
"Beri kesempatan?" batin Kila ragu. Ia terlihat termenung memikirkan ucapan Irsyad.
Sementara Irsyad, ia mengerti akan sulit meyakinkan Kila. Sangat sulit memaafkan dan memberikan kesempatan kepada orang yang sudah menggoreskan banyak luka di hatinya.
Karena giliran Kila bicara dikira telah selesai, Irsyad berinisiatif memulai gilirannya untuk menjelaskan apa yang terjadi dari pandangannya.
"Dengar..., saya bertemperamen buruk. Selama ini saya hanya berpikir dengan logika, sulit melibatkan perasaan. Namun, akhir-akhir ini saya mencoba melakukan keduanya bersamaan. Apa yang saya lakukan akhir-akhir ini memang tidak bisa saya elakkan, saya berusaha menjauh sementara dari kamu. Itu karena saya ingin mencoba mengerti kamu, karena setelah perdebatan waktu itu saya sempat tersulut emosi. Itu alasannya saya menjauh dari kamu, tidak ingin melampirkan emosi negatif saat bertemu kamu. Sudah saya bilang, saya bertemperamen buruk. Itu saja sudah cukup," ungkap Irsyad. Kila mendengar tak bergeming.
"Karena semakin merasa bersalah karena sudah tersulut emosi saat perdebatan waktu itu, saya juga memutuskan untuk tidak bercampur dulu dengan kamu, tidak tidur sekamar, tidak sarapan bersama. Saya takut dengan tempramen yang buruk ini akan ada sikap saya yang akan lebih menyakitkan hati kamu. Luka yang saya sebabkan saat perdebatan waktu itu akan lebih dalam lagi, itu yang saya pikirkan," sambung Irsyad.
"Ini sifat buruk saya, saat emosi sudah menguasai saya cenderung menyakiti dengan perkataan dan juga sikap. Sebenarnya saya juga mudah terbawa emosi, mudah kesal, mudah untuk menyakiti hati orang lain tanpa sadar. Saya minta maaf untuk itu. Saya juga tidak bisa mengontrol tempramen ini dengan baik. Sifat ini sudah ada sejak lama, sulit diubah dan hanya bisa dipahami. Saya mengharapkan kamu juga dapat paham dengan sifat buruk saya ini," lanjut Irsyad lagi.
Sepertinya penjelasan dari pandangan Irsyad tidak dapat meluruskan kesalahpahaman. Dari kedua sisi, Kilalah yang memang mengalami kesakitan yang lebih dibandingkan Irsyad.
"Soal makanan, makanan yang Kila buat itu gimana? Apa Kakak juga sengaja nggak mau makan masakan Kila?" Kila mencoba menginterogasi. Namun, pandangannya masih enggan menatap Irsyad.
"Tidak, Kila. Bukan begitu. Saya memang menghindari kamu, tapi saya tidak dengan sengaja meninggalkan bekal waktu itu dalam keadaan utuh. Saya memang sibuk, sampai saat ini juga kesibukan itu belum kunjung melandai. Bukan hanya pekerjaan sebagai dosen yang harus saya urusi, pekerjaan saya sebagai seorang wirausaha juga. Apalagi, ada masalah yang menimpa di salah satu toko yang saya buka. Karena mengerjakan banyak hal secara bersamaan, saya jadi tidak punya waktu untuk makan," jelas Irsyad.
"Tapi waktu malamnya, Kak Irsyad juga nggak makan malam di rumah. Lebih milih makan di rumah teman," tantang Kila kurang puas. Ia sudah berani mendongakkan kepalanya.
"Saya tidak bisa menolak. Sebagai penghuni baru di kompleks ini, saya juga harus bersilaturahmi dengan tetangga sesama kompleks. Apalagi, seringnya saya dan beliau berada di masjid menambah kuatnya alasan saya menerima ajakan beliau," jawab Irsyad. Sepertinya Kila puas dengan jawaban itu. Lantas, ia beralih menuju topik selanjutnya. Ia akan menanyakan semua hal yang selama ini membuatnya menitikkan air mata. Mendengar jawabannya agar ada kepuasan tersendiri setelah tahu yang sebenarnya terjadi.
"Waktu Kila izin mau liburan ke pantai, itu karena Kak Irsyad nggak mau tidur di rumah. Kak Irsyad ke rumah bunda, itu yang buat Kila pergi tiba-tiba ke pantai. Kila kesal, Kak Irsyad sampai harus meninggalkan rumah untuk menghindari Kila," ucap Kila marah. Ia berani menatap Irsyad langsung kali ini. Namun, giliran Irsyad kali ini yang tertunduk karena merasa bersalah.
"Iya, saya bisa mengerti. Saya akui kesalahan saya. Saya minta maaf," jawab Irsyad.
"Kak Irsyad nggak antar jemput Kila ke bandara. Nggak tanya kabar Kila suatu sampai di rumah kembali," tanya Kila tanpa jeda.
"Benar. Tapi saya sudah berusaha untuk mengatakan, menanyakan bagaimana liburan kamu di pantai tapi tertahan. Saya memang sedang tidak bisa mengantarkan kamu. Maaf jika kamu bosan mendengar ini, urusan yang harus saya selesaikan tidak bisa ditinggal," jawab Irsyad. Kini ia kembali menegakkan kepalanya.
"Kenapa Kak Irsyad pulang ke rumah bunda? Tidur di sana tiba-tiba, mengabari tiba-tiba," tanya Kila lagi tanpa jeda dan dikatakan dengan satu nafas. Menggambarkan bagian itu adalah bagian tersakit saat mengingat Irsyad enggan tidur atau bahkan enggan pulang ke rumah untuk menghindar dari Kila.
"Ya, maaf. Saya mengira ada yang salah dengan diri saya. Seperti tidak bisa mengontrol emosi dan sering kesal mengingat isi memo dan post it yang kamu tunjukan ke saya. Dengan pulang ke rumah bunda, saya pikir itu dapat menenangkan saya," jawab Irsyad tenang. Kila refleks memundurkan langkahnya karena merasa tersinggung dengan jawaban Irsyad. Tidak bisa dipungkiri, memo dan post it yang Kila buat itu sangat menohok dan tidak pantas ditujukan pada suaminya meski semarah apapun ia pada Irsyad.
"Lagi-lagi, maaf. Beri saya kesempatan lagi untuk melaksanakannya," jawab Irsyad sadar kesalahannya.
"Kak Irsyad pergi dengan mahasiswi ke kafe dekat kampus, Kila melihat kalian langsung. Kak Irsyad nggak ada mengabari Kila tentang hal itu. Kila bukan prioritas Kak Irsyad!" tantang Kila lagi. Topik yang membuat dirinya merasa bukan prioritas utama Irsyad, yang membuatnya berpikir negatif pula saat Irsyad jalan dengan wanita yang bukan mahramnya.
"Benar, saya bertemu dengan seorang mahasiswi di kampus. Namun, salah jika kamu mengira saya lebih memprioritaskan mahasiswi itu daripada kamu. Itu hanya urusan pekerjaan. Selain dia meminta bantuan saya untuk melihat skripsinya, dia juga bekerja paruh waktu di toko saya yang terkena masalah. Kami sering membahas bagaimana memecahkan masalah di toko itu. Tidak hanya saat itu saja saya bertemu dengannya, sempat beberapa kali selain hari itu. Maaf tidak mengabari kamu perihal itu. Saya tidak mungkin menjelaskan alasannya jika kamu sendiri sedang sibuk dengan skripsi milik kamu sendiri. Saya tidak ingin menambah beban pikiran kamu," ungkap Irsyad. Ia memelankan suaranya di akhir, berharap dengan begitu Kila akan mengerti dan tidak bertanya tentang urusan apa yang sedang Irsyad kerjakan.
"Jelaskan urusan apa yang kakak kerjakan sekarang! Apa yang menimpa Kakak sampai betah berada di ruang kerja itu!" tantang Kila tak mempan dengan tak tik Irsyad.
"Maaf, saya tidak bisa katakan. Saya tidak ingin menambah beban pikiran kamu, in syaa Allah saya bisa mengatasi sendiri," jawab Irsyad pelan tapi tegas. Namun, jawaban itu malah membuat Kila kesal.
Kila dengan air mata yang siap meluncur itu mendekati Irsyad. Menatap mata Irsyad dengan tatapan marah dan kecewa. Lalu ia memukuli Irsyad di bagian dada untuk menyalurkan kekesalannya. Pukulan yang pelan, tapi cukup lama dilakukan Kila. Sedangkan Irsyad, ia hanya diam menerima segala kekesalan Kila yang disalurkan lewat pukulan itu. Ia tidak ingin buka suara lagi setelah melihat sang istri lagi-lagi menitikkan air mata kesedihan.
"Kak Irsyad jahat! Kak Irsyad benar-benar jahat! Apa yang Kakak lakuin ke Kila jahat!" ucap Kila dipenghujung aksinya memukuli Irsyad.
"Ya, saya tidak bisa menyangkalnya," jawab Irsyad pelan.
Pukulan Kila terhenti. Ia menangis bersandarkan dada Irsyad. Sedang Irsyad mendekap Kila yang dikira sudah puas memukul pelan dirinya. Terlihat tidak ada balasan dari dekapan itu. Wajar saja, Irsyad tidak membalas sikap Kila yang sudah menyalim tangannya tadi.
Irsyad mengusap lembut kepala Kila dalam dekapannya. Membuat tangis Kila makin menjadi.
"Maaf," ucap Kila pelan dalam dekapan Irsyad. Irsyad yang bingung, menatap Kila memastikan apa yang Kila ucapkan.
"Kila minta maaf untuk memo sindiran yang Kila buat. Maaf udah berprasangka buruk. Maaf, Kila egois," ucap Kila memperjelas. Irsyad dapat mendengarnya meski Kila mengungkapkannya masih dengan suara yang pelan.
"Terimakasih, Kila." Kini giliran Kila yang heran dan mendongak melihat Irsyad.
"Terimakasih karena sudah berani mengambil langkah lebih dulu untuk mengembalikan suasana hangat rumah ini. Terimakasih sudah memberikan saya kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Dan maaf atas sikap dan sifat saya yang telah menyakiti hati kamu."
...****************...