
"Sepertinya akhir tahun ini kita belum bisa berjumpa," ujar Irsyad. Suasana yang semula santai seketika menjadi lebih serius.
"Kamu tahu, sebenarnya saya sangat ingin bertemu kamu di liburan akhir tahun nanti. Tapi, keadaan tidak memungkinkan. Kamu tahu saja, akhir tahun memang banyak orang-orang yang ingin liburan. Jadi, akan sulit mencari tiket. Jikapun ada, harga tiketnya juga sangat mahal, dan itu belum pasti keberadaan tiketnya. Kamu tahu, saya tidak mempermasalahkan mahal atau tidaknya. Tapi, mencari tiket itu sekarang juga sangat langka, bahkan sudah habis. Belum lagi, penelitian saya akhir-akhir ini tidak dapat ditinggal lama. Tapi kita bisa bertemu seperti ini, dengan video call. Kita video call saja saat liburan nanti. Untuk menemani hari libur kamu," lanjut Irsyad.
Kila sebenarnya ingin sesekali yang mengunjungi Irsyad ke Turki, tapi ia tidak ingin mengganggu Irsyad jika sudah tiba di sana nanti.
"Maaf ya, saya lupa memberi kabar ke kamu tentang kepulangan saya ini. Saya tidak bisa mengatur waktu akhir-akhir ini karena sibuk mengurus penelitian ini. Kalau mau pulang ke Indonesia harusnya sudah saya booking tiketnya jauh-jauh hari. Kali ini saya lalai, maafkan saya, Kila," ucap Irsyad seraya menunjukkan ekspresi wajah bersalahnya.
Mendengar semua penjelasan Irsyad membuat otak Kila sulit menalar. Kenapa hatinya terasa perih karena mendengar alasan yang dianggapnya klasik seperti itu? Ia bertanya-tanya, apa Irsyad tidak bisa meminta tolong Kila untuk memesankan tiketnya jauh-jauh hari jika Irsyad benar-benar sibuk? Apa cuma Kila yang sangat merindukan Irsyad dan ingin segera bertemu kembali? Pikiran aneh menghantui Kila, sudah seperti kebiasaannya untuk berpikir buruk dan mengaitkannya dengan kejadian.
Cukup lama ucapan Irsyad tidak digubris oleh Kila. Irsyad juga mengerti Kila pasti berpikir untuk menanggapi seperti apa dari alasan yang Irsyad buat. Tapi ini terlalu lama, Kila tampak melamun dilihatnya.
"Kila, kenapa kamu melamun?" seru Irsyad membuyarkan lamunan Kila. Seruan Irsyad membuat Kila fokus memperhatikan Irsyad. Ia punya solusi yang sebenarnya sudah ia singkirkan dari daftar solusi.
"Kak, gimana kalau Kila aja yang nyusul ke Turki?" tanya Kila setelah jeda sebentar.
"Hah? Ada-ada saja kamu. Mencari tiket dari Turki ke Indonesia itu sangat susah, Kil, apalagi sebaliknya. Lagian kamu pasti tidak siap pergi sendirian ke sini. Saya ingin kita ke sini bersama, bukan kamu yang sendirian ke sini. Saya tidak ingin memaksa kamu menempuh perjalanan jauh dan lama demi saya. Cukup saya saja, kamu tidak harus merasa harus balas budi mengimbangi saya. Sudah pernah saya bilang, kan? Saya tidak ingin memaksa kamu, kenyamanan kamu yang saya utamakan," tolak Irsyad seraya memberikan pengertian.
Jeda lagi. Kila tampaknya tidak ingin salah bicara. Karena setiap orang yang sedang meluap emosinya akan mengeluarkan kata-kata yang akan disesalkannya. Ia berpikir baik-baik tentang apa yang ingin disampaikannya.
"Jadi, kapan Kak Irsyad akan pulang?" tanya Kila.
"Tidak tahu. Saya juga tidak dapat menjanjikan hal yang belum pasti. Jika sudah tepat waktunya, saya usahakan untuk ke Indonesia," jawab Irsyad apa adanya.
"Kenapa? Apa kamu sudah sangat merindukan saya?" ucap Irsyad untuk mencairkan suasana. Karena dilihatnya, Kila sangat kaku menanggapi.
"Nggak, kok. Kila cuma penasaran aja," balas Kila lebih santai.
"Bagus kalau begitu. Saya tidak ingin menyiksa kamu kalau kamu benar-benar merindukannya saya. Kata orang, menahan rindu itu sakit," goda Irsyad.
Kila paham kalau Irsyad ingin menghiburnya. Jadi, ia berusaha mengimbangi Irsyad dan berusaha mengontrol emosinya.
"Iya, Kak Irsyad Maulana, yang pernah jadi guru Kila dan Kila nobatkan sebagai guru terbaiknya Kila. Kalau rindu tinggal video call aja, kan? Sekarang kita jadi semakin dekat berkat teknologi. Jadi, kalau rindu udah nggak tersiksa lagi, deh."
"Kamu pintar sekali memainkan kata-kata, saya suka pilihan kata yang kamu gunakan."
"Iya, dong. Gini-gini pernah jadi muridnya Pak Irsyad juga soalnya, hehe."
"Benar, kamu murid yang berhasil mengacaukan prinsip saya yang berusaha profesional saat melakoni pekerjaan sebagai seorang guru. Tapi, apa kamu masih menganggap saya guru kamu?"
"Iya, tentu aja. Kak Irsyad akan selamanya menjadi sosok Pak Irsyad. Guru sekaligus wali kelas terbaik yang mengajarkan banyak hal baik ke Kila."
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu memaksanya. Saya tidak keberatan, kok."
"Oiya, Kila, sepertinya kita harus segera menyudahi sambungan ini. Soalnya, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penelitian sebelum tidur. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Duh, Kila mengganggu banget, ya. Menghubungi kakak waktu sibuk-sibuknya, nih, kayaknya. Maafin Kila ya, Kak."
"Tidak masalah, sudah berulang kali saya bilang, saya tidak merasa terganggu dan justru senang karena kamu yang memulai komunikasi duluan. Lagian, kalau cuma sebentar seperti ini tidak akan mengganggu saya, jadi kamu bisa tenang."
"Oiya, Kil. Maaf, ya, karena rencana kepulangan saya gagal. Padahal saat baru saja pulang dari Indonesia waktu itu, saya bilang di pesan chat bahwa saya sudah tidak sabar untuk bertemu kamu di liburan akhir tahun nanti. Tidak bisa dipungkiri, saya sudah memberi harapan palsu ke kamu. Kamu mau memaafkan saya, kan?"
"Iya, dimaafin. Kila ngerti, kok."
"Oke, kalau begitu kita akhiri komunikasi kita hari ini, ya. Kalau ada yang mau kamu sampaikan, jangan ragu untuk menghubungi saya via chat jika enggan mengganggu dengan menelepon."
"Iya, Kak. Kakak yang semangat ya belajarnya. Eh, ngerjain penelitian belajar juga nggak, sih?"
"Hahaha, anggap saja begitu. Terimakasih atas ucapan penyemangat kamu, Kila."
"Oke, Kak. Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Sambung video call diputus oleh Kila. Berbagai rasa melanda Kila setelah video call itu berakhir. Senang karena bisa menatap Irsyad mesti dari ponsel, sedih karena ia tidak dapat bertemu Irsyad akhir tahun ini, gemetar saat bicara seraya menatap wajah Irsyad yang terlihat datar di ponsel dan berbagai rasa lain yang campur aduk menghiasi hati Kila.
Rindunya Kila seperti terobati, tapi sepertinya belum sembuh total. Aaa, benar kata orang, menahan rindu itu sakit. Kila harus menahannya sebisa mungkin. Ia akan menuruti kata Irsyad dan berusaha untuk tidak egois.
"Gimana? Udah selesai kalian ngobrolnya, Kil? Apa kata Irsyad?" ujar Citra. Ia datang tak lama setelah sambungan itu terputus dan saat pikiran Kila sudah berkeliaran bebas.
"Kak Irsyad bilang nggak bisa pulang, Bun," ujar Kila. Ia menceritakan apa saja yang diobrolkannya tadi dengan Irsyad.
Kila berpikir sejenak untuk mengisi kekosongan hari libur nanti. Pergi ke rumah mamanya akan sia-sia karena kedua orang tuanya itu akan sangat sibuk dan tidak ada di rumah.
Saat melihat-lihat grup kelasnya, ada suatu poster kegiatan yang menarik perhatian Kila.
"Sepertinya kegiatan ini dapat mengisi waktu luangku saat libur nanti," batin Kila. Ia kemudian menghubungi narahubung di poster itu untuk mengikuti kegiatan yang menarik perhatian itu.
...****************...