Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Mengetahui Lebih



"Duh, maaf ya, Kak. Kila telat. Padahal Kak Irsyad ada jadwal ngajar di kampus. Gara-gara nungguin Kila yang kelas siang, jadinya kita bakal sampai kepepet di kampus nanti," ucap Kila yang terburu-buru masuk ke dalam mobil yang sudah ada Irsyad di dalamnya.


"Tidak apa-apa, saya mengerti, kok," jawab Irsyad dan langsung melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya.


Mereka benar-benar sudah akrab sekarang. sudah satu pekan tinggal di rumah itu, kegiatan memasak untuk suaminya sudah dilakukan Kila. Irsyad hari ini bersikeras ingin mengantar Kila karena Kila sebelumnya bersikeras juga ingin membiarkan Irsyad pergi lebih dulu karena ada kelas mengajar pagi. Tapi, Irsyad ingin menjaga janjinya untuk bisa terus mengantarkan Kila. Ia tidak ada waktu untuk menjemput Kila lagi nanti, kalau menunggu jam mengajarnya selesai, kelas Kila sudah keburu dimulai.


Kila yang tahu akan ada kelas siang memang sengaja memasak untuk sarapan dan bekal dirinya dan Irsyad. Ia juga beberes rumah untuk mengisi waktu, tidak ada rencana untuk bersiap ke kampus secepat ini. Ia juga tidak bisa membantah perintah suaminya, jadi ia lakukan saja, toh ini juga baik untuk keduanya.


"Kila, kita pekerjakan pembantu saja, ya?" tawar Irsyad. Kila tampaknya tahu, hari ini Irsyad kesal pada dirinya. Terlihat saat Irsyad mengemudikan mobilnya masih sempat mengobrol, padahal ia sudah terlambat untuk membelah konsentrasi antara mengemudi dan mengobrol, meskipun jarak dari rumah menuju kampus lebih dekat daripada rumah Citra.


"Lho, kenapa, Kak?" balas Kila dengan tanya. Ia juga agak kesal karena ditawarkan untuk mencari pembantu rumah tangga. Secara tidak langsung, itu mengenai hati Kila kalau pekerjaan mengurus rumahnya tidak becus.


"Saya selalu mengajar di jam pagi, dan kamu kebanyakan di jam siang. Jadi, daripada kamu menghabiskan waktu membereskan rumah, akan lebih cepat sampai ke kampus kalau kamu langsung bersiap-siap ke kampus bersama saya," jelas Irsyad. Kini keduanya sudah sampai di kampus. Irsyad melepaskan seat belt-nya diikuti oleh Kila.


"Kita bahas lagi di rumah, ya? Kamu pikirkan baik-baik dulu tawaran saya. Nanti kalau kamu sudah selesai kelas, kabari saya, ya? Biar saya jemput nanti," ucap Irsyad cepat. Kila yang bingung itu tampak mengiyakan ucapan Irsyad.


Irsyad dan Kila turun dengan cepat, lalu Irsyad mengunci mobilnya. Karena terburu-buru, tidak ada salam pamit seperti biasanya. Biarlah, saat bertemu kembali nanti Kila akan melakukannya, pikir Kila. Lagian, Irsyad sudah sangat terlambat untuk meluangkan waktu lagi untuk rutinitas salaman itu. Kila tidak ingin menghambat Irsyad.


...****************...


Waktu sudah semakin sore. Kelas Kila sudah selesai, tapi Irsyad belum sampai untuk menjemput Kila. Padahal, Kila sudah mengirim pesan teks kepada Irsyad. Tidak biasanya Irsyad seperti ini.


"Kak Irsyad kenapa lama datangnya? Bukan biasanya, deh," batin Kila.


"Assalamu'alaykum, Kila. Maaf saya telat. Kamu menunggu lama, ya?" ucap Irsyad di kala ia turun dari mobil dari kedatangannya. Sang suami yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga.


"Wa'alaykumussalam, Kak. Nggak apa-apa kok. Baru nunggu sepuluh menit doang," balas Kila. Ia kemudian masuk mobil, diikuti oleh Irsyad.


"Kak Irsyad tumben hari ini agak lama. Ada apa, Kak?" tanya Kila dalam perjalanan pulang itu.


"Iya, ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu tadi. Saya minta maaf, Kila." jawab Irsyad.


Tatapan mata Kila menjadi sendu, tapi Irsyad tidak mengetahuinya karena fokus pada lalu lintas. Entah kenapa, mendengar jawaban Irsyad yang lebih memprioritaskan pekerjaan dibandingkan dirinya, membuat Kila merasa sedih dan membuat tatapan sendu itu. Pikiran-pikiran negatif mulai berdatangan. Mengingatkan kembali masa Kila saat tinggal berdua dengan nenek dan orangtuanya malah memprioritaskan pekerjaan.


"Kila, kita sudah sampai. Ayo turun dan nikmati kejutan yang saya siapkan!"


"Kejutan? Kejutan apa?" batin Kila.


Kila berusaha berjalan dengan santai, menepis pikiran yang membuatnya menciptakan tatapan mata yang sendu. Mencoba bersikap normal seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Lagian, berlebihan rasanya hanya karena masalah sepele tentang memprioritaskan pekerjaan itu membuat Kila memasang ekspresi yang seharusnya tak ia pasang.


"Sudah..., ayo kita ke meja makan!" seru Irsyad lagi. Ia menarik tangan Kila agar mengikutinya menuju meja makan. Dan sekarang, Kila jadi penasaran apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Irsyad?


"Pekerjaan yang saya maksud itu adalah menyusun ini semua, Kila. Maaf membuka kamu harus menunggu lama di kampus. Ini karena kelambanan saya menyusun makanan-makanan ini di meja," ujar Irsyad serta menunjukkan ada apa di meja makan itu. Sebuah pekerjaan yang harus dilakukan Irsyad sebelum menjemput Kila bukanlah seperti yang Kila bayangkan. Justru, Irsyad berusaha keras melakukan pekerjaan itu untuk Kila. Irsyad menyusun rapi banyak camilan dan makanan yang biasanya Kila makan. Dan itu semua dilakukannya untuk membuat kejutan kepada Kila.


Kila yang sudah mulai mengerti apa yang terjadi, merutuki pikirannya tentang pemikiran negatif barusan. Ia segera memeluk Irsyad erat berusaha untuk menebusnya.


"Maafin Kila ya, Kak," ucap Kila.


"Lho, kenapa minta maaf?" tanya Irsyad heran. Kila malah menggeleng di pelukan itu menanggapi pertanyaan Irsyad.


"Kila, harusnya bukan maaf, kan? Di situasi seperti ini harusnya kata terimakasih lebih tepat," ujar Irsyad seraya mengusap-usap lembut kepala Kila.


"Terimakasih banyak, Kak. Jazakallahu khair, Kak," balas Kila.


Mereka kemudian melepaskan pelukan itu dan segera duduk menyantap berbagai makanan yang sudah dipersiapkan oleh Irsyad sebelumnya.


"Tapi, ini mendadak banget, Kak. Dalam rangka apa Kak Irsyad menyiapkan makanan begini banyaknya?" tanya Kila disela-sela memakan makanan yang sudah ia santap.


"Dalam rangka memperbaiki hal yang salah tadi pagi," jawab Irsyad.


"Memangnya apa yang salah?" tanya Kila lagi.


"Pertama, tentang temperamen saya yang buruk. Kedua, tentang meragukan kemampuan kamu untuk mengurus rumah sampai menawarkan pembantu pula. Saya minta maaf, Kila."


"Ooh, itu..., udah Kila maafin kok, Kak. Lagian Kila ngerti, kok. Di situ juga Kila ada buat salah. Tapi, mengenai pembantu...," ujar Kila menggantung di akhir.


"Tidak perlu ada jika memang kamu masih tidak ingin melepaskan pekerjaan rumah ini. Tapi, kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa minta ke saya untuk membantu kamu mengepel lantai atau apapun. Hanya memasak saja sepertinya masih memberatkan kamu," balas Irsyad.


Kila tersenyum. Masalah tawaran untuk mempekerjakan pembantu yang kata Irsyad akan dibicarakan di rumah, kini sudah tidak ada lagi pembicaraan itu setelah sampai rumah. Kila jadi mengetahui lebih lagi tentang Irsyad dari kejadian ini. Kadang-kadang Irsyad bertemperamen tinggi, seperti tadi pagi contohnya. Dan setelah sampai rumah kembali, ia menjadi normal kembali dan malah memperbaikinya dengan memberikan Kila sebuah kejutan.


"Kenapa kamu tersenyum begitu, Kila? Setidaknya, balas ucapan saya," ujar Irsyad kesal. Kila malah meneguk air minum dan kemudian mengelap bibirnya dengan tisu. Lalu, ia mendaratkan satu kecupan di pipi kiri Irsyad.


Cup


"Terimakasih banyak, Kak," ucap Kila seraya melemparkan senyum. Irsyad pun membalas dengan senyuman pula. Karena tak tahan dengan senyuman yang dilemparkan oleh Irsyad, Kila melanjutkan kembali kegiatan makannya untuk menutupi itu.


...****************...