Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Benar-benar Jatuh Hati



Minggu telah usai. Senin yang ditunggu-tunggu oleh para murid sudah sampai. Senin yang membuat Kila tak berhenti menanti momen dirinya berhadap-hadapan dengan Irsyad. Senin itu kini tiba.


Kila memang sedari tadi menunjukkan wajah yang ceria. Sampai puncaknya, di akhir jam pelajaran yang akan Irsyad ajarkan sudah tak terbendung lagi keceriaan dari raut wajah Kila. Matanya berbinar saat Irsyad memasuki kelasnya. Benar tebakan neneknya, kini Kila sadar bahwa ia sudah benar-benar jatuh hati pada Irsyad.


Dua sahabat di dekat jendela itu menatap Kila lekat. Mereka merasakan ada sesuatu yang terjadi semalam, hingga Kila bertingkah terlalu seceria hari ini. Kila memang mudah mengekspresikan diri melalui raut wajah dan prilakunya. Sehingga orang disekitarnya tahu apa yang ia rasakan seperti sedih atau bahagia. Seperti bisa di ajak bicara atau tidak. Namun sebagian kaum adam mana paham tentang tingkah si hawa satu ini.


...****************...


Pelajaran Bahasa Indonesia sudah hampir selesai. Di sepanjang pelajaran, Kila terus mencuri-curi pandang ke arah Irsyad. Biasanya ia selalu memperhatikan tiap guru yang mengajar pada jam nya. Baik itu saat sang guru berbicara, menjelaskan, atau diam sekalipun. Namun, kepada Irsyad hari ini ia tidak dapat melakukannya seperti biasa. Alhasil, Kila berusaha memperhatikan malah terlihat seperti mencuri pandang belaka.


Kila langsung menunduk saat mata Irsyad melihat ke Kila, saat ia menatap seluruh muridnya dan giliran Kila yang ia tatap.


"Kila, ada apa? Kamu tidak memperhatikan penjelasan saya seperti biasanya," tegur Irsyad. Ia sudah mengakhiri penjelasan materi terlebih dahulu.


"Nggak ada apa-apa, Pak. Saya memperhatikan, kok," jawab Kila menunduk. Ia tidak ingin membuat kontak mata dengan Irsyad.


"Tidak, kamu tidak seperti biasanya. Biasanya kamu selalu melihat dengan rinci apa yang saya lakukan. Mulai dari saat saya menerangkan, menulis di papan tulis, sampai saya membahas hal kecil di meja inipun kamu selalu memperhatikan," jelas Irsyad.


Perasaan Kila saja atau memang Irsyad ini hanya benar-benar menaruh perhatian juga ke Kila? Sebab, Kila lah murid yang paling banyak ditegur atau diajak bicara oleh Irsyad. Bahkan Irsyad tahu seperti apa tingkah Kila yang biasanya.


"Nggak mungkin kan, aku jawab kalau konsentrasiku buyar saat terus-terusan memperhatikan Pak Irsyad?" Kila bertanya dalam batinnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin kamu punya masalah yang saya tidak tahu. Untuk selanjutnya, kamu harus benar-benar memperhatikan. Kamu sendiri yang bilang ingin membanggakan diri dihadapan orang tua kamu, kan? Kamu ingin memberikan hasil yang terbaik untuk masa depan kamu juga. Mendapatkan universitas impian, makanya kamu berusaha aktif di pembelajaran akademis. Saya sebagai wali kelas sangat mendukung, karena saya tahu kamu pintar dan memiliki potensi untuk itu. Jadi tugas saya adalah mengingatkan kamu," Irsyad memperjelas. Sebagian besar penjelasannya adalah hasil dari pertemuan wali kelas dan wali murid semalam.


Kila terdiam dan makin menundukkan kepalanya kedalam. Ia membuat senyum yang merekah, makanya ia berusaha menyembunyikannya. Tampaknya penjelasan Irsyad tadi makin membuat Kila jatuh hati lagi dan lagi. Dari yang Kila pahami, Irsyad adalah sosok pendengar dan pemerhati yang baik. Sampai-sampai, pertemuan semalam begitu jelas dia ingat apa-apa saja yang telah dibicarakan.


Kila berusaha untuk tidak memamerkan wajah merahnya. Ia menetralkan detak jantung berdebar-debar itu dengan bernapas dalam-dalam. Kemudian menjawab, "Baik, Pak. Terimakasih banyak karena bapak sudah mengingatkan."


Setelah Kila menanggapi ucapannya, Irsyad beralih. Ia mulai mengoreksi tugas murid yang sebelumnya ia tugaskan dan sudah dikumpulkan oleh Fadli tadi.


...****************...


"Akil, semalam gimana pertemuannya? Lancar jaya?" tanya Ira. Mereka berbarengan menuju gerbang sekolah. Hari ini Ira tidak bergabung dengan ekskulnya, karena kesibukan anggota ekskul dalam tugas sekolah terutama kakak kelas. Oleh sebab itu, Ira menuju ke gerbang bersama Kila dan Risa untuk langsung pulang ke rumah.


"Lancar jaya? Ada-ada aja kamu, Ra. Ya, seperti pertemuan biasa aja. Kamu gimana, Ris? Setelah nama aku, nama kamu kan di urutan nama murid?" ujar Kila, beralih ke Risa.


"Iya, setelah Afifah Syakila namaku, Arisa Putri. Tadi Pak Irsyad juga bilang gitu," Risa menanggapi.


"Tadi ada dibilang juga, untuk di kelas dan seterusnya. Pak Irsyad akan datang di jam pulang kantor orang tua, sekitar setelah ashar. Itu berlaku buat semua murid. Beda banget sama kamu, Kil. Dikunjungi saat jam kantor, di Hari Minggu pula. Berasa dispesialkan." Risa melanjutkan dengan nada sedikit menggoda Kila.


"Cuma kebetulan. Lagian kan, itu pertemuan perdana. Pak Irsyad mungkin belum memikirkan sistemnya. Terus juga, beliau memutuskannya waktu kita bertemu di kantornya waktu itu. Prediksiku, mungkin Pak Irsyad teringat kalau beliau luang di Hari Minggu makanya beliau memutuskan untuk pertemuan perdananya dengan wali murid di Hari Minggu," ucap Kila berusaha membela diri.


"Ya udah, percaya aja, deh. Kita nggak usah debat, kan kita sahabat," ujar Ira menengahi. Ia kemudian merangkul kedua sahabatnya itu dengan dirinya yang diposisi tengah.


"Tapi Akil, kayaknya aku sama Risa sepakat," lanjut Ira.


"Sepakat apa?" tanya Kila penasaran.


"Kamu udah benar-benar jatuh hati ke Pak Irsyad. Buktinya tadi, kamu berusaha membela Pak Irsyad. Dan saat di kelas, kami perhatikan kamu seperti sedang mengontrol detak jantung saat mengobrol dengan Pak Irsyad. Kamu nggak usah mengelak, kami sudah tahu jawabannya. Kami akan rahasiakan hal ini," jawab Ira. Kila pikir Ira akan berusaha membela dirinya tentang topik Pak Irsyad yang dibahas dengan Risa. Rupanya Ira malah ikut-ikutan menggoda Kila.


Kila melepaskan rangkulan Ira dan mempercepat langkahnya untuk menghindari rasa malu karena ia tidak bisa mengelak lagi.


"Ya udah, aku duluan ya. Udah ditunggu di depan soalnya," Risa menyudahi dan beralih.


"Aku juga ya, Kil. Mau ke parkiran motor," disusul Ira.


Kila terus berjalan keluar gerbang sekolah. Kemudian ia berhenti di halte bus depan sekolahnya untuk menunggu angkot datang. Kila tak pernah merasa iri dengan apa yang dua sahabatnya itu naiki saat pergi dan pulang sekolah. Ia selalu bersyukur dapat pergi ke sekolah dengan angkot yang terus datang saat ia membutuhkannya. Ia tidak ingin membandingkan kekurangan hidupnya dengan orang lain. Kila selalu ingat akan janji Allah tentang "syukur".


"Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku. Dan apabila kau kufur, sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih." (Qs Ibrahim ayat 7)


...****************...