak. Kila nggak nempel-nempel duduknya sampai ujung jok."


"Ooh, makanya kamu tadi menyebutkan tentang belum pernah naik motor bareng pacar halal. Berarti kamu sudah pernah naik motor bareng yang bukan halal, begitu kesimpulannya, kan?" ujar Irsyad menanggapi dengan logikanya.


"Kak Irsyad marah?" tanya Kila ragu.


"Tidak, siapa yang marah? Lagian itu bagus karena laki-laki itu adalah Farhan bukan yang lain. Saya memberi amanah ke Farhan untuk menjaga kamu seperti dia menjaga Yuli. Jadi, saya tidak perlu khawatir saat berjauhan dengan kamu," jawab Irsyad seraya memakai helmnya.


"Dan apakah Kak Irsyad menunjuk Kak Farhan sebagai penggantinya Kak Irsyad?" tanya Kila dalam hati. Ia tidak berani mengungkapkannya. Irsyad itu tipe yang serba menggunakan logika. Mau ditanyakan pun, jawaban Irsyad tak akan memuaskan Kila.


"Ayo, Kak, jalan! Mau kemana kita hari ini?" tutur Kila mengalihkan pikirannya tadi.


"Ke restoran yang banyak tamannya itu aja, ya. Soalnya Kila mau isi tenaga, udah lama nggak makan dengan suka rela," lanjut Kila.


"Suka rela apanya? Bukannya itu karena kamu ingin melanjutkan hobi makan yang sempat tertunda?"


"Iya, sih. Hehe," balas Kila cengengesan.


Irsyad langsung naik ke motornya. Ia melihat Kila belum juga naik, mungkin Kila sedang ragu untuk duduk sedekat itu dengan Irsyad.


"Ayo naik!" seru Irsyad.


"Hah?" respons Kila spontan.


"Iya, peluk saya. Bukannya itu caranya yang benar sebagai pegangan, ya?"


"Pegangan dengan peluk Kak Irsyad, gitu? Sekarang?"


"Iya, sudah siap?"


Kila menggeleng. Bukannya tidak mau. Ia hanya tidak siap, apalagi kebiasaan Irsyad yang suka menyerang Kila tiba-tiba.


"Ya sudah, tidak masalah. Saya tidak ingin memaksa. Lagian kita juga harus melalui proses ta'aruf dan pendekatan dengan benar, kan? Mungkin dengan memeluk saya sebagai pegangan kamu itu terlalu cepat bagi kamu," balas Irsyad.


Mereka kemudian menuju restoran yang dimaksud. Kila tidak enak berpegangan pada jok motor saja, padahal Irsyad sudah menawarkan pegangan yang tepat tadi. Ia sedikit menyesal karena sok jual mahal begitu.


...****************...


Kila dan Irsyad tiba di sebuah restoran yang dimaksud. Mereka memesan makanan cukup banyak hanya untuk memuaskan perut Kila. Ya, Irsyad sebelumnya sudah makan masakan Citra di rumahnya. Berbeda dengan Kila yang sama sekali belum makan apa-apa sejak pagi.


"Makannya pelan-pelan," ujar Irsyad saat melihat Kila sedang lahapnya menyantap makanan. Sisa makanan yang dipesan tadi pun tinggal tersisa sedikit.


"Kak Irsyad nggak merasa jijik lihat Kila makan lahap gini?" ucap Kila saat ia sudah menyelesaikan hobi makannya itu.


"Kenapa harus jijik? Melihat kamu lahap begitu membuat saya senang. Dan lebih meyakinkan saya kalau kamu sudah benar-benar sembuh sekarang. Lagian, sudah saya bilang, kan? Saya menyukai kamu apa adanya. Melihat kamu lahap begitu, membuat saya tahu lebih banyak tentang kamu yang belum banyak orang lain tahu. Saya senang karena dengan begitu, akhirnya kita sudah semakin dekat dibandingkan yang lalu," balas Irsyad. Kila tersipu malu, ia menutupiku dengan meneguk minum untuk menutup sebagian wajahnya yang memunculkan rona merah itu.


Irsyad dan Kila sudah selesai makan. Cukup lama juga mereka berada di restoran ini dan menikmati tamannya. Mereka sudah waktunya pulang, mereka bergegas menuju ke parkiran. Ternyata, di bagian taman dekat parkiran mereka bertemu dengan Farhan dan teman perempuannya.


"Kila, Kak Irsyad. Kebetulan banget ketemu disini," sapa Farhan.


"Itu siapa, Han? Yang cowok ganteng banget," bisik keras Nabila—teman Farhan.


"Kak Irsyad, dia pernah jadi guru di sekolah ku. Dan kamu udah nggak punya tempat lagi, Bil. Soalnya Kak Irsyad udah nikah," balas Farhan dengan bisikan pula.


"Eh? Seriusan? Masih muda padahal. Mana buktinya kalau kamu bilang cowok itu udah nikah?" ujar Nabila dengan nada bisik yang volumenya lebih besar.


"Farhan benar. Saya sudah menikah. Ini buktinya," interupsi Irsyad. Ia ternyata mendengar pembicaraan antara Farhan dan temannya itu. Ia segera menunjukkan cincin yang bertengger di jari manisnya untuk menunjukkan status pernikahannya.


"Dan istrinya...?" tanya Nabila seraya melirik ke arah Kila.


"Iya, seperti dugaan kamu," balas Irsyad mengiyakan maksud Nabila.


"Cincin kamu kemana, Kil? Saya mau kasih bukti kalau kamu istri saya," bisik Irsyad pada Kila.


"Eh, Kak Farhan, kami izin pulang duluan, ya. Udah selesai makan juga tadi. Kebetulan aja kita jumpa di taman restoran seperti ini. Kami duluan, ya. Assalamu'alaykum," ucap Kila menginterupsi. Ia sengaja mengakhiri pembicaraan karena tidak ingin topik ini dibahas lebih dalam lagi.


"Jadi, cowok tadi udah nikah atau belum, sih, Han?" tanya Nabila yang masih kebingungan. Farhan hanya menaikkan bahunya sebagai respons. Farhan dan Nabila kemudian menuju sebuah meja yang sudah diisi beberapa orang teman mereka untuk kerja kelompok. Farhan tidak mempedulikan kejadian tadi. Ia juga sudah tahu kalau Kila sakit, tapi ia berusaha tetap diam menahan rasa sakitnya saat Irsyad rela menempuh perjalanan jauh untuk merawat Kila. Farhan juga tidak punya alasan untuk menjenguk Kila, jika sudah ada Irsyad di samping Kila itu artinya Farhan sudah tidak punya tempat sebagai penggantinya Irsyad.


"Kila, ada yang ingin saya bahas nanti," ujar Irsyad dalam perjalanan pulang. Irsyad melihat ada keanehan dari Kila, makanya Irsyad sudah menyimpan banyak pertanyaan untuk Kila. Tapi lebih baik ia menanyakannya saat sudah sampai rumah saja.


Kila yang sedari tadi diam saat pulang dari restoran itu tiba-tiba melingkarkan tangannya ke perut Irsyad, tepat setelah Irsyad mengucapkan itu. Ia merasa bersalah dengan yang ia lakukan ini. Ia bersandar di punggung Irsyad seraya memeluk Irsyad. Irsyad yang sadar dengan pelukan itu memelankan laju motornya untuk dapat menikmati lagi pelukan sukarela dari Kila. Irsyad mengesampingkan alasan pelukan Kila yang tiba-tiba ini. Sebenarnya Irsyad juga bertanya-tanya, kenapa Kila tiba-tiba siap memeluk Irsyad padahal saat pergi menuju restoran tadi, Kila masih belum siap memeluk Irsyad.


...****************...