Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Terjauhi



Irsyad sampai di rumah dengan keadaan hati yang tak biasa. Tidak tahu apa yang ia lakukan ini benar atau tidak, terlepas dari itu rasa ingin menolong Kila terus saja memburunya. Ada perasaan ingin melindungi Kila yang Irsyad belum sadar perasaan itu.


"Sepertinya aku sudah berlebihan karena terlalu dekat dengan murid. Aneh sekali, tidak pernah ada murid yang benar-benar ku pedulikan seperti dia selama ini." Irsyad yang sudah berpakaian lengkap setelah mandi kemudian membaringkan badannya ke ranjang dan menggaruk kepalanya gusar. Ia merenungi perbuatannya tadi dan sadar apa yang ia lakukan sudah tidak wajar. Ia mengakui kesalahannya dan kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa profesional menjadi seorang guru.


"Ya Rabbi, jauhkan hamba dari perbuatan yang tidak Engkau sukai," pinta Irsyad untuk menenangkannya.


...****************...


Irsyad memutuskan untuk tidak mengunjungi kelasnya lagi saat jam istirahat. Karena ia sadar dan merasa apa yang ia lakukan itu berlebihan. Murid yang ingin punya privasi saat istirahat akan merasa risih dengan kehadirannya terus menerus walau tak sampai lima menit. Ia memilih untuk menggantinya dengan menyuruh ketua kelas melapor kepadanya apabila ada hal yang penting yang bersangkutan dengan kelas. Dan sebenarnya, ia memilih untuk tidak ke kelas karena tidak ingin berhadapan dengan Kila. Pasti anak itu ingin mengucapkan terimakasih secara langsung lagi perkara perlakuan Irsyad semalam. Ia tidak ingin batas yang sudah dibuat itu terlewati dengan menjadi lebih dekatnya Irsyad dan Kila perkara ucapan terimakasih ini. Ia sedang berusaha mengembalikan batasan mereka bahwa Irsyad adalah seorang guru, dan Kila adalah muridnya.


Begitupun dengan Hari Selasa, Hari Rabu, dan sampai pada Hari Kamis di jamnya mengajar. Ia masuk dan memberikan tugas seperti biasa. Setelahnya ia tidak berurusan langsung dengan kelas. Ia menyerahkan masalah kelas pada perangkat kelas. Mereka diminta melapor apabila terjadi sesuatu yang bersangkutan dengan kelas. Dan kelas juga tidak merasa ada yang salah dengan sikap Irsyad, sebab ia selalu mengajar dengan ceria seperti biasanya.


Begitu terus sampai sebulan dan Kila menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi. Ia baru saja menepis perasaannya yang mengira bahwa Irsyad seperti menjauhinya. Karena mungkin dia akan menjadi salah paham lagi atas sikap Irsyad ini, jadi ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.


"Oke sampai sini dulu pelajaran kita, saya harap kalian mengulangi materinya saat kembali ke rumah masing-masing. Selamat dan semangat belajar, assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh." Irsyad mengakhiri kelasnya. Ia dengan cepat kembali ke ruangannya.


Ira dan Risa pergi meninggalkan Kila untuk keperluan masing-masing ekskul yang mereka jalani. Kila memang sudah biasa pulang cepat dan sendiri tanpa ditemani dua sahabat baiknya itu, tapi karena perasaan merasa terjauhi, kini Kila merasa kesepian saat sendiri di angkot yang menuju jalan pulang. Rasanya Kila ingin seseorang mendengarkan ceritanya tentang apa yang ia rasakan saat ini.


...****************...


Kila sudah sampai di rumahnya dengan disambut hangat oleh sang nenek. Nenek melihat raut wajah yang tak biasa dari cucunya. Ingin rasanya nenek menanyakan apa yang terjadi pada cucunya itu, tapi ia enggan karena Kila tidak akan bicara jika bukan ia yang bicara duluan. Kila memang terbiasa seperti itu, ketika punya masalah kemudian ia siap untuk menceritakannya, maka ia akan menceritakannya pada neneknya yang selalu setia mendengarkan ceritanya itu.


Kila sadar kalau neneknya ingin menanyakan apa yang terjadi pada dirinya. Sebab ia tahu bahwa neneknya sangat peka dengan tingkah laku yang tak biasanya. Kila lebih memilih untuk tidak menceritakan apapun pada nenek. ia merasa menceritakan lelaki terlalu senang itu sudah bukan seperti dirinya yang seperti biasa.


Kila berusaha bersikap kembali seperti biasanya. Ia berusaha memasang wajah cerianya karena tak ingin nenek khawatir.


Makan malam sudah siap, Kila menghampiri neneknya yang sudah duduk duluan di meja makan.


"Wah, nenek masak apa hari ini? Kayaknya enak," ucap Kila ingin menggoda nenek.


"Biasa aja," jawab Kila menahan tawa.


Tawa Kila pecah melihat tingkah neneknya. Habisnya, ia memanyunkan bibirnya seperti anak kecil dan merajuk pada Kila.


"Nggak, Nek, masakan nenek selalu enak, kok. Cuma ini kelihatannya lebih enak dari biasanya," ujar Kila memperbaiki mood neneknya.


"Iya, ya? Nenek sengaja sih, buat makanan yang lebih enak dari biasanya. Biar kamu nggak sedih sedih lagi. Abis makan, terus langsung deh bahagia," giliran nenek bercanda.


"Haha, apaan, sih, Nek? Siapa juga yang sedih? Lah barusan juga Kila ketawa, tuh." Kila merasa nenek berusaha membuat suasana hatinya menjadi ceria seperti biasanya, jadi ia berusaha berperan sebaik mungkin.


"Kamu ya, Kila. Kamu kira nenek nggak tahu? Ayo dong, kalau punya masalah cerita. Manatau nenek bisa bantu," ucap Nenek.


"Sebenarnya nggak terlalu penting juga, sih, Nek. Hari ini Kila merasa nilai pelajaran Kila menurun. Kemampuan Kila untuk menangkap penjelasan guru juga berkurang. Padahal udah konsentrasi dan fokus. Jadi, Kila merasa tertinggal dengan teman lain di kelas," Kila tidak berbohong. Memang itu juga merupakan pemicu sikapnya berubah hari ini. Akan tetapi, pemicu utamanya tidak ingin Kila ceritakan kepada neneknya.


"Kamu jangan kebanyakan belajar juga, Kila. Jalan-jalan ke mana gitu, kek, refreshing. Mungkin kamu lagi di ambang stress itu. Lagian, kamu nggak pernah juga nenek lihat cari hiburan lain, selain baca buku. Dan jangan maksain diri buat sempurna di semua mata pelajaran, Sayang. Kamu kadang nggak sadar kalau kamu capek, jadi jangan terlalu memaksa diri." Nenek memberikan saran terbaik yang ia bisa. Tapi nenek tahu, bukan hanya sekedar masalah itu saja yang menggangu Kila. Nenek sangat yakin, masalah yang satunya lagi yang membuat Kila mendapatkan masalah yang baru diceritakan Kila ini. Tapi nenek tidak ingin memaksa, Kila sudah bercerita seperti itu saja sudah cukup bagus. Dan cukup baik untuk mengurangi kesedihan Kila.


Kila berterima kasih kepada nenek karena sudah memberikan solusi dari masalah yang ia ceritakan. Kemudian mereka memulai untuk memakan makanan yang sudah dihidangkan di meja.


...****************...


Rabu Pagi, Kila yang hendak menuju kelasnya berpapasan dengan Irsyad. Kejadian ini mengingatkan Kila tentang hari pertama mereka bertemu. Bedanya, tidak ada sentuhan pisik apapun. Dan parahnya, Irsyad seolah menghindar dari Kila yang ingin menyapa. Kila melihat punggung Irsyad yang menjauhinya menuju arah sebaliknya. Seperti apapun ingin di tepis, perasaan seperti dijauhi itu sangat menyiksanya.


Rasa sakit akan terasa lebih sakit apabila dipikirkan. Jadi, Kila berusaha lebih keras lagi untuk tidak menganggap perilaku Irsyad tadi menjadi masalah besar baginya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan perasaan anehnya itu saat merasa di jauhi Irsyad dan memulai menyingkirkan segala hal yang bersangkut paut dengan beliaunya itu. Sekarang, ia hanya ingin fokus belajar.


...****************...