
Irsyad kembali ke Turki dengan tenang saat Kila benar-benar sembuh. Saat tidak ada pula masalah antara dirinya dan Kila seperti waktu itu. Kila juga ikut membereskan kopernya Irsyad tadi, ia juga ikut langsung mengantar Irsyad ke bandara. Tidak ada perpisahan yang dramatis seperti waktu itu, karena mereka mengejar waktu penerbangan yang sangat mepet akibat peristiwa drama setelah kejadian pulang dari restoran itu. Irsyad berjanji akan mengabari Kila saat sudah sampai di tujuan.
Kila menyempatkan untuk singgah sebentar ke rumah Citra setelah mengantar Irsyad. Ia membantu mencucikan piring kotor yang ada di rumah Citra.
"Kil, bunda tadi ngintip kalian lho pas lagi mesra-mesranya di motor," ujar Citra yang sudah duduk di ruang keluarga. Citra membesarkan suaranya agar terdengar sampai ke telinga Kila, dengan tujuan menggodanya.
"Ha? Bunda lihat darimana?" tanya Kila menghampiri Citra. Pekerjaan mencucikan piring tadi sudah ia selesaikan.
"Dari jendela. Soalnya bunda dengar suara motor udah masuk ke rumah, tapi orangnya belum. Karena penasaran, akhirnya bunda ke depan lihat apa yang terjadi, deh. Cie... kamu udah mulai berani ya, Kil. Romantis banget pakai nggak mau lepas pelukan segala. Udah sampai rumah, lho, padahal," goda Citra terus-terusan.
Wajah Kila langsung bersemu merah. Saat itu pula, Kila beralasan untuk langsung kembali dari rumah Citra ke kosannya.
"Bun, Kila balik dulu ke kosan, ya. Ada banyak tugas kuliah numpuk," alibi Kila.
"Cie, malu-malu digodain. Sampai menghindar segala," sindir tawa Citra.
"Kila nggak menghindar, Bun. Memang benar ada banyak tugas kuliah," ucap Kila sedikit menekankan.
"Dan tebakan bunda sebenarnya benar, kalau aku malu digoda seperti itu," lanjut Kila dalam batinnya.
"Ya udah, Kila pamit dulu, Bun. Assalamu'alaykum. Kila kirim salam sama ayah juga," pamit Kila.
Kila kemudian mencium tangan Citra saat salamnya dijawab oleh Citra. Ternyata ketahuan agresif begitu sangat membuat Kila malu. Tapi saat itu nalarnya tak berpikir bahwa akan ada orang yang melihatnya seperti itu, makanya Kila bebas saja memeluk Irsyad.
...****************...
Sudah lima belas jam berlalu, Irsyad sudah sampai di Turki. Sesuai janjinya, Irsyad langsung menghubungi Kila.
"Duh, nggak di angkat-angkat, sih? Mungkin Kila sibuk, atau mungkin sedang tidur. Kalau begitu, kirim pesan chat saja untuk mengabarinya," ucap Irsyad saat ke-lima kalinya dering telpon tak diangkat oleh Kila.
"Assalamu'alaykum, Kil. Alhamdulillah, saya sudah sampai di tujuan dengan selamat. Berkat doa kamu, ayah dan bunda juga. Kamu jangan lupa jaga pola makan, ya. Ingat janji kamu waktu itu. Tidak sabar menunggu libur akhir tahun nanti untuk bertemu dengan kamu lagi. Semoga hari itu segera tiba. Soalnya, setelah sampai Turki, rasanya saya ingin kamu memeluk saya lagi seperti saat di motor tadi, hehe. Begitulah, Kila jangan lupa jaga kesehatan kamu, ya. Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Irsyad seraya mengetikkan pesan chat ke Kila.
"Oiya, kamu tidak perlu membalas chat ini kalau kamu sangat sibuk. Saat tahu kamu sudah membaca pesan ini sudah membuat saya tenang, kok," sambungan chat Irsyad tadi.
Irsyad kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia mengangkat tangan kanannya yang di sana masih melingkar manis cincin pernikahannya. Ia ingat betul, saat memasangkan cincin itu ke Kila saat itulah ia bertekad untuk menjadi suami yang baik untuk Kila. Dan menurut Irsyad, cincin inilah simbol tekad itu.
Mendengar alasan Kila yang belum memakai cincin di jarinya, agak membuat Irsyad sedih. Tapi itu tidak tampak oleh Kila karena Kila sendiri juga tidak menatap Irsyad dalam posisi duduk di motor waktu itu. Ia hanya tidak ingin egois karena bisa saja keegoisannya membuat Kila terluka. Makanya Irsyad memutuskan untuk mengalah.
"Aa... Kila. Apa saya juga harus melepas cincin ini untuk mengimbangi kamu?" pikir Irsyad seraya melepaskan cincin itu dari jarinya. Ia meletakkan cincin itu di sebuah kotak dan di simpan di nakas samping ranjangnya. Ya, Irsyad memutuskan untuk mengimbangi Kila dengan sama-sama tidak memakai cincin nikah mereka. Mungkin inilah yang diinginkan Kila sebenarnya, pikir Irsyad.
...****************...
Hari Minggu kembali tiba. Kila yang sudah jarang mengunjungi rumah Citra karena kesibukan kuliahnya, hari ini menyempatkan datang. Ia juga jarang makan camilan, terutama camilan buatan Citra akhir-akhir ini.
"Bun, gimana? Kak Irsyad ada ngasih kabar kalau akan datang lagi di liburan akhir tahun?" ujar Kila yang sudah duduk di ruang keluarga rumah Citra.
"Nggak ada, Kil. Irsyad nggak ada ngabarin kamu?" tanya Citra.
"Nggak ada, Bun."
"Nggak usah, deh, Bun. Kila takut ganggu Kak Irsyad. Biar Kak Irsyad aja yang hubungi Kila duluan."
"Nggak ada yang namanya ganggu kalau cuma nanya yang begituan doang. Kalau merasa nanya lewat telpon mengganggu Irsyad, kamu coba tanya lewat chat. Pasti nanti bakal dibalas waktu Irsyad udah nggak terlalu sibuk."
Kila sama sekali tidak terpikir cara itu. Ia langsung menanyakan itu kepada Irsyad lewat pesan chat. Ia merasa tidak enak menghubungi Irsyad duluan. Karena biasanya Irsyadlah yang duluan memberi kabar. Kadang kalau Kila yang sibuk, barulah Kila membalas chat Irsyad dan menanyakan topik baru lebih dulu.
Baru mengetikkan ucapan salam dalam pesan chat itu saat terkirim langsung dibaca oleh Irsyad. Tak lama kemudian, Irsyad menelpon.
"Menjawab salam dari pesan chat kamu, Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa, Kila?" telpon langsung di loud speaker Kila.
"Aa, ini, Kila mau nanya. Kapan kakak akan kembali ke sini lagi? Apa waktu libur akhir tahunnya kakak udah siap? Kila udah siap UAS juga soalnya," ujar Kila.
Citra memperhatikan jenis komunikasi aneh yang diperlihatkan oleh Kila dan Irsyad saat ini. Ia mengerutkan keningnya karena keanehan ini.
"Kil, kalian masih berkomunikasi lewat telpon? Kenapa nggak video call aja? Kan lebih baik, bisa melihat wajah satu sama lain," saran Citra, akhirnya diungkapkan juga.
"Itu bunda, ya? Bunda ikut campur saja saat kita sedang bicara, haha," tawa Irsyad dari sebrang.
"Irsyad, jangan kamu pikir bunda nggak dengar apa yang kamu bilang, ya. Ini di loud speaker Kila soalnya," ancam main-main Citra.
"Kila, alihkan ke video call. Bunda mau memarahi Irsyad dulu. Bunda mau liat ekspresi wajahnya," seru Citra.
"Bun, Kila masih belum siap. Jangan memaksa Kila," potong Irsyad.
"Irsyad, bunda kembalikan kata-kata kamu. Jangan ikut campur saat bunda dan Kila lagi bicara," gertak Citra. Irsyad ciut dan menurut saja.
"Iya, Bun," kata Irsyad.
"Udah jangan ragu-ragu, Kila. Kalian tiap hari komunikasi, tapi nggak pernah video call, kan? Padahal usia pernikahan kalian udah hampir setengah tahun," seru Citra lagi menguatkan untuk Kila menurutinya.
Kila ragu menuruti kata Citra, tapi ia tetap melakukannya. Dengan malu-malu Kila memandang wajah Irsyad.
"Aa, rencana bunda memang ada untungnya buat saya. Saya jadi bisa lihat wajah cantik kamu meski sekedar dari ponsel saja," ucap Irsyad saat panggilan sudah beralih menjadi video call.
"Bunda, terimakasih banyak, ya. Irsyad jadi punya solusi untuk mengatasi rindunya Irsyad ke Kila selama ini," ucap Irsyad pada Citra.
"Iya iya. Kalau nggak bunda bantu mana ada dari kalian yang mau mulai video call duluan. Untuk kedepannya, jangan telponan aja, ganti dengan video call. Oke?" titah Citra ramah.
"Baik bundaku sayang," jawab Irsyad sedikit manja.
"Udah ah, bunda nggak jadi marahin kamu, Syad. Kali ini bunda mengalah, untuk memberikan kalian waktu privasi. Bunda nggak mau ganggu, deh. Bunda masuk dulu," pamit Citra.
"Jazakillahu khair, Bun," ujar Irsyad mengeraskan suara dari tempatnya.
"Jadi, kita masuk ke pertanyaan kamu tadi, ya, Kil. Sebenarnya itu masalahnya, sepertinya akhir tahun ini kita belum bisa berjumpa."
...****************...