
"Akhirnya harus balik ke rumah lagi. Terus, besok harus ke tempat bunda, lagi. Huh..., semangat Kila! Udah selesai refreshing dan sekarang udah merasa lebih baik dari sebelumnya. Jangan sampai mertuamu bertanya-tanya apa yang terjadi di rumah tanggamu kalau kamu sampai tidak menunjukkan keadaan yang prima saat berkunjung ke sana." Kila bicara dengan dirinya sendiri. Ia sampai di rumah di waktu shalat Zuhur, tidak ada Irsyad di rumah. Saat sampai rumah ia menata kembali moodnya yang sudah mulai membaik agar tidak kembali seperti sebelumnya.
Kila masuk ke kamar untuk beristirahat setelah perjalanan. Seketika senyuman terukir di bibirnya. Melihat tempat tidur yang kurang rapi yang menandakan pasti Irsyad tidur di kamar. Akhirnya pria itu kembali mau tidur dikamar ini, pikir Kila. Namun, Senyuman bahagia seketika menjadi senyuman masam mengingat Irsyad baru mau tidur di kamar ini saat Kila tidak ada.
Saat ingin memejamkan matanya untuk istirahat, Kila mendengar bunyi ketukan pintu. Membuatnya bergegas untuk membukakannya.
Tok tok tok
"Siapa, ya?" batin Kila heran.
Tok tok tok
"Iya, sebentar!" ucap Kila agak berteriak. Ia berlari-lari kecil untuk sesegera mungkin membukakan pintu.
"Assalamu'alaykum, Nyonya Irsyad!" ucap sang tamu. Betapa terkejut Kila menerima tamu dadakan seperti mereka. Bagaimanapun tidak? Wanita yang tidak terlalu Kila sukai mengunjungi rumahnya bersama dengan Farhan. Padahal baru saja Kila membaik, kenapa harus datang si pembuat kesal ini? Tapi tamu tetaplah tamu, Kila memutuskan untuk menyambutnya dengan istimewa dan akan memperlakukan mereka sepenuhnya sebagai tamu.
"Kak Farhan dan Kak Yuli, ya? Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Silahkan masuk dan duduk. Saya siapkan minum dulu," sambut Kila. Ia menyambut dengan kaku karena ada Yuli disitu. Ia tidak ingin memulai masalah jika sok akrab dengan Yuli.
"Nggak usah repot-repot, Kila. Kita datang bukan untuk bertamu lama-lama. Kata Yuli, ada sesuatu yang mau dibicarakan sama kamu, Kila. Saya juga harus buru-buru karena ada urusan lain yang harus dikerjakan. Saya juga dipaksa Yuli dan diancam kalau nggak mau nganterin ke rumah kamu," ujar Farhan.
"Ooh, gitu. Kalau gitu, Kila ambilkan air putih dulu. Kak Farhan dan Kak Yuli duduk dulu, silahkan," ucap Kila lagi mempersilahkan. Kila beranjak ke dapur untuk mengambilkan mereka air minum dan beberapa camilan yang masih tersedia.
"Han, rumahnya bagus banget, ya. Beruntung banget si Kila dapetin Kak Irsyad yang udah mapan dan bisa beliin dia rumah sebagus ini. Gimana bisa sih Kak Irsyad kecantol sampai nikah sama murid yang centil kayak dia itu pada masanya? Bagus banget usaha dia deketin Kak Irsyad sampai bisa dapetin Kak Irsyad seutuhnya."
"Hus..., nggak boleh julid gitu. Kita harus nunjukin sikap yang baik di rumah orang. Nanti kalau sampai orangnya dengar gimana?"
"Terserah aku dong, Han. Aku ya begini adanya. Kalau julid, aku tunjukin kalau aku julid. Nggak munafik kayak si Kila itu."
"Iya-iya, terserah kamu. Walaupun aku capek selalu nasehatin kamu, setidaknya aku udah berusaha untuk ingetin. Sisanya terserah kamu."
Kila hanya mengambil minum dan camilan sebentar. Sudah jelas-jelas Kila mendengar percakapan Farhan dengan Yuli. Namun, ia berusaha menyuguhi yang ia ambil sebelumnya dengan normal seperti tidak mendengarkan apapun yang pastinya menyakiti hatinya.
"Silahkan dinikmati, Kak Farhan, Kak Yuli," ucap Kila mempersilahkan.
"Eh, aku mau ngasih tahu langsung aja, ya? Nggak suka basa-basi soalnya. Lagian, tujuan aku datang ke sini juga cuma mau ngomongin ini ke kamu."
"Kak Irsyad, kamu sering lihat Kak Irsyad dekat sama mahasiswanya, kan? Kita semua tahu kalau seorang dosen pasti punya mahasiswa yang dekat untuk dimintai pertolongan atau diandalkan. Tapi, kali ini, aku ngeliat Kak Irsyad dekat banget sama si cewek satu ini. Sering banget lihat dia ada di kantor dosen ngobrol sama Kak Irsyad. Pernah lihat juga makan bareng di kafe dekat kampus. Kayaknya aku kenal deh orangnya," jelas Yuli. Ia menceritakan dengan menatap Kila dan Farhan secara bergantian. Mengisyaratkan bahwa ia memang benar-benar menceritakan hal yang sebenarnya dengan jujur.
"Emang siapa, Yul?" tanya Farhan.
"Nabila, teman satu jurusan kamu, Han. Kamu nggak lihat yang aku lihat karena kamu udah lulus dan jarang ke kampus, Han. Tapi aku benar-benar lihat dengan mata kepala aku sendiri. Dan aku tahu Kak Irsyad bukan tipe orang yang bakalan dekat banget sama cewek, apalagi dia udah punya istri," jawab Yuli meyakinkan.
Kila bingung harus bereaksi seperti apa. Hatinya yang kacau bertambah kacau lagi. Sepertinya, kenyamanan hati setelah pergi liburan itu sudah sirna setelah mendengar penjelasan Yuli.
"Iya sih. Jadi, kamu mau tanya ke Kila tentang apa dari yang kamu jelasin tadi?" tanya Farhan mengingatkan.
"Kamu tahu siapa Nabila? Kak Irsyad ada cerita sesuatu ke kamu tentang pekerjaannya? Apa dia membuat Nabila membantu pekerjaannya atau memang dugaanku benar? Apa ada hal lain antara Kak Irsyad dengan Nabila? Kamu tahu udah tahu yang aku bilang ini atau belum?" tanya Yuli menyerbu Kila. Kila bingung dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Yuli. Karena sebagian besar pertanyaan itu Kila tidak tahu jawabannya, maka Kila menggelengkan kepalanya menanggapi.
"Ada hal lain yang terjadi juga di rumah ini, ya?" giliran Farhan yang bertanya. Farhan hebat dapat menebak dengan tepat hanya dari ekspresi wajah dan gestur tubuh yang Kila tunjukkan.
"Hal lain apa?" Sebuah suara yang mengagetkan ketiganya. Mereka sedang serius, namun ada suara yang mengacaukan masuk tiba-tiba. Saat melihat siapa yang membuat suara itu, jelas saja mereka bertiga begitu terkejut.
"Kak Irsyad???" Mereka bertiga mengucapkannya bersamaan karena terkejut dengan kedatangan Irsyad yang tiba-tiba. Perasaan gelisah menghiasi karena takut kalau kecurigaan mereka terhadap Irsyad diketahui, atau takut Irsyad mendengarkan percakapan mereka.
"Itu...., Kila, udah waktunya saya berangkat untuk urusan yang saya bilang tadi. Ayo, Yul! Kamu udah bilang cuma mau mampir ke sini sepuluh menit doang." Farhan mengalihkan topik. Ia mengucapakan kalimat pertamanya dengan keras agar didengar oleh Irsyad, sedangkan kalimat selanjutnya diucapkan dengan pelan dan hanya Kila dan Yuli yang bisa mendengarnya karena tak ingin Irsyad mendengar itu.
"Ya udah deh, kalau kamu buru-buru. Itu aja yang mau aku omongin ke kamu. Aku harap kamu pikir baik-baik omongan aku dan tanya kejelasannya ke Kak Irsyad," balas Yuli juga berbisik.
"Cepat sekali pulangnya. Saya baru saja sampai dari masjid," nada kecewa terdengar. Di sisi lain, tiga orang itu lega mendengar ucapan Irsyad ini yang mengartikan bahwa Irsyad baru saja tiba dan tidak mendengarkan apapun tentang apa yang mereka obrolkan.
"Ooh, kita udah datang dari tadi juga kok, Kak. Kalau gitu pamit dulu. Oiya, rumahnya bagus banget, bikin aki sama Yuli kagum. Pamit ya, Kak, Assalamu'alaykum," ujar Farhan dan buru-buru keluar.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Jangan terlalu terburu-buru naik motornya. Hati-hati di jalan," peringat Irsyad. Farhan hanya mengacungkan jempolnya untuk menanggapi dan langsung melajukan motornya.
Setelah kepergian Farhan dan Yuli, hanya ada Kila dan Irsyad di rumah. Karena canggung, Kila membereskan meja dan mengembalikan air minum serta camilan ke dapur. Sedangkan Irsyad, ia ingin menanyakan kabar Kila yang baru pulang liburan, tapi karena Kila langsung menuju dapur, Irsyad tidak jadi menanyakannya. Keduanya sama-sama ingin menyambut kedatangan masing-masing, tapi ragu dan canggung. Masih tersisa suasana dingin di rumah ini.
"Ada apa kedatangan yang tiba-tiba dari Farhan dan Yuli? Kenapa tidak menghubungi dulu sebelum kemari? Datang tiba-tiba, pulang pun juga tiba-tiba. Dasar tamu dadakan aneh," pikir Irsyad.
...****************...