Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Si Ketua OSIS



"Punya mulut, kan? Dijawab!" ucapannya semakin keras saja. Kila semakin kaku diam seribu bahasa.


"Hey, ayo jawab. Jangan diam aja!" Kini ia makin berani dengan menggenggam dagu Kila dengan kasar ia gerakkan dengan tangannya.


Kila di posisi ini menjadi sedikit mendongak. Ia juga merasa kesakitan pada bagian yang di pegang kasar kakak kelas itu. Kila memejamkan matanya agar tidak menatap mata wanita itu.


"Kamu apakan Pak Irsyad? Sampai-sampai ia mau mobilnya dinaiki oleh murid rendahan seperti kamu. Bahkan, kamu sudah memanfaatkannya untuk menjadi supir pribadi, kan? Perempuan rendahan memang, kamu ini. Hijab tertutup syar'i ini, sama sekali tidak mencerminkan kepribadianmu. Oiya, kamu juga bisa balas dong, ya, kalau menutup aurat dengan hijab itu kewajiban. Jadi, saya tidak berhak menyalahkan jilbabnya. Tapi kamu pikir juga harusnya, kepribadian yang baik harusnya terpancar dari orang yang berhijab dan orang akan selalu menyalahkan hijab saat perilaku yang tidak baik di lakukan." Ucapannya semakin sinis sembari tetap memegang kasar dagu Kila.


Air mata Kila runtuh saat perempuan itu membawa-bawa hijabnya. Seketika itu juga, tangan perempuan itu terlepas dari dagu Kila karena merasa ucapan dan ancamannya tadi telah berhasil. Ia beralih berkacak pinggang dengan niat ingin memperburuk mental Kila.


"Boleh saya tebak? Apa kamu sudah kepincut dengan kesempurnaan Pak Irsyad? Jadi, kamu terus-terusan menggodanya sampai luluh, bahkan sampai memanfaatkannya. Licik kamu, ya. Tapi jangan khawatir, Pak Irsyad nggak akan pernah jatuh cinta sama muridnya sendiri. Ia menuruti kamu karena ia manusia yang baiknya keterlaluan. Jadi jangan terlalu percaya diri dengan sikap Pak Irsyad ke kamu akhir-akhir ini. Camkan itu!," ucapnya menggurui.


"Kamu jauhi Pak Irsyad. Dasar perempuan rendahan, perempuan penjilat!," lanjutnya.


Perempuan itu pergi setelah puasa melontarkan kata-katanya. Baru tiga langkah, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang sepertinya mengenalnya.


"Yuli, kamu di sini rupanya," sapa laki-laki itu. Sepertinya laki-laki itu sedang mencari perempuan pelabrak Kila ini.


"Ee... Farhan. Ada apa, Han?" jawab perempuan yang dipanggil Yuli itu. Ia tersenyum biasa bagaikan orang yang tidak berdosa.


"Kamu lupa, ya, kalau kita ada janji dengan guru untuk membahas kedisiplinan di sekolah? Waktunya udah mau tiba, tapi kamunya menghilangkan. Jadi, aku cari kamu. Aku tahu kamu pasti ada di sini, eh, ternyata betul," ucap Farhan. Ia sebenarnya merupakan ketua OSIS sekolah ini, dan Yuli adalah sekretaris OSIS.


"Umm, Yul, cewek ini bukannya yang murid baru waktu itu, ya? Waktu itu terlambat ke aula karena alasan tersesat. Yang diselamatkan sama Pak Irsyad, kamu ngapain disini? Afifah Syakila, kan, ya?" ucap Farhan mengingat-ingat.


"Farhan, katanya mau ketemu guru, ayo. Kamu lambat, aku duluan aja kalau gitu." Yuli seperti kabur tidak ingin membahas topik itu dengan Farhan.


"Ups, maaf, maaf, aku terlalu lancang, ya? Itu saya lakuin biar Yuli nggak dengar. Dah, sekarang dia udah jauh dan nggak bakal mendengar obrolan kita. Kamu bisa cerita ke saya. Kamu nggak lupa, kan, kalau saya ketua OSIS sekolah ini?" Ucap Farhan lagi dengan nada suara netral dan masih bisa terdengar. Kila tidak ingat bahwa pria ini adalah ketua OSIS. Sebab ingatannya sangat buruk, ditambah kejadian saat ia masih menjadi murid baru itu membuat ia membenci sistem yang dibuat OSIS. Kila menggeleng sebagai jawaban karena tidak mengingat pria di depannya ini.


"Huh, sepertinya cuma kamu aja yang nggak tahu siapa ketua OSIS sekolah ini. Ya udah, kenalin, saya Farhan Hamid kelas 12 IPA 1. Kamu kelas 10 IPS 1, kan? Salam kenal, ya, Kila. Saya panggil kamu Kila nggak keberatan, kan? Kalau pakai nama lengkap kepanjangan." ucap Farhan lagi. Ia memang tipe pria yang dominan dan lebih banyak berbicara. Tepat dengan ia yang notabenenya adalah seorang ketua OSIS. Tapi Kila cukup terkejut karena Farhan rupanya cukup tahu banyak tentang dirinya.


"Saya pengennya jabat tangan sih, sebagai tanda kalau kita udah kenalan. Tapi setelah lihat reaksi kamu yang langsung menghindar setelah saya berbisik ke kamu, mental saya langsung ciut. Tapi nggak masalah, yang penting kita udah kenalan. Kamu tahu nama saya, dan saya tahu kamu," tambah Farhan lagi.


"Sepertinya kamu wanita pendiam, ya? Tidak masalah kalau tidak ingin bercerita, biar saya aja. Saya memang kurang tegas dengan anggota OSIS yang saya bawahi, termasuk ke Yuli. Sebenarnya saya tahu tempat ini adalah tempat biasa Yuli mendisiplinkan murid yang menurutnya melenceng dan tidak disiplin. Biasanya Yuli cuma melabrak dengan ucapan aja, tapi kali ini sudah keterlaluan sampai berlaku kasar ke kamu. Saya minta maaf, ya, harusnya saya menegurnya dan jangan lakukan pendisiplinan dengan cara ini lagi. Yuli itu bebal, lebih bebal dari anggota OSIS yang lain dan saya yang memimpin mereka juga tidak kompeten." Farhan menyampaikan ocehannya.


Kila merasa lebih tenang sekarang, berkat Farhan yang mengalihkan seolah Kila disuruh fokus untuk mendengar ocehan ketos satu ini.


"Kamu juga sampai menangis dibuatnya, kan? Seharusnya tidak ada murid yang menangis setelah peristiwa pendisiplinan ini. Tapi sepertinya Yuli kesal dengan kamu, Kila. Dia juga udah mengagumi Pak Irsyad dari lama. Cerita lengkapnya saya nggak bisa ceritakan sama kamu. Bahkan sebelum Pak Irsyad mengajar di sekolah ini. Dan saat mendengar Pak Irsyad mengajar disini dua tahun lalu membuat dia semakin semangat. Itu mungkin bentuk kecemburuan ke kamu. Tapi, bagaimanapun juga Yuli sudah terlalu berlebihan. Saya tidak bisa menegurnya untuk masalah ini, karena ini juga menyangkut perasaannya. Untuk ini, saya ingin meminta maaf juga." Farhan mengakhiri dengan memasang mimik wajah merasa bersalah.


"Saya sudah maafkan. Saya begini hanya karena saya aja yang terlalu cengeng. Jadi, Kak Farhan jangan merasa bersalah seperti itu. Sudah dulu ya, kak, saya ingin masuk kelas. Sebentar lagi jam istirahat mau selesai. Kakak juga, katanya ada janji dengan guru, kan? Kalau gitu, saya duluan, ya, Kak." Kila ingin mengakhiri ini. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat sepi berduaan saja dengan seorang laki-laki. Ia juga tidak ingin berurusan dengan manusia OSIS.


"Tunggu," ucap Farhan. Kila yang baru ingin melangkah itu berhenti.


"Ada yang ingin saya sampaikan. Mungkin ini saat yang tepat, karena kita baru bisa mengobrol sekarang. Saya hanya ingin kamu tahu. Waktu itu, saya melihat kamu bermasalah dengan Yuli perihal keterlambatan itu. Saya menyaksikan kamu begitu kuat dan sabar, kamu juga orang yang ingin selalu mengalah meski saat itu kamu benar. Saya kagum dengan kamu sejak saat itu. Waktu itu saya yang ingin membantu kamu, tapi saya kalah cepat dengan Pak Irsyad. Saya agak menyesal juga karena hal itu. Semakin lama, saya melihat kamu dan Pak Irsyad menjadi lebih dekat. Saya hanya bisa melihat kamu dari kejauhan dan tidak ada alasan untuk kita saling bicara. Saya jadi iri dengan Pak Irsyad yang menjadi wali kelas kamu, bahkan hampir setiap hari kalian bertemu."


Kila tidak mengerti apa yang barusan si ketua OSIS ini ucapkan. Setelah mendengar perkataan itu, Kila langsung bergegas menuju ke kelasnya dengan berjalan yang terlihat sedikit berlari.


...****************...