
Setelah ucapan penuh kejutan yang diutarakan oleh Irsyad, Kila berusaha keras menata hatinya yang berantakan. Siapa lagi penyebab kekacauan di hatinya Kila yang berantakan itu selain Irsyad? Bisa-bisanya perkataan yang dilontarkannya itu dianggap Irsyad sebagai sesuatu yang biasa saja? Sementara Kila, ia kelabakan menyikapi maksud perkataan Irsyad itu. Dan beberapa saat setelah kejadian itu, Kila dan Irsyad pulang ke rumah Citra dengan biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Jadi, kamu mau kita pindah ke rumah itu bersama saya secepatnya, kan? Saya juga sudah bilang juga dengan ayah dan bunda. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dengan kos kamu itu," ujar Irsyad. Mereka sedang berada di ruang tamu rumah Citra. Di rumah hanya ada mereka berdua, karena Citra dan Erwin pergi berkencan di luar. Tak lain dan tak bukan, destinasi kencan orang tua Irsyad itu adalah supermarket dan tujuan ke sana adalah membeli keperluan bulanan untuk anak kos. Tetap saja, pergi berdua itu dikatakan kencan bukan?
"Iya, boleh deh, Kak. Kila ikutin apa yang Kak Irsyad bilang aja. Kapan aja bisa," jawab Kila. Sudah satu pekan sejak mereview rumah itu, perabotan rumah juga sudah lengkap diisi. Tinggal manusianya saja yang dipindahkan. Jadi, Kila setuju-setuju saja untuk secepatnya pindah bersama Irsyad ke rumah itu.
"Kamu tidak keberatan?" tanya Irsyad memastikan.
"Nggak sama sekali, kok, Kak. Jadi, kapan kita mau pindah?" balas Kila meyakinkan.
"Semua keperluan dan perabotan rumah sudah ada di rumah, jadi lebih cepat lebih baik. Kamu juga sudah masuk kuliah. Jadi, besok kita pindah, ya?" ucap Irsyad mengajukan.
"Hah? Besok, Kak?" tanya Kila terkejut Dengan hari pindah yang diajukan Irsyad.
"Iya, kamu tidak keberatan, kan? Soalnya, kamu bilang bisa kapan saja tadi," jawab Irsyad.
"Iya, sih. Tapi, nggak bisa besok juga kali, Kak. Kila banyak yang belum di packing buat di taruh dalam rumah," balas Kila sedikit kesal. Karena mulai terbawa emosi, Kila meneguk air putih yang sudah ia tuangkan lebih dulu, berharap dapat mengontrol emosinya.
"Nah, itu kesalahan kamu. Kenapa tadi kamu bilang kalau kamu bisa kapan saja? Giliran saya mintanya besok, kamu terkejut, kan?" ucap Irsyad yang makin membuat Kila kesal mendengarnya.
"Ya, tapi..., Kila pikir Kak Irsyad nyuruh siap siap dulu, gitu. Satu minggu lagi baru pindah, gitu? Kalau besok wajar aja dong tiap orang bakal terkejut. Iya, kan?" respons Kila kesal namun nada bicaranya ia lambatkan. Jadi, tidak ada ucapannya yang meninggi saat membalas ucapan Irsyad.
"Saya tidak terima penolakan," ucap Irsyad lembut meski isi kalimatnya adalah pemaksaan.
"Kakak kok jadi diktator gitu, sih?" tanya Kila manja namun isi hatinya kesal. Ia hanya mencoba untuk tidak meninggikan suaranya saat bicara dengan sang suami.
"Hahahaha, saya senang lihat muka kesal kamu. Nanti saya bantu kamu packing, kok," ucap Irsyad senang. Dari awal Irsyad memang memancing emosi Kila, tapi ia mengaku kalah karena Kila ternyata sangat pandai mengatur emosi dan tidak menunjukkan amarahnya sedikitpun pada dirinya.
"Beneran, nih?"
"Iya, Kila."
"Tapi Kila nggak yakin kalau kita bakal cepat selesaikan packingnya, Kak."
"Kenapa nggak yakin?"
"Tidak masalah. Jika kita gigih dan mentargetkan akan segera selesai, pasti kita bisa. Lagian, barang anak kos tidak mungkin sebanyak seperti menginap di rumah sendiri."
"Siapin hati aja, deh, Kak."
"Mana ada yang bawa barang dikit di fasilitas kos yang komplit begini." Kila berucap di batinnya. Kila masih kesal dengan Irsyad yang terlihat tidak mau kalah. Ia lebih memilih mengalah, karena mengalah bukan berarti kalah.
...****************...
"Huh... barang kamu banyak juga, ya, ternyata?" ucap Irsyad setelah selesai dengan membereskan barang-barang Kila. Ia tampak kepanasan dengan mengipas-ngipas tangannya yang hanya mengeluarkan angin yang sedikit untuk mendinginkannya.
"Tuh, kan, Kila bilangin juga apa?" ucap Kila. Ia yang mengerti kalau Irsyad kepanasan membesarkan volume kekencangan kipas angin dan mengarahkan langsung ke Irsyad.
"Saya cuma mau bilang saja, bukan berarti mengeluh. Lagian kita sudah membereskan semuanya, kan? Seperti yang saya bilang, kita bisa selesaikan dalam satu hari. Dan karena sudah beres, kita siap pindah besok," balas Irsyad dengan nada sedikit bangga.
"Dan itu karena Kak Irsyad bantu, iya? Kakak mau bilang gitu, kan? Ketara banget dari nada bicara Kak Irsyad waktu ngomong gitu. Kalau gitu, Kila ucapku terimakasih banyak atas bantuannya, deh," ujar Kila menyeimbangi nada bangga Irsyad.
"Kila..., kamu seperti tidak ikhlas mengucapkan terima kasih itu," tegur Irsyad lembut.
"Ya Rabb..., Kila ikhlas, lho. Emang darimana kedengarannya nggak ikhlas ngucapinnya?" respons Kila refleks dengan nada sedikit tinggi.
"Dari ucapan kamu. Tidak ada lembut-lembutnya, juga tidak ada ketulusan saat mengucapkan terimakasih itu. Dan..., di sini juga ada AC, kenapa kamu cuma menggunakan kipas angin saja untuk membuat saya tidak kepanasannya lagi? Padahal, dua-duanya bisa dipakai bersamaan," jelas Irsyad menggurui. Sosok Irsyad yang seperti ini seketika mengingatkan Kila saat Irsyad masih menjadi gurunya dulu. Tanpa aba-aba, senyum Kila merekah sejenak. Lalu, ia kembali ke masa saat ini, ia harus mengikuti apa yang Irsyad bilang, menyalakan AC sesuai permintaan si guru yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
"Ya udah, deh, Kila ulang. Benar juga kata Kak Irsyad, ucapan Kila seperti tidak ikhlas kedengarannya. Dan Kak Irsyad udah puas, kan? AC nya udah Kila hidupkan, dan kipasnya juga nggak Kila matikan."
"Terimakasih banyak atas bantuannya hari ini, Kak. Hari ini benar-benar melelahkan. Semoga, kelelahan dari kebaikan kakak di balas kebaikan yang lebih lagi oleh Allah SWT. Jazakallahu khair, Kak," lanjut Kila.
"Wa iyyaki, Kila. Saya juga berterimakasih sama kamu karena sudah mau mengikuti permintaan saya. Kamu ingin makan apa setelah ini? Kata orang, kalau sudah kelelahan, tenaga akan pulih kembali jika makan banyak. Jadi, biarkan saya mentraktir kamu sebanyak apapun makanan yang ingin kamu makan."
"Wah..., beneran, Kak? Asyiiik, Alhamdulillah,. Terimakasih banyak ya, Kak," ucap Kila bahagia sembari secara refleks memeluk Irsyad, membagi kebahagiaan yang ia rasakan. Irsyad juga membalas pelukan itu seraya mengusap-usap lembut kepala Kila dan mengecup kening Kila sesekali. Duh, romantis sekali pasutri satu ini.
Karena sudah sangat kelelahan, mereka tidak makan di sebuah restoran atau tempat makan lainnya. Mereka memutuskan untuk memesan food delivery dengan menu yang seabrek dari berbagai rumah makan. Siapa lagi yang memesan sebanyak itu selain Kila. Irsyad hanya bisa membiarkan Kila. Jika dengan hal sesederhana itu bisa membuat Kila senang, maka berapa kalipun Kila ingin memesan lagi Irsyad akan membiarkannya. Dengan melihat Kila bahagia, Irsyad juga ikut bahagia.
...****************...