
Sudah lama Kila tidak melihat kedua orangtuanya di rumah sejak peristiwa hujan waktu itu. Di Hari Minggu pun, mereka lebih sering berada di luar kota sekarang. Tampak jelas bahwa usaha mama dan papanya itu sedang menuju puncaknya, jadi mereka sangat sibuk sekarang. Kila merindukan mereka, tapi ia sedikit menahan diri. Mereka ini hubungannya kaku sekali, karena jarang bertemu itu. Mengabari melalui handphone juga tidak pernah, jadi Kila hanya mendoakan dan menerka bahwa kedua oragtuanya itu pasti dalam keadaan baik. Kila yakin Allah pasti melindungi keduanya.
Kila sedikit termenung dikursinya. Entah kenapa melamun kini seolah menjadi hobinya. Sepertinya ia memutuskan untuk langsung pulang saja di jum’at kali ini. Ia juga sedang kedatangan tamu bulanan, jadi kebiasaan jum’atnya setelah pulang sekolah tidak ia lakukan pekan ini. Ia juga ingin segera bertemu neneknya untuk mengobati rasa rindunya pada mama papanya. Setidaknya, dengan bercengkrama dengan nenek dapat mengalihkan perhatiannya dari rindu yang membelenggu.
“Assalamu’alaykum,” ucap Kila saat memasuki rumah.
Tidak disangka, yang menjawab salam Kila adalah Riska yang tengah membaca sebuah buku di ruang keluarga. Kila langsung bersemangat untuk menghampiri mamanya itu. Ia juga mencari sang nenek, namun belum kelihatan. Karena biasanya neneknyalah yang menyambut salam Kila.
“Mama, udah pulang? Sejak kapan?” tanya Kila yang sebelumnya sudah mencium tangan Riska.
“Tadi, jam sepuluh,” jawab Riska singkat.
“Ooh, papa mana?” tanya Kila lagi.
“Udah ke mesjid untuk sholat jum’at.”
“Kalau nenek, kemana, Ma?”
“Itu mama kurang tahu, katanya mau pergi keluar sebentar. Tapi, nggak ada bilang mau kemana. Mama mau nawarin untuk anter nenek, tapi ditolak. Jadi, tadi nenek perginya naik taksi online.”
“Tumben nenek keluar nggak ngabarin Kila. Pergi kemana, ya, nenek?”
“Kita tunggu aja di rumah.”
“Hmm ya udah, deh. Ma, Kila pamit ke kamar dulu, ya, mau ganti baju.”
“Iya.”
“Nenek kenapa aneh, ya, hari ini? Tumben banget nggak ngabarin aku kalau mau pergi, gitu. Aku hubungi nenek saja, kali, ya?” Batin Kila bersuara seraya berjalan menuju kamarnya.
...****************...
Sampai dikamar setelah ganti baju dan menyusun bukunya, Kila membaringkan tubuhnya di ranjang. Berposisi telentang sambil mencari kontak sang nenek untuk mengetahui keberadaannya.
“Halo, assalamu’alaykum, Nek, nenek di mana sekarang?” tanya Kila di telepon.
“Wa’alaykumussalam, Kil. Nenek lagi main ke tempat teman. Menjenguk, soalnya sedang sakit keras, Kil. Kamu jangan bilang sama papa dan mama kamu, ya,” jawab nenek.
“Nenek kenapa nggak ngabarin aku, sih? Aku khawatir tahu. Nenek juga nggak ngabarin kalau mama sama papa ternyata udah pulang. Nenek kenapa sih, tumben banget, nggak kayak biasanya,” Kila mengomel.
“Ooh, soal itu, maafin nenek ya, Kil. Nenek nggak mau mengganggu konsentrasi kamu saat di sekolah. Soalnya percakapan kita bakal panjang kalau nenek kasih tahu.” Nenek menjawab sesuai fakta.
“Ya, tapi kan, nggak ada salahnya kalau nenek ngabarin di jam pulang sekolahnya Kila.” Kila menunjukkan nada yang sedikit kesal.
“Ih, nenek, belum juga orang siap ngomong. Udah main tutup-tutup aja. Wa’alaykumussalam,” ujar Kila dengan jengkel.
...****************...
Nenek kini sudah selesai mengunjungi temannya. Sayang sekali, jengukan nenek dibarengi dengan tahlilan. Temannya itu telah dipanggil kembali kepada Sang Pencipta. Tak disangka, nenek harus berakhir untuk menyolati temannya itu setelah lama tidak berjumpa. Hal ini mengingatkan nenek bahwa betapa ia sudah tua dan pasti akan menyusul temannya itu.
Tepat setelah menunaikan ashar, nenek kembali ke rumah dengan taksi online. Ia juga sudah mengabari Kila melalui chat bahwa ia sedang berada di perjalanan sekarang. Ia juga akan singgah di toko serba ada dekat komplek. Kila yang meminta untuk dibelikan stok pulpen baru dikarenakan stok miliknya telah habis saat ia ingin mengerjakan tugas sekolahnya.
Nenek sudah turun dari taksi online yang membawanya tadi dan taksi tersebut melanjutkan perjalanannya untuk menjemput penumpang lain. Ia sudah selesai membelikan titipan dari Kila. Kini ia akan pulang dengan jalan kaki saja, karena rumahnya tidak begitu jauh dari situ. Hitung-hitung, jalan kaki juga berolahraga yang menyehatkan.
Kila yang berada di rumah sedikit tidak sabar karena nenek belum kunjung pulang juga, sedangkan tugasnya sudah menumpuk karena tidak adanya stok pulpen yang dimilikinya. Ia juga segan mengadu untuk meminta pulpen pada mama dan papanya, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul nenek ke toko serba ada satu-satunya dekat komplek rumahnya. Ia yakin nenek pasti masih disana.
Kila telah melihat keberadaan neneknya yang tepat sekali baru keluar dari toko dan ingin menyebrang. Kila kemudian melambaikan tagannya dan menyapa sang nenek. Namun sepertinya neneknya tidak mendengar karena Kila masih terbilang agak jauh dari posisi neneknya.
Setelah agak dekat, Kila melambaikan tangannya dan berteriak memanggil sang nenek, “Nek!”
“Nek, awas!” Gawat, ia memanggil neneknya disaat yang tidak tepat.
“Kila?” Di saat seperti ini kenapa nenek baru menoleh?
“Nek, awas ada mobil!” Kila memperingatkan.
“He?” Nenek malah kebingungan sebentar dan berhenti di jalan.
Brukkkk
Suara itu yang muncul saat sebuah mobill menabrak nenek. Pria yang diduga bukan warga komplek itu melajukan mobilnya begitu saja setelah menabrak orang.
“Nenek!!!” Itulah respons pertama Kila saat melihat langsung kejadian itu, sebuah teriakan yang histeris. Membuat warga yang berada disekitaran mendekat.
“Woi, mobil kurang ajar, habis nabrak orang bukannya tanggung jawab malah kabur.” Ucap salah seorang warga yang kebetulan berada di tempat kejadian sedikit memaki. Ia kemudian mengetahui si tetangga yang menjadi korban. Segera saat itu juga ia menghubungi Riska dan Gilang, karena mengharapkan Kila yang menghubungi tidak bisa dikarenakan Kila seperti mematung di tempatnya tepat setelah kejadian itu.
“Nenek!!!” Kila kini mulai terkulai lemas di depan sang nenek. Ia bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk mendekati sang nenek dan memeluknya.
“Cepat telpon ambulan!” Aba-aba warga tadi kepada sang istri yang juga berada di tempat kejadian, karena ia sedang menelepon Riska dan Gilang yang tak kunjung diangkat juga.
Kila terdiam ditempatnya melihat seluruh tubuh neneknya terlumur darah. Derai air mata terus bercucuran tanpa suara. Ia bagikan orang bisu dan tuli yang lumpuh, tak bisa berbuat apapun untuk neneknya. Ia sangat shock dikarenakan panggilan yang ia teriakkan tadi membuat sang nenek menoleh dan tak memperhatikan jalan, akhirnya jadilah begini. Neneknya kecelakaan di depan mata kepala Kila sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri. Ah, tidak, mimpi buruk itu kenapa terwujud sekarang? Bahkan Kila menjadi lebih jahat di kejadian ini dibandingkan dengan mimpi buruk waktu itu.
...****************...