
"Jadi bagaimana? Kapan kita akan menempati rumah ini bersama?" tanya Irsyad pada Kila. Mereka sudah mendatangi lokasi rumah Irsyad yang ia sebutkan sebelumnya. Memang lebih jauh sedikit dari rumah Citra dan Gilang, tapi lokasi ini lebih dekat menuju kampus Kila. Rumahnya tidak sebesar rumah Citra, tapi cukup untuk mereka berdua. Hanya ada dua kamar dan satu ruang kerja. Rumah minimalis modern idaman para anak muda yang dipilihkan Irsyad, berharap Kila menyukainya karena bagian dari anak muda itu sendiri.
"Kak Irsyad baru beli rumah ini, ya?" tanya Kila. Sebelumnya saat di jalan, Kila juga merasa asing dengan lokasi yang akan mereka tuju. Tapi, Kila mengikuti alur saja. Sampai ia dan Irsyad selesai melihat-lihat isi rumah ini, pertanyaan Irsyad membuat Kila ingin tahu tentang rumah ini.
"Iya. Kenapa Kila?" jawab Irsyad menanggapi.
"Bukannya rumah kakak yang waktu itu ada, ya? Yang waktu itu kakak ceritakan, rumah yang kakak sewakan. Untuk apa membeli rumah lagi?" ucap Kila lagi menyerbu dengan pertanyaan.
"Kamu lucu sekali, Kila. Rumah itu tetap saya sewakan, dan karena masih ada penyewanya tidak mungkin saya usir, kan? Lagian, saya ingin memiliki rumah khusus untuk kita tinggali bersama, hanya rumah kita. Tidak berencana untuk disewakan. Dan hanya ada kita didalamnya, membentuk keluarga kecil dan menambah anggota keluarga baru jika sudah tiba saatnya," jawab Irsyad. Ia berusaha mendekati Kila dan mengusap kepalanya.
Kila terdiam mendengar pernyataan Irsyad. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, ditambah dengan usapan kepala yang Irsyad lakukan padanya. Sebab, awalnya Kila berpikir kalau rumah yang dikatakan Irsyad itu adalah rumah milik Irsyad yang ia sewakan dan menjadi sumber utama untuk memberikan Kila uang bulanan sebagai nafkah. Kila tahu lokasi rumah itu berbeda dengan rumah ini, dan itu artinya Irsyad membeli rumah baru lagi. Kila merasa tidak enak untuk itu.
"Kila, kamu kenapa diam? Apa saya berlebihan, ya? Kamu merasa tidak enak dengan saya karena membeli rumah baru untuk kita tinggali? Sebenarnya tidak terlalu baru, sih. Rumah ini sudah saya beli saat akan kembali ke Indonesia. Saya juga berpikir keras untuk bagaimana menebus waktu yang kita lewatkan waktu itu. Dan yang terpikir di kepala saya adalah membeli rumah baru agar kita bisa tinggal di dalamnya. Itu saja, Kila. Jadi, daripada merasa tidak enakan dengan saya, saya lebih ingin kamu merasa senang sebagai wujud terimakasih," ucap Irsyad. Merasa ada yang salah dengan ucapannya, ia menghentikan kegiatannya yang sedang mengusap kepala Kila.
"Duh, bukan seperti itu. Saya tidak memaksa kamu untuk merasa berhutang budi sebagai pengganti rasa tidak enakan itu dengan berterimakasih. Tidak apa-apa jika kamu merasa begitu, saya tidak bisa menyuruh kamu merubah suasana menjadi senang begitu saja, jadi, bersikap biasa saja tidak apa-apa. Saya tidak ingin mengatur kamu atau memaksa berterimakasih. Saya juga egois, ya?" ralat Irsyad kikuk.
Cup
Kila mengecup pipi Irsyad yang masih menunjukkan ekspresi kikuk. Namun, ekspresi itu bertukar menjadi bingung karena aksi tiba-tiba Kila. Lalu, Kila melakukan serangan lagi dengan memeluk Irsyad. Kila merasa, hal ini cukup untuk membuat keadaan yang kikuk ini berubah menjadi hangat kembali seperti saat mereka melihat-lihat isi rumah dan mengobrolkan detil rumahnya.
"Ee...?" ucap Irsyad heran.
"Terimakasih banyak, ya, Kak. Kila tidak enakan, tapi Kila juga merasa sangat senang, kok. Kak Irsyad nggak perlu mengkhawatirkan Kila sampai kikuk begitu. Kila jadi gemas ingin kecup pipi dan peluk Kak Irsyad jadinya. Kila nggak nyangka kalau Kak Irsyad bisa sebegitu pedulinya dengan hubungan kita, Kila terharu untuk itu. Kila juga senang karena rumahnya juga dekat dengan kampus, jadi lebih semangat untuk ke kampus dan lebih optimis untuk lulus lebih cepat. Dan..," ucap Kila dalam pelukan yang disambut Irsyad. Perkataanya gantung, dan pelukan itupun dilepaskan oleh Kila.
"Dan...?" tanya Irsyad seraya menatap Kila yang masih berada didekatnya.
"Dan..., karena Kila semangat untuk lulus lebih cepat, itu artinya kita bisa lebih cepat berencana untuk menambah anggota keluarga baru," ucap Kila perlahan. Dan, perlahan pula ia kabur setelah mengatakan pernyataan yang begitu terbuka seperti itu. Ia baru sadar perkataannya itu terlalu vulgar dan terkesan menggoda. Dan karena kesadaran itulah ia kabur untuk menjauh dari Irsyad.
"Benar-benar, ya. Kamu berusaha menggoda saya? Jangan lari kamu, Kila. Setelah mengecup pipi saya, memeluk saya, lalu menggoda saya, kamu tidak bertanggungjawab dengan lari begitu saja," protes Irsyad dengan sedikit berteriak. Karena melihat Kila berlari ke arah kamar, Irsyad dengan cepat ikut menyusul Kila.
"Hap. Dapat. Kamu tidak bisa kabur lagi sekarang," ucap Irsyad yang akhirnya berhasil menangkap Kila.
"Iya, deh. Kila nggak lari lagi, kok. Kak Irsyad bisa tolong lepasin nggak?" balas Kila. Nadanya seperti menyerah, namun bohong dari matanya. Irsyad tidak ingin melepaskan Kila, karena ia tahu bahwa itu upaya pengalihan Kila agar dapat kabur dari Irsyad.
"Tidak akan. Kamu tidak seperti sedang jujur saat mengucapkannya," ucap Irsyad.
"Ya udah, kalau nggak percaya," balas Kila yang refleks membuat tangan Irsyad longgar dari menangkap Kila.
"Tapi bohong, hahaha," ucap Kila yang berhasil lepas dari tangkapan Irsyad. Ia berlari ke arah sisi kamar yang satunya. Yang di dalamnya terdapat sebuah ranjang yang siap ditiduri.
"Aaa," teriak Kila refleks. Irsyad berhasil menangkapnya kembali. Sayangnya, cara Irsyad menangkap Kila kali ini cukup berani. Kila dan Irsyad sudah berbaring di atas ranjang.
Posisi yang begitu intim jika dilihat dari sudut pintu kamar. Dimana, Kila sudah berada diposisi bawah dan terlihat seperti tertimpa oleh Irsyad yang berada di posisi atas. Tawa yang tadi Kila gelakkan, kini ia gelagapan. Ingin sekali Kila memalingkan wajahnya, namun magnet yang ada dalam mata Irsyad lebih kuat dan membuat Kila tak bisa berpaling untuk menatap manik mata itu. Begitupula dengan Irsyad, ia tidak bisa berpaling dan menatap manik mata milik Kila dalam-dalam.
Satu detik berlalu
Dua detik
Tiga detik
Sepuluh detik berlalu
Wajah Irsyad semakin dekat dengan wajah Kila. Kila yang diam saja melihat wajah Irsyad yang terus mendekat dengan perlahan itu, jantungnya berdetak kencang tidak karuan.
"Kila, bolehkah saya....," ucap Irsyad lembut. Ia tidak melanjutkan perkataannya, Kila juga sudah paham maksud Irsyad tanpa harus Irsyad lanjutkan perkataannya.