
Waktu terasa berlalu lebih cepat. Seperti yang diperkirakan, Irsyad sudah menerima pengumuman kelulusan beasiswa dan sudah pergi ke Turki. Hari-hari Kila terasa lebih mendebarkan dari biasanya, sebab ia sudah dijanjikan sesuatu oleh Irsyad saat ia lulus sekolah nanti. "Apa ini sudah termasuk LDR?" pikir Kila.
"Selamat ulang tahun yang ke delapan belas tahun, Akil sayang. Cie yang sebentar lagi mau di halalin," ucap Ira seperti biasa, senang sekali menggoda Kila.
Hari ini memang hari ulang tahun Kila, tiga Maret tahun ini bertepatan dengan Hari Minggu. Ira dan Risa memang memberikan kejutan dengan datang ke rumah Kila.
"Iyaiya, aku tahu aku udah semakin tua. Jangan diingatkan lagi, Ra. Aku sensitif kalau kamu nyinggung umur gitu. Udah gih sana, pulang. Udah dari subuh kalian ke sini sampai sekarang udah ba'da ashar," jawab Kila agak kesal.
"Ih, Kila, santai aja kali. Udah di depan pintu masih aja di usir-usir. Kalau gitu ya udah, Ra, kita pulang aja. Si Kila mau mampir ke tempat calon mertuanya, gara-gara kita jadi tertunda. Kalau gitu, selamat ulang tahun, Kila. Barakallah fii umrik. Kami pulang dulu, ya. Assalamu'alaykum," ujar Risa.
"Wa'alaykumussalam, hati-hati di jalan."
Baik Ira dan Risa sama saja. Mereka makin sering menggoda Kila perihal akan menikah dengan Irsyad semenjak Kila menceritakan semua kejadian tentang pembicaraan serius waktu itu.
Sekarang saatnya Kila mengunjungi rumah Citra, agak telat dari hari biasanya memang. Tapi, ia tidak pernah melewatkan datang ke rumah Citra di tiap Hari Minggu.
Saat akan keluar, Kila bertemu dengan Farhan. Sebuah kebetulan, kah? Farhan bahkan akan masuk ke rumah Citra juga. Kila sempat mengurungkan niatnya untuk ikut masuk juga, sebab ia sudah tahu maksud perkataan Farhan waktu itu. Ia tidak ingin suasana akan menjadi canggung kalau Kila dan Farhan bertemu di rumah Citra. Tapi, Kila memutuskan untuk tetap datang ke rumah Citra dengan langkah hati-hati, seperti penguntit.
"Aa, akhirnya kamu datang juga, Kila. Selamat ulang tahun, ya. Barakallah fii umrik. Ayo menuju dapur, tadi bunda sama saya udah membuat kue ulang tahun untuk kamu." Belum sempat masuk, Kila sudah di sambut oleh Farhan.
"Hah? Kak Farhan, kenapa ia mau bantu buat kue ultah untukku?" tanya Kila dalam hati, ia terhenti sejenak.
"Ayo, Kila." Farhan menawari kembali.
"I-iya, Kak."
...****************...
Citra begitu bahagia dengan kedatangan Kila. Ia sampai menumpahkan segala kebahagiaannya dengan cukup lama memeluk dan berulang kali mengecup pipi Kila. Tapi kini ia sudah mulai tenang dan ikut duduk di samping Kila.
"Kak Irsyad gimana, Bun? Dia betah nggak di Turki?"
"Irsyad itu gampang beradaptasi. Kayak nggak tahu Irsyad aja, padahal kamu dan Yuli udah sering main sama Irsyad dari kecil."
"Hehe, iya, sih. Farhan nanya gitu manatau kalau ke luar negeri lain ceritanya, Bun. Sayang banget, Farhan nggak lolos beasiswa itu juga. Padahal udah seneng banget bisa lolos seleksi berkas. Mungkin kurang maksimal waktu seleksi wawancaranya."
"Oiya? Kak Farhan ikut tes beasiswa itu juga?"
"I-iya, Kila, sayang banget nggak lolos, belum rezeki. Sekarang saya kuliah di universitas negeri di kota ini, berat juga waktu jadi maba. Mana ujian masuknya susah, lagi. Hahaha, Alhamdulillah lulus juga. Sempat nggak konsen juga gara-gara nggak lolos di jalur undangan. Makanya, waktu itu nggak terlalu maksimal untuk belajar persiapan ujian masuknya. Jadi pelajaran, nih, buat kamu. Jangan seperti saya. Kamu harus mempersiapkan semuanya dengan matang, siapkan semua jangan dengan setengah hati tapi sepenuh hati. Jangan terlalu berharap di satu jalur, nanti jadi tidak bisa menerima kenyataan kalau nggak lulus."
"Iya, kak. Terimakasih banyak atas nasehat nya. Makasih juga kakak mau bercerita pengalaman kakak tadi."
"Iya, santai aja. Kalau mau tanya-tanya tentang kuliah, saya sangat terbuka, kok. Gini-gini, saya udah masuk semester dua, hahaha."
"Oiya, Yuli satu kampus sama kamu juga, ya?"
"Iya, Bun. Beda program studi aja."
"Ooh, gitu. Yang akur kamu sama Yuli."
Setelah dirasa cukup lama mampir di rumah Citra, akhirnya Farhan memutuskan untuk pulang sebelum Maghrib tiba.
Kila menyusul Citra yang sedang membereskan dapur. Lalu, mulai mengelap piring-piring yang telah dicuci Citra.
"Bun, kalau boleh tahu, hubungan Pak Irsyad dengan Kak Farhan itu bagaimana? Kila tahu, sih, kalau rumahnya berdekatan. Tapi, kalau sama Kak Yuli? Apa rumahnya dekat juga?"
"Iya, Yuli tinggal di samping rumah Farhan."
"Ee... berarti tetangga juga, dong. Duh, Kila nggak tahu karena nggak pernah lihat Kak Yuli."
"Iya, wajar kalau kamu nggak pernah lihat. Anak itu berpergian pakai mobil, nggak kayak Farhan yang selalu pakai motor."
"Ooh, pantesan. Terus, Bun, gimana ceritanya mereka dekat? Kak Farhan dan Kak Yuli sering ke sini, ya?"
"Ih kamu kenapa tanya-tanya? Cemburu ya?"
"Ng-nggak kok, Kila cuma penasaran aja. Soalnya Kak Farhan dan Kak Yuli pernah jadi pengurus OSIS di sekolah. Jadi, ya, cuma sekedar penasaran aja, kok, Bun."
"Iya-iya, percaya deh kalau gitu. Kalau bunda ingat-ingat, mereka pernah jadi murid privat Irsyad, sejak mereka kelas dua SD. Kebetulan, guru mereka di sekolah suka menyebut-nyebut Irsyad di kelas karena Irsyad murid yang berprestasi. Orang tua mereka sepakat untuk meminta Irsyad mengajar anak mereka. Keluarga bunda dan mereka juga sering liburan keluarga berbarengan. Jadi, sampai sekarang keakraban itu tetap terjaga. Farhan sama Yuli juga sering main ke sini, tapi nggak sesering dulu."
"Kalau soal Pak Irsyad yang mudah beradaptasi itu gimana maksudnya, Bun? Soalnya bunda ada nyinggung itu tadi waktu ngomong sama Kak Farhan."
"Ooh, itu. Pernah waktu itu kami pergi bersama dengan keluarga masing-masing. Itu pertama kalinya kami camping di tenda. Farhan dan Yuli tidak menyukai tinggal di alam seperti itu, apalagi ada kejadian dimana Yuli menemukan kodok di dekat tenda. Tapi, Irsyad melakukan hal berbeda. Ia dengan berani memegang kodok itu dan menyingkirkannya jauh dari tenda. Di antara mereka bertiga juga, Irsyad yang sangat menikmati camping. Seterusnya juga, saat libur bersama di pantai. Irsyad tidak ada takutnya naik wahana permainan yang ekstrim. Padahal baru pertama kali mencobanya. Ada banyak juga sih, intinya anak itu memang sangat mudah beradaptasi."
Dari cerita Citra, Kila menjadi tahu lebih banyak tentang Irsyad. Mungkin, ia sudah satu langkah lebih dekat dengan Irsyad sekarang.
...****************...
Kila pulang ke rumah saat waktu Maghrib mendekat. Setelah selesai menunaikan shalat maghribnya, ia melanjutkan membaca mushaf Al-Qur'an untuk menunggu waktu isya tiba. Kebiasaan itu selalu Kila lakukan dan neneklah orang yang pertama kali mengajarkannya kepada Kila.
Kila selesai menunaikan shalat isya, lalu beralih menuju kasur. Ia ingin merebahkan diri sejenak lalu membaca buku yang tersisa beberapa halaman lagi untuk ditamatkan. Saat asyik dengan bukunya, ponsel Kila berdering. Melihat yang tertulis di situ adalah nama Irsyad, ia langsung duduk tegap untuk menerima ponsel itu. Ini sangat mengejutkan, baru kali ini Irsyad menghubunginya.
Dengan mengatur nafas terlebih dahulu, Kila akhirnya mengangkat panggilan masuk itu.
"Assalamu'alaykum, Pak Irsyad, ada apa?" ucap Kila dengan nada senormal mungkin karena jantungnya sedang tidak berdetak normal sekarang.
"Wa'alaykumussalam, Kila. Maaf ya baru menghubungi sekarang. Di sana pasti sudah malam. Di sini masih jam makan siang, makanya saya baru mempunyai waktu menghubungi kamu. Maaf ya mengganggu waktu istirahat kamu."
"I-iya, Pak. Tidak masalah."
"Selamat ulang tahun, Kila. Selamat ulang tahun yang ke delapan belas, Afifah Syakila. Barakallah fii umrik."
Hanya ucapan selamat ulang tahun, tapi Kila meleleh mendengarnya. Aaa, mungkin inilah kejutan paling indah yang Kila dapatkan di ulang tahunnya tahun ini.
...****************...