Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bertemu dan Bersapa



Hari ini hari Minggu. Semenjak memutuskan untuk tinggal bersama, mereka sepakat untuk mengunjungi orangtua Irsyad di Hari Minggu. Biasanya juga di Hari Minggu itu Citra banyak membuat camilan, jadi ada lebih banyak keuntungan bagi Kila.


Kila dan Irsyad sudah sampai di rumah Citra. Mereka masuk dan mengucapkan salam bersamaan. Namun, tampaknya bukan sang pemilik rumah yang menjawab salam itu. Ia adalah Farhan yang sudah santai di atas sofa ruang keluarga ditemani beberapa camilan di atas meja.


"Wah, Farhan ada di sini juga ternyata. Kamu habis numpang makan atau habis numpang tidur, Han?" sapa Irsyad kepada Farhan.


"Hahaha, Kak Irsyad, malu tahu. Dua-duanya, hehe. Mana ada Kila lagi, jadi tahu sifat Farhan jadinya," jawab Farhan.


"Kila memang udah tahu kok, Kak," balas Kila ikut tertawa.


"Tuh, ngapain malu, Han. Hahaha. Sudah dari tadi ada di sini? Ayah sama bunda mana?" tanya Irsyad. Ia memang menyadari orangtuanya tidak ada di rumah. Karena, di jam segini pasti dua orangtuanya itu sibuk di dapur dan ruang keluarga.


"Nah, selain numpang makan dan numpang tidur, Farhan di suruh jaga rumah juga sama ayah dan bunda. Soalnya tadi pagi sekitar jam tujuh gitu, ada anak kos yang datang ke sini. Katanya, dia sakit dan minta obat ke bunda. Ya udah, bunda kasih obatnya yang ada di rumah. Tapi, obat itu sepertinya belum cukup karena anak kos itu masih menunjukkan gejala yang sama. Dan sekarang, ayah sama bunda membawa anak kos itu ke rumah sakit, Kak. Farhan bisa tebak kalau bunda khawatir dengan kondisi anak kos itu," jelas Farhan.


"Belum lama pergi dong, berarti?" ucap Irsyad.


"Iya, Kak. Mungkin jam sebelas nanti pulang untuk ayah persiapan sholat Zuhur," balas Farhan menebak.


"Ya udah, bukan masalah, kan, Kak? Lagian, kita di sini sampai sore. Kita doain sama-sama semoga anak kos itu nggak kenapa-kenapa. Ayah dan bunda juga, semoga mereka baik-baik aja," ucap Kila menenangkan.


Kalau Kila dan Irsyad sedang berada di rumah mereka, atau di rumah Citra sekarang hanya ada mereka berdua, Kila pasti sudah mengusap punggung badan Irsyad untuk menenangkan Irsyad. Ada rasa kekhawatiran di wajah Irsyad, dan Kila tahu itu serta ingin menenangkannya. Sayang, kemesraan itu tidak boleh ditunjukkan. Memamerkan sedikit perhatian khusus meski sudah halal pun akan membuat penyakit 'ain bagi orang yang melihatnya. Penyakit itu adalah sesuatu yang menimbulkan rasa terlalu kagum atau rasa iri. Apalagi, orang itu adalah Farhan yang pernah mengungkapkan perasaannya pada Kila dulu. Kila berhati-hati menjaga perbuatan di depan Farhan karena tidak enak dengannya. Sebagai gantinya, Kila memilih memberikannya perhatian lewat perkataannya dibanding dengan fisiknya.


"Jadi, sekarang Kakak dan Kila udah memutuskan untuk tinggal bersama, ya? Udah lama dong pindahnya? Nggak ada ngasih kabar ke Farhan juga, tuh. Kalau Farhan nggak ke tempat bunda semalam, mana ada yang kasih tahu Farhan tentang ini," ujar Farhan.


Ujaran yang dikemas dengan begitu baik. Sebenarnya Farhan terusik dengan ketidakhadiran Kila semenjak ia pindah. Ia yang belum mengetahui berita kepindahan itu memutuskan untuk ke rumah Citra dengan alasan ingin menginap dan menumpang makan, padahal ia ingin tahu cerita sebenarnya. Ia juga ingin bertemu Kila karena telah lama tidak bertemu, makanya ia datang di Hari Minggu yang menjadi tebakannya kalau Kila pasti akan datang bersama Irsyad, dan itu ternyata benar.


"Belum sampai sebulan, Han. Baru dua pekan ini lama pindahannya. Oiya, kamu kalau mau main-main ke rumah, silahkan. Pintu rumah terbuka lebar untuk kamu, Han," balas Irsyad dan menawarkan. Farhan hanya mengangguk senang menanggapi tawaran itu.


Seperti ada kata kecerobohan yang Irsyad ucapkan, dan Farhan menyadari itu. Bagaimana jadinya nanti kalau Farhan mengunjungi rumah mereka, sedangkan hanya ada Kila saja yang di rumah. Irsyad yang biasanya, harusnya mengajak Yuli juga, tapi Irsyad tidak mengatakan hal itu dalam tawarannya barusan.


...****************...


"Akhirnya, ya, Akil," ujar Ira.


"Akhirnya apa, Ra?" tanya Kila bingung.


"Iya..., akhirnya kalian tinggal di satu atap juga. Akhirnya bisa disebut suami istri juga, hahahaha," jawab Ira meledek. Kalau dipikir-pikir, mereka jarang sekali bertemu akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing. Mendapat ledekan itu dari Ira bukannya membuat Kila jengkel, malah ia rindu masa-masa mereka saat sering menghabiskan waktu bersama.


"Ira, penyakit kamu kambuh lagi, tuh. Suka banget ngegoda Kila kayak gitu. Kasihan tahu Kilanya," bela Risa untuk Kila. Dan sekarang, Kila begitu merindukan masa-masa yang mereka bertiga habiskan bersama. Tiba-tiba saja, Kila merangkul dua sahabatnya itu setelah pembelaan yang dilakukan oleh Risa.


"Kita ke kafe yuk, guys. Kangen banget sama kalian," ucap Kila yang masih merangkul.


"Kamu kangen banget sama kita atau emang lagi laper, Kil?" tanya Risa dengan nada juteknya.


"Iih, kamu juga kambuh tahu sifat juteknya, Ris. Kalau Akil bilang gitu, berarti memang Akil beneran kangen banget sama kita, Ris," tanggap Ira membalikkan kata-kata Risa yang ditujukan padanya tadi.


"Umm..., aku kangen banget sama kalian, sih. Tapi aku juga nggak bisa bohong kalau aku juga laper. Jadi, ngobrol bareng dua sahabatku ini enaknya memang di kafe. Sambil nostalgia, sambil isi perut juga. Cocok, nggak?" ucap Kila menengahi.


"Ya udah, ikut kamu aja, deh, Kil," balas Risa.


"Iya, Akil. Kalau di dalam rumah mulu, nggak puas nostalgianya. Kamu juga masak makanan buat porsinya Pak Irsyad aja, tadi. Mana nggak ada camilan juga di rumah kamu. Pasti kamu abisin stok camilannya, kan, Akil? Jaga tubuh tahu, buat suami," susul Ira.


"Apaan, sih, Ra," respons Kila agak malu. Melihat Kila yang merespons seperti itu, membuat tawa dua sahabat itu pecah. Cara seperti ini masih ampuh ternyata untuk melihat ekspresi lucu Kila, pikir Ira dan Risa.


Mereka kemudian menuju ke sebuah kafe dekat kampus. Ira dan Risa masih sering berbonceng. Untuk mengimbangi itu, kali ini Kila juga membawa motornya menuju kafe yang dimaksud. Masalah izin dengan Irsyad, Kila berencana untuk memberitahukannya melalui pesan singkat saja nanti. Dengan mengabarinya seperti itu, Irsyad pasti akan langsung mengerti dan mengizinkannya untuk hari ini dirinya pulang sendiri dengan menggunakan motornya setelah kelas selesai. Setidaknya, itulah yang Kila pikirkan. Lalu, ia memutuskan untuk menyingkirkan pikiran lain dan fokus untuk bernostalgia dengan dua sahabatnya itu. Suasana kafe yang sangat mendukung itu membuat mereka bertiga tak kehabisan topik pembicara mengenai masa-masa SMA mereka yang banyak mengukir kenangan.


...****************...