
Semenjak Kila lulus dari beban SKS nya, ia sering menghabiskan waktu dengan dua sahabatnya untuk mengisi waktu kosongnya. Habis, mau apa lagi ia kerjakan? Masalah skripsinya sudah selesai, tinggal menunggu waktu wisuda tiba. Urusan rumah dan bisnis dropship miliknya juga belum bisa mengisi banyak waktu kosong Kila yang tersisa. Untung Kila masih mempunyai dua sahabat seperti Ira dan Risa yang mau menemani Kila mengisi waktu kosongnya.
Mereka hari ini memutuskan bertemu di kafe dekat kampus. Kafe yang sama saat Kila melihat Irsyad dengan Nabila. Ada motif tambahan juga memilih tempat itu selain mengisi waktu kosongnya dengan sahabatnya.
Saat sudah duduk di perguruan tinggi, kesibukan Ira tidak berubah seperti saat ia masih SMA. Terlihat seperti sekarang, Kila dan Risa harus duluan sampai di tempat janjian mereka karena Ira masih melakukan rapat organisasi. Memilih tempat ini adalah pilihan bagus, Ira tidak perlu jauh-jauh pergi karena tempat pertemuan mereka itu tidak jauh dari kampus. Jadi, Ira tidak harus menambah kelelahannya lagi.
"Makan duluan aja kali, Kil. Kayaknya kamu udah nggak sanggup lagi kalau harus nungguin Ira dulu." Risa melihat Kila yang celingukan. Ia malah mengira Kila kelaparan, padahal tidak seperti itu.
Kila menyembunyikan motif lainnya, yaitu ingin melihat ada tidaknya Irsyad di tempat ini. Tapi untungnya Risa malah berpikir kalau Kila kelaparan, Kila jadi memiliki alasan atas sikap celingukan-nya tadi. "Hehe, kamu tahu aja, Ris," respons Kila.
Untuk tidak membuat sahabatnya curiga, Kila memesan makanan seperti kata Risa. Sedangkan Risa, ia hanya memesan minuman lenih dulu. Menunggu Ira datang, baru memesan makanan.
Makanan datang. Namun, ada yang datang lagi selain makanan. Sosok yang keberadaannya tak disukai oleh dua orang itu, kenapa ia menghampiri meja Kila dan Risa? Apa maunya?
"Eh, ketemu Kila di sini. Nggak sama Kak Irsyad?" sapa sinis Yuli. Kila hanya menyapa balik dengan senyuman. Entah apa tujuan Yuli menghampiri. Kila hanya berusaha ramah, sedangkan Risa tidak bisa menunjukkan keramahannya.
"Ooh, kenapa aku mesti tanya, ya? Kak Irsyad, kan, sibuk sama cewek yang sering dia bawa ke sini itu, si Nabila. Tadi juga, aku baru liat Kak Irsyad dan Nabila di parkiran. Kayaknya, si Nabila masuk ke dalam mobil Kak Irsyad juga, deh. Pasti mau di antar pulang. Wajar aja kalau Kak Irsyad nggak bisa menemani istri sahnya ke sini. Atau, sekedar untuk mengantar ke tempat ini pun Kak Irsyad tak mau. Kasihan banget kamu, Kila." Baru saja datang, Yuli sudah menyulut api.
"Kamu nggak ada pertimbangin omongan aku waktu itu? Kamu malah biarin Kak Irsyad terus-menerus bertemu dengan Nabila di belakang kamu. Coba kamu langsung sigap setelah dapat beritanya dari aku, pasti kamu nggak bakal makan hati kayak gini. Kamu nggak mau tanya ke Kak Irsyad karena terlalu percaya, atau karena kamu memang nggak cinta sama Kak Irsyad, makanya kamu nggak peduli apa yang Kak Irsyad lakuin di belakang kamu." Kalimat yang dilontarkan selanjutnya malah lebih nyelekit.
"Nggak usah di denger, Kila. Bisa jadi dia bohong. Tebelin kuping kamu. Oiya, aku ada headset nih, sebentar aku ambil." Risa benar-benar tidak dapat menunjukkan sikap ramah. Ia benar-benar mencari headset miliknya untuk dipakai Kila. Tentu saja hal itu membuat Yuli tersulut emosinya.
"Eh, apaan sih. Siapa yang bohong? Mana mungkin aku bohong soal Kak Irsyad. Aku benar-benar lihat dengan mata kepala sendiri," ujar Yuli marah. Tatapan matanya tidak senang saat melihat Risa.
"Terus, apa tujuan Anda bicara seperti itu ke Kila? Mau merusak rumah tangganya dengan cara provokasi seperti itu? Atau, ada niatan di hati Anda untuk merebut suami Kila, karena diam-diam Anda mencinta suami orang dan berharap dapat mencurinya dari istri sahnya, iya?" Risa menerima tatapan tidak senang itu, dan memberikan tatapan tidak senang pula ke arah Yuli. Risa menantang Yuli.
"Jaga bicara kamu, ya!" Yuli merasa kesal dengan ucapan Risa.
"Ris, udah." Kila berusaha menengahi melalui sisi Risa. Namun, Yuli yang merasa sangat kesal itu bersiap mengeluarkan kekesalannya.
"Siapa yang cinta sama suami orang? Aku bilang begitu ke Kila cuma buat ngingetin doang, kok. Aku sayang sama Kak Irsyad sebagai seorang kakak karena udah mau main sama aku dari kecil. Nggak mau Kak Irsyad salah jalan, makanya aku bilangin ke istri sahnya karena nggak berani ngomong langsung ke Kak Irsyad. Lagian, aku juga udah punya pasangan sendiri, kok. Dalam waktu dekat ini juga aku bakal jadi istri orang, jadi tenang aja ya, sahabat yang sok pahlawan, mana mungkin aku menghancurkan rumah tangga orang," jelas Yuli untuk menentang ucapan Risa sebelumnya.
"Ya udah, bagus kalau bakalan nikah. Kalau bisa secepatnya. Kasihan pasangan Anda. Oiya, lebih baik rubah sikap dan sifat Anda, takutnya pasangan Anda nanti tidak betah menjadi suami Anda dan malah melakukan pertemuan dengan wanita lain di belakang Anda, seperti yang Anda utarakan tentang suami Kila," balas Risa ketus. Kini ia sudah menjadi tak terkendali jika sudah kesal dengan sikap seseorang.
"Ris, istighfar...! Jangan bawa-bawa masalah pribadi. Itu udah melewati batas, Ris." Kila menegur Risa cukup tegas. Membuat Risa refleks memberhentikan tatapan tidak sukanya pada Yuli. Sementara Yuli, ia tetap menatap Risa dengan penuh ketidaksukaan.
Yuli yang juga malas melanjutkan perdebatan itu ingin segera mengakhiri. Ia berkata, "Eh, Kila. Bilangin sama sahabat kamu yang sok pahlawan ini. Jaga bicaranya. Hijab yang tak bersalah itu jadi ternoda karena gaya bicaranya yang tak seharusnya ditunjukkan oleh wanita berhijab." Yuli lalu berlalu pergi meninggalkan meja Kila dan Risa.
Risa sigap berdiri mendapat penghinaan terakhir dari Yuli. "Jangan salahkan hijab saya!" Risa memekik. Sementara Yuli tak menghiraukan.
"Gimana nggak disalahkan? Kamu membuat orang berpikiran seperti itu. Mengaitkan hijab yang tidak bersalah dengan pribadi yang mengenakannya. Sudah Risa, kamu istighfar. Terimakasih udah mau membela aku, tapi itu tadi cukup kelewat batas. Kamu juga melenceng dari tujuan yang awalnya mau membela aku, malah tersulut emosi dan cenderung mencela," tegur Kila lebih lembut agar sampai ke hati Risa.
"Astaghfirullah...," batin Risa berucap.
"Nih, minum dulu, Ris. Biar lebih tenang." Kila menyuguhkan minuman miliknya yang sebelumnya sudah dipesan. Risa yang mengerti itu mengambil minuman, tapi bukan milik Kila, ia meminum miliknya.
"Aku juga nggak setuju Kak Yuli menyalahkan hijab kamu. Tapi di posisi tadi, lebih baik kita menghindari perdebatan. Karena perdebatan itu sangat disukai oleh setan. Makanya aku lebih milih diam dan menerima semua ucapan yang dilontarkan Kak Yuli," Kila berusaha menenangkan.
"Tapi terimakasih banyak, ya, Ris. Kamu begitu berani membela aku. Kamu juga berani menentang sesuatu yang tidak bisa aku tentang. Terimakasih banyak, Ris," imbuh Kila. Risa merasa senang dan melemparkan senyum sebagai balasan.
"Ternyata benar, Kak Irsyad ke sini lagi bersama Nabila." batin Kila risau.
...****************...