
Mereka sudah tiba di rumah dari toserba tadi. Kila mulai melepas jaket yang dipinjamkan Irsyad tadi.
"Kak, kakak masih ingat?" ujar Kila seraya melipat jaket itu.
"Soal apa? Kejadian tadi yang sempat kita tunda pembicaraannya? Sudah saya bilang, kalau saya masih mengingat kejadian itu. Ada apa dengan kejadian itu memangnya? Kami seperti sangat ingin membahasnya," balas Irsyad.
"Oiya? Berarti Kak Irsyad ingat, dong, tentang jaket yang waktu itu kakak pinjamkan ke Kila belum pernah Kila kembalikan," ucap Kila.
"Memangnya kamu belum mengembalikannya?" tanya Irsyad memastikan.
"Belum, Kak. Waktu itu mau langsung balikin, tapi Kak Irsyad kayak menjauh dari Kila gitu. Kila jadi kelupaan terus sampai sekarang. Sampai, Kila lupa kalau jaket itu masih sama Kila sampai sekarang. Besok Kila kembalikan, deh, jaketnya," jelas Kila.
"Hahahaha, saya teringat peristiwa itu. Maaf, ya, saya memang berusaha menjaga jarak waktu itu," balas Irsyad membenarkan.
"Boleh Kila tahu, kenapa Kak Irsyad menjauh saat itu? Jujur, Kila waktu itu sempat kepikiran. Bahkan, Kila ikut-ikutan ingin menjaga jarak dengan Kak Irsyad. Tapi, kita malah ketemu di mall lagi. Padahal, waktu itu Kila lagi nggak ingin ketemu Kak Irsyad, eh, malah ketemu di mall terus ditawari untuk nebeng, lagi," ujar Kila dengan jujur. Ia mulai terbiasa untuk mengungkapkan pikirannya sekarang. Padahal, ia tadi sempat berpikir akan sulit bicara lancar dengan Irsyad karena sudah lama tidak bertemu.
"Besok saja, ya. Sekarang kita masuk dulu ke rumah," balas Irsyad.
"Oiya, Kila. Karena ini sudah malam, lebih baik kamu menginap di sini saja tidur di kamar saya. Satu ranjang, sih, tapi itu jika kamu mau," tawar Irsyad.
Permintaan Irsyad adalah perintah suami yang mutlak. Memang tidak terbilang secara eksplisit kalau Irsyad meminta agar Kila tidur di kamarnya, tetapi tetap saja ucapan itu harus dipenuhi Kila sebagai seorang istri. Lagian, seperti yang Irsyad bilang bahwa ini sudah terlalu malam. Apa salahnya untuk tidur bersama pacar halal? Sudah halal, juga.
"Ya udah, Kila ikutin kata Kak Irsyad aja," ucap Kila menurut.
"Alhamdulilah, kalau kamu mau," respons Irsyad bahagia.
"Kenapa Alhamdulillah, Kak?" tanya Kila heran.
"Tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh bersyukur kepada Allah?" sangkal Irsyad.
"Iya iya, Kila nggak mau tanya lagi, deh. Mending kita langsung masuk dan istirahat, deh, Kak," ucap Kila mengakhiri. Mereka kemudian berjalan masuk ke rumah, lalu menuju ke lantai dua tempat kamar Irsyad berada. Namun, sampai di depan pintu kamar, Kila terhenti langkahnya dan tertinggal oleh Irsyad yang sudah masuk lebih dulu.
"Oke, ayo silahkan masuk Kila. Selamat datang kembali di kamar saya," ucap Irsyad memberi tanda agar Kila segera masuk juga.
Sudah pernah Kila masuk ke dalam kamar ini, tapi tetap saja masuk ke sini membuatnya berdebar. Ini mungkin kali keduanya Kila tidur di kamar Irsyad, tapi susunan kamarnya terbilang asing. Lagian, sudah dua tahun lebih ia tidak melihat kamar ini, pastilah ada tata susunan yang di ubah.
Sampai di dalam kamar, Kila memilih untuk duduk dulu di sebuah kursi. Sementara Irsyad, ia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu melaksanakan sholat witir dan akan dilanjutkan dengan membaca surah Al-mulk.
"Kamu mau ikut sholat dengan saya? Biar saya yang mengimami," tawar Irsyad pada Kila yang masih duduk. Kila dengan cepat menggeleng dan melempar senyum kepada Irsyad, menolak lembut.
"Ya Rabb... saya lupa. Padahal tadi ke toserba bersama. Maaf ya, Kila. Kalau begitu, saya tinggal sholat dulu," ujar Irsyad. Ia kemudian mengambil sajadah dan langsung ia bentang. Tak lupa memakai sarung dan kopiah sebagai alat wajibnya saat melaksanakan sholat. Lagi, saat seorang pria memakai setelan sholat itu, secara magis terpancarlah aura ketampanannya. Kila tak melepaskan pandangannya sedikitpun melihat Irsyad, tidak ingin ia melewati kesempatan untuk memandang kekasih halalnya itu di saat paling tampannya.
Melihat Irsyad melaksanakan sholat membuat Kila ingin menjadi makmumnya. Sayang sekali, di saat seperti ini tamu bulanannya datang. Ia hanya bisa memperhatikan saja.
Selesai Irsyad shalat, ia mengambil mushaf Al-Qur'an yang sudah standby di nakas samping ranjangnya. Melanjutkan untuk membaca surah Al-mulk.
"Kamu sedang tidak bisa membaca Al-Qur'an, kan? Biarkan suara mengaji saya menjadi pengganti murottal surah Al-mulk kamu," ujar Irsyad sebelum memulai bacaannya.
Memang membaca surah Al-mulk sebelum tidur tidak pernah sekalipun Kila tinggalkan karena begitu banyaknya manfaatnya. Dalam keadaan datang bulan, ia mengganti kebiasaan membaca surah Al-mulk nya dengan mendengarkan murottalnya. Kali ini, Irsyad menawarkan Kila untuk menyimak bacaan Al-mulk Irsyad, rasanya Kila sangat bersyukur mendapatkan Irsyad.
Bacaan Al-mulk yang begitu menyentuh. Tidak berbeda indahnya dengan adzan yang Irsyad lakukan waktu pertama kali mereka bertemu. Suara itu seperti menyihir Kila dan membuat kekaguman Kila pada Irsyad makin bertambah. Jika kebanyakan orang jatuh hati pada pandangan pertama, atau sentuhan pertama, Kila jatuh hati pada lantunan adzan pertama yang dikumandangkan Irsyad. Jatuh hati dengan mendengar, tanpa melihat ataupun menyentuh.
"Saya izin duluan tidur, ya. Soalnya lelah sekali hari ini. Kamu kalau mau apa-apa di kamar ini jangan sungkan. Kamar ini kamar kamu juga," ujar Irsyad saat ia sudah merapikan seperangkat alat sholatnya.
"Kak, Kila pinjam kamar mandinya, ya," ucap Kila yang kemudian mencegah Irsyad yang ingin langsung memakai selimutnya.
"Sudah saya bilang, jangan sungkan, Kila," ucap Irsyad menegaskan kembali. Lalu meninggalkan Kila untuk langsung memasuki alam mimpi.
"Duh, kayaknya aku membuat Kak Irsyad jengkel. Tapi, izin ini perlu ia ucapkan. Soalnya, keperluan kewanitaanku membuatku akan lama di kamar mandi nanti. Aku kan takut kalau Kak Irsyad tiba-tiba kebelet pas aku masih di kamar mandi. Tapi ya udah, lah. Nggak harus aku jelasin juga. Kak Irsyad udah lelah dan pengen cepat-cepat tidur," ucap Kila pelan, bicara pada diri sendiri.
Kila masuk ke kamar mandi, benar-benar lama. Mungkin setengah jam bukan waktu yang lama, tapi hanya untuk keperluan kewanitaannya saja ia terlalu lama di dalam kamar mandi itu.
Setelah keluar kamar mandi, sekarang Kila bingung untuk ikut masuk ke ranjang. Ia takut akan membangunkan Irsyad saat mencoba naik ke ranjang.
Dengan gelagat seperti maling yang penuh kehati-hatian, ia mencoba masuk ke dalam ranjang. Memperhatikan Irsyad berkali-kali agar gerak-geriknya tidak menggangu tidurnya Irsyad.
Akhirnya, kelegaan datang saat Kila sudah benar-benar di ranjang. Selimutpun sudah ia pakai. Saatnya ia juga ikut tidur. Tapi, saat ia baru memejamkan matanya, Irsyad berulah. Saat tidur begini, bisa-bisanya ia menyerang Kila. Padahal, Kila membuat posisi tidur yang membelakangi Irsyad.
"Duh, gimana bisa tidur kalau di peluk dari belakang gini? Bisa-bisa lemas aku karena kehabisan pasokan energi karena jantung yang terus berolahraga. Kak Irsyad, ih. Saat tidurpun, tingkahnya tidak bisa ditebak," batin Kila berucap.
...****************...