Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Perasaan yang Terbalas



Kila pulang kebingungan mencerna pembicaraan itu. Tepat saat itu juga, Kila menghubungi orangtuanya. Sebuah kebetulan, pekan depannya mereka ada di rumah. Dan Hari Minggu pekan depan itu nanti, akan membawa Kila dan Irsyad bersama menempuh perjalanan ke rumah orang tua Kila.


Kila mempersiapkan barang seperlunya, sebab mereka tidak akan menginap dan akan langsung kembali pulang. Kila ingin bertanya lebih lanjut tentang tujuan pembicaraan Irsyad waktu itu, tapi ia terlalu gugup. Dapat melakukan perjalanan berdua seperti ini saja, sudah sangat memacu jantungnya. Sampai berani menanyakan itu, Kila pasti akan kesulitan bernapas.


"Maaf meminta untuk bertemu secara tiba-tiba seperti ini," ucap Irsyad setelah mereka sampai. Tentunya, Irsyad menyapa Riska dan Gilang dengan salam terlebih dahulu.


Riska mempersilahkan Kila dan Irsyad duduk di ruang tamu. Lalu, suasana berubah menjadi sangat serius. Riska dan Gilang belum juga memutuskan bagaimana menyikapi pesan nenek yang disampaikan Irsyad, mungkin itulah sebabnya situasi menjadi seserius ini, kaku dan juga canggung.


"Saya pikir, Anda berdua sudah tahu tujuan saya datang ke sini, bahkan sampai membawa Kila juga. Tapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan permasalahan selanjutnya. Dan dari yang saya sampaikan ini, saya harap kita dapat memutuskan secepatnya," ucap Irsyad menuju poin pembicaraan.


"Kila baru berusia tujuh belas tahun, ia juga masih harus sekolah. Usianya belum cukup umur untuk menikah. Masalah selanjutnya, saya juga akan ke Turki karena akan melanjutkan pendidikan doktor. Saya belum tahu akan diloloskan atau tidak, tapi saya sangat percaya diri bahwa saya akan mendapat beasiswa itu. Lalu, pesan nenek Kila waktu itu harus kita bicarakan juga. Bagaimanapun juga itu merupakan wasiat beliau. Jadi, kita harus berdiskusi dengan baik untuk menyelesaikan masalah ini," lanjut Irsyad.


"Maksud Anda mengatakan itu apa sebenarnya? Apa Anda sudah siap memenuhi pesan nenek itu? Bahkan Anda sendiri tidak mempunyai perasaan terhadap Kila, untuk apa Anda repot-repot mengabulkannya? Lagian, wasiat itu hanya opsional dari nenek. Seperti yang Anda katakan, Kila belum cukup umur. Dan lagi, kenapa Anda sangat mendesak untuk membicarakan hal ini hanya karena Anda akan ke Turki?" tanggapan Gilang.


"Saya tidak bisa menyangkal yang Anda ucapkan. Ini memang sangat tiba-tiba. Tapi karena ini mendesak, makanya saya mendesak pula untuk membahasnya. Saya akan katakan, saat di Turki nanti saya akan menjalani hidup di sana selama lima tahun. Saya juga tidak dapat terlalu sering pulang ke Indonesia. Umur saya saat ini sudah dua puluh lima tahun, apa saya harus menunggu sampai menyelesaikan pendidikan doktor saya untuk mendengarkan hasil diskusi kalian mengenai wasiat nenek ini? Saya juga berkeinginan menikah, memiliki keturunan, memberikan orang tua saya cucu. Orang tua saya juga tidak akan restu kalau saya melanjutkan pendidikan doktor sebelum menikah, atau setidaknya mendengar diskusi kalian mengenai wasiat nenek ini," jelas Irsyad.


"Menikah, menikah, menikah itu bukan perkara gampang. Hanya karena wasiat semata Anda akan menikahi Kila? Apa Anda tidak memikirkan perasaan Kila?" giliran Riska yang bicara, penuh emosi.


"Tidak, bukan seperti itu. Saya bukan ingin menikahi Kila hanya karena isi wasiat itu saja. Memang benar, itu merupakan salah satu alasannya. Tapi, tidaklah mungkin saya sampai jauh-jauh ke sini hanya untuk membahas wasiat saja. Saya juga memiliki perasaan terhadap Kila. Saya berniat menikahi mu, tentu saja saya punya perasaan padamu, Kila." Irsyad mengutarakan seraya menatap Kila dan kedua orang tuanya bergantian


Ucapan Irsyad sangat mengejutkan mereka, Kila sendiri sangat terkejut mendengar semacam pengakuan perasaan itu. Kila jadi mengerti maksud dari pembicaraan serius waktu itu, inilah tujuan pembicaraan Irsyad sebenarnya. Seketika wajah Kila merona memikirkannya.


"Baiklah, kalau begitu, apa rencana Anda menyikapi wasiat nenek itu? Kila masih sekolah dan belum cukup umur, sedangkan Anda akan ke Turki selama lima tahun." Gilang menanggapi setelah mengontrol keterkejutannya barusan. Ia sudah dapat menerima Irsyad karena sebelumnya ia dan Riska sudah berdiskusi tentang pesan itu dan akan menerima jika Irsyad sudah bersedia. Mereka memang belum berkata apa-apa kepada Irsyad karena kesibukan masing-masing dan juga, mereka ingin melihat Kila menjalankan hidup, seperti yang mereka rencanakan dulu yang salah satunya mereka ingin Kila menikah setelah lulus kuliah.


"Bagaimana menurut kamu, Kila?" Riska melemparkan ke Kila. Kila bingung harus menyikapi seperti apa.


"Kila ngikutin kata mama dan papa aja. Kila terima apapun keputusannya," jawab Kila setelah sebelumnya jeda beberapa saat.


"Tapi, setelah itu kalian akan LDR, kan? Bagaimana nasib pernikahan itu nanti?" tanya Riska.


"Tentu saya akan sering pulang, dan saat libur bergantian, giliran Kila yang mengunjungi saya ke Turki. Untuk menjaga hubungan itu, kami berupaya untuk menjaga komunikasi. Lagian, setidaknya keinginan kalian untuk menunggu Kila selesai kuliah baru menikah dapat terpenuhi sebagian. Begitupula dengan punya anak, saya juga bersedia menunda sampai Kila lulus kuliah. Setidaknya, itu dapat membuat Kila fokus untuk menyelesaikan kuliah dan memotivasinya untuk lulus lebih cepat." Ide gila itu terlontar dari mulut Irsyad. Seketika Kila yang merona memasang wajah kecewa. "Apa-apaan pemikiran gila itu?" pikir Kila.


...****************...


Pembicaraan serius itu telah selesai dan berjalan lancar. Irsyad dapat dengan lancar menempuh pendidikan doktor di Turki, ia juga sudah mendapat restu dari kedua pihak, pihak Kila dan keluarganya. Tapi Kila, ia tidak senang dengan keputusan itu. Sepertinya, Kila melihat kebiasaan Irsyad saat bicara, mengutarakan semuanya tanpa memikirkan pihak yang dilibatkan. Memang tidak ada yang salah dengan itu, tapi kali ini Kila ingin dipikirkan pendapatnya sebagai pihak yang terlibat.


Mereka pulang dari rumah orang tua Kila sekitar setelah sholat ashar. Kila terus saja memikirkan pembicaraan tadi saat di pesawat seraya menatap kosong kearah jendela menatap awan.


"Maafkan saya Kila, pasti kamu terkejut dengan pembicaraan tadi. Kamu juga pasti tidak akan menerima ucapan saya yang seenaknya itu. Tapi, saya juga butuh kepastian untuk mendapatkan kamu di saat saya harus pergi ke Turki. Wasiat nene selama ini selalu menyita pikiran saya. Hari ini saya begitu lega karena masalah sudah terselesaikan," ucap Irsyad lembut. Kila hanya mengangguk menanggapi.


"Saya berniat menikahi kamu, tentu saja saya punya perasaan pada kamu. Saya juga ingin bertanggung jawab terhadap sikap saya yang men-spesialkan kamu selama ini, padahal ada status yang membatasi kita dimana saya adalah seorang guru dan kamu adalah muridnya," lanjut Irsyad.


Wajah Kila merona mendengar ucapan itu. Dari pernyataan itu dicerna dan dipikir-pikir oleh Kila ia menyadari, akhirnya perasaan Kila selama ini terbalas juga.


...****************...